NovelToon NovelToon
EMOSI BERJILID

EMOSI BERJILID

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.

Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.

bagaimana kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASIH AMAN

Satu bulan berlalu, Rani menggenggam erat ponsel berlogo apel digigit itu. Wajahnya cemas dan gelisah. Walau sebisa mungkin ia menyembunyikan semuanya ketika bersama Farhan.

"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Farhan menatap Rani khawatir.

Rani menggeleng cepat, ia tersenyum kaku.

"Aku nggak apa-apa. Hanya saja, aku sudah dua minggu ini belum haid," jawabnya tersendat.

Farhan menatapnya, setelah kejadian Rani meninggalkan Asih, Rafna dan Claudia di klinik. Ia belum sempat menyentuh istrinya, tapi buru-buru Farhan menggelengkan kepala. Kelebatan foto Rani yang berbicara dengan laki-laki lain masih terekam jelas diingatannya.

"Apa sudah cek dokter?" tanya Farhan ragu.

"Mas ... Ada apa dengan nada bicaramu?" tanya Rani menoleh pada suaminya.

"Tidak ada. Aku hanya tanya," jawab Farhan cepat.

"Mas ... apa kamu mau menuduhku?" desis Rani.

"Rani cukup. Jangan terbawa perasaan. Oke aku salah. Please stop it!" Farhan menyesal meragukan istrinya. Tapi ia masih bingung mau bicara apa untuk meluruskan semuanya.

Rani pun diam, ia juga tak mau perpanjang dugaan Farhan padanya. Dirinya juga takut jika memperpanjang tuduhan Farhan. Malah menuntunnya pada kebenaran.

Diamnya Rani membuat Farhan tambah menyesal. Ia mendekat dan memeluk istrinya, perlakuan yang telah lama absen pada keduanya.

"Maaf ... Aku minta maaf," ucapnya benar-benar menyesal.

Rani menitikkan airmatanya, sungguh ia juga menyesal. Tapi Rani memilih kesalah pahaman Farhan terhadap masalah ini.

"Iya Mas. Aku juga minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku benar-benar khilaf meninggalkan Bi Asih dan dua anak kita," sahut Rani juga penuh penyesalan.

"Iya, aku mohon jangan lakukan lagi. Aku pun berjanji akan selalu percaya padamu. Oke!" sahut Farhan lembut.

Rani mengangguk, lalu ia pamit untuk pergi ke kantor. Setelah kepergian suaminya itu, telepon Rani berdering. Satu nomor asing.

"Halo?" ia mengangkatnya dengan degup jantung yang cepat.

"Selamat pagi, apa benar ini dengan Bu Rani?" tanya seorang dari ujung telepon.

"Iya saya sendiri!"

"Kami dari kantor urusan agama hanya memberitahu jika surat permohonan cerai telah kami kirimkan ke saudara Iqbal Maulana!"

"Baik, apa lanjutannya ya Bu?" tanya Rani.

"Kami juga telah mengirimkan surat panggilan pengadilan untuk anda Bu. Jadi agar cepat selesai. Diharapkan kedua belah pihak hadir!" jawab petugas yang menelpon.

"Kalau andai kata salah satunya tidak hadir?" tanya Rani.

"Sidang akan ditunda sampai tiga kali. Jika tidak ada kejelasan dan jawaban dari pihak tergugat. Maka kami akan menyerahkan seluruhnya pada anda, Bu!' jawab petugas itu.

"Maksudnya?"

"Apa masih ingin cerai dan jika memang anda punya bukti dan saksi kuat terhadap pelaksanaan perceraian seperti tidak adanya nafkah lahir atau batin selama enam bulan. Maka anda berhak untuk cerai dan pengadilan akan mengesahkannya!" jawab petugas.

"Bagaimana jika bukti dan saksi itu tak ada. Tapi Iqbal memang tidak menafkahi saya selama lima tahun?" tanya Rani.

"Anda bisa mengajukan bukti dari rekening koran atau bukti transfer atau apapun itu!" jawab petugas.

"Baik, saya akan usahakan bukti itu!" sahut Rani.

Sambungan terputus, Rani menghela nafas panjang. Rupanya untuk bercerai dari Iqbal tak semudah yang ia bayangkan.

Rani terduduk lemas di tepi ranjang. Ponselnya yang mahal terasa panas di genggaman, seolah ikut mendidih bersama otaknya. Harapan untuk menyelesaikan "dosa masa lalu" secara kilat dan rahasia baru saja dibenturkan pada tembok birokrasi hukum yang kaku.

"Bukti rekening koran dan transaksi atau transfer?" Rani terkekeh pelan.

Otaknya berputar cepat, satu buku tabungan lamanya masih tersimpan di koper rahasia. Ia gegas mendekati lemari, membukanya dan menarik semua baju-baju lama yang menutupi koper itu.

Lalu matanya menatap isi lemari ... Kosong. Nafasnya mendadak berhenti sesaat. Ia menggeleng cepat, panik.

"Koper ... Koper itu!" Rani benar-benar frustrasi.

"Tidak .... tidak!" pekiknya langsung tak sadarkan diri.

Butuh waktu lama ia bangun dari pingsannya. Matanya perlahan mengerjai, dentuman keras menghantam di dalam kepalanya, hingga membuatnya tadi hilang sadar.

"Sayang, kamu tidak apa?" Farhan tentu ada di sisinya.

Pria itu langsung pulang ketika mendapat kabar dari pengasuh dua putrinya. Rani didapati pingsan di kamar.

"Ibu tidak apa-apa, hanya saja gula darahnya rendah," ujar dokter yang dipanggil oleh Farhan ke rumahnya.

"Apa benar, Dok. Tidak ada kesehatan yang terganggu?" tanya Farhan khawatir.

"Tidak ada, kemungkinan hanya stress berlebihan ...."

"Apa karena istri saya belum haid?" tanya Farhan.

"Itu bisa jadi. Tekanan pada hormon bisa memicu ibu seperti tadi. Tapi seluruhnya baik-baik saja," jawab dokter.

"Saya tidak hamil kan Dok?" tanya Rani langsung.

Dokter itu menatap Rani, ia tersenyum, lalu ia menggeleng tegas.

"Tidak, ibu tidak hamil. Tapi dari semua pemeriksaan, tekanan darah ibu rendah. Itu penyebab Ibu tadi pingsan!"

Farhan diam, ia tau maksud istrinya bertanya hal itu. Segala tuduhan Farhan tentu terbantahkan oleh jawaban sang dokter.

Asih datang membawa makanan lembut. Perempuan itu meletakkan makanan di meja khusus.

"Nyonya, ayo makan dulu," ujarnya lembut.

Rani pun menyandarkan tubuhnya dibantu Asih. Farhan sejak tadi belum kembali naik ketika mengantar dokter turun.

"Mas Farhan mana Bi?" tanyanya lemah.

"Bapak sedang mengurus Neng Rafna dan Non Claudia, Nyonya. Non Claudia sedih karena Nyonya pingsan tadi, sedangkan Neng Rafna rewel," jawab Asih.

"Apa perlu saya bantu suapin?" tawarnya lagi penuh kelembutan.

"Tidak, Bi. Saya bisa sendiri. Makasih," jawab Rani.

Asih membungkuk, lalu ia pun pergi meninggalkan Rani sendirian. Wanita itu menatap mangkuk bubur di atas meja.

Baunya enak, asapnya pun masih mengepul. Rani yakin jika makanan itu pasti akan menolong perutnya yang lapar.

Dengan perlahan ia menyuapi pelan-pelan makanan itu ke mulutnya.

"Aaah ... Panas!"

"Sayang, hati-hati!" Farhan yang masuk gegas mendekat dan membersihkan mulut istrinya dengan tisu basah.

"Bias Mas suapin ya ...."

"Tidak ...!" tolak Rani.

"Sayang ... Aku mohon," pinta Farhan memelas.

Ada ribuan penyesalan di mata suaminya. Rani menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang. Matanya menangkap koper yang tadi dicarinya. Ia menutup mata, lalu menangis tiba-tiba. Hatinya lega luar biasa.

Farhan yang dihantui perasaan bersalah langsung memeluk istrinya.

"Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Mestinya aku tidak menaruh curiga padamu. Aku mencintaimu. .. aku sangat mencintaimu!" ucapnya terisak.

Rani hanya menangis dan menangis. Jujur ia menangis juga karena perasaan bersalah. Tapi sekali lagi ia limpahkan semua pada Farhan yang salah paham atas semuanya.

Tangisan Rani reda setelah sekian lama. Ia berada dalam pelukan Farhan.

"Ayo makan ya. Aku ingin kau cepat pulih," suruh Farhan lembut.

Dengan telaten, Farhan menyuapi istrinya sampai makanan tandas. Ia meletakkan meja dan piring itu ke atas nakas di dekat pintu.

Ia merebahkan dirinya dan masuk dalam selimut. Memeluk Rani erat, perempuan itu pun pasrah.

"Aku sangat mencintaimu sayang. Aku akan sangat hancur jika kau pergi meninggalkan aku ...."

Rani menutup matanya, kebohongan-kebohongannya seperti bom waktu yang siap meledek kapan saja.

"Aku juga mencintaimu, Mas. Tapi aku mohon. Apapun nanti yang terjadi. Tetaplah percaya padaku ya. Jangan ragukan aku sedikitpun!" pinta Rani tergugu.

"Iya sayang. Aku akan menaruh seluruh kepercayaanku padamu!" janji Farhan.

Rani pun diam, walau janji itu yakin dipegang teguh oleh Farhan. Tapi bukti di tangan Iqbal jauh lebih kuat.

"Leave that for later!”gumamnya dalam hati.

bersambung.

Dududuu ... Rani player.

Next?

1
Atik Marwati
suatu hari nanti kalau Rani terusir karena perbuatannya sendiri biar clau ikut Farhan ajalah thor...
gina altira
Rani beneran ga bersyukur
gina altira
untung ada Asih,
nurry
lanjut kak Maya 🙏💪❤️
nurry
betul betul betul 👍
vania larasati
lanjut kak
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
dasar Rani.. kena karma tahu rasa
vania larasati
lanjut kak
Serli Ati
sepertinya perselingkuhan akan dimulai
Serli Ati
Farhan dengar keluhan bi asih jadi iba dan tersentuh hatinya selingkuh lagi dech.....ingat ya Farhan didunia ini tidak ada yg sempurna, kesempurnaan itu hanya milik Allah SWT
vania larasati
lanjut kak
Anita Barus: kelakuan Rani bikin emosi Farhan sabar banget y.
total 1 replies
vania larasati
lanjutt kak
vania larasati
lanjut kak
Atik Marwati
kan..kan..mau selingkuh lagi cari yg katanya sempurna...😤😤
Atik Marwati
anak orang kaya tapi kekurangan gizi🥺🥺
Atik Marwati
anak anaknya Sam binasih ditinggal akhirnya Farhan yang jemput
Atik Marwati
anaknya empat ya... kasihan yang 2 masak ga di ingat sih..
Serli Ati
ah...pasti Rani buat alasan sambil bermanja dengan Farhan dan Farhan pasti percaya apa yg dikatakan rani dan masalah selesai dech, Rani merasa aman.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!