NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Upaya Memperbaiki Kesalahan

Kamis pagi di Jakarta biasanya disambut dengan kemacetan yang mengular dan klakson yang bersahutan, namun bagi Jingga, hiruk-pikuk itu hanyalah suara latar yang tidak berarti. Pikirannya tertahan pada satu citra yang terus menghantuinya sejak semalam: wajah Sinta yang hancur, bersimpuh di lantai dapur di antara pecahan keramik putih gading. Tangisan itu bukan sekadar tangisan sedih; itu adalah suara keputusasaan dari seseorang yang kehilangan pegangan terakhirnya pada masa lalu.

Jingga, yang biasanya sangat disiplin dengan waktu kantor, melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama lima tahun berkarier di Bank Nasional. Ia mengirim pesan singkat kepada atasannya di Divisi Audit bahwa ia akan datang terlambat dua jam karena "urusan keluarga mendesak".

Urusan mendesak itu membawanya ke sebuah pasar barang antik yang terletak di gang sempit kawasan Jakarta Pusat. Udara di sana pengap, berbau debu lama dan besi berkarat. Jingga, dengan kemeja kerjanya yang rapi, tampak sangat kontras di antara tumpukan barang loak dan pedagang yang sedang menyeruput kopi hitam dalam gelas plastik.

"Krisan putih gading, pinggiran emasnya sudah agak pudar, diameternya sekitar 20 senti," gumam Jingga, mengulangi deskripsi yang ia ingat secara fotografis dari pecahan piring di kotak kecil semalam.

Ia mendatangi satu per satu kios. Toko pertama hanya memiliki piring porselen Eropa yang terlalu mewah. Toko kedua menawarkan piring keramik Cina yang motifnya terlalu ramai. Di toko ketiga, seorang kakek tua dengan kacamata tebal menggelengkan kepala.

"Itu piring keluaran lama, Mas. Biasanya set perangkat makan hadiah pernikahan tahun 80-an. Susah cari satuannya sekarang," ucap si kakek.

Jingga tidak menyerah. Rasa bersalah di dadanya terasa seperti batu yang menyumbat pernapasannya. Ia teringat bagaimana Sinta memegang pecahan piring itu ke dadanya, mengabaikan darah yang merembes dari telapak tangannya. Baginya, piring itu adalah ibu Sinta. Dan ia, dengan kecerobohannya membiarkan Sinta mencuci piring dalam keadaan melamun, merasa ikut bertanggung jawab atas hancurnya kenangan itu.

Ia terus berjalan, melewati tumpukan radio tua dan jam dinding yang sudah mati. Keringat mulai membasahi punggung kemejanya. Akhirnya, di sebuah sudut remang sebuah toko yang hampir tertutup tumpukan majalah bekas, ia melihatnya.

Sebuah piring yang diletakkan di rak paling bawah, tertutup debu tebal. Jingga berjongkok, mengabaikan celana kain mahalnya yang menyentuh lantai kotor. Ia mengambil piring itu, meniup debunya, dan jantungnya berdegup kencang. Motif bunga krisan kecil itu—persis. Pinggiran emasnya bahkan memiliki tingkat kepudaran yang hampir sama dengan milik Sinta.

"Ini berapa, Pak?" tanya Jingga, suaranya sedikit bergetar karena lega.

"Dua ratus ribu, Mas. Itu barang simpanan, tinggal satu-satunya," jawab si penjual tanpa menoleh dari korannya.

Jingga tidak menawar. Ia langsung mengeluarkan dua lembar uang seratus ribu dan membungkus piring itu dengan kain beludru yang ia bawa dari rumah. Ada rasa kemenangan kecil yang ia rasakan, sesuatu yang jauh lebih memuaskan daripada menemukan selisih angka dalam laporan audit.

Sesampainya di kantor, Jingga mencoba bersikap senormal mungkin. Namun, pikirannya terpecah. Ia berkali-kali melirik ke arah kubikel Sinta dari kejauhan. Sinta tampak pucat. Ia bekerja dengan gerakan mekanis, matanya terlihat sembab meski sudah ditutupi riasan tipis. Adrian sesekali mendatangi mejanya, mencoba mengajak bicara, namun Sinta hanya menjawab dengan anggukan singkat.

Melihat Sinta seperti itu, Jingga merasa panik yang tidak biasa. Ia bukan orang yang pandai menghibur. Ia tidak tahu cara merangkai kata-kata manis. Maka, ia memutuskan untuk melakukannya dengan caranya sendiri: melalui tindakan praktis yang sistematis.

Pukul tiga sore, saat jam istirahat kedua, Jingga berjalan menuju pantry. Ia tahu Sinta biasanya akan muncul di sana untuk mengambil air minum. Benar saja, beberapa menit kemudian Sinta masuk. Langkahnya gulai, bahunya tampak merosot.

Sinta terkejut melihat Jingga sudah berdiri di sana, sedang menyeduh teh hangat. "Jingga? Tumben jam segini di sini."

Jingga tidak langsung menjawab. Ia memberikan segelas teh hangat dengan aroma melati yang menenangkan kepada Sinta. "Minum. Lu kelihatan kayak mau pingsan."

Sinta menerima gelas itu, tangannya yang masih dibalut plester kecil gemetar sedikit. "Makasih. Gue cuma kurang tidur."

"Soal semalam..." Jingga memulai, suaranya rendah agar tidak terdengar oleh staf lain yang mungkin lewat. "Gue minta maaf. Gue nggak tahu piring itu sepenting itu buat lu."

Sinta menunduk, menatap uap yang mengepul dari tehnya. "Nggak apa-apa, Jingga. Emang udah takdirnya pecah mungkin. Gue aja yang terlalu melow."

"Gue udah cari gantinya," ucap Jingga tiba-tiba.

Sinta mendongak, matanya yang lelah membelalak. "Hah? Cari di mana? Itu piring lama, Jingga. Nggak ada di toko bangunan atau mall mana pun."

"Ada di tas gue. Nanti pas pulang, jangan bareng Pak Adrian. Gue tunggu di parkiran basement B-3 jam 6 tepat. Jangan telat," perintah Jingga dengan nada auditornya yang tegas, namun matanya memancarkan kecemasan yang tulus.

Sinta terpaku. Ia melihat Jingga berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Perhatian kecil berupa teh hangat dan upaya mencari piring pengganti itu membuat pertahanan Sinta yang ia bangun sepanjang hari mulai runtuh. Ia merasa hangat, sebuah rasa yang asing namun mulai ia kenali sebagai 'kenyamanan'.

Sepanjang sisa jam kantor, Sinta merasa jantungnya berdegup tak beraturan. Ia harus mencari alasan untuk menolak tawaran pulang bareng Adrian. Keberuntungan berpihak padanya saat Adrian tiba-tiba dipanggil rapat mendadak oleh Direktur Utama tepat pukul lima sore.

"Sinta, sepertinya saya pulang malam. Kamu pulang naik taksi saja ya? Atau mau saya pesankan jemputan?" tanya Adrian lewat pesan singkat.

Sinta membalas dengan cepat, "Nggak usah, Mas. Aku naik ojek online saja. Selamat rapat."

Pukul 18.05, Sinta tiba di basement B-3 yang temaram. Mobil Jingga sudah menunggu dengan mesin menyala. Begitu Sinta masuk, suasana di dalam mobil terasa canggung namun penuh antisipasi. Jingga tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menyerahkan sebuah bungkusan beludru biru ke pangkuan Sinta.

Sinta membukanya perlahan. Saat melihat motif krisan itu bersinar di bawah lampu kabin mobil, air mata Sinta kembali jatuh. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang luar biasa.

"Jingga... ini... lu dapet dari mana?" tanya Sinta parau.

"Tadi pagi ke pasar antik," jawab Jingga pendek, matanya fokus pada jalanan di depan. "Gue tahu ini bukan piring yang dipegang nyokap lu, tapi motifnya sama. Gue harap ini bisa bikin dapur kita nggak terasa terlalu sepi."

Sinta mengelus permukaan piring itu. "Lu beneran pergi ke pasar antik pagi-pagi? Padahal lu benci tempat kotor dan ramai."

Jingga berdehem kaku, telinganya sedikit memerah. "Gue cuma nggak suka liat lu nangis kayak semalam. Suaranya bikin gue nggak bisa konsentrasi kerja."

Sinta tertawa kecil di sela isakannya. "Lu emang nggak pernah bisa bilang 'gue peduli' dengan cara normal ya?"

"Auditor itu bicara pake fakta dan bukti, bukan pake perasaan," dalih Jingga, meski tangannya di kemudi tampak sedikit tegang.

Perjalanan pulang malam itu terasa berbeda. Tidak ada perdebatan soal AC yang terlalu dingin atau lagu radio yang tidak cocok. Ada sebuah pengertian baru yang tumbuh di antara mereka. Jingga mulai memberikan perhatian-perhatian kecil lainnya; ia berhenti di depan gerai martabak manis kesukaan Sinta tanpa diminta.

"Gula biar lu nggak marah-marah terus," ucap Jingga saat menyerahkan kotak martabak itu.

Sinta tersenyum, senyum tulus yang membuat wajahnya yang lelah kembali bersinar. "Makasih, Jingga. Lu... lu sebenernya baik banget ya kalau lagi nggak jadi 'Pangeran Es'."

"Jangan dibahas lagi atau gue ambil lagi piringnya," ancam Jingga, namun nada suaranya lembut.

Sesampainya di apartemen, Sinta segera menaruh piring baru itu di rak paling atas, tempat yang paling aman. Ia menatap piring itu dengan perasaan lega. Meski piring aslinya sudah tidak ada, upaya Jingga untuk mencarinya telah memberikan makna baru pada benda tersebut. Piring itu kini bukan hanya tentang kenangan ibunya, tapi juga tentang perhatian suaminya yang kaku.

Malam itu, sebelum tidur, Sinta melihat Jingga sedang duduk di meja makan, sedang memeriksa ulang berkas-berkas auditnya yang sempat tertunda karena ia datang terlambat tadi pagi.

"Jingga," panggil Sinta.

"Apa?"

"Makasih buat hari ini. Semuanya."

Jingga mendongak, menatap Sinta sejenak sebelum kembali ke layarnya. "Sama-sama. Tidur sana. Besok lu ada presentasi kredit buat nasabah besar kan? Jangan sampai mata lu bengkak lagi."

Sinta masuk ke kamarnya dengan perasaan ringan. Upaya memperbaiki kesalahan yang dilakukan Jingga ternyata telah memperbaiki sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar piring pecah. Itu telah memperbaiki jarak di antara mereka. Sinta mulai menyadari bahwa di balik keterpaksaan pernikahan ini, ada seorang pria yang siap mengarungi debu pasar antik hanya untuk mengembalikan senyumnya.

Dan bagi Sinta, itu adalah penemuan paling berharga dalam hidupnya belakangan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!