Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: YANG TERSISA
Setelah suara mobil itu hilang, rumah terasa terlalu besar.
Ardi masih berdiri di ruang makan. Kunci hitam di tangan kiri. Cangkir kopi dingin di tangan kanan. Dia tidak ingat kapan mengambilnya lagi.
Dia meneguk kopi itu.
Pahit. Dingin. Tidak enak. Tapi dia tidak berhenti. Meneguk lagi, sampai cangkir kosong, sampai hanya ampas yang tersisa.
Seperti menelan konsekuensi, pikirnya. Satu teguk. Sampai habis.
Bu Lastri muncul dari dapur. Matanya menatap Ardi dengan sesuatu antara iba dan takut.
“Mas Ardi… sarapannya dihangatkan?”
Ardi menggeleng.
Bu Lastri menunggu sebentar. Lalu pandangannya beralih ke kursi kosong di sebelah kiri. Kursi Maya. Piring masih rapi. Teh tidak disentuh.
“Nyonya…” Bu Lastri mulai.
“Pergi.” Suara Ardi datar. “Mungkin lama.”
Bu Lastri mengambil piring Maya, gelas yang tak tersentuh, lalu berbalik ke dapur. Langkahnya cepat.
Ardi menatap kursi kosong itu.
Hampir—hampir—dia memanggil nama Maya.
Bibirnya terbuka. Tapi tidak ada suara keluar.
Karena Maya tidak akan menjawab. Dan bahkan jika dia menjawab, apa yang akan Ardi katakan? Kembalilah? Dia tidak punya hak. Aku mencintaimu? Dia sendiri tidak yakin.
Dia mengepalkan kunci hitam.
Bergerak.
Entah dari mana dorongan itu. Tapi kakinya bergerak. Ke lorong, ke tangga, ke kamar tamu—tempat dia tidur dua malam terakhir.
Jas tergantung di sandaran kursi. Ardi mengambilnya. Meraba saku, memastikan dompet dan ponsel ada. Lalu kembali ke bawah. Melewati ruang makan tanpa menoleh. Melewati dapur di mana Bu Lastri berdiri diam, memegang piring Maya.
Pintu depan terbuka. Udara pagi menyambut. Matahari sudah cukup tinggi, sinarnya hangat di kulit. Tapi Ardi merasa dingin.
Dia menekan tombol kunci. Mobil hitam di halaman menyala. Bukan mobil baru hadiah dari Bram—itu sudah pergi bersama Maya. Ini mobil lamanya. Lebih kecil. Kurang mewah. Tapi miliknya.
Ardi duduk di kursi pengemudi. Tangannya di setir. Tidak bergerak.
Ke mana?
Kantor? Tidak. Dia sudah diminta mundur. Rumah? Dia baru saja keluar.
Ponselnya bergetar. Bukan Maya. Bukan Sari. Notifikasi berita: Hartono Group Guncang, Dirut Mundur?
Dia melempar ponsel ke kursi penumpang. Menyalakan mobil. Keluar dari halaman.
---
Jalan Jakarta pagi hari ramai seperti biasa. Mobil di kanan-kiri, sepeda motor menyelinap di sela. Dunia normal. Dunia yang tidak berhenti meskipun hidup Ardi hancur.
Dia membiarkan mobil melaju tanpa tujuan.
Lampu merah pertama, dia berhenti. Menatap pejalan kaki di zebra cross. Seorang ibu menarik anak kecil. Seorang pria dengan koper, buru-buru menyeberang. Mereka punya tempat tujuan.
Ardi tidak tahu tempat tujuannya.
Lampu hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Ardi melaju.
Di persimpangan berikutnya, dia hampir berbelok ke kiri—arah kantor. Tapi jarinya tidak bergerak. Mobil terus lurus.
Pikiran melayang ke Maya. Ke mana dia pergi? Apakah dia sudah sampai? Apakah dia akan kembali seperti kemarin, atau kali ini benar-benar pergi?
Lalu ke Bram. Ayahnya yang memberi hadiah mobil di saat paling tidak pantas.
Lalu ke Sari. “Selamat menikmati apa yang kau tabur.”
Ardi menginjak pedal lebih dalam. Di spion, jalan di belakang kosong.
---
Sementara Ardi tersesat di jalan tanpa tujuan, di sisi lain kota, seseorang lain juga sedang menahan sesuatu yang hampir runtuh.
Bram Hartono tidak pernah menangis.
Bukan karena tidak bisa. Tapi karena tidak punya waktu. Air mata tidak pernah menyelesaikan apa pun. Itu pelajaran pertama saat istrinya pergi. Menangis tidak membawanya kembali. Bekerja—itu yang membuatnya bertahan.
Tapi pagi ini, di kursi belakang mobil yang melaju ke kantor, Bram merasakan sesuatu di dadanya. Bukan sakit fisik yang biasa dia rasakan sejak serangan jantung. Ini berbeda. Lebih dalam. Lebih tumpul.
Tangannya meraih dasi, melonggarkan sedikit.
“Pak, kita ke rumah sakit dulu?” suara supir dari depan.
Bram menatap kaca spion. Mata supir itu bertemu dengannya sebentar, lalu buru-buru beralih ke jalan.
“Tidak.”
Dia menutup mata. Hanya sebentar. Untuk mengatur napas. Tapi saat mata terpejam, yang muncul adalah meja makan pagi tadi. Ardi dengan wajah hancur. Maya dengan senyum terlalu sempurna.
Kalian berdua yang terpenting.
Kata-katanya sendiri. Hadiah mobil yang dia berikan. Di saat dia tahu semuanya.
Kenapa dia melakukannya?
Pertanyaan itu muncul. Tapi Bram tidak membiarkannya tinggal lama. Dia membuka mata. Menegakkan punggung. Wajahnya kembali menjadi wajah CEO Hartono Group. Tidak ada luka. Tidak ada sakit. Hanya kontrol.
Ponselnya bergetar. Dokter pribadi.
“Pak Bram, hasil tes kemarin menunjukkan—”
“Kirim ke email saya.”
“Tapi Pak, sebaiknya Bapak segera—”
“Kirim ke email saya.”
Suaranya tidak meninggi. Tapi ada nada yang membuat dokter itu berhenti.
“Baik, Pak.”
Bram mematikan panggilan. Tangannya menggenggam gagang pintu. Buku-buku jarinya memutih.
Kalau saya berhenti sekarang… semuanya benar-benar selesai.
Napasnya tersengal.
Dia hampir—hampir—mengucapkan nama.
“M—”
Bibirnya terbuka. Tapi tidak ada nama yang keluar.
Karena jika dia menyebut nama itu—Maya, atau Ardi—maka dia harus mengakui bahwa mereka menyakiti dia. Dan mengakui bahwa dia terluka berarti mengakui bahwa dia masih peduli. Bahwa semua kekuasaan yang dia bangun selama dua puluh tahun tidak cukup untuk melindunginya.
Bram menarik napas panjang.
“Siapkan rapat. Jam sepuluh. Semua divisi.”
Supir itu mengangguk.
Mobil memasuki area parkir kantor. Bram keluar dengan langkah yang sama seperti biasa. Tegap. Terkontrol.
Tapi di pintu masuk, sebelum tangannya menyentuh gagang, dia berhenti. Matanya menatap kaca yang memantulkan bayangannya sendiri.
Seorang pria tua. Lelah. Sendirian.
Lalu dia menarik pintu itu. Melangkah masuk.
---
Ardi tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sini.
Mobilnya terparkir di pinggir jalan. Mesin mati. Di luar, toko kelontong kecil dengan papan kayu memudar. Bangunan tua dua lantai dengan cat krem mengelupas. Di lantai atas, jendela dengan tirai biru.
Galeri seni tempat Maya dulu bekerja.
Tempat yang dulu pernah berarti sesuatu. Sekarang bahkan tidak lagi mengenalnya.
Ardi tidak turun. Hanya duduk. Menatap bangunan itu.
Ponselnya bergetar. Pesan.
Dari Maya.
Dia membuka chat. Satu kalimat pendek:
“Aku sampai.”
Tidak ada keterangan tempat. Tidak ada penjelasan kapan kembali.
Ardi menatap kalimat itu. Jarinya di atas keyboard. Ingin bertanya di mana. Ingin bertanya apakah dia akan kembali. Ingin mengetik aku mencintaimu atau aku tidak tahu atau maaf.
Tapi tidak ada satu pun kata yang benar.
Dia menutup chat. Membuka chat dengan Sari. Pesan terakhir: “Selamat menikmati apa yang kau tabur.”
Lalu kembali ke chat Maya. Stiker bunga dari dua hari lalu. Lalu “Aku sampai.”
Ardi menekan dan menahan chat Maya. Pilihan muncul: Hapus percakapan?
Jarinya di atas layar.
Jika ini bukan cinta… lalu apa yang tersisa?
Dia menekan Hapus.
Percakapan itu hilang. Stiker bunga, “Aku sampai”—semua lenyap dalam satu detik.
Ardi meletakkan ponsel di kursi penumpang. Menyalakan mobil. Memasukkan gigi mundur.
Di spion, bangunan tua itu semakin kecil. Lalu hilang di tikungan.
Dia tidak tahu ke mana dia akan pergi. Tidak tahu apakah Maya akan kembali. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada perusahaan, pada ayahnya, pada sisa hidup yang harus dia jalani.
Tapi untuk pertama kalinya, dia tidak bertanya apakah ini cinta.
Dia bertanya: Jika bukan cinta—lalu apa yang kulakukan?
Mobilnya melaju. Jalan di depan masih panjang.
Kunci hitam itu masih ada di saku jasnya.
Dingin. Berat. Sendirian.
Jakarta tetap berjalan. Seolah tidak pernah ada yang hancur pagi itu.