Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21: Pembentukan Sekte Iblis Bintang
Angin dingin dari Benua Utara tidak hanya menusuk kulit, ia seolah-olah mencoba membekukan aliran Qi di dalam meridian. Di wilayah yang dikenal sebagai Lembah Tulang Es, salju abadi turun menyerupai bilah-bilah pedang kecil. Di sinilah Li Chen berdiri, menatap hamparan putih yang tak berujung setelah kejatuhannya dari Langit Atas.
Tubuhnya masih menyisakan bekas luka bakar emas dari pertarungan melawan Tiga Dewa Penjaga, namun matanya—perpaduan perak dan merah—memancarkan intensitas yang bisa melelehkan es di sekitarnya. Di tangannya, ia memegang benih teratai pemberian ibunya yang kini mulai berdenyut selaras dengan jantungnya.
"Tempat ini... aku ingat bau ini," suara Kaisar Pedang terdengar lebih jernih, seolah-olah hawa dingin ini membangkitkan memorinya. "Ini adalah tanah pembuangan klan Iblis Bintang sepuluh ribu tahun yang lalu. Di bawah lapisan es ini, terkubur ribuan prajurit yang tidak pernah menyerah pada takdir."
Li Chen menghantamkan pedang Penelan Surga ke tanah. "Kalau begitu, saatnya membangunkan mereka. Aku tidak bisa lagi bertarung sendirian. Jika Langit punya ribuan dewa, maka aku akan punya jutaan iblis."
Langkah pertama Li Chen adalah mencari para penyintas. Di Benua Utara, hukum rimba berlaku mutlak. Suku-suku barbar dan kultivator pelarian hidup dalam konfrontasi konstan.
Li Chen berjalan menuju Kota Reruntuhan Hitam, sebuah pemukiman yang dibangun di dalam tengkorak raksasa binatang buas kuno. Di sana, ia menemukan apa yang ia cari: kekacauan.
Di tengah pasar budak, seorang pria raksasa dengan rantai di lehernya sedang dipukuli oleh sepuluh penjaga ranah Inti Emas. Pria itu memiliki tato bintang yang memudar di punggungnya. Meskipun dipukuli, matanya tetap menatap tajam, penuh dengan api pemberontakan yang belum padam.
"Berlutut, anjing Iblis Bintang!" teriak salah satu penjaga, mengayunkan cambuk petir.
Li Chen muncul di antara mereka seperti asap hitam. Sebelum cambuk itu mendarat, tangan Li Chen sudah mencengkeram leher sang penjaga.
"Dia bukan anjing," kata Li Chen, suaranya rendah namun membuat seluruh pasar menjadi sunyi. "Dia adalah saudaraku."
KRAK!
Li Chen mematahkan leher penjaga itu dengan satu gerakan malas. Sembilan bintang hitam di punggungnya muncul sejenak, memancarkan tekanan ranah Jiwa Baru (Nascent Soul) Tahap Puncak.
Dalam waktu kurang dari sepuluh tarikan napas, sepuluh penjaga itu telah menjadi mayat kering, energi mereka diserap habis oleh Li Chen. Ia memotong rantai pria raksasa itu dengan jarinya.
"Siapa kau?" tanya pria raksasa itu, suaranya parau.
"Namaku Li Chen. Dan aku datang untuk membangun kembali apa yang telah mereka hancurkan," jawab Li Chen, mengulurkan tangannya. "Maukah kau membantuku membakar Langit?"
Pria itu, yang bernama Kahn, berlutut dengan satu kaki. "Hamba menunggu hari ini selama seratus tahun, Tuanku."
Puncak Bintang Jatuh
Dalam waktu satu bulan, kabar tentang kembalinya "Pewaris Bintang" menyebar seperti api di Benua Utara. Para kultivator yang tertindas, keturunan klan Iblis Bintang yang bersembunyi di gua-gua, hingga para bandit yang mencari tujuan hidup, mulai berkumpul di Puncak Bintang Jatuh—sebuah gunung yang puncaknya terbelah, tempat jatuhnya meteorit hitam ribuan tahun lalu.
Li Chen berdiri di puncak gunung tersebut, menatap ribuan orang yang berkumpul di bawahnya. Ada sekitar tiga ribu orang; sebagian besar dalam kondisi buruk, namun di mata mereka terdapat api yang sama.
"Kalian semua dipanggil iblis oleh mereka yang duduk di atas awan emas!" teriak Li Chen, suaranya diperkuat oleh Qi-nya hingga menggetarkan awan. "Kalian diburu karena kalian berbeda! Kalian ditindas karena kalian kuat!"
Li Chen mengangkat pedang Penelan Surga ke langit. Energi hitam meledak dari tubuhnya, membentuk pusaran raksasa yang menutupi puncak gunung.
"Hari ini, aku tidak menjanjikan kalian kedamaian! Aku tidak menjanjikan kalian surga! Aku menjanjikan kalian Dendam! Aku menjanjikan kalian darah para dewa sebagai anggur kalian!"
Li Chen melemparkan benih teratai suci ke tengah-tengah kerumunan. Benih itu mekar menjadi teratai raksasa yang memancarkan energi pemulihan sekaligus energi destruktif.
"Mulai hari ini, tempat ini bukan lagi Puncak Bintang Jatuh. Ini adalah markas dari Sekte Iblis Bintang (Star Demon Sect)! Akulah Pemimpin Sekte kalian, dan siapa pun yang berani menyentuh anggota sekte ini, akan kutelan jiwanya hingga ke akar-akarnya!"
Formasi Sembilan Neraka
Untuk melindungi markas barunya, Li Chen menggunakan pengetahuan dari Kaisar Pedang dan ingatan para penatua yang telah ia telan. Ia membangun Formasi Sembilan Neraka Bintang, sebuah sistem pertahanan yang menggunakan energi dari inti bumi Benua Utara dan menyatukannya dengan miasma beracun dari Lembah Es.
Ia membagi para pengikutnya menjadi tiga divisi:
Divisi Penelan: Dipimpin oleh Kahn, fokus pada penyerangan garis depan dan penyerapan energi musuh.
Divisi Teratai Hitam: Dipimpin oleh beberapa murid pelarian Yue Yin yang menyusul ke utara, fokus pada pengobatan dan pendukung taktis.
Divisi Bayangan Bintang: Pasukan elit yang dilatih langsung oleh Li Chen untuk pembunuhan dan intelijen.
Namun, pembentukan sekte ini tidak berjalan mulus. Penguasa lokal Benua Utara, Raja Es Han, merasa terancam. Ia mengirimkan pasukan berkekuatan sepuluh ribu prajurit elit ranah Inti Emas dan lima jenderal ranah Jiwa Baru untuk menghancurkan sekte yang baru lahir itu.
"Tuan, pasukan Raja Es sudah berada di kaki gunung," lapor Kahn, wajahnya penuh semangat perang.
Li Chen duduk di atas tahta yang terbuat dari meteorit hitam. Ia membuka matanya yang sekarang memancarkan otoritas seorang kaisar. "Biarkan mereka masuk ke dalam jangkauan formasi. Aku ingin menunjukkan pada dunia apa yang terjadi jika mereka mencoba memadamkan bintang yang sedang bangkit."
Pembaptisan Darah
Saat pasukan Raja Es memasuki lembah di bawah puncak, Li Chen melompat turun dari ketinggian ribuan meter. Ia mendarat tepat di depan barisan depan musuh, menciptakan kawah raksasa yang menelan ratusan prajurit seketika.
"Aku memberi kalian satu kesempatan," kata Li Chen, auranya membuat tanah di sekelilingnya membeku menjadi es hitam. "Berlutut dan bergabunglah dengan Sekte Iblis Bintang, atau jadilah pupuk bagi gunungku."
"Sombong!" teriak Jenderal Terdepan, mengayunkan tombak es raksasa.
Li Chen tidak menghindar. Ia menangkap ujung tombak itu dengan dua jari. Dengan satu tarikan ringan, tombak itu hancur, dan Li Chen membalas dengan pukulan Telapak Penghancur Bintang.
DHUARRRR!
Sang jenderal hancur menjadi kabut darah. Li Chen segera mengaktifkan Gerbang Kedelapan tekniknya.
"Seni Penelan Bintang: Pemakan Pasukan!"
Ribuan tentakel energi hitam keluar dari tubuh Li Chen, menusuk setiap prajurit yang berada dalam radius satu mil. Esensi kehidupan mereka mengalir deras ke arah Li Chen, namun ia tidak menyerapnya untuk dirinya sendiri. Ia mengalihkan energi itu ke arah formasi gunung, memperkuat murid-muridnya yang sedang bertarung di atas.
Melihat kengerian itu, para prajurit Raja Es mulai berjatuhan satu per satu. Bukan karena luka fisik, tapi karena jiwa mereka ditarik keluar dari tubuh mereka.
Dalam waktu tiga jam, lembah itu menjadi sunyi. Sepuluh ribu prajurit tewas tanpa sisa. Li Chen berdiri di tengah lautan mayat, tubuhnya bersinar dengan cahaya merah gelap.
Ia menoleh ke arah murid-muridnya yang menonton dari atas tebing. "Ingat hari ini! Ini adalah pembaptisan sekte kita! Kita tidak takut pada jumlah, karena setiap musuh adalah makanan bagi pertumbuhan kita!"
Pengakuan Baru dan Langkah Selanjutnya
Malam itu, di dalam aula utama sekte, Li Chen duduk bermeditasi. Ia merasakan kekuatannya telah mencapai ambang Transformasi Dewa (Deity Transformation). Namun, ia tahu bahwa untuk menembus ranah tersebut, ia butuh sesuatu yang lebih dari sekadar energi; ia butuh pemahaman tentang hukum dunia.
Kaisar Pedang muncul di sampingnya. "Kau telah membangun fondasimu, Nak. Tapi Raja Es hanyalah pion kecil. Penguasa Langit Atas tidak akan membiarkanmu tumbuh lebih besar. Mereka akan mengirimkan 'Pembersih' segera."
Li Chen mengangguk. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku akan pergi ke Istana Es Abadi di pusat benua ini. Aku merasakan getaran yang sama dengan pedangku di sana. Jantung Bintang yang dikatakan ibuku... ia ada di sana."
Tiba-tiba, seorang pengintai dari Divisi Bayangan Bintang masuk dengan terburu-buru. "Tuanku! Kami menemukan sesuatu di perbatasan timur. Sebuah makam kuno yang baru saja terbuka karena ledakan energimu tadi siang. Di pintunya terukir nama... Li Ye."
Li Chen berdiri seketika. Nama ayahnya.
"Kahn! Jaga sekte ini dengan nyawamu," perintah Li Chen. "Aku akan pergi ke makam itu. Jika itu benar-benar ayahku, maka perang ini akan berubah dari sekadar dendam menjadi revolusi total."
Li Chen melesat ke arah timur, membelah badai salju dengan kecepatan yang menciptakan kilat hitam di langit. Sekte Iblis Bintang telah lahir, dan dengan itu, hitungan mundur bagi keruntuhan Langit telah dimulai.