NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Langkah kaki yang tergesa-gesa di atas papan kayu dermaga sering kali menceritakan lebih banyak hal daripada kata-kata yang keluar dari mulut seorang buronan. Arlo merasakannya setiap kali sol sepatunya yang tipis menghantam permukaan kayu yang lembap. Ia tidak lagi menoleh ke belakang, ke arah Penginapan Teluk Biru yang selama beberapa hari ini memberinya rasa hangat yang palsu. Di sampingnya, Kalea berjalan dengan ritme yang stabil, tangannya mencengkeram erat sandaran kursi roda kayu Pak Elara. Mereka bergerak seperti bayangan yang menyelinap di antara tumpukan peti rempah-rempah, menghindari cahaya lampu jalan yang mulai meredup karena fajar yang enggan muncul sepenuhnya.

"Tundukkan kepalamu, Arlo," bisik Kalea tanpa menoleh. "Jangan biarkan binar matamu memantul di mata penjaga gerbang bawah."

Arlo menarik tudung jaket raminya lebih rendah, menutupi sebagian wajahnya yang kini mulai ditumbuhi janggut tipis yang kasar. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya, bukan karena takut pada kematian, melainkan karena takut akan kegagalan. Jika ia tertangkap sekarang, Kalea dan ayahnya akan terseret ke dalam lubang yang sama. Ia memposisikan dirinya di sisi luar, bertindak sebagai perisai manusia jika tiba-tiba ada pengawal yang muncul dari balik tikungan.

Jalanan menuju Distrik Merah bukanlah jalanan yang sering dilalui oleh turis atau pedagang kaya. Semakin jauh mereka melangkah, aroma amis laut yang segar perlahan digantikan oleh bau jelaga batu bara yang menyesakkan dan aroma karat besi yang tajam. Bangunan-bangunan di sini tampak lebih rapat, seolah-olah mereka saling bersandar agar tidak roboh karena usia. Jendela-jendelanya kecil dan berjeruji besi, memberikan kesan bahwa setiap rumah di sini adalah benteng kecil bagi rahasia masing-masing penghuninya.

"Kita hampir sampai," ucap Pak Elara, suaranya terdengar serak di tengah bisingnya derap langkah mereka. "Cari bangunan dengan tanda palu yang menyilang di atas pintu hijaunya. Itu adalah bengkel lama Silas."

Arlo menyapu pandangannya ke sepanjang jalan yang becek oleh sisa pembuangan air galangan. Ia melihat berbagai macam orang yang tampak tidak bersahabat; pelaut tua dengan kaki kayu, tukang besi yang wajahnya legam oleh asap tungku, dan wanita-wanita yang menatap mereka dengan curiga dari balik tirai kusam. Di tempat ini, kehadiran orang baru adalah sebuah anomali yang harus diwaspadai. Arlo mengepalkan tangannya di dalam saku jaket, menggenggam koin perunggu yang ia peroleh dari Master Bram. Koin itu terasa panas, seolah-olah ikut merasakan ketegangan yang ia bawa.

Tiba-tiba, suara derap kaki kuda yang berat terdengar dari arah belakang mereka. Bukan hanya satu, tapi beberapa kuda. Arlo segera menarik kursi roda Pak Elara ke dalam sebuah celah sempit di antara dua gudang kayu. Kalea ikut merapat, napasnya memburu di dekat telinga Arlo. Mereka membeku, menahan napas seolah-olah udara pun bisa mengkhianati keberadaan mereka.

Rombongan pengawal Vandellia melintas dengan kecepatan tinggi. Zirah ungu mereka berkilat di bawah cahaya fajar yang remang, pedang-pedang mereka berdentang di pinggang. Mereka tidak berhenti, terus melaju menuju dermaga timur, namun kehadiran mereka di area sedalam ini membuktikan bahwa pencarian terhadap Arlo sudah mencapai tahap yang sangat serius. Helena tidak lagi bermain-main; ia sedang membongkar setiap sudut Solandis hanya untuk memuaskan egonya yang terluka.

"Mereka gila," bisik Kalea setelah suara kuda itu menghilang. "Mereka berani masuk ke wilayah dewan seberani itu."

"Itu karena mereka merasa memiliki hukum, Kalea," jawab Arlo sambil kembali mendorong kursi roda. "Ayo, kita tidak punya banyak waktu sebelum mereka kembali untuk penyisiran kedua."

Mereka akhirnya menemukan bangunan yang dimaksud Pak Elara. Pintunya dicat hijau kusam yang sudah mengelupas di banyak tempat, dan di atasnya terdapat pahatan kayu berbentuk dua palu yang menyilang—tanda seorang tukang kayu senior. Arlo mengetuk pintu itu dengan pola yang sudah diajarkan Pak Elara semalam.

Ketuk. Ketuk-ketuk. Ketuk.

Hening sejenak. Arlo bisa merasakan beberapa pasang mata sedang menatap mereka dari lubang pengintai di pintu. Suara gerendel besi yang berat ditarik terdengar kasar, lalu pintu itu terbuka hanya beberapa inci. Seorang pria tua dengan satu mata tertutup kain hitam dan janggut putih yang sangat panjang menatap mereka dengan tatapan dingin.

"Kayu jati tidak pernah busuk di air," ucap Kalea dengan suara yang mantap meskipun jemarinya gemetar.

Pria itu terdiam selama beberapa detik, matanya yang sebelah beralih menatap Pak Elara yang duduk di kursi roda. Perlahan, gurat ketegangan di wajah pria itu melunak. Ia membuka pintu lebar-lebar dan memberikan isyarat agar mereka segera masuk.

"Masuklah sebelum bau ketakutan kalian mengundang lalat," suara pria itu terdengar seperti gesekan batu kasar.

Begitu mereka masuk, Arlo segera merasakan atmosfer yang sangat berbeda. Ini bukan sekadar bengkel tukang kayu; ini adalah sebuah benteng. Di sekeliling ruangan, tumpukan balok kayu jati dan ek disusun sedemikian rupa hingga membentuk labirin yang rumit. Ada aroma minyak pelumas dan serbuk gergaji yang sangat kental. Di sudut ruangan, sebuah tungku api menyala redup, memberikan sedikit kehangatan di tengah udara Distrik Merah yang lembap.

Silas, pria tua itu, mengunci kembali pintu dengan tiga palang kayu yang sangat besar. Ia kemudian berbalik dan memeluk Pak Elara dengan sangat singkat namun penuh arti.

"Kau terlihat seperti sepotong kayu yang sudah terlalu lama terendam air asin, Elara," ucap Silas sambil menepuk bahu teman lamanya itu.

"Dan kau masih terlihat seperti perompak yang gagal pensiun, Silas," balas Pak Elara dengan tawa kering yang berakhir dengan batuk kecil.

Silas kemudian menatap Arlo dan Kalea. Tatapannya berhenti lama pada Arlo. Ia berjalan mengelilingi Arlo, mengamati setiap jengkal kemeja raminya yang kotor dan telapak tangannya yang kapalan. "Jadi ini pangeran yang bikin geger dermaga barat? Penampilannya tidak lebih baik dari kuli panggul yang mabuk di bar bawah."

Arlo tidak merasa tersinggung. Ia justru merasa lega karena di tempat ini, identitas pangerannya benar-benar tidak memiliki nilai tawar. "Saya hanya asisten pemahat Master Bram, Tuan Silas. Itu saja."

"Master Bram, ya? Pria tua sombong itu jarang mau menerima murid," Silas mendengus, lalu ia menunjuk ke arah tangga kayu yang mengarah ke lantai atas. "Kalian bisa tinggal di loteng. Ada tiga kasur jerami dan satu kompor kecil. Tapi ingat satu hal; di bengkel ini, tidak ada suara yang boleh keluar setelah matahari terbenam. Dan jika ada orang asing yang mengetuk, kalian tidak ada di sini. Mengerti?"

"Mengerti, Tuan," jawab Arlo dan Kalea serempak.

Malam pertama di Distrik Merah terasa sangat panjang. Arlo duduk di tepi jendela loteng yang kecil, menatap ke arah pelabuhan yang kini tampak seperti lautan cahaya obor. Ia bisa melihat patroli pengawal Vandellia mondar-mandir di sepanjang jalan utama, namun mereka tidak berani memasuki gang-gang sempit Distrik Merah. Ada aturan tak tertulis di sini bahwa tempat ini adalah wilayah yang tidak tersentuh oleh hukum luar selama penghuninya tidak mencari masalah.

Arlo meraba pahatnya yang ia letakkan di samping tempat tidur. Ia merindukan Master Bram. Ia merindukan suara serutan kayu di Galangan D. Namun ia tahu, ia harus bersembunyi untuk sementara waktu.

Kalea mendekat, membawa secangkir teh herbal yang aromanya sangat tajam. Ia duduk di lantai di samping Arlo, menyandarkan kepalanya pada dinding kayu yang bergetar tertiup angin. "Apa yang kau pikirkan, Arlo?"

"Tentang bagaimana sebuah garis arang di atas kayu jati bisa menjadi jauh lebih stabil daripada garis keturunan di atas perkamen," jawab Arlo pelan. Ia menatap telapak tangannya sendiri. "Dulu aku takut kehilangan segalanya, Kalea. Tapi sekarang, saat aku sudah kehilangan segalanya, aku justru merasa sangat kuat. Karena tidak ada lagi yang bisa mereka ambil dariku kecuali nyawaku."

Kalea meraih tangan Arlo, mengunci jemari mereka di tengah kegelapan loteng. "Mereka tidak akan bisa mengambil nyawamu, Arlo. Tidak selama aku masih bisa memegang pahat."

Arlo tersenyum, ia menarik Kalea ke dalam pelukannya. Di tengah kesunyian Distrik Merah, di antara tumpukan kayu jati dan aroma jelaga, Arlo Valerius merasa telah menemukan benteng yang sesungguhnya. Bukan benteng yang terbuat dari marmer dingin, melainkan benteng yang dibangun dari kesetiaan dua orang yang berani melawan seluruh dunia demi satu menit kejujuran.

"Kita akan mulai bekerja lagi besok, kan?" tanya Kalea lirih.

"Ya. Silas bilang dia punya pesanan kotak amunisi untuk kapal patroli. Dia butuh tangan yang teliti untuk membuat sambungan penguncinya," Arlo mengusap rambut Kalea yang masih berbau air garam. "Kita akan terus memahat, Kalea. Sampai tidak ada lagi ruang untuk rasa takut."

Malam semakin larut. Suara bising dari jalanan Distrik Merah mulai berkurang, digantikan oleh suara deburan ombak yang menghantam tebing karang di bawah bengkel Silas. Arlo memejamkan matanya, membiarkan rasa lelah membawanya menuju tidur yang paling pulas yang pernah ia miliki. Ia tidak lagi memikirkan mahkota. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya membuat sambungan kayu yang sempurna besok pagi.

Retakan itu kini telah menjadi lubang persembunyian yang aman. Dan Arlo Valerius, sang pria tanpa mahkota, siap untuk terus memahat takdirnya di tengah kegelapan, sampai fajar yang sesungguhnya benar-benar tiba untuk menjemput mereka.

Mau lanjut ke bab selanjutnya, non?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!