NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

ajil seorang suami yang ditinggal istrinya meninggal dunia setelah kelahiran anak keduanya.
sampai pada suatu ketika dia berjalan dijalan raya tanpa melihat kanan kiri menyebrang jalan, lalu ia tertabrak kendaraan.
tapi seketika ia berada ditempat dimana keadaan yang jauh dari planet bumi dan bertemu seorang Dewi yang akan memberikan kehidupan dan petualangan baru disdimensi lain diplanet yang bernama ridokan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bayangan Sang High Elf dan Gerbang Valeria

Dua bulan purnama yang menggantung di langit malam Ridokan perlahan memudar, meredup seiring dengan semburat cahaya keemasan dari satu-satunya matahari yang mulai merangkak naik dari ufuk timur. Sinar fajar itu menembus celah-celah kanopi Hutan Terlarang yang rapat, menciptakan pilar-pilar cahaya yang menyinari kabut tipis di atas tanah berlumut.

Ajil duduk bersila di atas sebuah akar pohon raksasa yang melintang. Di depannya, api unggun kecil bergemeretak, memanggang potongan daging Serigala Tanduk Besi yang ditusuk menggunakan ranting pohon basah. Tidak ada bumbu, tidak ada garam. Lemak dari daging monster itu menetes ke dalam api, menghasilkan asap berbau amis yang tajam. Ajil membolak-balik daging itu dengan wajah datar, matanya menatap kosong ke arah jilatan api.

Malam pertamanya di Ridokan dihabiskan dengan pembantaian. Sepanjang malam, belasan monster tingkat rendah hingga menengah mencoba menjadikannya mangsa. Mulai dari Laba-laba Beracun raksasa hingga Beruang Batu. Namun, dengan Mana tak terbatas dan Tinju Petir Ungu miliknya, Ajil meratakan mereka semua menjadi genangan darah dan experience murni.

[SISTEM: Status Terkini.]

[Nama: Ajil]

[Level: 25]

[EXP: 45.000 / 60.000]

[Item Jarahan Baru: 15x Kristal Sihir Berbagai Tingkat, 5x Taring Beruang Batu, 10x Kantung Racun Laba-laba.]

Ajil menarik daging serigala yang sudah setengah hangus dari perapian. Ia menggigitnya kasar. Teksturnya alot bagai karet ban, rasanya hambar dan berbau anyir darah yang kuat. Di Bumi, makanan seperti ini akan langsung membuatnya muntah. Namun, Ajil mengunyahnya tanpa ekspresi, menelan setiap potongan daging itu seolah sedang menelan bongkahan kerikil. Ia tidak makan untuk menikmati rasa; ia makan agar mesin pembunuh di dalam tubuhnya tetap berjalan.

"Makanan ternikmat di dunia pun akan terasa seperti abu di lidah seseorang yang telah kehilangan alasan untuk tersenyum," batin Ajil, mengusap sisa minyak di bibirnya dengan punggung tangan.

Tiba-tiba, layar hologram kuning berkedip redup di sudut matanya.

[SISTEM: Peringatan. Entitas pengintai masih berada dalam radius 300 meter di atas kanopi pohon. Perbedaan level terlalu jauh untuk diidentifikasi secara detail. Tidak ada niat membunuh terdeteksi.]

Ajil melirik sekilas ke arah langit-langit hutan yang rimbun, lalu kembali menatap api unggun. Sistemnya sudah memperingatkan hal ini sejak semalam. Seseorang, atau sesuatu, terus mengikutinya dari atas pepohonan, melompat dari dahan ke dahan tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Mengingat level Ajil yang masih di angka 25, entitas yang tidak bisa diidentifikasi oleh sistem (kecuali otoritas khusus Ajil yang mengharuskannya menatap langsung) pasti memiliki level yang berada di dimensi yang sama sekali berbeda.

Namun, Ajil tidak peduli. Selama entitas itu tidak menghalangi jalannya atau memancarkan aura membunuh, Ajil akan menganggapnya sebagai angin lalu. Ia mengibas tangannya, menyimpan sisa daging dan kristal sihir ke dalam Cincin Ruang Tak Terbatas, lalu bangkit berdiri. Setelan Malam Abadi miliknya sama sekali tidak terlihat kotor atau kusut meski ia telah bertarung semalaman. Ia menepuk debu dari jaket panjangnya, memutar tumit, dan melangkah menuju cahaya terang di ujung hutan.

Tiga ratus meter di atas Ajil, tersembunyi di balik dedaunan ungu raksasa, sesosok wanita tengah berjongkok anggun di atas dahan yang bahkan lebih tipis dari pergelangan tangannya. Dahan itu sama sekali tidak melengkung menahan berat badannya, seolah ia seringan sehelai bulu.

Wanita itu adalah sebuah mahakarya ciptaan alam semesta. Kulitnya seputih pualam tanpa satu pun cacat, memancarkan pendaran cahaya alami yang suci. Rambut panjangnya yang berwarna perak kebiruan tergerai bebas, membingkai wajah oval dengan tulang pipi yang tegas dan sepasang mata tajam berwarna zamrud yang memikat. Sepasang telinga panjang yang meruncing indah menyembul dari balik rambutnya, menandakan identitasnya yang agung: seorang High Elf.

Ia mengenakan zirah ringan yang terbuat dari jalinan sutra mithril berwarna putih mutiara dan perak, mencetak lekuk tubuhnya yang sempurna. Di pundaknya, tersampir jubah pelindung berwarna hijau hutan yang menyamarkan keberadaannya. Di punggungnya, melintang sebuah busur panjang bertahtakan permata roh.

Namanya adalah Erina. Wanita yang kecantikannya telah menjadi legenda di seluruh lima benua Ridokan. Raja, bangsawan, pahlawan tingkat atas, hingga ras naga sekalipun telah bersimpuh di kakinya, menawarkan gunung emas dan samudra permata hanya untuk satu senyuman darinya. Namun, Erina selalu menolak mereka semua dengan wajah sinis dan tatapan sedingin es. Baginya, semua pria itu hanyalah makhluk serakah yang mabuk oleh nafsu dan kekuasaan.

Karena muak dengan perjodohan politik di Benua Timur, Erina melarikan diri ke Benua Barat. Dengan kekuatannya, tidak ada satu pun pasukan penjemput yang bisa menangkapnya.

[Nama: Erina]

[Ras: High Elf (Bangsawan Mutlak)]

[Level: 200]

[Kelas: SSS (Ranger Angin Suci)]

Mata zamrud Erina menyipit, menatap lekat-lekat punggung pria berjaket hitam kelam yang sedang berjalan menjauhi hutan di bawah sana. Sudah lima belas jam ia mengikuti manusia aneh itu. Awalnya, ia hanya kebetulan melintas dan berniat mengabaikannya. Manusia level rendah di Hutan Terlarang biasanya hanya bertahan lima menit.

Namun, yang ia saksikan semalam meruntuhkan seluruh akal sehatnya. Pria dengan mata sedingin lautan mati itu menghancurkan monster-monster dengan tangan kosong. Petir ungu yang meledak dari tinjunya memancarkan aura kuno yang membuat insting High Elf Erina bergetar.

Tapi bukan kekuatan absolut itu yang menahan Erina untuk terus mengikutinya. Melainkan mata pria itu.

Saat pria itu bertarung, tidak ada semangat membara, tidak ada kebanggaan seorang ksatria, tidak ada ketakutan, dan tidak ada kebahagiaan saat memenangkan pertarungan. Mata pria itu kosong, gelap, dan memendam duka yang begitu luas hingga Erina merasa bisa tenggelam hanya dengan melihatnya. Pria itu membunuh bukan untuk kejayaan, melainkan karena monster-monster itu menghalangi langkahnya menuju suatu tempat yang mati-matian ingin ia capai.

"Mereka yang mengejar kecantikanku hanya melihat cangkang yang rapuh," gumam Erina dalam hati, bibir merah mudanya melengkung membentuk senyuman sinis yang sangat tipis. "Tapi pria ini... matanya menatap dunia seolah dunia ini sudah mati. Dia bahkan tahu aku mengawasinya, tapi dia menganggapku tak lebih dari sekadar daun kering yang jatuh dari pohon. Menarik. Sangat menarik."

Dengan gerakan yang tak kasat mata, Erina melompat dari dahan ke dahan, meluncur menembus kanopi hutan seperti embusan angin, terus menjadi bayangan tak bersuara bagi sang algojo.

Udara perlahan berubah. Aroma humus dan darah monster tergantikan oleh bau tanah basah, jerami terbakar, dan kotoran hewan ternak. Kanopi hutan yang lebat akhirnya terbuka, menyambut Ajil dengan hamparan cahaya matahari pagi yang cerah.

Langkah Ajil terhenti di atas sebuah bukit landai. Di bawah sana, membentang sebuah pemandangan yang membuat siapa pun akan menahan napas. Hamparan ladang gandum keemasan dan perkebunan anggur membentang sejauh mata memandang, dikerjakan oleh para petani dari ras manusia dan beastman (manusia setengah hewan). Di ujung ladang tersebut, dilindungi oleh tembok batu setinggi tiga puluh meter yang kokoh, berdirilah sebuah kota raksasa.

Menara-menara kastel menjulang menembus awan, bendera-bendera merah dengan lambang singa emas berkibar gagah tertiup angin. Itulah ibu kota dari Kerajaan Valeria, salah satu dari 7 kerajaan terbesar di Benua Barat.

Jalanan tanah yang lebar membelah perbukitan, dipenuhi oleh hiruk-pikuk kehidupan. Kereta-kereta kuda yang ditarik oleh burung unta raksasa berlalu-lalang mengangkut tong-tong kayu dan gandum. Para pedagang kaki lima menggelar dagangannya di pinggir jalan raya menuju gerbang kota; menjual buah-buahan aneh berwarna biru bersinar, daging panggang raksasa, hingga jimat-jimat murah. Dentingan koin perunggu dan tembaga terdengar saat transaksi barter terjadi. Suara tawa, makian, dan teriakan tawar-menawar menciptakan simfoni peradaban yang kasar namun hidup.

Ajil menatap kemegahan itu tanpa sedikit pun decak kagum. Di matanya, tembok kokoh dan kastel megah itu tak lebih dari sekadar tumpukan batu bata, sama seperti proyek bangunan tempat ia dipecat beberapa hari lalu di Bumi.

"Sebuah kota yang megah dibangun dari ribuan penderitaan para pekerjanya. Sama seperti kekuatan sejati, ia lahir dari reruntuhan hati yang telah hancur lebur," bisik Ajil dihembus angin pagi.

Ia merapatkan kerah jaket panjangnya, menyembunyikan sebagian wajah dan rahangnya yang keras. Sepatu bot tempurnya melangkah mantap menuruni bukit, bergabung ke dalam arus antrean panjang para pedagang, petualang, dan rakyat biasa yang menuju gerbang utama Kerajaan Valeria.

[SISTEM: Memasuki wilayah sipil. Deteksi ancaman diubah ke mode pasif.]

Sambil berjalan perlahan mengikuti antrean kereta kuda, mata dingin Ajil memindai sekeliling. Ia melihat ras kurcaci (dwarf) yang pendek namun berotot kawat sedang memanggul pedang besar, manusia setengah serigala yang mengendus udara, dan para ksatria berzirah perak yang menunggangi kuda perang bercula. Ini adalah dunia yang benar-benar berbeda. Namun, tujuan Ajil hanya satu: mencari informasi di mana letak Prasasti Dimensi pertama, membunuh siapa pun yang menyembunyikannya, dan pulang.

Dari kejauhan, di atas tembok gerbang yang menjulang, para penjaga kerajaan yang bersenjatakan tombak besi mulai meneriaki antrean untuk menyiapkan identitas dan koin tembaga sebagai pajak masuk. Ajil menghela napas panjang. Ia harus mulai berurusan dengan birokrasi dunia ini, sebuah hal yang sangat ia benci. Namun, demi Arzan dan Dara, ia akan meruntuhkan gerbang ini jika mereka berani menghalanginya.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!