NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Jejak yang Ditinggalkan

Pagi datang terlalu cepat.

Aira tidak benar-benar tidur.

Surat ayahnya masih terlipat di meja samping ranjang, seperti benda hidup yang menunggu disentuh lagi. Ia sudah membacanya tiga kali sejak malam tadi. Setiap kata terasa semakin berat, semakin nyata.

Aku mempercayakanmu pada seseorang yang mungkin akan kamu benci untuk waktu yang lama.

Kalimat itu terus berputar.

Bagaimana ayahnya bisa tahu?

Bagaimana ia bisa meramalkan lima tahun kebencian itu?

Dan yang paling mengganggu—

Apa sebenarnya yang tidak sepenuhnya mulia?

Aira duduk di tepi ranjang. Kota di luar jendela masih pucat oleh kabut pagi. Ponselnya di tangan. Nama Arlan muncul di layar percakapan terakhir mereka.

Ia tidak mengetik apa pun.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, Aira sadar sesuatu yang sederhana tapi menentukan:

Jika ia menunggu Arlan jujur sepenuhnya… ia mungkin akan menunggu selamanya.

Dan ia tidak mau hidup di setengah kebenaran lagi.

Aira berdiri.

Keputusan itu datang pelan, tapi pasti.

Ia akan mencari sendiri.

Gedung lama perusahaan ayahnya berdiri seperti kenangan yang menolak mati.

Tidak lagi megah seperti dulu. Logo perusahaan sudah dilepas. Kaca depan diganti papan sementara. Tapi struktur itu masih sama—dingin, tinggi, dan menyimpan terlalu banyak masa lalu.

Aira berdiri di trotoar seberang.

Lima tahun ia menghindari tempat ini.

Hari ini, ia kembali bukan sebagai putri pemilik… tapi sebagai seseorang yang ingin tahu siapa sebenarnya ayahnya sebelum runtuh.

Ia melangkah masuk.

Lobi berdebu. Meja resepsionis kosong. Bau arsip lama bercampur cat usang. Seorang penjaga tua mengangkat kepala dari koran.

“Cari siapa, Mbak?”

“Saya… dulu kerja di sini,” kata Aira. Tidak sepenuhnya bohong. “Saya ingin ambil beberapa dokumen pribadi.”

Penjaga itu menatapnya lama. Lalu bahunya turun sedikit.

“Lantai empat masih belum dibersihkan. Banyak berkas lama. Kalau tahu ruangannya, silakan.”

Aira mengangguk pelan.

Lantai empat.

Ruang kerja ayahnya dulu.

Lift tidak berfungsi. Ia menaiki tangga. Setiap anak tangga terasa seperti menapak tahun-tahun yang ia hindari.

Koridor lantai empat lebih sunyi lagi.

Pintu-pintu kaca buram. Nama-nama yang sudah dilepas. Ruangan yang dulu penuh rapat kini kosong seperti cangkang.

Dan di ujung koridor—

Ruang Direktur Utama.

Napas Aira tertahan sesaat sebelum ia mendorong pintu.

Ruang itu lebih kecil dari yang ia ingat.

Meja besar masih ada. Lemari arsip di belakang. Tirai setengah tertutup. Debu tipis menutupi permukaan kayu.

Seolah waktu berhenti di sini.

Aira melangkah masuk perlahan.

Tangannya menyentuh meja. Dingin. Diam. Tapi bayangan ayahnya duduk di sana terasa terlalu nyata.

“Ayah…”

Bisikan itu keluar tanpa sadar.

Ia menelan emosi yang naik, lalu langsung bergerak ke lemari arsip. Jika ada jejak keputusan terakhir ayahnya—itu pasti di sini.

Laci pertama: laporan keuangan lama.

Laci kedua: kontrak proyek.

Laci ketiga—

Map merah.

Berbeda dari yang lain.

Tidak berlabel.

Jantung Aira berdetak lebih cepat saat ia menariknya keluar.

Di dalamnya ada beberapa dokumen… dan satu nama yang langsung menarik perhatiannya.

PT Suryantara Holdings

Nama itu tidak ia kenal.

Tapi tanda tangan di bawah kontrak itu—

tanda tangan ayahnya.

Dan tanggalnya…

dua minggu sebelum perusahaan runtuh.

“Apa ini…”

Aira membuka halaman berikutnya. Surat persetujuan investasi. Nilai besar. Risiko tinggi. Disetujui langsung oleh direktur utama.

Oleh ayahnya.

Bukan keputusan terpaksa.

Bukan tekanan terlihat.

Persetujuan.

Tangannya mulai dingin.

Jika ini benar… maka ayahnya bukan hanya korban.

Ia bagian dari keputusan itu.

Langkah kaki terdengar di koridor.

Aira refleks menutup map dan menoleh.

Seorang pria berdiri di ambang pintu.

Usianya sekitar lima puluhan. Jas rapi. Rambut beruban tipis. Wajah yang terasa… familiar samar.

Ia menatap Aira beberapa detik.

Lalu berkata pelan:

“Kamu akhirnya kembali juga.”

Darah Aira seperti turun.

“Anda…?”

Pria itu masuk perlahan ke ruangan. Tatapannya beralih ke meja, lemari, lalu kembali ke wajah Aira.

“Kamu sangat mirip ayahmu,” katanya.

Jantung Aira berdetak keras.

“Anda kenal ayah saya?”

Pria itu tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Lebih seperti kenangan yang berat.

“Kami dulu partner.”

Dunia terasa miring.

Partner?

“Dalam investasi terakhirnya,” lanjut pria itu.

Map merah di tangan Aira mendadak terasa seperti benda berbahaya.

Nama perusahaan di dokumen itu kembali terlintas.

PT Suryantara Holdings.

Aira menatap pria itu. Suaranya hampir tidak stabil.

“Siapa Anda?”

Pria itu berhenti di depan meja ayahnya. Jemarinya menyentuh kayu yang berdebu, seolah menyentuh masa lalu.

Lalu ia menoleh.

“Namaku Wirawan Suryanta.”

Nama itu jatuh seperti petir sunyi.

Suryanta.

Suryantara.

Potongan-potongan mulai menyatu.

Dan untuk pertama kalinya sejak penyelidikan ini dimulai…

Aira merasa ia benar-benar berdiri di tepi kebenaran yang lebih gelap dari yang ia bayangkan.

Pria itu menatap map di tangan Aira.

“Jadi,” katanya pelan, “Arlan belum memberitahumu semuanya.”

Udara di ruangan itu berubah.

Dan Aira tahu—

Apa pun yang akan ia dengar setelah ini…

akan mengubah cara ia melihat ayahnya.

Dan Arlan.

Selamanya.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!