NovelToon NovelToon
Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Elegi Di Balik Gerbang Mahoni

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam pengganti / Fantasi Wanita / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: Yukipoki

Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Hitam dan Simpul Intensi

Udara di Ruang Serbaguna Komite Sekolah The Golden Bridge selalu terasa dingin, seperti udara di ruang penyimpanan kristal antik yang hanya dibuka pada acara-acara khusus. Pagi itu, temperatur pendingin ruangan sengaja diatur pada tingkat yang membuat para ibu harus mengenakan shawl kashmir—sebuah isyarat halus bahwa ini adalah tempat yang tidak mentoleransi kehangatan atau emosi yang berlebihan.

Cahaya kristal dari lampu gantung mahal memantul pada permukaan meja oval kayu mahoni gelap, menciptakan kilauan yang dingin dan kaku, sangat kontras dengan keributan emosional yang tersembunyi di bawah permukaan formalitas.

Di pusat kekuasaan meja itu, duduklah Kirana Widjaja, Ratu Komunitas yang tak terbantahkan. Kirana mengenakan suit Chanel berwarna mint pastel, perpaduan sempurna antara otoritas dan keanggunan yang tidak perlu dipertanyakan.

Di pergelangan tangannya, jam tangan berhiaskan berlian tampak seperti matahari kecil yang memancarkan cahaya status. Ia berbicara tentang anggaran Gala Dinner dengan nada suara yang merdu dan lembut, namun setiap kata mengandung bobot sebuah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Ia mengendalikan ruangan itu bukan dengan paksaan, melainkan dengan kekuatan citra dan janji kesempurnaan.

"Jadi, kita sepakat," kata Kirana, memotong diskusi Ibu Rina tentang dekorasi bunga yang terlalu mahal dengan anggukan yang tegas. "Pengurangan anggaran bunga sebesar sepuluh persen tidak akan mengurangi esensi kemewahan acara. Kita harus menunjukkan pada dewan bahwa Komite ini efisien dan fokus pada hasil, bukan hanya estetika berlebihan." Kirana melirik Rina sekilas, sebuah tatapan yang cukup untuk membuat Rina terdiam dan menelan argumennya bulat-bulat, takut dianggap boros atau tidak praktis.

Di sudut paling jauh, duduk Nadia Permata. Ia mengenakan gaun A-line hitam sederhana, tanpa merek mencolok, seolah ia datang untuk menghadiri pemakaman kehidupannya sendiri yang sudah dua tahun berlalu.

Sepasang sepatu flat sederhana membedakannya dari lima ibu lainnya di ruangan itu yang seolah berlomba memamerkan hak tinggi dan tas mahal. Nadia adalah anggota baru yang baru bergabung tiga minggu lalu—diam, pendiam, dan terlihat sedikit awkward atau terintimidasi. Itu adalah persona yang ia bangun dengan cermat: polos, tidak mengancam, dan mudah diabaikan.

Di bawah meja, jari-jari Nadia bergerak pelan, mengetuk ritme rahasia pada buku catatan kosong. Dua tahun. Dua tahun sejak ia terakhir menginjakkan kaki di gedung ini, dua tahun sejak ia mendengar vonis tak manusiawi yang menghancurkan beasiswa tunggal putranya, Aksa. Rasa sakit itu, yang awalnya berupa api yang membakar, kini telah mengeras menjadi bongkahan es di dadanya, memberinya ketenangan yang berbahaya.

***

Dua tahun lalu, Nadia masih seorang Konsultan Branding yang brilian, sibuk menata citra perusahaan-perusahaan besar. Ia berpikir dunia berjalan berdasarkan logika, data, dan kerja keras yang transparan. Aksa, putranya, adalah representasi dari keyakinannya itu—seorang siswa peraih beasiswa penuh berkat kecerdasannya. Mereka adalah pasangan ibu-anak yang sukses secara etis.

Namun, semua itu hancur dalam satu hari. Kirana, dengan motif tersembunyi yang didorong oleh persaingan putrinya, Vanya, menuduh Aksa melakukan plagiarisme dalam esai finalnya. Bukti yang digunakan sangat rapuh—hanya interpretasi data yang dimanipulasi—tetapi didukung oleh kesaksian palsu yang direkayasa oleh jaringan Kirana.

Keputusan Komite (yang sepenuhnya dikendalikan oleh Kirana) menjatuhkan sanksi terberat: beasiswa dicabut, dan Aksa diberi label hitam sehingga tidak dapat melanjutkan di sekolah elit mana pun di kota itu. Kirana berhasil menyingkirkan Aksa sebagai ancaman nyata bagi status Vanya dalam persaingan masuk ke universitas luar negeri paling bergengsi.

Nadia mencoba melawan dengan data, pengacara, dan emosi seorang ibu yang terluka. Ia gagal total. Melawan Kirana Widjaja sama saja melawan tembok berlapis emas—bukan hanya uang, Kirana memiliki kendali atas narasi dan loyalitas yang buta dari komunitas yang lebih takut kehilangan status sosial daripada berpegang pada kebenaran.

Setelah kekalahan itu, Nadia berhenti bekerja. Ia mendedikasikan dirinya untuk memulihkan kehancuran psikologis Aksa yang kehilangan cahaya matanya, dan yang terpenting, mempersiapkan balas dendam.

Nadia tahu bahwa balas dendamnya harus sehalus dan sedingin gaun hitam yang ia kenakan. Ia tidak boleh bertindak emosional, karena emosi adalah kelemahan ibu-ibu. Ia harus bertindak sebagai Insinyur Sosial, merancang setiap langkahnya seperti kampanye branding yang sempurna.

Ia menghabiskan waktu setahun penuh mengamati kehidupan Kirana dari kejauhan: pola posting di media sosial, siapa saja yang ia follow dan unfollow, siapa teman sejati dan siapa sekutu bisnis. Ia mengamati bahwa kekuatan Kirana tidak terletak pada uang suaminya, tetapi pada Validasi Sosial—rasa hormat, iri hati, dan ketakutan yang ia tanamkan pada ibu-ibu di komunitas ini. Inilah titik lemah yang harus ia serang.

Nadia kembali ke Komite bukan sebagai pejuang, tetapi sebagai ‘Ibu yang Ingin Belajar’ dan ingin berkontribusi tanpa pamrih. Ini adalah persona yang ia bangun dengan cermat.

Saat Kirana selesai membahas anggarannya, keheningan yang sedikit memanjang merayap masuk, menunggu instruksi selanjutnya. Nadia memutuskan sudah waktunya untuk mengambil langkah pertamanya. Ia meneguk air putih. Rasanya dingin, persis seperti tekad di hatinya. Ia harus membuat Kirana melihatnya, tetapi tidak sebagai ancaman langsung.

Nadia mengangkat tangan. Gerakannya halus, hampir ragu-ragu. Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Kirana yang tajam dan analitis.

"Iya, Bu Nadia? Ada masukan?" tanya Kirana dengan nada protektif yang meremehkan, seolah ia sedang mengizinkan seorang murid TK untuk berbicara.

"Saya punya ide lain untuk lelang, Bu Kirana," kata Nadia, suaranya tenang, namun didengar oleh semua orang. "Paket lelang utama, Wine Bordeaux 1990 dari koleksi pribadi Bapak suami Anda, memang mewah. Tapi, saya melihat data lelang tahun lalu. Barang mewah pribadi sering dianggap pameran, dan hanya menarik kolektor tertentu. Kita butuh sesuatu yang menarik hati dan ambisi para ibu."

Nadia berhenti sejenak, membiarkan jeda itu membesar dengan rasa penasaran ibu-ibu lain. Ibu Rina, yang tadi dipotong Kirana, mengangguk sedikit ke arah Nadia, tertarik dengan arah pembicaraan ini.

"Menurut saya, kita harus melelang Waktu dan Keahlian," lanjut Nadia, tatapannya beralih ke Kirana, memaksanya melakukan kontak mata. "Misalnya, satu sesi konsultasi privat eksklusif dengan Anda, Bu Kirana, tentang rahasia keberhasilan putri Anda, Vanya."

Ide ini jenius sekaligus berbahaya. Vanya adalah Achilles' Heel (kelemahan) Kirana. Kirana membangun seluruh citranya di atas keberhasilan Vanya yang serba sempurna. Melelang rahasia itu berarti melelang citra Kirana sendiri.

Kirana tersenyum, senyum yang mencapai mata namun tidak kehangatan. Senyum yang biasanya ia gunakan untuk menyingkirkan lawan dengan kehalusan.

"Ide yang berani, Bu Nadia," Kirana membalas, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, menunjukkan adanya sedikit gangguan. "Namun saya rasa itu terlalu pribadi. Selain itu, saya terlalu sibuk untuk itu. Waktu saya sangat terbatas."

"Tepat," balas Nadia, tatapannya tidak goyah. "Itulah mengapa lelang ini akan bernilai tinggi, mencapai tiga kali lipat harga wine Bordeaux, bahkan mungkin lebih. Para ibu di sini," Nadia menyapu pandangannya ke ibu-ibu yang lain dengan ekspresi tulus, "tidak hanya ingin tahu cara mendidik Vanya.

Mereka ingin tahu cara menjadi Anda, Bu Kirana. Mereka ingin jaminan, sebuah formula, bahwa anak mereka bisa sesukses Vanya, dan Anda adalah satu-satunya yang bisa memberikannya."

Nadia sengaja menggunakan kata 'jaminan' dan 'menjadi Anda'. Ia tahu, Kirana hidup dari validasi ini. Menolak berarti mengakui dirinya kikir atau, yang paling ia takuti, takut rahasianya terbongkar.

"Dan ini akan membuktikan kepada dewan," lanjut Nadia, suaranya kini lebih persuasif dan berbobot, "bahwa Komite Sekolah tidak hanya kaya akan uang, tapi juga kaya akan intelektualitas dan nilai-nilai tersembunyi. Itu adalah branding yang jauh lebih kuat daripada perhiasan. Ini akan membuat sekolah kita tampak unggul secara etos, bukan hanya finansial."

Setelah hening panjang yang menegangkan, Kirana menyadari bahwa ia tidak memiliki jalan keluar. Menolak berarti kalah dalam duel reputasi mini ini. Ia mengangguk perlahan. "Baiklah, Bu Nadia. Ide Anda... cemerlang. Kita akan masukkan 'Konsultasi Eksklusif Kirana Widjaja' sebagai paket lelang utama. Tapi Anda yang harus mengurus logistik dan promosi untuk paket ini. Anda harus membuktikan bahwa ide berani ini akan menghasilkan dana paling besar."

Kirana telah melemparkan tantangan, yang sebenarnya adalah jebakan. Jika Nadia gagal mempromosikan paket itu dengan gemilang, ia akan dianggap sebagai Ibu Baru yang Banyak Bicara dan harus segera disingkirkan dari lingkaran.

"Dengan senang hati, Bu Kirana," balas Nadia, senyum kecil, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.

Setelah rapat bubar, ibu-ibu bergegas menghampiri Kirana, memuji keberaniannya dalam 'berbagi ilmu' dan memuji ide Nadia yang 'mengejutkan'. Nadia hanya berkemas perlahan. Ia tidak menginginkan perhatian mereka. Ketika Kirana sudah dikelilingi sekutunya, Nadia berjalan ke arah Ibu Rina, yang masih terlihat lelah setelah argumennya yang dibantah Kirana.

"Maaf soal bunga tadi, Bu Rina," kata Nadia pelan. "Saya lihat Anda punya selera yang luar biasa. Bunga Anda yang dipilih tahun lalu membuat acara terasa lebih hangat."

Rina, yang tadinya cemberut, terkejut dengan kehangatan yang tak terduga itu. "Terima kasih, Bu Nadia. Kirana memang selalu begitu. Uang harus disimpan untuk dirinya sendiri."

Nadia hanya tersenyum simpati. "Saya rasa dia hanya sangat fokus pada efisiensi. Tapi, saya perlu masukan," Nadia menurunkan suaranya, memancarkan aura konfidensial. "Untuk paket lelang konsultasi Kirana, saya butuh foto Kirana yang benar-benar menginspirasi untuk promosi. Bolehkah saya melihat beberapa foto Kirana dari acara lama di Ruang Arsip? Saya ingin mencari yang paling berkesan."

Permintaan ini terdengar polos, didasarkan pada tugas yang diberikan Kirana sendiri. Rina, yang memegang kunci fisik Ruang Arsip, mengangguk, merasa tersanjung karena Nadia meminta pendapatnya. "Tentu, ambil saja. Tapi saya tidak bisa menemani, saya harus menjemput anak dan harus segera ke dokter gigi. Kuncinya ada pada saya. Anda bisa ambil sekarang."

Nadia berhasil mendapatkan kunci yang ia butuhkan: Kunci Ruang Arsip Komite. Bukan hanya foto, ruang itu berisi arsip digital dan hard copy Komite selama lima tahun terakhir, termasuk arsip detail kasus plagiarisme Aksa, dan segala macam rahasia kecil yang tersembunyi di balik kesempurnaan Kirana.

Nadia berjalan ke mobilnya. Di tempat parkir yang sepi, ia memandang bayangannya di kaca spion. Wajahnya tampak lebih tirus, matanya lebih tajam, dan senyumnya lebih jarang. Kunci di tangannya terasa berat, seperti beban etika yang ia harus tinggalkan.

"Gaun hitam ini," bisik Nadia pada dirinya sendiri, menatap pantulannya yang dingin di kaca spion. "Bukan untuk berkabung, tapi untuk kamuflase. Kirana, kau mencuri masa depan Aksa. Sekarang, aku akan mencuri hal yang paling kau hargai: Kesempurnaanmu dan kendalimu atas kebenaran. Dan ruang arsip itu adalah pintu gerbangnya."

Tangan Nadia mencengkeram kemudi. Simpul intesinya telah diresmikan. Balas dendam telah dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!