Gwen Prameswari dan Daniel Artajaya telah menikah lebih dari 3 tahun. Namun hingga saat ini mereka belum juga di karuniai seorang anak.
Ibu mertua Gwen yang terus menuntut untuk agar segera memiliki cucu semakin membuat Gwen frustasi dan di ambang perceraian.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BPH 32
Hari berganti hari dengan begitu cepat. Kini Gwen dan Daniel sudah resmi bercerai. Gwen mencoba ikhlas dan menerima nya. Ia tidak mau terlihat rapuh lagi di hadapan Daniel. Kini saat nya ia memperlihatkan bahwa dirinya baik baik saja dan bahagia.
"Terimakasih Mas karena selama ini sudah menjadi suami yang baik buat aku," ucap Gwen. Saat ini keduanya tengah menikmati kopi di sebuah kafe yang tak jauh dari gedung pengadilan agama.
"Aku belum menjadi suami yang baik buat kamu. Aku akan selalu berdoa semoga kamu bahagia dan segera menemukan laki laki yang jauh lebih baik dariku," ujar Daniel.
"Bagiku kamu sudah menjadi suami baik buatku Mas. Ah iya, bulan depan Sam akan ikut pergantian siswa ke Jepang. Dia minta kita agar menemaninya ke Bandara," kata Gwen.
"Ck, anak itu benar benar kebanggaan ku," ucap Daniel tersenyum mengingat sosok Samudra.
"Oh iya, kamu kan sudah lama tidak ke sana. Bila libur kerja coba lah datang. Anak anak merindukan mu," kata Gwen.
"Yah, minggu besok aku akan ke sana bersama Cintya," ucap Daniel lalu ia menyesap kopinya.
Deg!
Gwen merasa sedikit tertusuk di ulu hatinya kala mendengar Daniel akan mengajak Cintya ke rumah singgah. Namun Gwen tak memperlihatkannya pada Daniel. Dia hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Daniel.
"Oh iya mas, aku akan pindah rumah. Dan rumah itu akan aku jual," kata Gwen membuat Daniel langsung menatapnya tak suka.
"Kenapa?" tanya Daniel.
"Biar bagaimana pun, itu rumah kita. Rumah kamu juga, jadi aku merasa tidak berhak bila kamu memberikan sepenuhnya padaku. Aku tidak mau ada masalah di kemudian hari nanti," ucap Gwen lirih. Sebenarnya ia juga tidak rela pindah dari sana, namun ia juga lelah bila nanti harus berurusan dengan mertuanya.
Gwen ingat saat beberapa hari yang lalu mertuanya datang ke butik hanya untuk marah marah padanya dan berteriak teriak seperti orang kesetanan karena tidak setuju dengan keputusan Daniel.
"Gwen, aku membeli rumah itu untuk kita. Untuk kamu, jadi itu rumah sudah menjadi hak kamu sepenuhnya," kata Daniel.
"Aku hanya membayar seperempat nya mungkin dari cicilan rumah itu. Makanya Aku akan menjualnya dan men transfer hasil penjualannya ke kamu nanti." Gwen tersenyum tipis.
"Daripada di jual bagaimana kalau anak anak kita pindahkan ke sana? mungkin itu akan lebih baik," usul Daniel.
"Tapi nanti Ibu?" tanya Gwen sedikit khawatir.
"Ibu biar jadi urusan ku. Dan aku akan pastika. Ibu tidak akan mengganggu kamu lagi," ucap Daniel.
"Kalau kamu setuju, nanti aku yang akan mengurus semuanya. Kamu tinggal terima beres saja bagaimana?" tanya Daniel.
"Baik lah," kata Gwen setuju.
Setelah selesai berbincang, akhirnya Gwen lebih dulu pamit undur diri karena dirinya ada janji dengan klien. Sedangkan Daniel hanya bisa menghela napasnya dengan kasar kala melihat kepergian Gwen.
Ia merasa sangat pengecut dan pecundang saat ini. Namun ia juga tidak bisa berbuat banyak. Ini adalah jalan terbaik untuk semuanya.
Daniel memejamkan matanya sejenak sambil memijit pelipisnya, hingga tiba tiba sebuah suara membuyarkan aktifitasnya.
"Kamu lagi," ucap Daniel kesal.
"Kenapa? sekarang sudah resmi bercerai kan?" tanyanya.
"Hemm," jawab Daniel malas.
"Baiklah, semoga bahagia." ucapnya sambil menepuk bahu Daniel lalu ia pergi.
Sementara Daniel lagi lagi hanya bisa menghela napas kasar. Dirinya benar benar bagai makan buah simalakama. Tak ingin terus pusing, akhirnya Daniel memutuskan untuk kembali ke kantor.
Yah, bekerja adalah hal terbaik untuk melupakan kesedihannya.