NovelToon NovelToon
Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Zenion : Gray In The Land Of Ruin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Sistem
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Laabki

Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.

​Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.

—————————

"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"

​Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.

​"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"

Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.

​"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sejenak bersama sang putri lagi

Langkah kaki Cassia membawa mereka memasuki kawasan pasar Distrik Tengah yang sejak pagi telah dipenuhi hiruk-pikuk warga. Deretan kios kayu berdiri rapat di sepanjang jalan, sementara para pedagang sibuk menawarkan dagangan mereka dengan suara lantang yang saling bersahutan. Aroma sup hangat, roti gandum yang baru keluar dari tungku, serta wangi rempah-rempah yang khas bercampur di udara, menciptakan suasana yang begitu hidup. Sesekali derap roda kereta pengangkut barang dagangan bergemuruh di atas jalan berbatu, berpadu dengan percakapan para warga yang lalu-lalang.

Beberapa warga yang mengenali sang putri langsung menundukkan kepala hormat saat Cassia melintas di antara mereka.

​"Selamat pagi, Putri Cassia..."

​"Pagi, Putri!"

​Cassia membalas sebagian besar sapaan itu dengan lambaian tangan santai dan senyum lebar tanpa sedikit pun menjaga wibawa khas bangsawan kerajaan.

​"Aneh sekali..." gumam seorang penjual buah sambil terkekeh pelan pada rekannya di balik kios kayu. "Kurasa tidak ada putri kerajaan lain di seluruh benua yang hobi pergi ke pasar tanpa memakai sepatu."

Telinga Cassia langsung menangkap ucapan itu. Ia berhenti mendadak, lalu mengangkat sebelah kaki telanjangnya yang masih dihiasi bercak lumpur tipis.

"Aku dengar itu, Paman!" serunya, penuh percaya diri. Ia menunjuk telapak kakinya sendiri. "Dan asal tahu saja, berjalan tanpa alas kaki di pagi hari itu bagus untuk melancarkan peredaran darah sekaligus memperkuat otot kaki!"

Tawa kecil langsung pecah di sekitar kios-kios terdekat mendengar pembelaan diri sang putri yang kelewat nyeleneh itu. Beberapa warga bahkan hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum heran melihat tingkah Cassia yang tidak mencerminkan citra putri kerajaan pada umumnya.

​Cassia sendiri hanya berkacak pinggang sambil mengerucutkan bibir. Kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menyusuri sela-sela pasar yang ramai. ​Hingga akhirnya, langkah gadis berambut cokelat keemasan itu terhenti tepat di depan sebuah kedai tua beratap kayu gelap dengan papan nama usang bertuliskan Perlengkapan Hewan Dan Pakan.

Bagian depan toko itu dipenuhi berbagai perlengkapan hewan yang tergantung rapi di tempatnya. Kandang-kandang kecil dari kayu tersusun berjajar, diikuti karung pakan yang ditumpuk tinggi, gulungan tali kulit, hingga mainan berbulu berwarna-warni yang menghiasi sudut-sudut etalase. Dari dalam kedai, samar-samar tercium aroma jerami kering dan pakan ternak, bercampur dengan bau kayu tua yang lembap sisa hujan semalam.

Cassia menyibak salah satu mainan kucing yang tergantung di dekat kusen pintu, lalu melangkah masuk ke dalam toko yang dipenuhi aroma khas jerami dan pakan kering.

​"Selamat pagi, Nenek Rua!" sapanya dengan ceria. Suaranya menggema di dalam ruangan kedai yang agak remang.

​Seorang wanita tua bertubuh pendek yang tengah sibuk menyusun karung gandum di dekat meja langsung mendongak. Keriput di wajahnya tampak semakin jelas saat ia menyipitkan mata tajam, menatap Cassia dari ujung rambut hingga ujung kakinya yang tanpa alas.

"... Oh, Putri," gumam nenek tua itu datar, terlihat tidak terkejut dengan kedatangan sang bangsawan. "Tumben sekali Anda mampir ke toko ini."

Cassia malah terkekeh pelan, lalu melangkah semakin dalam ke sela-sela rak kayu tanpa rasa canggung sedikit pun. Jemarinya bergerak menyentuh beberapa gulungan tali dan mainan bulu yang tergantung rendah.

​"Aku sedang mencari perlengkapan untuk kucing," ujarnya santai.

​Wanita tua pemilik kedai itu langsung mendecakkan lidah sambil melipat kedua tangan di depan dada. "Kucing? Kasihan sekali kucing itu."

Cassia spontan menoleh cldengan ekspresi tidak terima. "Apa maksudmu, Nenek?!"

​"Apa lagi?" sahut wanita tua itu datar. "Makhluk malang mana yang nasibnya berakhir di tangan putri paling merepotkan di Castlewood?"

​Cassia langsung menunjuk dadanya sendiri dengan wajah tidak percaya. "Aku? Merepotkan?!"

​"Tentu saja." Wanita tua itu berjalan tertatih menuju rak pakan di sudut ruangan sambil terus mengomel, tanpa rasa takut atau canggung sedikit pun pada status kerajaan yang melekat pada diri Cassia. "Beberapa hari lalu seluruh Distrik Bawah ramai membicarakan bagaimana Anda kabur lagi dari istana sejak subuh. Bahkan hamba mendengar para penjaga gerbang sampai dibuat kelelahan hanya untuk mencari keberadaan Anda."

​Cassia langsung mendecakkan lidah pelan sambil membuang muka ke arah langit-langit toko. "Mereka saja yang terlalu berlebihan, aku hanya sedang mencari keseruan," gerutunya, tetap tidak terima disalahkan.

​"Berlebihan?" Wanita tua itu melirik tajam dari balik bahunya sebelum meletakkan sekaleng pakan premium dan vitamin khusus hewan ke atas meja kayu. "Hamba juga mendengar Ksatria Zenion sampai harus turun tangan sendiri ke area hutan demi mencari Anda."

​Ekspresi santai Cassia mendadak hilang, digantikan raut keruh dalam sekejap ketika mendengar nama itu disebut

​"Dia hanya kebetulan lewat.. Tapi Zen itu memang menyebalkan sih," ketusnya sembari menyilangkan tangan di depan dada. "Padahal saat itu aku sudah menyelinap dengan sangat sempurna melewati para penjaga, tapi entah ilmu sihir apa yang dia pakai untuk menemukanku."

Nenek Rua hanya menggeleng-geleng pasrah, lalu mengetuk permukaan meja konter kayu dengan kepalan tangannya yang keriput. "Tiga keping perak, Putri."

Kepala Cassia langsung mengangguk.

​"Merria! Bayar!" panggilnya tanpa beban. Ia menoleh ke arah pelayannya yang baru saja tiba di dalam kedai itu, melangkah masuk membawa kantong belanjaan. Wanita paruh baya tersebut menyapa Nenek Rua dengan sopan, lalu segera menghitung kepingan perak yang baru saja ia ambil dari saku apronnya.

Perhatian Cassia mendadak teralih. Sepasang mata ungunya menyipit, tertuju pada tiga karung gandum yang bersandar di sudut toko. "Persediaan gandum Nenek berkurang?" tanyanya.

Wanita tua itu menoleh, mengikuti arah pandang Cassia. Ekspresinya yang semula datar langsung berubah menjadi kesal dalam sekejap.

"Harga gandum belum turun sejak dua bulan lalu," gerutunya sambil berkacak pinggang. "Distribusi dari distrik bawah semakin berkurang. Entah apa yang sedang direncanakan Lord Silvestere dengan menimbun gandum di gudangnya."

Cassia terdiam beberapa saat mendengar ucapan itu. Jemarinya yang semula sibuk memainkan ujung mantel perlahan berhenti bergerak.

​Kelangkaan gandum memang sedang menjadi buah bibir di seluruh Castlewood belakangan ini. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, ia sering mendengar para pelayan dapur istana diam-diam mengeluhkan harga tepung dan roti yang meroket tajam. Ayahnya sempat mengatakan bahwa kerajaan sedang berusaha mengatasi masalah distribusi pangan dari Distrik Bawah, meski Cassia sendiri tidak memahami serumit apa persoalan birokrasi tersebut.

Namun baru sekarang Cassia menyadari satu hal. Damian memang hampir tidak pernah terlihat beristirahat beberapa hari terakhir ini. Bahkan tadi saat bertemu di ruang kerja ayahnya, pria itu masih menggunakan seragam militernya.

​"Ayah sempat bilang kalau istana sedang mencari jalan keluarnya," gumam Cassia pelan, nadanya kini terdengar jauh lebih serius dibanding sebelumnya. "Dan Damian... beberapa hari ini juga terus keluar masuk Distrik Bawah sejak pagi buta. Kurasa situasinya memang cukup buruk."

​Nenek Rua mendengus kecil sembari mulai memasukkan beberapa kantong pakan kucing ke dalam karung kain belanjaan di tangan Merria.

​"Tentu saja buruk," gerutu wanita tua itu datar. "Seluruh penduduk kerajaan ini bergantung pada gandum. Saat pangan itu ditimbun, semua sektor ikut kacau. Penjual roti mulai memotong ukuran dagangan mereka, rakyat mulai tercekik karena kekurangan bahan pokok, dan orang-orang kecil seperti kami harus bersaing ketat hanya untuk mendapatkan satu karung gandum."

​Cassia mengangguk pelan, berusaha mencerna setiap informasi berat yang baru saja ia dengar. Untuk sesaat, gadis itu terdiam sambil mengembuskan napas panjang. Baru sekarang ia menyadari bahwa di balik dinding istana Castlewood yang megah, keadaan dunia di luar sana ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

​"Tapi untungnya..." lanjut Nenek Rua sambil menyodorkan satu gulungan kain wol tebal untuk alas tidur kucing pada Merria, "Pangeran Damian bergerak cepat. Kalau bukan karena ketegasannya, mungkin saja saat ini Distrik Bawah sudah lebih dulu ricuh."

​Cassia langsung mendongak, matanya mengerjap beberapa kali. "Damian?" tanyanya spontan.

​"Benar..." Wanita tua itu mengangguk pendek, lalu menunjuk ke sudut ruangan. "Tiga karung di sana itu bahkan baru kemarin sore hamba beli dari pasar Distrik Bawah. Sejak Pangeran Damian turun tangan menekan lumbung Lord Silvestere tempo hari, pasokan gandum akhirnya mulai lancar mengalir kembali ke rumah-rumah penduduk. Meski sifatnya cuma sementara, setidaknya kami masih bisa makan untuk beberapa minggu ke depan."

​Cassia terdiam sejenak sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Damian memang menyebalkan dan gemar menghukumnya membersihkan kandang kuda setiap kali ia berulah. Namun mendengar warga biasa membicarakan kakaknya dengan nada penuh hormat seperti ini membuat Cassia perlahan sadar bahwa di luar istana, pria kaku itu memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar dari yang selama ini ia pikirkan.

​"Hmph..." Cassia mendengus kecil sambil memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan sudut bibirnya yang sedikit terangkat. "Dia memang terlalu serius dan membosankan, sih... tapi kurasa kali ini Damian melakukan pekerjaannya dengan cukup baik."

​Nenek Rua langsung terkekeh pelan, kerutan di wajah tuanya tampak melembut. "Jarang sekali hamba mendengar Anda memuji kakak sendiri, Putri."

​"Jangan salah paham dulu!" balas Cassia cepat dengan wajah yang mulai merona tipis karena gengsi. "Aku cuma tidak mau rakyat Castlewood kelaparan. Bukan karena Damian atau apa pun itu."

​Merria yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum kecil dalam diam. Meski mulut sang putri terus membantah, siapa pun yang melihat sorot matanya saat itu pasti tahu bahwa Cassia diam-diam merasa bangga pada kakaknya.

1
archenis
Lumayan juga ini. 👍
Laabki: makasih banyak kak, semoga menghibur ya ceritanya🙏
total 1 replies
Laabki
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!