menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31: perpisahan yang penuh rasa
Setelah puas bersantai dan menikmati waktu bersama di tempat yang indah dan tenang itu, rombongan pun beranjak pulang menuju istana. Perjalanan pulang terasa lebih singkat, karena hati mereka terasa ringan dan dipenuhi kenangan-kenangan manis yang baru saja tercipta. Sesampainya di gerbang utama kastil, kelompok yang menyertai Xavier sudah menunggu di sana dengan tertib, didampingi oleh lima orang penjaga setia yang telah lama menjaga keselamatan dan kehormatan Elara. Mereka berdiri tegak, tak bergerak sedikit pun, menunjukkan kesetiaan dan kesiapan mereka dalam setiap keadaan.
Begitu Elara dan Xavier tiba, semua mata tertuju kepada keduanya. Ada rasa haru dan kehangatan yang terasa di udara, sesuatu yang jarang sekali terjadi di lingkungan istana yang biasanya penuh dengan keheningan dan ketegangan. Mereka pun berkumpul dan mengobrol sebentar, saling bertukar kabar, menceritakan pengalaman-pengalaman yang telah mereka lalui, dan berbicara tentang rencana-rencana yang akan datang. Suasana terasa begitu akrab, seolah-olah mereka telah saling mengenal dan menjadi bagian dari satu keluarga yang sama sejak lama.
Namun waktu terus berjalan, dan seindah apa pun momen yang dijalani, pasti akan ada saatnya untuk berpisah. Tibalah saat yang dinanti-nanti sekaligus ditakuti oleh hati mereka. Xavier beserta orang-orang yang ikut bersamanya telah menaiki kuda masing-masing, siap melanjutkan perjalanan pulang ke tanah kelahiran mereka yang terletak jauh di seberang pegunungan yang tinggi dan lebat. Kuda-kuda mereka sudah dijinakkan dengan baik, dan perlengkapan perjalanan pun telah disusun rapi di punggung hewan-hewan itu.
Saat Xavier hendak menarik kendali kudanya dan memacu langkahnya untuk berangkat, sesuatu yang tak terduga pun terjadi. Elara tiba-tiba melangkah mendekat, langkah kakinya kecil namun pasti. Semua orang menjadi diam dan menatapnya, penasaran dengan apa yang akan dilakukannya. Tanpa berkata sepatah kata pun, dan seolah-olah gerakan itu datang dari dalam hatinya sendiri, ia mencium lembut pipi kanan lelaki itu. Sentuhannya begitu ringan, seperti sentuhan daun yang tertiup angin, namun terasa begitu hangat dan menyentuh hati.
Hanya dalam sekejap saja, wajah Elara yang biasanya tampak tegas dan berwibawa itu memerah merona bagaikan bunga mawar yang baru saja mekar di pagi hari. Rasa malu yang tiba-tiba menyerang membuatnya tak berani menatap mata orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebelum ada yang sempat bereaksi atau mengucapkan apa pun, ia telah berlari kecil dan bersembunyi di belakang tubuh Lunaris. Tinggi tubuh Lunaris yang menjulang jauh di atas rata-rata orang lain membuatnya menjadi tempat persembunyian yang sempurna bagi Elara. Dari balik punggung sahabat dan pengawalnya itu, ia hanya mengintip dengan mata yang berbinar-binar dan pipi yang masih merah, sementara tangannya memegang erat lengan Lunaris seolah-olah itu adalah tempat yang paling aman di seluruh dunia.
Semua orang yang melihat kejadian itu tak kuasa menahan tawa yang meletup-letup dari dalam dada mereka. Selama ini, mereka mengenal Elara sebagai Sang Ratu Kematian—sebutan yang diberikan karena kekuasaannya yang besar, ketegasannya dalam memimpin, dan kesannya yang dingin serta jauh dari perasaan. Banyak orang bahkan takut untuk berbicara terlalu keras di hadapannya, karena mengira bahwa hatinya sedingin es di puncak gunung dan tak ada ruang untuk perasaan-perasaan lembut. Namun hari ini, mereka melihat sisi lain dari dirinya yang sama sekali tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Di balik semua wibawa dan kekuasaannya, ternyata ada seorang wanita yang sangat lucu, polos, dan pemalu—sifat-sifat yang membuatnya terasa lebih manusiawi dan dekat dengan hati setiap orang.
Sementara itu, Xavier masih diam di tempat, seolah-olah waktu berhenti berjalan baginya. Tangannya terangkat perlahan, lalu menyentuh bagian pipi yang baru saja dicium oleh Elara. Sentuhan itu terasa masih ada, hangat dan nyata, dan ia membiarkan dirinya merasakannya sejenak. Senyum lebar yang begitu tulus terukir di wajahnya, senyum yang membawa cahaya dan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Matanya menatap ke arah tempat Elara bersembunyi, penuh dengan rasa sayang, kekaguman, dan harapan yang tak terungkapkan. Meskipun ia hanya bisa melihat sebagian kecil wajah wanita itu dari balik tubuh orang lain, baginya itu sudah cukup untuk membuat hatinya terasa penuh.
Setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan yang manis, akhirnya ia membuka suara. Nada bicaranya begitu lembut, seolah-olah ia hanya berbicara untuk didengar oleh orang yang dicintainya saja, namun suaranya terdengar jelas dan menyentuh hati semua orang yang ada di dekatnya.
“Datanglah, sayang, ke kerajaanku,” ucapnya, dan kata-kata itu terasa seperti janji yang diukir di atas batu, takkan pernah bisa hilang atau diubah. “Di sana, pintu gerbang istanaku akan selalu terbuka lebar untukmu. Aku akan menunggumu, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, tak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita. Setiap sudut alam semesta, setiap ruangan di istana, dan setiap sudut hatiku akan selalu menyimpan tempat khusus untukmu. Aku akan menjaga rasa ini, dan aku akan selalu menanti saat di mana kita bisa bertemu kembali, dan saat itu tiba, aku takkan pernah membiarkanmu pergi lagi.”
Kata-kata itu menggema di udara yang tenang, terbawa oleh hembusan angin yang lembut, dan terasa menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya. Bagi Elara, yang masih bersembunyi di belakang Lunaris, kalimat-kalimat itu membuat jantungnya berdebar kencang, dan rasa bahagia memenuhi seluruh ruang dalam dirinya. Ia tahu bahwa perjalanan yang harus mereka lalui ke depan takkan selalu mudah—ada tugas dan tanggung jawab yang harus dipikul keduanya, ada tantangan yang mungkin akan menghadang, dan ada jarak yang harus mereka lalui. Namun mendengar janji yang diucapkan dengan sepenuh hati itu, ia merasa bahwa ia memiliki kekuatan untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
Lunaris, yang merasakan getaran tubuh Elara dan menyadari perasaan yang sedang dirasakan oleh tuannya dan sahabatnya itu, hanya tersenyum kecil dan berbisik pelan agar hanya didengar oleh Elara saja, “Kau mendengarnya, bukan? Dia benar-benar menyayangimu, dan itu terlihat jelas dari segala yang dia lakukan dan katakan. Jangan ragu lagi, Yang Mulia, karena kau juga layak mendapatkan semua kebahagiaan ini.”
Sementara itu, orang-orang di sekitar mereka hanya saling memandang dan menganggukkan kepala, merasakan keindahan dari perasaan yang tumbuh di antara dua orang yang memiliki peran dan tanggung jawab yang begitu besar. Mereka sadar bahwa apa yang terjalin di antara Elara dan Xavier bukanlah perasaan yang biasa-biasa saja, melainkan sesuatu yang kuat, tulus, dan mampu melampaui segala perbedaan dan batasan yang ada.
Setelah itu, Xavier menarik kembali kendali kudanya perlahan. Senyumnya masih belum hilang dari wajahnya, dan pandangannya tak pernah lepas dari tempat Elara bersembunyi selama ia masih bisa melihatnya. “Aku berangkat sekarang,” katanya sekali lagi, suaranya tetap lembut namun tegas. “Tapi ingatlah, aku akan selalu menunggumu. Jangan biarkan waktu dan jarak membuat kita lupa akan satu sama lain.”
Kemudian, ia memacu kudanya dengan perlahan, dan rombongannya pun mengikuti dari belakang. Mereka bergerak meninggalkan halaman kastil, dan sosok mereka perlahan-lahan semakin menjauh, sampai akhirnya hanya terlihat sebagai titik-titik kecil yang menghilang di balik bukit yang jauh. Namun meskipun tubuh mereka sudah pergi, kehadiran mereka masih terasa ada di sana, dan janji yang diucapkan tetap tergantung di udara, menjadi kenangan yang takkan pernah bisa dilupakan.
Setelah rombongan itu benar-benar tak terlihat lagi, Elara baru berani keluar dari tempat persembunyiannya. Wajahnya masih terlihat kemerahan, namun matanya bersinar terang, dan senyum kecil yang indah terukir di bibirnya. Ia menatap ke arah jalan yang dilalui oleh rombongan Xavier, hatinya dipenuhi dengan harapan dan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Lunaris berdiri di sampingnya dan berkata, “Semua orang melihat betapa berartinya kalian satu sama lain. Ini adalah awal dari perjalanan yang baru, Yang Mulia, dan kami semua akan mendukung kalian dengan sepenuh hati.”
Elara menoleh dan menatap sahabatnya itu, lalu mengangguk perlahan. “Ya,” jawabnya pelan, suaranya lembut namun penuh keyakinan. “Ini memang awal dari sesuatu yang baru. Dan aku percaya, apa pun yang terjadi nanti, kita akan mampu melewatinya bersama-sama.”
Hari itu berakhir dengan kenangan yang takkan terhapuskan, dan di dalam hati Elara, tumbuhlah tekad baru—untuk menjalani tugasnya sebaik-baiknya, sambil tetap menyimpan rasa sayang yang ia miliki, dan suatu hari nanti, ia akan menepati janji yang tersirat di antara mereka, dan datang ke tempat yang dijanjikan.
Di tempat lain, dalam perjalanan pulang, Xavier masih terus memikirkan momen-momen yang baru saja ia alami. Tangannya sesekali masih menyentuh pipinya, seolah-olah ia ingin memastikan bahwa semua itu benar-benar terjadi dan bukan hanya mimpi semata. Ia menatap ke depan, ke arah tanah kelahirannya, namun dalam hatinya, ia tahu bahwa sebagian dari dirinya telah tertinggal di tempat itu, bersama dengan orang yang ia cintai. Ia pun berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan melakukan segala hal yang diperlukan untuk mempersiapkan segalanya, sehingga saat Elara datang kelak, ia bisa memberikan segalanya yang terbaik, dan menjaga kebahagiaan yang baru saja ia temukan itu selamanya.
Begitulah perpisahan itu berakhir—bukan sebagai akhir dari sesuatu, melainkan sebagai permulaan dari kisah yang lebih panjang, yang penuh dengan harapan, perasaan tulus, dan janji-janji yang akan dijaga dengan sepenuh hati oleh kedua orang yang telah terikat dalam perasaan yang tak terpisahkan