Sinopsis Ringkas
Kayla selalu menjadi wanita sempurna—cantik, pintar, dan selalu juara sejak kecil. Namun setelah menikah muda dengan pria yang dicintainya, Adrian, hidupnya perlahan berubah. Demi menjadi istri yang baik, Kayla mengorbankan impian, penampilan, dan dirinya sendiri.
Sayangnya, semua pengorbanan itu justru membuat Adrian bosan.
Saat Adrian mulai berselingkuh dengan Bianca, Kayla tetap bertahan… sampai akhirnya ia lelah menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan pernikahan mereka.
Setelah dua tahun penuh luka, Kayla memilih bercerai.
Tak ada yang menyangka bahwa setelah pergi dari Adrian, Kayla kembali bersinar. Ia melanjutkan kuliah, meraih karier impian, dan berubah menjadi wanita yang begitu mempesona.
Di saat Adrian mulai menyesal dan mati-matian ingin mendapatkannya kembali, hadir Julian—CEO muda sekaligus kakak senior kampus yang diam-diam telah lama mencintai Kayla.
Namun hati Kayla sudah terlalu hancur untuk percaya pada cinta lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Semua Hal Bisa Diperbaiki
“Aku udah kasih kamu waktu dua tahun, Adrian.”
Kalimat itu terus berputar dan terngiang di kepala Adrian, bahkan saat malam semakin larut dan keheningan menyelimuti seluruh ruangan.
Kayla sudah masuk ke kamar lebih dulu, meninggalkannya sendirian di balkon.
Sedangkan Adrian masih duduk diam di sana, menatap lamanya ke arah kerlap-kerlip lampu kota yang tidak pernah benar-benar tidur, sama seperti pikirannya yang kini penuh sesak.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya… Adrian merasa benar-benar takut. Bukan takut kehilangan pekerjaan, bukan takut gagal meraih ambisi, bukan takut masalah keuangan.
Tapi takut kehilangan seseorang yang selama ini selalu ia anggap akan tetap tinggal di sisinya, seseorang yang ia kira tidak akan pernah pergi walau disakiti berkali-kali.
Di dalam kamar yang remang, Kayla belum juga tidur.
Wanita itu duduk bersandar di kepala ranjang, memeluk kedua lututnya yang ditekuk ke dada. Matanya menatap kosong ke arah dinding di hadapannya.
Bukan karena marah, bukan karena benci.
Melainkan karena terlalu lelah. Lelah secara fisik, namun lebih lelah lagi secara batin.
Karena semakin Adrian berusaha keras memperbaiki semuanya sekarang, semakin Adrian berusaha menjadi suami yang baik belakangan ini… semakin Kayla sadar betapa lamanya ia dulu berjuang sendirian. Betapa banyak air mata yang jatuh saat Adrian tidak ada di sisinya.
Dan kesadaran itu menyakitkan. Rasanya seperti luka lama yang dikoyak kembali.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Bunyi engsel yang halus memecah keheningan malam.
Adrian masuk. Namun kali ini, pria itu tidak langsung berbaring atau memejamkan mata seperti biasanya.
Ia berdiri cukup lama di dekat sisi ranjang tempat Kayla berada, menatap punggung istrinya yang samar, seolah ingin mengatakan sesuatu namun ragu memulainya.
“Kay…” panggilnya pelan.
“Hm?” jawab Kayla tanpa menoleh.
“Aku serius. Aku beneran mau berubah. Aku mau benerin semuanya,” ucap Adrian dengan nada yang rendah namun penuh penekanan, berusaha meyakinkan wanita itu.
Kayla menundukkan wajahnya perlahan, menyembunyikan ekspresinya. Lalu tersenyum kecil yang sangat samar.
Kalimat itu terdengar begitu tulus. Niat itu terasa begitu nyata.
Tapi sayangnya…
sekeras apa pun ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semua itu terasa terlambat.
“Aku percaya kamu mau berubah. Aku percaya niat kamu tulus,” jawab Kayla lirih, suaranya terdengar datar namun jelas.
Tatapan Adrian langsung sedikit hidup. Ada secercah harap yang kembali menyala di matanya. Ia bergerak sedikit mendekat.
“Tapi?” tanyanya cepat.
Satu kata itu keluar dengan napas tertahan. Karena ia tahu pasti ada lanjutan kalimat yang tidak ingin ia dengar. Ada sebuah syarat besar yang mungkin tidak bisa ia penuhi lagi.
Kayla mengangkat kepala perlahan, menatap lurus ke arah manik mata Adrian yang tampak cemas.
“Tapi aku nggak tahu… hati aku masih bisa balik kayak dulu atau nggak. Aku nggak tahu aku masih bisa percaya sepenuhnya sama kamu lagi atau nggak.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu… Adrian benar-benar merasa panik. Lebih panik daripada saat mengetahui keberadaan Julian, lebih panik daripada saat melihat Kayla mulai menjauh.
Karena artinya, rasa cinta itu mungkin masih ada, tapi bentuknya sudah berubah.
“Jangan ngomong gitu. Jangan ngomong seolah semuanya udah selesai,” potong Adrian cepat. Suaranya terdengar lebih rendah sekarang, hampir seperti memohon.
Namun Kayla hanya menatapnya dengan mata yang terlihat lelah, mata yang tidak lagi berbinar saat melihatnya.
“Aku manusia juga, Adrian. Aku punya hati. Aku punya batas kesabaran. Aku bisa sakit, aku bisa kecewa, dan aku bisa capek,” jawabnya pelan.
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana.
Tapi langsung menghantam dada Adrian keras sekali.
Karena selama ini… ia terlalu terbiasa melihat Kayla selalu bertahan. Selalu sabar. Selalu memaafkan. Selalu menunggu. Selalu ada.
Sampai ia lupa hal paling dasar: wanita itu juga manusia biasa yang punya perasaan, dan batas kesabarannya pun pasti akan habis.
“Aku masih sayang sama kamu,” lanjut Kayla pelan, suaranya hampir berbisik namun terdengar jelas di telinga Adrian. “Masih ada rasa itu. Masih ada sisa cinta itu.”
Mata Adrian langsung memerah kecil. Ada rasa perih yang menjalar di dadanya.
Karena ternyata… itulah bagian paling menyakitkan dari segalanya.
Kayla masih mencintainya. Wanita itu masih memiliki perasaan padanya.
Namun cinta itu perlahan habis, perlahan memudar, dan perlahan mati karena terlalu sering terluka, terlalu sering diabaikan, dan terlalu sering menunggu sia-sia.
Tanpa sadar Adrian berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Posisinya sangat dekat dengan Kayla. Ia bisa merasakan hangat tubuh wanita itu, namun terasa begitu jauh hatinya.
“Aku nggak mau kehilangan kamu. Tolong, jangan pernah pergi dari aku,” ucapnya pelan. Kalimat itu terdengar begitu jujur dan penuh ketakutan malam ini.
Dan Kayla bisa merasakannya. Bisa melihat ketakutan itu.
Sayangnya… rasa takut kehilangan yang muncul terlambat itu, tidak otomatis menghapus semua luka yang sudah tergores dalam. Tidak bisa menutup semua memori sakit yang sudah tertanam.
“Aku juga dulu nggak mau kehilangan kamu,” bisik Kayla pelan, matanya menatap kosong ke arah gelap kamar. “Dulu aku berjuang mati-matian biar nggak kehilangan kamu.”
Jantung Adrian langsung terasa diremas kuat oleh rasa sakit.
Karena kata “dulu” itu muncul lagi. Dan setiap kali Kayla mengatakannya… ia merasa semakin jauh, semakin asing, dan semakin terasingkan dari wanita itu.
Malam itu mereka akhirnya tidur tanpa banyak bicara lagi. Tidak ada pelukan, tidak ada kata manis, hanya keheningan yang menyisakan rasa sakit.
Namun berbeda dari biasanya, Adrian justru tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Pikirannya terlalu penuh.
Ia memikirkan semua perhatian yang terlambat ia berikan. Memikirkan Bianca dan bagaimana ia telah salah menempatkan hati. Memikirkan Julian yang kini hadir memberikan apa yang kurang darinya. Dan memikirkan kemungkinan terburuk, Kayla benar-benar pergi suatu hari nanti.
Dan semakin ia pikirkan, semakin dadanya terasa sesak dan sulit bernapas.
Keesokan paginya, matahari baru saja naik. Adrian bangun dari tidurnya yang tidak nyenyak, dan hal pertamanya adalah langsung mencari keberadaan Kayla lagi.
Namun kamar terasa sepi. Sisi ranjang sebelah sudah kosong dan rapi.
Pria itu langsung berjalan keluar kamar dengan langkah cepat. Ia menghirup udara, berharap mencium aroma masakan atau kopi seperti dulu.
Tapi tidak ada. Tidak ada suara penggorengan. Tidak ada aroma kopi yang khas.
Adrian berjalan ke meja makan, dan ia menemukan secarik kertas kecil bertuliskan tulisan tangan Kayla.
"Aku pergi meeting sama klien pagi-pagi banget. Jangan tunggu aku makan siang ya 😊"
Adrian membaca tulisan itu cukup lama, jarinya menyentuh kertas itu pelan.
Dulu… Kayla selalu memberi tahu dengan sangat detail ke mana ia pergi, jam berapa pulang, apa yang akan ia lakukan, dan mengingatkan Adrian untuk makan.
Sekarang… pesannya singkat, padat, dan terasa agak jauh.
Lebih mandiri. Lebih bebas. Dan entah kenapa… hal itu justru membuat Adrian semakin gelisah. Karena artinya, Kayla sudah tidak lagi bergantung padanya.
Sementara itu, di kafe tempat pertemuan itu berlangsung, Kayla sedang duduk di meja bagian dalam, membuka layar laptopnya sambil berdiskusi serius dengan kliennya.
Wajahnya terlihat sangat fokus. Bicaranya tegas. Percaya diri. Dan seluruh penampilannya terlihat hidup, bersinar, dan berani.
Dan tanpa sadar, ada seseorang yang terus memperhatikannya dari kejauhan, dari meja sudut yang agak gelap.
Julian.
Pria itu tersenyum kecil sambil menyesap kopinya perlahan, matanya tak lepas dari sosok wanita itu.
Karena akhirnya… setelah sekian lama terlihat pudar dan terluka, wanita itu mulai kembali menjadi dirinya sendiri lagi. Kayla yang berani, Kayla yang cerdas, dan Kayla yang bahagia.
dan si Bianca berasa jadi korban, tapi dia sendiri yg milih jadi Pelakor !! sengaja cari-cari perhatian dan sok perhatian serta deketin lakii yg udah tau punya istri!!! 🤨😡😡
mending bahagiakan diri kamu dengan apa yg kau bisa lakukan sendiri 😡👍👍