NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Jangan Coba-Coba!

"Gak bisa, Rey. Keputusan Kaprodi itu mutlak, lebih mutlak daripada jawaban lo pas ditanya 'makan di mana' terus jawab 'terserah'."

Gua nyaris aja ngebanting gelas es teh manis yang baru gua pesen ke atas meja kantin. Di depan gua, Dedik duduk dengan muka tanpa dosa.

Tangannya masih asik metik-metik senar gitar akustiknya, bikin suara jreng-jreng pelan yang sekarang kedengeran kayak suara maut di kuping gua.

"Ded, dengerin gua ya," gua narik napas dalem-dalem, berusaha nggak teriak di tengah keramaian kantin jam empat sore.

"Pak Bambang perpanjang deadline sampai jam dua belas siang tadi. Artinya, gua nggak butuh 'pintu belakang' asdos temen lo itu. Artinya... kesepakatan kita di perpus tadi angus. Void. Gak berlaku!"

Dedik nengok pelan. Dia benerin posisi duduknya, tapi matanya tetep fokus ke senar gitar.

"Secara teknis, lo bener. Tapi secara sistem, lo telat. Pas lo lari keluar perpus tadi, gua udah tekan tombol submit di portal penelitian fakultas. Nama lo dan nama gua udah kekunci di database."

"Ya hapus lah! Lo kan jenius, masa hapus satu nama doang nggak bisa?!"

"Bisa aja," jawab Dedik enteng. "Tapi gua harus lapor ke Kaprodi kalau lo mengundurkan diri. Dan lo tau kan prosedurnya?"

"Nama lo bakal di blacklist dari semua proyek penelitian kreatif selama satu tahun ke depan. Lo mau nilai transkrip lo ada bolongnya cuma gara-gara gengsi jadi partner gua?"

Gua diem. Skakmat. Si Aquarius ini bener-bener punya seribu satu cara buat bikin argumen gua mental semua.

"Lagian," Dedik lanjut ngomong, kali ini suaranya agak pelan.

"Proyek ini dapet pendanaan dari kampus. Per orang dapet sejuta sebulan buat operasional lapangan. Lo nggak butuh duit buat benerin mesin motor lo yang udah kayak cerobong asap itu?"

Gua langsung bungkam. Sejuta sebulan? Itu artinya gua bisa ganti oli, servis besar, bahkan beli knalpot baru biar nggak malu-maluin pas lewat depan fakultas.

Sagitarius emang gampang luluh kalau udah diiming-imingi kebebasan finansial (baca: duit jajan tambahan).

"Tiga bulan?" tanya gua pelan, mulai pasrah.

"Tiga bulan," jawab Dedik mantap. "Kita cuma perlu observasi ke desa wisata di pinggir kota tiap akhir pekan. Sisanya, lo bantu gua olah data."

"Tugas lo gampang, kok. Cuma nemenin gua, catet apa yang gua bilang, sama pastiin gua nggak kelaperan pas lagi kerja."

"Dih? Lo nyari partner apa nyari asisten rumah tangga?!"

"Gua nyari partner yang bisa diajak kompromi. Dan sejauh ini, cuma lo yang punya cukup energi buat ngadepin gua tanpa nangis di tengah jalan."

Gua muter bola mata. "Gombal lo basi, Ded. Terus soal flashdisk gua? Balikin sekarang!"

Dedik ngerogoh saku celana jinsnya, terus ngeluarin flashdisk warna merah punya gua. Tapi bukannya dikasih, dia malah muter-muter benda itu di jarinya.

"Folder 'Secret' itu..." Dedik senyum tipis. Kali ini gua yakin itu beneran senyum, bukan kedutan. "Suara lo lumayan juga pas nyanyi lagu galaunya Adele. Kenapa nggak masuk UKM Musik aja daripada sibuk ngurusin Statistik?"

Muka gua langsung panas. "DEDIK! JANGAN DIBAHAS!"

"Gua nggak ngeledek, Rey. Gua serius. Mungkin nanti di lapangan, lo bisa nyanyi sementara gua yang ngiringin pakai gitar. Biar riset kita nggak ngebosenin banget."

"Gak! Gak ada nyanyi-nyanyi! Kita kerja profesional!" gua langsung nyamber flashdisk itu dari tangannya.

"Oke, profesional," Dedik nyimpen gitarnya ke dalam softcase. "Rapat perdana selesai. Besok jam delapan pagi, tunggu gua di depan gerbang. Kita mulai survei lokasi pertama."

"Jam delapan?! Hari Sabtu?!" gua protes keras. "Gua mau tidur siang, Ded!"

"Gak ada tidur siang buat tim nomor 69. Oh iya, satu lagi..." Dedik berdiri, nyampirin tas gitarnya ke bahu.

"Apalagi sih?!"

"Isi bensin lo sore ini. Gua nggak mau telat besok cuma gara-gara nungguin lo dorong motor di tanjakan. Paham, Partner?"

Gua cuma bisa ngedumel sambil ngeliatin punggung Dedik yang menjauh.

Cowok itu bener-bener tipe yang bikin gua pengen lempar sepatu, tapi di saat yang sama, ada sesuatu di petikan gitarnya tadi yang masih nempel di otak gua. Sialan.

Baru aja gua mau berdiri, HP gua bunyi. Pesan dari grup WhatsApp keluarga.

[Grup Keluarga Besar]

Mama: "Rey, minggu depan sepupu kamu, Arlan, mau main ke kampus kamu. Dia katanya mau lanjut S2 di sana. Tolong dibantu ya kalau dia bingung cari kosan." 

Gua melongo. Arlan? Siapa lagi itu? Belum kelar urusan sama si Dedik, sekarang muncul lagi sepupu yang entah dari mana asalnya.

Gua ngelempar HP ke dalem tas. "Bener-bener semester zonk!" gumam gua kesel.

Tapi begitu gua jalan keluar kantin, gua baru sadar satu hal. Dedik tadi bilang... tim nomor 69?

Gua buru-buru buka brosur proyek yang tadi sempet gua ambil. Mata gua nyari-nyari daftar tim. Begitu ketemu, jantung gua serasa mau copot.

Nomor Urut 69:

Dedikasi Aruna Pradipta (Teknik Informatika)

Reyna Salsabila (Akuntansi) 

Judul Proyek: Analisis Harmoni Nada dan Frekuensi pada Komunitas Desa Wisata.

"Tunggu dulu..." gua ngerutin dahi. "Analisis harmoni nada? Ini proyek penelitian apa mau bikin album indie?!"

Gua langsung nengok ke arah Dedik pergi, tapi cowok itu udah ilang di telan keramaian parkiran. Gua bener-bener ngerasa masuk ke jebakan batman yang udah disiapin matang-matang sama si Aquarius cerdas itu.

Besok pagi jam delapan, gua nggak tau kejutan 'sialan' apa lagi yang bakal dikasih Dedik pas kita berangkat bareng. Satu hal yang pasti, semester ini nggak bakal berjalan normal."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!