"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pulang untuk Pergi
Kereta kelas ekonomi itu merintih panjang, memuntahkan decit besi yang memekakkan telinga sebelum akhirnya berhenti dengan satu entakan kasar. Pintu-pintu gerbong yang catnya mulai mengelupas terbuka, melepaskan uap panas dan aroma peluh ke peron stasiun yang lengang.
Gani adalah penumpang terakhir yang melangkah turun.
Sepatu pantofel hitamnya yang dulu selalu mengilap, kini tertutup lapisan debu tebal, menapak di atas beton peron yang retak-retak. Di atas kepalanya, sebuah papan nama kayu bertuliskan "Stasiun Karangbanyu" berderit pelan ditiup angin kemarau. Huruf 'R' pada papan itu sudah memudar, nyaris hilang, sama seperti alasan Gani untuk terus bernapas.
Matahari pukul dua siang memanggang stasiun kecil di pelosok Jawa itu tanpa ampun. Para penumpang lain bergegas mencari tempat berteduh, mengipas-ngipas wajah mereka dengan koran atau topi. Namun, Gani berdiri mematung di sana. Ia mengenakan jaket parka abu-abu yang tebal, ditarik rapat hingga menutupi leher. Udara panas yang membakar kulit seolah tidak menembus saraf perasanya. Baginya, suhu di luar tidak seberapa dibandingkan dengan hawa dingin yang telah membekukan rongga dadanya selama tiga bulan terakhir.
Pria berusia tiga puluh tahun itu menghela napas lambat. Matanya yang cekung dengan kantung mata menghitam menatap nanar ke sekeliling. Asing. Begitu asing. Padahal, tanah yang dipijaknya ini adalah tempat di mana ia menghabiskan delapan belas tahun pertama kehidupannya.
Seharusnya ada rasa rindu yang membuncah. Seharusnya ada nostalgia yang menghangatkan hati ketika melihat deretan pohon mahoni tua di pinggir rel, atau warung pecel lele berdinding gedek di seberang stasiun yang tak pernah berubah sejak ia masih berseragam putih-biru. Namun, Gani tidak merasakan apa-apa. Hatinya seperti sebuah bangunan megah yang baru saja dirobohkan dengan dinamit—rata dengan tanah, hanya menyisakan puing-puing kesunyian dan debu keputusasaan.
Dengan gerakan mekanis, Gani membetulkan letak tas ransel kanvas di bahu kanannya. Hanya tas itu satu-satunya barang bawaan yang ia miliki sekarang. Tidak ada koper berisi pakaian bermerek, tidak ada tabung berisi gulungan cetak biru desain arsitektur yang bernilai miliaran rupiah, dan tidak ada ponsel pintar yang terus-menerus berdering oleh panggilan klien-klien penting.
Semuanya telah habis. Lenyap. Diambil paksa oleh orang-orang yang paling ia percayai.
Gani mulai melangkah meninggalkan area stasiun. Tangan kirinya tanpa sadar masuk ke dalam saku parka, ibu jarinya mengusap pelan sebuah bekas luka sayatan kecil di pergelangan tangannya. Luka itu masih baru, berwarna kemerahan, sebuah bukti bisu dari usahanya yang gagal dua minggu lalu di apartemen mewahnya di Jakarta. Saat itu, pisau cutter yang biasa ia gunakan untuk memotong maket bangunan terasa begitu tumpul, atau mungkin tangannya yang terlalu gemetar karena tidak sanggup menanggung rasa malu.
Pengecut, rutuk Gani dalam hati. Kau bahkan tidak becus mengakhiri hidupmu sendiri dengan benar.
Ia menyusuri jalan desa yang belum sepenuhnya diaspal. Kerikil-kerikil tajam bergesekan dengan sol sepatunya, menciptakan irama monoton yang menemani kesunyiannya. Di kanan dan kiri jalan, hamparan sawah yang mulai menguning membentang luas, dibatasi oleh barisan perbukitan yang diselimuti kabut tipis di kejauhan. Udara di sini terasa sangat bersih, beraroma tanah basah dan daun bambu. Sungguh kontras dengan udara Jakarta yang sarat akan polusi dan ambisi.
"Lho, ini... Mas Gani, kan?"
Langkah Gani terhenti. Suara serak itu datang dari arah pos ronda di pertigaan jalan. Seorang pria paruh baya dengan kopiah miring dan sarung yang dililitkan di leher tengah menatapnya dengan mata menyipit. Itu Pak Yono, penjaga palang pintu kereta api yang dulu sering mengusirnya saat ia dan teman-temannya bermain gundu di dekat rel.
Gani tidak menjawab. Ia hanya menatap pria tua itu dengan pandangan kosong.
"Wah, beneran Mas Gani! Anak almarhum Pak Haris!" Pak Yono berseru antusias, bangkit dari duduknya. "Lama banget nggak kelihatan, Mas! Denger-denger dari tivi, Mas Gani sekarang jadi arsitek sukses di Jakarta, ya? Bikin gedung-gedung pencakar langit! Wah, desa kita bangga betul, Mas!"
Kata-kata 'arsitek sukses' dan 'bangga' menghantam dada Gani seperti godam baja. Rahangnya mengeras. Dulu, sebutan itu adalah mahkotanya. Ia adalah Gani Raditya, jenius muda di dunia arsitektur urban. Desainnya presisi, inovatif, dan berani. Namun kini, gelar itu adalah nisan untuk harga dirinya.
Raka, sahabat sekaligus rekan bisnis yang ia bangun perusahaannya bersama dari nol, telah memalsukan tanda tangannya pada dokumen proyek fiktif berskala nasional. Ketika proyek itu runtuh dan tersandung kasus korupsi bahan bangunan, Raka melarikan diri ke luar negeri membawa seluruh aset cair perusahaan. Gani ditinggalkan untuk menghadapi kejatuhan yang brutal. Para investor menuntutnya, bank menyita apartemen dan mobilnya, dan media massa mencabik-cabik reputasinya.
Puncak dari kehancuran itu datang ketika Kirana... ah, tidak, bukan Kirana. Gani menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba membuang nama yang salah. Sania. Tunangannya itu meninggalkannya di ruang sidang pengadilan, mengembalikan cincin pertunangan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Mas Gani sakit?" tegur Pak Yono, membuyarkan lamunan kelam Gani. Pria tua itu kini menatap Gani dengan dahi berkerut, menyadari wajah pucat dan kantung mata pria muda di hadapannya. "Kok pakai jaket tebal begini siang-siang bolong?"
"Saya... permisi, Pak," ucap Gani akhirnya. Suaranya serak, terdengar seperti gesekan kertas amplas, seolah pita suaranya sudah lama tidak digunakan untuk berbicara dengan manusia lain.
Tanpa menunggu balasan dari Pak Yono, Gani menundukkan kepala dan mempercepat langkahnya. Ia bisa merasakan tatapan bingung dan berbisik dari beberapa warga yang sedang duduk di warung kopi tak jauh dari sana. Ia tahu, tidak butuh waktu lama bagi rumor untuk menyebar di desa ini. 'Anak Pak Haris pulang dengan tampang seperti gembel', mungkin begitu tajuk berita di kalangan ibu-ibu desa esok pagi.
Tapi Gani tidak peduli. Penilaian sosial sudah kehilangan makna baginya. Ia tidak pulang ke desa ini untuk mencari pelukan hangat, simpati, atau pencerahan spiritual. Ia kembali hanya karena ia tidak punya tempat lain untuk bersembunyi dari para penagih utang, dan lebih penting lagi... ia mencari tempat yang tenang untuk mati.
Setelah berjalan kaki sekitar tiga kilometer melintasi jalan setapak yang menanjak, Gani akhirnya tiba di ujung desa. Di sana, di balik rimbunnya pohon rambutan dan semak belukar yang tak terurus, berdirilah sebuah rumah kayu bergaya limasan.
Itu adalah rumah peninggalan orang tuanya. Keduanya telah meninggal karena kecelakaan sepuluh tahun lalu, tepat saat Gani baru saja diterima di universitas bergengsi di ibukota. Sejak saat itu, Gani hanya pulang setahun sekali saat Lebaran, membayar orang untuk membersihkan halaman, lalu kembali ke Jakarta secepat mungkin. Ia selalu menghindari rumah ini karena terlalu banyak memori yang menyakitkan. Ironis, bahwa kini, di titik terendah dalam hidupnya, rumah inilah satu-satunya bangunan di muka bumi yang masih menerimanya.
Gani berdiri di depan pagar kayu yang sudah lapuk. Cat hijaunya telah mengelupas, menampilkan warna asli kayu jati yang kusam dimakan cuaca. Terdapat gembok besar berkarat yang mengunci pintu pagar.
Dengan tangan gemetar, Gani merogoh saku dalam parkanya, mengeluarkan sebuah kunci kuningan yang warnanya sudah menghitam. Ia memasukkan kunci itu ke dalam lubang gembok. Macet. Karat telah menyumbat mekanisme di dalamnya. Gani mencoba memutarnya dengan paksa, mengerahkan sisa tenaga yang ia miliki.
Ctek.
Gembok itu terbuka. Gani mendorong pintu pagar yang langsung menjeritkan suara engsel berkarat yang panjang dan menyayat.
Halaman depan dipenuhi rumput liar setinggi lutut. Lumut hijau merambat liar di dinding bata bagian bawah rumah. Teras depan dipenuhi daun-daun kering yang berserakan ditiup angin. Rumah ini tampak sama matinya dengan pria yang kini berdiri di halamannya.
Sebagai seorang arsitek, mata Gani secara otomatis memindai struktur bangunan di hadapannya. Ia melihat kemiringan tiga derajat pada tiang penyangga utama di sebelah kiri. Ia melihat atap genteng tanah liat yang melorot di bagian tengah, menandakan ada reng kayu yang patah atau lapuk dimakan rayap.
Dulu, melihat ketidaksempurnaan struktur seperti ini akan membuat tangan Gani gatal untuk mengambil kertas sketsa dan merancang ulang segalanya. Ia benci sesuatu yang tidak presisi. Ia benci kehancuran. Tapi sore ini, melihat atap yang hampir ambruk itu, Gani hanya tersenyum sinis.
"Sempurna," bisiknya pada udara kosong. "Tempat yang pas untuk rongsokan."
Gani melangkah naik ke teras, sepatunya meninggalkan jejak di atas lantai ubin semen yang tertutup debu tebal. Ia membuka pintu utama rumah. Bau apek dari kayu lapuk, debu, dan udara yang terperangkap selama bertahun-tahun langsung menyergap indra penciumannya. Ruang tamu itu gelap gulita karena semua jendela tertutup rapat dengan papan kayu dari dalam. Sinar matahari hanya bisa mengintip dari celah-celah kecil di atap, menciptakan pilar-pilar cahaya tipis yang menyoroti debu-debu yang menari di udara.
Perabotan lama peninggalan ibunya—kursi rotan, meja tamu kayu, dan sebuah lemari kaca—masih berada di tempatnya, ditutupi oleh kain putih yang kini sudah menguning. Gani merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam sebuah kuburan raksasa, di mana kain-kain putih itu adalah kain kafan dari masa lalunya.
Tanpa repot-repot membuka jendela untuk membiarkan cahaya masuk, Gani berjalan tertatih menuju kamar utama di bagian belakang rumah. Ia menjatuhkan tas ranselnya ke lantai kayu berdebu dengan bunyi gedebuk tumpul. Tubuhnya yang kelelahan ambruk di tepi ranjang kayu tanpa kasur.
Napasnya memburu di ruang yang pengap. Dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan punggungnya di balik jaket tebal. Serangan paniknya datang lagi. Bayangan wajah Raka yang tersenyum saat mereka menandatangani kontrak, kilatan cahaya kamera wartawan yang mengerubunginya di lobi kantor, suara hakim yang membacakan putusan penyitaan aset... semua itu berputar cepat di kepalanya seperti film horor yang diputar ulang tanpa henti.
Gani mencengkeram dadanya, meremas kain parkanya kuat-kuat. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin, tetapi udara di sekitarnya terasa hampa. Perutnya mual. Rasa sakit akibat kegagalan ini terlalu tak tertahankan. Ia tidak bisa hidup dengan rasa malu ini lebih lama lagi. Ia tidak mau mengingat apa pun lagi.
Setelah berjuang mengatur napas selama belasan menit, Gani akhirnya bisa mengendalikan gemetar di tangannya. Matanya yang merah menatap nanar ke arah tas ransel kanvas di lantai.
Perlahan, Gani berlutut di depan tas itu. Ia menarik ritsletingnya. Suara gesekan logam kecil itu terdengar sangat keras di tengah kesunyian rumah yang mencekam.
Tidak ada pakaian ganti di dalam tas berukuran sedang itu. Tidak ada peralatan mandi, tidak ada dompet berisi uang, tidak ada apa pun yang menunjukkan bahwa pemilik tas ini berniat untuk melanjutkan hidup esok hari.
Gani memasukkan tangannya ke dalam tas, jemarinya menyentuh permukaan yang kasar, kaku, dan tebal. Perlahan, ia menarik benda itu keluar.
Sebuah tali tambang nilon berwarna putih sepanjang lima meter. Ketebalannya seukuran ibu jari orang dewasa. Gani sudah membelinya di sebuah toko material kecil di pinggiran Jakarta sesaat sebelum ia naik kereta. Ia bahkan telah mempelajari cara membuat simpul gantung diri yang kuat dari sebuah artikel di internet yang sejarah pencariannya telah ia hapus bersih.
Gani menatap tali di tangannya. Teksturnya yang kasar menggores kulit telapak tangannya. Tidak ada keraguan di matanya kini, hanya ada kelegaan yang mengerikan. Kelegaan bahwa garis akhir dari penderitaannya sudah berada dalam genggamannya.
Ia memalingkan wajah, menatap ke arah jendela kamar yang berdebu. Dari balik kaca yang buram, ia bisa melihat siluet hutan lebat yang terletak tak jauh di belakang rumahnya. Di tengah hutan itu, Gani tahu, ada sebuah pohon beringin raksasa yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Penduduk desa menyebutnya 'Akar Tua'. Cabang-cabangnya besar, kokoh, dan vokal. Sangat sempurna untuk menanggung beban berat tubuh manusia.
Gani bangkit berdiri, menggenggam tali tambang itu erat-erat. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul setengah empat sore. Matahari sudah mulai condong ke barat, bersiap mengemas cahayanya.
"Sebelum senja," gumam Gani pelan, suaranya nyaris seperti mantra yang mematikan. "Semuanya akan selesai sebelum senja."
Ia melangkah keluar dari rumah gelap itu, berjalan mantap menuju rimbunnya pepohonan, tidak menyadari bahwa di bawah pohon Akar Tua sana, takdir yang sama sekali berbeda tengah menunggunya.