NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Pembalasan Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:77.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.

Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.

Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mirip Oppa Lee

Lampu studio satu akhirnya menyala, menandakan film telah usai. Saat penonton lain mulai berhamburan keluar, suasana canggung namun manis masih menyelimuti Hanum dan Alvaro. Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah oleh suara keroncongan yang cukup nyaring dari perutnya Hanum.

Alvaro yang berada tepat di sampingnya sontak menoleh, lalu sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Hanum seketika merona merah, menahan malu sambil memegangi perutnya.

"Sepertinya kepulangan kita tertunda sebentar, Num. Ayo, kita makan dulu!" ucap Alvaro sambil meraih pergelangan tangan Hanum secara alami, mengajaknya melangkah keluar.

Hanum tidak menolak, ia justru tersenyum kecil mengikuti langkah tegap kakaknya. "Aku ingin makan nasi goreng, Kak. Tapi bukan di restoran di dalam mal ini!"

Alvaro menghentikan langkahnya sejenak dan mengernyitkan kening. "Lantas kamu mau makan nasi goreng di mana?"

"Di pinggir jalan!" jawab Hanum mantap dengan binar mata yang jenaka.

"Kau yakin mau makan di tempat seperti itu, Num?" tanya Alvaro ragu. Sebagai pria yang terbiasa dengan standar kebersihan dan kenyamanan kelas atas, makan di trotoar adalah hal yang asing baginya.

"Sangat yakin, Kak. Aku bosan makan di restoran. Kali-kali pengen coba yang di pinggir jalan!"

Akhirnya, Alvaro pun mengalah. Ini menjadi pengalaman pertamanya membawa mobil mewah Sanjaya untuk berhenti di bahu jalan demi sebuah gerobak makanan. Saat mobil melaju pelan menyisiri jalanan Jakarta yang mulai lengang, mata Hanum dengan sigap mencari-cari hingga akhirnya ia menemukan tujuan itu.

"Nah, itu dia! Berhenti di sana, Kak!"

Alvaro menepikan mobilnya tepat di depan sebuah gerobak dengan spanduk kain bertuliskan 'Nasi Goreng Gila'.

"Nasi goreng gila? Serius kamu mau makan nasi goreng ini, Num?" tanya Alvaro masih dengan nada tidak percaya nya.

"Serius lah, Kak! Dulu waktu aku masih kuliah, aku dan teman-temanku sering mampir ke sini. Aku sangat merindukan momen itu lagi!" seru Hanum antusias.

Ekspresi Alvaro tiba-tiba berubah sedikit gelap. Ingatannya melayang pada masa lalu Hanum. "Termasuk momen dirimu saat mengejar Johan?" tanya Alvaro dengan nada yang terdengar ketus dan dingin.

Suasana di dalam mobil mendadak senyap. Hanum terdiam, hatinya seolah tersengat. Ia tahu betul maksud Alvaro, dulu ia memang sering memaksakan diri melakukan hal-hal yang bukan menjadi gayanya, seperti makan di pinggir jalan hanya demi menyesuaikan diri dengan selera Johan. Alvaro saat itu hanya bisa melihat dari jauh dengan perasaan cemburu yang terpendam.

Hanum menarik napas panjang, menatap Alvaro dengan sorot mata yang tegas namun teduh.

"Sudahlah, Kak. Tidak usah dibahas lagi masalah itu. Aku sudah ingin menguburnya dalam-dalam," ucap Hanum pelan namun bermakna. "Dan masalah aku ingin menikmati nasi goreng di sini karena memang lidahku sangat merindukannya, dan tidak ada kaitannya dengan Johan!"

Melihat ketegasan di wajah Hanum, Alvaro merasa sedikit bersalah karena telah membawa nama pria itu kembali. Hanum tidak menunggu jawaban Alvaro, ia langsung membuka pintu mobil dan keluar, membiarkan aroma nasi goreng yang gurih menyambutnya di bawah lampu jalanan. Alvaro hanya bisa menghela napas, mengunci pintu mobil, dan bergegas menyusul adiknya yang kini sudah berdiri tegak di depan gerobak, siap untuk menikmati malam tanpa bayang-bayang masa lalu.

Di bawah pendar lampu jalanan yang temaram, Hanum tampak begitu menikmati setiap suapan nasi goreng gila yang super pedas. Namun, suasana hangat itu terusik oleh bisik-bisik dari meja sebelah. Empat orang mahasiswi yang tampaknya penggemar berat drama Korea tak henti-hentinya mencuri pandang ke arah Alvaro.

"Ssttt, lo lihat cowok itu? Mirip sekali dengan Oppa Lee Joon Hyuk, bagai pinang dibelah dua!" bisik Dona, si rambut panjang, dengan mata berbinar.

"Iya Dona, wah... rasanya aku ingin ambil fotonya secara candid!" balas Ana yang memakai hijab, sambil perlahan mengeluarkan ponselnya.

"Yasudah Ana, cepat kau foto!" desak temannya yang lain dengan antusias.

Alvaro, yang memiliki insting tajam, merasa tidak nyaman. Ia bisa merasakan kilatan lampu flash yang tidak sengaja menyala atau sekedar moncong kamera yang mengarah padanya. Dengan gerakan tenang namun tegas, ia bangkit dari duduknya.

Hanum tersentak, sendoknya menggantung di udara. Ia terkejut melihat kakaknya yang biasanya "dingin seperti kanebo kering" itu kini justru melangkah lebar menghampiri meja keempat gadis tersebut.

"Apa yang akan Kak Al lakukan terhadap keempat gadis itu?" bisik Hanum cemas.

Alvaro berdiri tegak di depan meja mereka, memberikan bayangan yang mendominasi. "Bisa saya lihat ponsel itu?" tanyanya sambil menunjuk ponsel Ana. Seketika, wajah keempat gadis itu berubah menjadi pucat pasi.

"Memangnya kenapa ya, Oppa Lee?" tanya Dona keceplosan karena gugup.

Alvaro mengernyitkan kening, tampak sangat bingung. "Namaku bukan Oppa Lee. Memangnya aku terlihat sangat tua sampai harus dipanggil begitu?" tanya Alvaro geram. Suaranya yang rendah dan dingin membuat keempat mahasiswi itu menelan ludah serempak.

"Duh, bagaimana jelasinnya ya... Memangnya Oppa... eh, Om, tidak pernah nonton drama Korea ya?" cicit salah satu dari mereka.

"Sudahlah, jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tadi telah mengambil fotoku, kan? Cepat tunjukkan ponselnya!" tegas Alvaro.

Melihat situasi semakin tegang, Hanum segera berlari menghampiri dan menarik lengan Alvaro. "Duh Kak Al, sudah... sebaiknya kita segera pergi dari sini!" ucap Hanum sambil tertunduk malu. Ia tahu betul jika ketenangan Alvaro terusik, kakaknya tidak akan tinggal diam.

"Maafkan kami Tante, kami hanya kagum saja sama suaminya Tante. Habis mirip sekali sama Oppa Lee Joon Hyuk!" ucap Dona sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memohon maaf dengan tulus.

Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Hanum dan Alvaro. Mereka saling bertatapan dengan mata membelalak. Predikat suami-istri yang baru saja diucapkan gadis itu membuat jantung mereka berdebar tak karuan. Kemarahan Alvaro mendadak menghilang, digantikan oleh rasa canggung yang manis. Tanpa kata, Alvaro berbalik dan mengajak Hanum kembali ke mobil.

Sepanjang perjalanan, Hanum sibuk mengotak-atik ponselnya. Rasa penasaran membuncah. Ia mengetikkan nama 'Lee Joon Hyuk' di kolom pencarian. Begitu gambar-gambar sang aktor muncul, Hanum tak kuasa menahan tawa. Tawa yang sangat keras hingga memenuhi kabin mobil.

"Num, kamu kenapa?" tanya Alvaro sambil tetap fokus menyetir, meski sudut bibirnya sedikit terangkat melihat Hanum tertawa.

"Pantas saja keempat wanita muda tadi memanggil kakak dengan sebutan Oppa Lee, ternyata semirip ini, Kak!" seru Hanum sambil menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Alvaro.

Alvaro melirik sejenak saat lampu merah. Ia tertegun. Garis rahang, sorot mata, hingga gaya rambut aktor itu memang sangat mirip dengannya. "Hah, kok bisa semirip ini?" gumamnya tak percaya.

"Wah, jangan-jangan Kakak sama Oppa Lee saudara kembar yang terpisah!" canda Hanum dengan nada jenaka, tawanya masih tersisa di ujung kalimat.

Melihat Hanum yang bisa tertawa lepas seperti itu, Alvaro merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di hatinya. Rasa lelah dan jengkelnya sirna seketika. Ia merasa sangat lega karena Hanum yang ceria dan lucu telah kembali, dan jika harus dianggap sebagai suami nya Hanum oleh orang asing untuk mendapatkan tawa itu, Alvaro sama sekali tidak keberatan.

Bersambung...

1
Teh Euis Tea
nah loh Dini malu ya dulu pernah salah orang, km sih din dulu main nyosor aj sm Alvaro 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
Alhamdulillah semuanya selamat
innalilahi wainnailaihi rojiun selamat jln Johan, sedih jg Johan meninggal
untuk Monica dan dr Rafael kalian pantes di hukum mati
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: udah kaya dukun, pake sajen 🤣🤣🤣
total 3 replies
Ma Em
Alhamdulillah akhirnya semuanya selamat , kasihan Johan nasibnya tragis keluar dari sel nya bkn dibawa kerumah sakit untuk diobati malah dibiarkan dirumah sakit yg sdh tdk beroperasi lagi dan akhirnya meninggal karena TDK dapat perawatan dirumah sakit .
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
alhamdulillah ... teka teki terpecahkan. jgn lupa si dini thor nasib nya gmn itu🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: tenang kak🤭
total 1 replies
Nyonya Gunawan
Oooooh ortunya bkan mafia y tpi petani sukses,,salah donk tebakanku..🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bukan, kak 🤭
total 1 replies
Nyonya Gunawan
Tenang authornya kn jga jdi sutradara jdi kita tinggal baca az..🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: akh... betul sekali akak 🤭
total 1 replies
Patrick Khan
Rafael monika sakit jiwa kyk e
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Curse//Curse//Curse//Curse//Ok//Ok//Ok/
total 3 replies
Ma Em
Monica dan dr Rafael jgn dibiarkan hdp lbh baik tembak mati saja kalau Monica dan Rafael dibiarkan hdp walau dipenjara pasti akan kabur dan akan lbh membahayakan Hanum dan anak2 nya ,
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hukuman setimpal sedang menanti Bun 🤭
total 1 replies
Teh Yen
aaah untungnya Alvaro datang tepat waktu yah terlambat semenit saja aaah engg tau deeh .... 🙈
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Cleaver//Cleaver//Cleaver//Whimper//Whimper/
total 1 replies
Teh Yen
waduh bahaya lagi ,,Hanum kenpa jg pergi sendiri engg hubungin Al dulu ih gemesh deh sellau sembrono huuh 😤 Jadi kena jebakan semuanya haduh
Teh Yen
jangan marah dulu Hanum mereka hanya ank" yg merindukan ayah nya ,,, miris sekali nasibmu Johan andai kamu tidak.silap harta d wanita mungkin hidupmu skrng masih bahagia bersama ank" yah
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak, dia salah jalan
total 1 replies
Teh Yen
benarkah mereka saudara kembar yg terpisah ???
Teh Yen
nyesel kan sekarang kamu,Johan
Teh Yen
wah ternyata Alvaro temenan sama mas Juna nya Dita yah 🤗
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul sekali kak 🤭
total 1 replies
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertolongan datang tepat waktu disaat Hanum dalam bahaya dan kau Monica, Rafael semoga kau dihukum mati karena kejahatan yang dilakukannya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Bunda 🤗
total 1 replies
Nyonya Gunawan
Duuuuh si anak" ini mlah cari masalah,,khawatir bleh tpi harus jujur..
Mereka jga g' sepenuhnya salah sich cma ijin ke ortu itu ptg krn lo trjdi apa" kn ortu tau..
Ma Em
Gara gara Aliya dan Adiba mau ketemu si Johan akhirnya semua jadi dlm bahaya termasuk Hanum .
Ibu Yenih
maka nya aliya ,adiba jgn boong tuh sm orang tua,...jd kena kan semuanya🤭
Sri Darwati
klrga kaya knp g punya bodyguard bayangn sih.
🍾⃝ ͩSᷞɪͧᴠᷡɪ ͣ
waduh alvaro kecolongan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hooh kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!