NovelToon NovelToon
Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Ichigatsu

Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 - Keheningan yang Nyaman

Karena besarnya proyek yang digarap Avara, ruang kerjanya hampir sepenuhnya tidak muat dihuni banyak iblis yang terlibat di dalamnya. Oxron, Fulton, dan Gaiyus adalah satu kesatuan yang harus memperoleh tempat, jadi mereka hampir selalu berada di dalam, tak terusik dan tak terusir. Sementara itu, sebagai pemilik asli ruangan, Avara yang lebih sering keluar-masuk untuk mengecek banyak hal justru tidak memperoleh posisi.

Mereka sudah memindahkan beberapa hal seperti sebagian penginputan data ke dalam sistem database ke ruang milik bidang Arsip, mengurangi personel sekaligus beban kerja, tapi rupanya masih perlu banyak tempat untuk menyelesaikan sisa tugas-tugas lainnya.

Dengan menundukkan kepala begitu dalam, Avara memohon kepada Fulqentius agar diberikan tambahan ruangan guna menyokong pekerjaan mereka.

Sang raja tidak perlu banyak waktu untuk berpikir saat memutuskan, "Beri aku waktu, aku akan menyiapkan ruangan lain untuk tim-mu."

Avara tidak bisa lebih berterimakasih daripada saat itu.

Maka dengan hati ringan, dia membawa dirinya berkeliling ke seluruh penjuru istana untuk memastikan stok barang apapun telah terhitung dan terlapor sebagaimana aslinya, meninggalkan para iblis di ruangannya mengerjakan proyek lain yang sedang mereka geluti bersama.

Avara membantu pembuatan PO (Purcase Order) dan SOP (Standart Operating Procedure) untuk bagian dapur, meninggalkan peluang mereka akan kekurangan atau 'kehilangan' stok bahan-bahan tertentu. Dia memastikan berkali-kali pada mereka untuk melakukan stock opname setiap bulan maupun saat stok baru datang ke gudang penyimpanan. Avara tidak henti-hentinya menekankan bahwa selisih sedikit pun pada laporan mereka, pasti akan berdampak pada keberlangsungan dapur. Tak lupa, gadis itu juga sedikit mengancam untuk tidak memalsukan laporan kepada bidang Logistik, yang nantinya juga akan berujung pada raja iblis.

Avara melakukan hal yang sama di bidang perkantoran dan administrasi, juga gudang penyimpanan senjata dan obat-obatan. Tidak ada tempat yang terlewat baginya untuk dia bantu membuat PO dan SOP. Bisa dibilang, hampir semua iblis memperoleh porsi omelan dari si gadis manusia.

Setelah sepenuhnya lelah, Avara kembali dengan data yang harus dia input ke dalam sistem, menuju ke kantor yang ternyata bahkan tidak muat diisi sebagian tubuhnya. Dia celingukan, menimbang-nimbang apakah dirinya diperbolehkan bekerja di ruang arsip lama atau perpustakaan istana.

Saat Avara memberanikan diri untuk bertanya pada Oriole yang selalu bersiaga di muka pintu ruang Fulqentius, raja iblis itu justru memanggilnya masuk.

"Apa yang kau butuhkan?" tanyanya.

"Saya hanya memerlukan meja dan kursi untuk bekerja, Your Majesty."

"Kalau begitu, kau bisa menempati meja itu," ujar Fulqentius menunjuk sebuah meja panjang tempat biasa diadakannya rapat kecil di ruangannya, yang hampir selalu kosong dan sangat jarang digunakan.

Avara mengerjap. "Saya.. boleh melakukannya?"

"Ya."

Avara menimbang suasana yang terhampar di ruangan itu, membaca keheningan yang tampaknya nyaman digunakan untuk bekerja, lalu mengangguk. "Terima kasih, Your Majesty."

Maka Avara tidak keluar dari ruangan Fulqentius dan memilih untuk menetap, menghuni meja panjang itu sendirian sementara raja iblis tetap di meja dan kursi kebesarannya, masih berusaha membiasakan diri dengan rutinitas Avara untuk berterima kasih. Oriole masuk tak lama kemudian, agaknya memastikan kenapa Avara tak kunjung keluar. Lelaki itu cukup terkejut mendapati si manusia telah bermarkas di sana, dengan ceceran berkas yang siap dia input dalam kristal sihirnya.

"Kenapaー"

"Aku yang menyuruhnya," potong Fulqentius.

Oriole membelalak, tidak habis pikir.

"Biarkan dia di sini sampai ruangan pengganti selesai dipersiapkan."

Oriole tidak bisa membiarkan dirinya untuk tidak menganga. Sejak kapan rajanya menjadi begitu dermawan?

"Dan beritahu pelayan untuk menyiapkan teh."

...****************...

Avara sedang menginput hasil stock opname berbagai barang dan inventaris ke dalam database, tangan dan pikirannya tidak berhenti bekerja, hingga sebuah cangkir teh diletakkan sedikit kasar di hadapannya.

Avara mendongak dan mendapati seorang iblis pelayan merengut ke arahnya, menggumamkan, "Silakan dinikmati."

Gadis itu perlu waktu untuk menyadari bahwa Fulqentius sudah memerintahkan pelayannya untuk membuatkan teh, terlepas dari apakah pelayan itu rela atau tidak, di antara absennya dia saat sedang fokus bekerja.

"Terima kasih," ucap Avara. Dan seperti biasa, Fulqentius harus membiasakan diri.

Raja iblis mengira bahwa telah menjadi prosedur untuk menyiapkan hidangan pada seseorang yang tinggal cukup lama di ruangannya, bukan karena perhatian.

Sekali lagi, bukan karena perhatian.

Namun lagi-lagi, dia dihadapkan dengan rasa syukur si manusia, yang tampaknya tidak mempedulikan kepada siapa dia tertuju.

"Kenapa kau begitu mudah mengatakan terima kasih padaku?"

Bingung, Avara menelengkan kepala. "Kenapa itu jadi aneh bagi Anda?"

"Karena manusia seharusnya lebih terbiasa memusuhi kami daripada berterima kasih," seloroh Fulqentius. "Apalagi untuk hal-hal remeh."

"Bagi saya tidak ada bedanya berterima kasih pada manusia atau iblis."

Hanya dengan itu, pandangan sang raja iblis lebih terbuka terhadap si admin, tidak membiarkannya terjebak dalam konsep manusia-iblis yang terasa seperti jurang terjal di antara mereka.

Hanya dengan itu, Fulqentius bisa banyak memahami Avara, dan semakin membuatnya tidak menyesali keputusannya untuk tidak mengeksekusinya di hari pertama gadis itu tiba di sana.

Hanya dengan itu, mereka kembali ke dalam keheningan yang menenggelamkan.

Fulqentius terus memeriksa dokumen-dokumen, menandatangani mereka, dan berpikir. Ada banyak sekali hal yang harus segera dia putuskan terkait perang dengan manusia, dan banyak pula rapat-rapat yang akan diadakan untuk itu. Waktunya tidak banyak, dan dia tergesa-gesa.

Sebaliknya, Avara menginput dengan tenang, meski pikirannya ribut memikirkan ini dan itu, tangannya sama sekali tidak berhenti bergerak. Dia diam untuk waktu yang lama, disertai sang raja iblis yang juga tidak bersuara berjam-jam.

Hanya Oriole yang tampaknya sengaja keluar-masuk ruangan Fulqentius untuk memeriksa keadaan mereka berdua, meski dalam gerakan yang senyap bak pencuri masuk rumah diam-diam.

Sepasang manusia dan iblis itu bahkan bertahan hingga melewati jam makan malam dalam kesunyian yang sama, yang membuat semua orang segan untuk mengingatkan atau memberitahukan pada mereka bahwa segala hal telah terlampaui waktu. Avara masih berkutat dengan kristal sihir yang memuat spreadsheet sihirnya, dan Fulqentius masih berkutat dengan laporan-laporan yang ditujukan padanya.

Agaknya dua orang itu pun tidak menyadari bahwa malam telah turun karena otomatisasi penerangan di istana membuat lampu magitech segera menyala setibanya petang di setiap ruangan.

Adalah Avara yang pertama kali menyadari bahwa dia telah melewatkan banyak waktu sementara dirinya di sana, melalui rasa lapar yang teramat sangat dan kantuk yang mulai menyerang. Gadis itu melirik jam magitech di dinding di seberang mejanya berada; hampir lewat tengah malam. Jadi dia memutuskan untuk undur diri, menolak untuk lembur berlebihan.

Dan Fulqentius.. mengizinkan.

"Selamat malam, My Lord," ucap Avara menutup hari.

"Selamat malam, Avara."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!