"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"
Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.
Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.
"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: SISA YANG TERLUPAKAN
Duniaku kini benar-benar menjadi kanvas hitam yang tak berujung. Setelah cahaya keemasan dari Rumah Sakit Jiwa itu padam, aku seperti dilemparkan kembali ke jalanan Niskala yang paling kumuh. Aspalnya terasa lebih dingin, kabutnya lebih tebal, dan yang paling menyakitkan adalah rasa hampa di dadaku. Aku masih ingat Kinaya, aku masih ingat setiap lekuk senyumnya, tapi aku tahu di seberang sana, dia sudah tidak lagi mengenalku. Namaku telah menjadi debu di memorinya.
Aku berdiri di depan sebuah etalase toko yang kacanya sudah pecah. Aku mencoba melihat pantulan diriku. Wajahku masih ada, tapi tampak buram, seolah-olah seseorang telah menggosok fotoku dengan penghapus karet. Aku bukan lagi pahlawan bagi seseorang. Aku hanya sisa-sisa frekuensi yang tak diinginkan.
"Jangan terlalu lama menatap cermin, itu hanya akan membuatmu semakin cepat menghilang."
Aku tersentak dan menoleh. Di sampingku, duduk seorang pria dengan pakaian tentara yang sudah usang dan sobek di sana-sini. Dia sedang sibuk membersihkan sebuah medali tua yang sudah karatan.
"Siapa kau?" tanyaku.
"Namaku... entahlah, aku sudah lupa. Di sini semua orang memanggilku Sersan," jawabnya tanpa menoleh. "Kau baru saja melakukan 'perjanjian' itu, ya? Kau memberikan identitasmu agar sinyal di sana tidak korslet lagi?"
Aku mengangguk lemah, lalu duduk di trotoar yang lembap di sampingnya. "Bagaimana kau tahu?"
Sersan itu terkekeh pelan, suaranya seperti gesekan logam. "Hanya orang-orang bodoh yang terlalu mencintai keluarganya yang mau melakukan hal itu. Lihat sekelilingmu, Mas. Kota ini penuh dengan pahlawan yang tak dikenal. Kita semua adalah tumbal agar dunia di sana tetap berjalan normal tanpa gangguan frekuensi dari kita."
Aku melihat ke arah jalanan. Benar saja, di kejauhan aku melihat sosok-sosok lain yang berjalan gontai. Mereka tidak lagi dikejar oleh The Watcher. Seolah-olah para Penjaga itu sudah tidak tertarik pada kami karena kami sudah tidak lagi memiliki "nilai" untuk dicuri. Kami adalah ampas dari sebuah sistem dimensi yang kejam.
"Lalu apa sekarang? Kita hanya akan membusuk di sini selamanya?" tanyaku, rasa frustrasi mulai merayap.
"Tergantung," Sersan itu akhirnya menoleh padaku. Matanya tampak cekung namun bercahaya redup. "Kau bisa memilih untuk benar-benar menyerah dan menjadi bagian dari kabut ini, atau kau bisa belajar menjadi 'Bisikan'. Kau memang tidak diingat, tapi kau masih bisa mengawasi. Niskala ini punya celah, Mas. Celah yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang sudah tidak memiliki nama."
Kata-katanya memicu percikan harapan kecil di kepalaku. "Mengawasi? Maksudmu aku masih bisa melihat Kinaya?"
"Bisa. Tapi kau harus hati-hati. Setiap kali kau mencoba mendekati frekuensi mereka tanpa izin, Niskala akan menghisap bagian dari jiwamu sebagai bayarannya. Jika kau terlalu serakah, kau akan berakhir menjadi bayangan tanpa bentuk yang melolong di bawah kolong jembatan," Sersan itu berdiri, mengantongi medalinya, lalu menunjuk ke arah sebuah menara jam tua yang jarumnya berputar terbalik di pusat kota.
"Pergilah ke Menara Pemantau. Di sana ada celah frekuensi terakhir sebelum mereka benar-benar menutup aksesmu. Tapi ingat, jangan coba-coba bicara. Kau hanya penonton sekarang."
Aku tidak membuang waktu. Aku berlari menuju menara jam itu. Di duniaku, menara itu seharusnya adalah gedung perkantoran tinggi di pusat kota. Di sini, gedung itu tampak seperti menara pengawas yang terbuat dari tumpukan memori yang membeku. Aku menaiki tangga demi tangga yang terasa seperti ribuan anak tangga. Setiap langkah membuat kakiku terasa semakin berat, seolah-olah gravitasi Niskala mencoba menahanku untuk tetap berada di bawah. Namun, bayangan wajah Kinaya yang bingung saat menanyakan namaku terus memecutku untuk naik.
Sampai di puncak, aku menemukan sebuah ruangan dengan dinding kaca yang menghadap ke segala arah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah lubang cahaya kecil yang bergetar. Aku mendekatinya, jantungku (atau apa pun yang berdetak di dadaku ini) berdegup kencang. Aku menempelkan wajahku ke lubang cahaya itu.
Seketika, pandanganku beralih ke sebuah taman rumah sakit di dunia nyata. Matahari sedang terbenam, memberikan warna jingga yang indah pada rerumputan. Di sana, aku melihat Kinaya duduk di kursi roda, dibungkus selimut tebal. Rina duduk di sampingnya, membacakan sebuah buku cerita.
"Ibu, kenapa di buku ini ayahnya selalu pulang?" suara Kinaya terdengar, jernih dan polos.
Rina terdiam sejenak, mengelus rambut Kinaya dengan tangan gemetar. "Karena... ayah dalam cerita itu ingin anaknya selalu merasa aman, Sayang."
"Kenapa Kinaya nggak ingat Ayah ya, Bu?" Kinaya meremas ujung selimutnya. "Kinaya cuma ingat ada boneka beruang tua di gudang itu. Kinaya ingat banget cara boneka itu 'menatap' Kinaya, seolah-olah dia mau bilang sesuatu. Tapi setiap kali Kinaya coba ingat siapa yang kasih boneka itu... kepala Kinaya langsung sakit banget. Kinaya ngerasa... orang itu ada di dekat sini, tapi dia nggak punya wajah."
Air mata terasa mendesak di mataku. Dia ingat boneka itu. Jejak cintaku yang paling kuat tertinggal pada benda mati itu. Meskipun namaku telah dihapus, kehadiranku masih menghantuinya lewat benda-benda kecil yang pernah kusentuh. Rasa nyesek menghantamku; dia mengingat bendanya, tapi melupakanku.
"Aneh ya, Bu? Kayak ada bagian dari jantung Kinaya yang ketinggalan di gudang itu," lanjut Kinaya, menatap kosong ke arah taman. "Ibu nggak pernah kasih boneka itu kan?"
Aku melihat Rina membeku. Dia tahu siapa yang memberikan boneka itu, tapi dia tak bisa mengucapkannya. Aku mencoba menjulurkan tanganku ke arah lubang cahaya itu, ingin sekali saja mengusap air matanya.
"Jangan!" sebuah suara teriakan dari bawah menara memperingatiku, tapi aku terlambat.
Begitu jariku menyentuh pendar cahaya itu, sebuah aliran listrik statis yang sangat kuat menyambar seluruh tubuhku. CRAAAKKK! Aku terlempar menghantam dinding menara. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah kulitku sedang dikuliti hidup-hidup. Di dunia nyata, sebuah dahan pohon di dekat kursi roda Kinaya tiba-tiba patah tanpa angin, jatuh tepat di depan mereka. Kinaya tersentak kaget. "Ayah?" bisik Kinaya tiba-tiba, menoleh ke arah menara yang tak terlihat olehnya.
Aku terengah-engah di lantai menara Niskala. Aku melihat telapak tanganku. Ujung jariku kini sudah lenyap, berubah menjadi kabut abu-abu yang permanen. Sersan itu benar. Setiap kali aku mencoba "menyentuh" dunia mereka, aku kehilangan bagian dari diriku.
Tiba-tiba, dari kegelapan di sudut ruangan menara, muncul sosok The Watcher yang berbeda. Makhluk ini lebih kecil, mengenakan jubah putih yang kotor, dan memegang sebuah buku besar yang halamannya terus terbuka sendiri.
"Haidar... Kau adalah anomali pertama yang berhasil menembus menara ini dalam waktu yang lama," suara makhluk itu lembut, namun dingin. "Kau ingin tetap melihatnya, bukan? Tapi kau tahu harganya. Kau akan habis menjadi abu sebelum dia sempat tumbuh dewasa."
"Aku tidak peduli," jawabku tegas.
"Bagaimana jika kubilang ada cara lain? Cara agar kau bisa tetap mengawasinya tanpa kehilangan dirimu, tapi kau harus melakukan sebuah tugas untuk kami di Niskala?"
Aku menatap makhluk berjubah putih itu. "Tugas apa?"
"Bersihkan kota ini dari mereka yang mencoba 'menyeberang' secara ilegal. Jadilah penjaga gerbang Niskala. Jika kau berhasil, kami akan memberimu satu jam setiap harinya untuk berada di sisinya sebagai 'angin' yang menenangkan tidurnya."
Aku diam. Menjadi penjaga gerbang? Artinya aku akan menjadi pilar dari sistem terkutuk ini. Aku melihat kembali ke lubang cahaya. Kinaya sedang tersenyum tipis saat Rina memberikan sebuah es krim kecil padanya. Senyum itu... aku bersedia menjadi iblis sekalipun asal bisa menjaganya dari jarak dekat. "Aku terima," ucapku pelan.