NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Dokter

Benih Rahasia Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Anak Genius / Dokter Genius
Popularitas:32k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.

Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.

Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.

Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.

Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!

IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak Kemungkinan Itu

"Mama, tadi ada Nenek cantik yang ajak Leo ngobrol," ucap Leo sambil memeluk boneka beruangnya.

Ashela tersenyum kecil, mengira itu hanya salah satu pasien atau pengunjung ramah.

"Oh ya? Leo bilang terima kasih tidak?"

"Iya, Mama. Nenek itu bilang mata Leo mirip anaknya," jawab Leo polos sebelum kemudian jatuh tertidur karena kelelahan.

Ashela terdiam sejenak. Kalimat itu sempat membuatnya merasa tidak nyaman, namun ia segera menepisnya.

'Hanya kebetulan,' pikirnya.

Di ibu kota adalah kota dengan jutaan orang. Tidak mungkin ia seberuntung itu atau sesial itu. Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu adalah awal dari runtuhnya tembok perlindungan yang ia bangun di Sukabumi.

Lantai marmer ruang kerja Direktur Utama Narendra Hospital memantulkan cahaya lampu kristal yang dingin, sewarna dengan suasana hati penghuninya.

Elvano baru saja selesai memeriksa beberapa berkas pasien pasca-operasi ketika pintu ruangannya terbuka dengan dentuman yang cukup keras.

Mama Zoya melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu, wajahnya yang biasanya terjaga dengan riasan sempurna kini tampak tegang dan penuh urgensi.

Elvano mendongak, sedikit mengernyit melihat ibunya yang tampak tidak tenang.

"Ma? Bukannya Mama harusnya ada di acara peresmian galeri siang ini?" tanya Elvano.

Mama Zoya tidak menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah meja kerja Elvano, meletakkan tas mahalnya dengan kasar, lalu menatap putranya lekat-lekat.

"Vano, jujur pada Mama. Siapa bocah laki-laki di lobi tadi?" tanya mama Zoya yang sudah menginterogasi sang anak.

Gerakan tangan Elvano yang hendak menutup map medis terhenti sejenak. "Bocah laki-laki? Lobi kita setiap hari dilewati puluhan anak, Ma. Aku tidak tahu siapa yang Mama maksud."

"Anak itu... dia duduk di kursi roda, memeluk boneka beruang. Siapa namanya? Leo, ya Leo," cecar Mama Zoya, suaranya sedikit bergetar saat tadi tak sengaja mendengar saat suster memanggil bocah kecil tadi sebelum pergi.

"Dia punya lesung pipit di pipi kanan, persis sepertimu. Matanya, caranya bicara... Vano, dia adalah fotokopimu waktu kecil!" seru mama Zoya.

Elvano terdiam selama beberapa detik. Ia tahu siapa yang dimaksud ibunya. Leo. Pasien kecil yang baru saja ia bebaskan dari jerat maut.

Namun, melihat reaksi ibunya yang begitu emosional, Elvano hanya menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran.

"Oh, anak itu. Namanya Leonardo. Dia pasien rujukan dari Sukabumi dengan kelainan jantung bawaan kompleks," jawab Elvano dengan nada bicara yang sangat profesional, seolah-olah sedang membacakan laporan statistik.

"Aku yang mengoperasinya, dan soal kemiripan... Ma, aku sudah bilang berkali-kali, di dunia medis hal itu biasa terjadi. Jangan terlalu terbawa perasaan." tutur Elvano.

"Biasa terjadi? Tidak, Vano! Ini bukan sekadar mirip!" Mama Zoya memukul meja dengan telapak tangannya.

"Ikatan batin itu tidak bisa bohong. Saat aku melihatnya, jantungku rasanya mau copot. Dia memanggilku Nenek cantik. Elvano, apa kau yakin kau tidak pernah... kau tahu, meninggalkan jejak di luar sana?" ujar mama Zoya.

Tepat saat itu, pintu ruangan kembali terbuka. Papa Elvano, Tuan Narendra, masuk dengan wajah yang tampak lelah namun tetap berwibawa. Ia baru saja selesai melakukan pertemuan dengan dewan komisaris.

"Zoya, ada apa lagi ini? Suaramu terdengar sampai ke koridor," tegur Papa Elvano.

"Papa, dengarkan aku! Aku baru saja bertemu dengan anak kecil yang sangat mirip dengan Vano di lobi. Aku yakin itu cucu kita!" seru Mama Zoya, mencari dukungan dari suaminya.

Papa Elvano hanya menggelengkan kepala, lalu duduk di sofa panjang.

"Zoya, sudahlah. Obsesimu pada cucu sudah mulai tidak sehat. Minggu lalu kamu bilang anak tetangga kita mirip Vano, dua minggu lalu kamu bilang model iklan susu mirip Vano. Sekarang pasien rumah sakit pun kamu bilang cucu?" seru Tuan Narendra untuk menyadarkan sang istri.

"Tapi kali ini berbeda, Pa! Anak ini punya aura Narendra yang sangat kuat!"seru mama Zoya tetap kekeh pada pendiriannya.

Elvano bangkit, berjalan menghampiri ayahnya. "Papa benar. Mama hanya terlalu ingin menggendong cucu sampai-sampai melihat setiap anak kecil sebagai kerabat kita. Anak itu, Leo, ibunya adalah seorang buruh kebun teh dari pedalaman Jawa Barat. Dia ibu tunggal yang berjuang sendirian. Tidak ada hubungannya dengan keluarga kita, Ma."

"Ibu tunggal?" Mama Zoya menyipitkan mata.

"Justru itu! Mungkin saja dia pelayan atau seseorang yang pernah bertemu denganmu empat tahun lalu!" Mama Zoya masih terus dengan keyakinannya.

"Ma, cukup." suara Elvano meninggi, tegas dan dingin. "Jangan menghina kehormatan pasienku. Wanita itu berjuang hidup dan mati untuk anaknya. Jangan karena obsesi Mama, kita jadi mengusik kehidupan orang kecil. Leo sudah pulang hari ini. Kasus selesai."

Papa Elvano berdiri, merangkul pundak istrinya. "Ayo, Zoya. Kita pulang. Kamu butuh istirahat. Jangan mempermalukan diri sendiri di depan staf rumah sakit hanya karena khayalan tentang cucu."

Mama Zoya menepis tangan suaminya dengan kesal, namun ia sadar ia tidak punya bukti apa pun.

Dengan tatapan yang masih penuh kecurigaan, ia menatap Elvano untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari ruangan.

"Jika suatu saat terbukti aku benar, Vano... aku tidak akan pernah memaafkanmu karena membiarkan cucuku berkeliaran tanpa nama Narendra." seru mama Zoya.

Setelah orang tuanya pergi, Elvano kembali duduk. Ia menatap jendela luar, memikirkan wajah Leo. Sejujurnya, di dalam hatinya yang paling dalam, ia pun merasakan getaran yang sama dengan ibunya. Namun, logikanya sebagai pria yang realistis menolak kemungkinan itu.

Baginya, Ashela adalah si ibu tunggal itu terlalu jauh dari dunianya untuk menjadi bagian dari masa lalunya yang kelam.

Di saat yang sama, sebuah taksi berhenti di depan sebuah gang sempit di daerah pinggiran ibu kota. Udara di sini terasa panas dan lembap, jauh berbeda dengan sejuknya lereng Sukabumi atau kemewahan Narendra Hospital.

Ashela turun dari taksi dengan hati-hati, menggendong Leo yang masih tampak lemas namun sudah bisa tersenyum. Sopir taksi membantunya menurunkan sebuah koper tua dan beberapa kantong berisi obat-obatan.

"Terima kasih, Pak." ucap Ashela tulus.

Ia menatap ke dalam gang. Kontrakan yang ia sewa hanya berupa petakan kecil berukuran 3x4 meter dengan dinding semen yang belum dicat sempurna.

Ada sebuah kasur busa tipis di sudut ruangan, sebuah lemari plastik kecil, dan kamar mandi sempit di bagian belakang. Jauh dari kata layak, namun bagi Ashela, ini adalah tempat persembunyian yang paling aman untuk saat ini.

"Mama... kita tidur di sini?" tanya Leo sambil melihat ke sekeliling ruangan yang pengap.

"Iya, sayang. Untuk sementara saja, ya? Sampai Dokter Elvano bilang Leo sudah benar-benar kuat untuk naik bus pulang ke rumah Mak Esih." jawab Ashela lembut. Ia merebahkan Leo di atas kasur busa yang sudah ia alasi dengan kain bersih yang ia bawa dari kampung.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Ari Atik
el yg kurang peka.....
terlalu berfikir logika,gk pakai hati.

harusnya dia mulai mencari tau,kalau memang ada getaran batin...
dokter jenius,tapi bodoh...😡
🌸UmmiMasPutro🌸
jangan jadi bego vano, kamu juga pertama kali liat leo ada perasaan ikatan batin kan, knp g coba tes DNA
🌸UmmiMasPutro🌸
kok jadi bego ya vano,
Eliermswati
wah akhirnya up lg trma ksh y thor😍😍 smga mama nya el tau leo cucunya, tp nnti jngn d ambil y leo nya kshn mama nya kn cmn hidup sndiri😭😭😭smngt thor up nya, thor ksh paham sm elvano bwh nm panjang ank nya Leonard narendra biar dia tau dn menyesal thor
Fatmawati Qomaria
mama zoya coba lakukan inventigasi kejadian 4 th lalu tapi jangan coba memisahkan leo dan ibunya
Rohmi Yatun
ikutan tegang.. deg2an juga sedih sampai berurai airmataku😭..
Rohmi Yatun
cerita 2 di novel mu tdk pernah gagal Thor.. selalu menarik untukku.. 👍💪
Rohmi Yatun
cerita yang luar biasa 👍
🇧🇬
🌚🌚🌚 ya kan.. namanya ga cuma Leonardo 🦖
🇧🇬
kaka sepertinya kamu lupa.. namanya Leonardo Narendra🦖 ga mungkin dokter hanya tau nama depan tanpa nama belakang
elief
aduhhh elvano kok bodoh banget ya. gemes deh
anasthasia anas
good
Ariany Sudjana
semoga nenek cantik bisa mengerahkan anak buahnya untuk mencari siapa Leo itu sebenarnya 💪
4_amiraa_ Tadzkiyaa_
hayuxx nek selidiki leo segera.. ikatan batin pasti ngelink yaa💪🙏 seruu.. semangat up thot😍
Wardi's
ayo tes dna vano.., kamu punya sampel darah leo kan..? ato nanti pas kontrol kamu ambil sampel leo diam2.,
erviana erastus
nnk zoya selidiki dunk alvaro itu dokter bodoh 🤣 knp nggak sekalian test DNA kn wajah kalian mirip
Fatmawati Qomaria
klau ada orang yg memulikan cctv hotel itu jadi tambahannya
Eliermswati
lanjut lg thor up nya q tunggu y😍😍😍smngt thor up nya
Lala_Syalala: siap Kak,, Terima kasih sudah terus menunggu bab barunya yaa🙏🙏😊😊😊
total 1 replies
elief
ayooo mama elvano, jiwa detektif nya keluarkan, selidiki tentang leo 🤭🤭🤭
Ariany Sudjana
sayang sekali yah mama Zoya ga sempat tanya namanya Leo 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!