NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Rahasia Besar

"Di mana Alissa?"

Para pelayan dan penjaga serempak menunduk, kala Sean pulang dengan air muka yang menyeramkan. Mata setajam elang miliknya bak tengah mencari mangsa.

Tidak ada yang berani menjawab, karena mereka tahu, jawaban yang akan mereka berikan hanya akan menambah kemarahan sang majikan. Maka dari itu, semua bawahan seakan mendadak bisu.

"Sudah mulai tuli kalian? Bisu?" suara bariton Sean terdengar rendah, namun sarat akan ancaman.

"Atau mau kubuat kalian tidak bisa bicara selamanya?" lagi-lagi nada ancaman itu kembali terdengar dari mulut Sean.

Tidak ada yang berani menjawab, Sean tendang vas antik yang terbuat dari logam hingga mengeluarkan bunyi yang amat memekakkan.

"Jawab sebelum kubu-nuh kalian semua!" amuk antagonis itu yang sepertinya sudah kehabisan kesabaran.

Mati-matian, mereka menahan pekikan yang ingin terlontar. Masing-masing mengamankan jantung yang seakan ingin meloncat dari tempatnya.

"Tu--Tuan, Nyonya Alissa sedang keluar." pada akhirnya, Elis yang selaku kepala pelayan di sana memberanikan diri untuk berbuat.

"Ke mana?" Sean menatap Elis tajam.

"Saya...sa--saya, kurang tahu, Tuan..." nada Elis terdengar ragu diakhir. Pelayan itu memejamkan mata siap menerima amukan.

"Bodoh! Kenapa tidak kau tanya!"

"Kalian kupekerjakan untuk menjaga segala yang ada di mansion ini, termasuk Alissa! Bukan untuk berdiri seperti patung yang membisu!"

Sia-lan. Sean yang sedang dikuasai amarah bertambah geram saat tidak menemukan Alissa di manapun. Ucapan perempuan itu yang kerap menyinggung perlihal perceraian membuatnya semakin kalut.

"Siapa yang bekerja sebagai supir?" tanya Sean menatap penuh intimidasi bawahan laki-laki.

"Tidak ada yang mau jawab?" desis laki-laki itu saat semuanya tetap diam.

Seorang laki-laki berseragam putih pun dengan rambutnya yang sudah memutih maju satu langkah dengan kakinya yang sudah gemetaran.

"Sa--saya Tuan." ucapnya terbata.

"Kenapa kau di sini sementara Alissa tidak ada di rumah! Kau lupa dengan pekerjaanmu?!"

"Maaf Tuan. Nyonya...Nyonya Alissa menolak saya antar dengan alasan akan bertemu dengan anda."

Sean menggeram. Sia-lan Alissa. Sebenarnya apa yang sedang perempuan itu rencanakan. Apakah istrinya itu tahu tentang pertemuannya dengan Stella. Apakah Alissa...mengikutinya.

"Rion!" suara Sean menggelegar. Lalu dari luar mansion, seorang laki-laki bertubuh tegap datang dengan berlari kecil dengan wajah yang tegang.

"Saya Tuan."

"Lacak keberadaan Alissa. Waktumu tiga menit."

.

.

Alissa menatap bangunan dengan aksen Eropa klasik di hadapannya. Bermodal, dari internet akhirnya perempuan itu menemukan alamat tempat tinggal orangtua Sean.

Memangnya siapa yang tidak kenal dengan keluarga bermarga Balrick itu. Keluarga yang kekuasannya telah mendunia. Bisnisnya ada di mana-mana. Wajah mereka sering terpampang di majalah harian. Seakan keluarga itu sudah tidak memiliki privasi lagi.

Berkali-kali menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa gugup, Alissa memantapkan diri untuk memasuki gerbang kebesaran keluarga Balrick. Mudah baginya, karena semua orang di sana tahu, siapa dirinya. Satu-satunya menantu si keluarga penguasa.

"Alissa, kau datang tanpa memberitahu Mama terlebih dahulu?"

Di sana. Tepatnya di sofa ruang keluarga. Wanita yang tak lagi muda tengah duduk dengan anggunnya. Secangkir teh yang uapnya masih mengepul tersaji pada meja kaca di hadapan wanita, yang tak lain adalah mertuanya. Ibu dari Sean Balrick, Selena Balrick.

Alissa diam. Kakinya melangkah mendekat dengan jemari tangan yang saling bertaut.

Selena menatap Alissa yang masih berdiri dengan satu alis yang terangkat.

"Duduklah, Alissa." ucapnya kemudian, yang langsung dituruti oleh sang menantu.

"Sepertinya kedatanganmu bukanlah kunjungan biasa." tebak Selena setelah meminum tehnya.

Alissa menatap ibu mertuanya ragu. Salivanya ia telan karena merasa gugup.

"Mama...benar. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."

"Katakan."

Bibir Alissa terkatup rapat. Sebaliknya, tangan perempuan itu mengambil ponsel dari tasnya. Pun dengan amplop coklat yang entah apa isinya.

"Dulu...aku menikah dengan Sean tanpa tahu kebenaran tujuan pernikahan kami." Alissa mulai berbicara.

"Setelah aku mengetahuinya pun, aku tetap bertahan dengan harapan Sean akan membuka hatinya untukku dan belajar mecintaiku."

Alissa membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering. Bahkan tenggorakannya serasa tercekat. Tolong, Alissa butuh air sekarang ini.

"Lalu?" tanya Selena ketika Alissa tak kunjung melanjutkan ucapannya.

"Namun ternyata aku salah, Ma. Ternyata, aku...tidak sekuat itu. Berulang kali aku berusaha membuat Sean melupakan cinta terlarangnya pada Stella, berulang kali pula Sean menyiksaku. Bahkan dia kerap mencoba untuk---

"Untuk...untuk membunuhku."

Alissa menarik nafas panjang sebelum akhirnya menghembuskannya secara perlahan. Ia tatap Selena penuh permohonan.

"Aku menyerah Ma. Aku sudah tidak sanggup untuk bertahan."

"Di sini, ada bukti tentang bagaimana kelakuan Sean. Bukti ini cukup untuk menjadi bahan perceraian kami."

Alissa menyerahkan amplop coklat itu pada Selena. Dia juga memutarkan video yang baru saja dia dapatkan. Semuanya harus segera selesai. Alissa ingin cepat-cepat bebas. Itu saja.

"Apa maksudmu, Alissa. Katakan yang jelas dan jangan bertele-tele!" ucap Selena tegas. Matanya menatap sang menantu penuh peringatan.

"Aku ingin bercerai." hah, Alissa merasa baru saja terbebas dari lilitan tali setelah mengatakan keinginannya itu pada ibu mertuanya. Terasa sangat lega sekali.

"Bercerai?" Selena mendengus. "Kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan, Alissa?"

Selena mengambil amplop yang Alissa sodorkan tanpa minat. Membukanya dan menatap foto-foto di dalamnya tanpa ekspresi yang berarti.

Meski sedikit aneh dengan sikap Selena, Alissa tetap menganggukkan kepalanya yakin.

"Aku yakin. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin berpisah dari Sean."

"Kau lupa dengan perjanjian kita, Alissa?" ujar Selena ambigu. Di mana ucapannya tidak bisa dimengerti oleh istri dari Sean.

"Maksud Mama apa?" tanya Alissa yang benar-benar kebingungan.

"Ana, bawakan padaku map perjanjianku dengan menantuku. Segera!" perintah Selena pada salah satu pelayan di sana tanpa menjawab kebingungan Alissa.

Ia abaikan menantunya itu sampai Ana, pelayan itu membawa map berwarna kuning untuk diserahkan kepada sang majikan.

"Baca ini. Mungkin saja kau lupa." Selena membanting map itu pada kaca.

Alissa ambil map berisi surat perjanjian itu dengan rasa penasaran yang membumbung tinggi. Membacanya perlahan takut jika ada satu kata yang salah ia eja.

Tak lama, mata perempuan itu membulat sempurna. Tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Berulang kali ia membaca ulang, berulang kali pula ia mendapati kalimat yang sama. Alissa tidak sedang salah membaca.

Melihat keterkejutan Alissa, membuat Selena tersenyum sinis. "Kau sudah mengingatnya?" tanyanya dengan nada mencemooh.

"Kau sudah ingat darimana kau berasal Alissa?"

"Anak jalanan yang kupungut dan kubesarkan dengan uang yang tidak sedikit. Sebagai ganti, kau harus menikah dengan Sean untuk menutupi skandal antara Sean dan Stella. Seumur hidup kau harus tetap menjadi istri Sean."

"Itu perjanjian kita, Alissa."

Alissa menatap Selena tidak menyangka. Rahasia besar apa ini. Kenapa hal sepenting ini tidak dijelaskan di dalam novel?!

Tak berselang lama, terdengar tapak sepatu yang menggema. Semakin lama suara itu semakin jelas dan dekat. Sampai Selena kembali mengeluarkan suaranya.

"Kau datang, Sean? Bawalah istrimu pulang." Ia tatap Alissa remeh. "Beri dia pelajaran, istrimu ini sudah mulai lancang melewati batasnya."

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!