NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Suasana di jalur kelompok satu semakin canggung. Cahaya senter mereka melompat-lompat di antara batang pohon pinus yang tinggi. Clara, yang sejak tadi tidak berhenti menggerutu karena harus berjalan di jalur yang licin, mulai menjalankan strateginya untuk mendekati Arkan.

"Aduh! Arkan, tungguin dong! Kakiku kayaknya mau terkilir nih," rengek Clara sambil sengaja melangkah limbung agar bisa jatuh ke arah Arkan.

Arkan, dengan cepat bergeser satu langkah ke samping tanpa menoleh. Alhasil, Clara hanya menangkap angin. Wajah Arkan terlihat sangat datar, namun sorot matanya menunjukkan tanda-tanda kekesalan yang tertahan.

"Kalau kaki lo sakit, jalan di belakang Bimo. Dia bawa kotak P3K," jawab Arkan dingin tanpa menghentikan langkahnya. Matanya tetap fokus memindai kegelapan di depan, telinganya masih siaga mendengarkan laporan dari Raisa.

Bimo, yang berjalan tak jauh di belakang mereka, menangkap sinyal bahaya dari sang Kapten. Ia tahu betul kalau Arkan sudah mulai "kaku" seperti itu, berarti kesabarannya hampir habis. Terlebih lagi, misi mereka sangat berisiko jika ada warga sipil yang terus menempel dan mengganggu konsentrasi.

"Wah, wah, Clar! Bahaya itu kalau terkilir di sini!" seru Bimo dengan nada yang dibuat-buat heboh.

Sebelum Clara sempat mencoba mendekati Arkan lagi, Bimo dengan sigap melompat maju dan menarik lengan jaket Clara dengan lembut namun bertenaga, menariknya menjauh dari jangkauan Arkan.

"Sini, Clar, bareng gue aja. Gue kan kuat, bisa jagain lo dari akar pohon yang nakal. Lo tahu nggak? Tadi gue lihat ada jejak hewan besar di sana, mending lo di samping gue biar aman," ujar Bimo sambil memasang wajah sok jagoan dan tersenyum lebar.

Clara mendengus kesal, mencoba melepaskan tangannya. "Ih, Bimo! Apaan sih! Gue maunya sama Arkan, bukan sama lo! Arkan itu lebih... lebih bisa diandalkan!"

"Gue juga diandalkan kok! Nih, lihat otot gue," canda Bimo sambil pura-pura memamerkan lengannya, membuat Mika yang berjalan di dekat mereka tertawa mengejek.

"Udah deh, Clar, jangan kegatelan. Tuh lihat Arkan, dia lagi fokus navigasi. Kalau lo ganggu terus, nanti kita semua nyasar di hutan gara-gara lo," sahut Mika pedas.

Memanfaatkan momen saat Clara sibuk berdebat dengan Bimo, Arkan sedikit melambat agar posisinya sejajar dengan Mika sebentar, lalu ia mengetuk komunikator di pergelangan tangannya.

"Bimo, good job. Tahan dia di radius dua meter dari gue," bisik Arkan sangat rendah ke arah mikrofon tersembunyinya.

Dari kejauhan, Arkan melihat Naura sedang berjalan di jalur yang sedikit lebih tinggi. Naura sempat menoleh dan melihat bagaimana Arkan "diselamatkan" oleh Bimo dari Clara. Naura memberikan tanda OK dengan jarinya, lalu ia tertawa tanpa suara, mengejek penderitaan Arkan yang harus berurusan dengan fans beratnya di tengah misi rahasia.

Arkan hanya bisa menghela napas. Sial, dia malah ngetawain gue, batinnya. Namun, fokusnya kembali tajam saat telinganya menangkap suara tangisan anak kecil yang dilaporkan Raisa tadi kini mulai terdengar samar di arah utara.

Suasana malam yang kian mencekam mencapai puncaknya saat suara tangisan anak kecil itu terdengar semakin melengking, seolah-olah sumbernya sedang merangkak di antara semak-semak tepat di samping mereka.

"Hiks... hiks... Tolong..."

Clara yang tadinya sibuk mencari perhatian Arkan, mendadak mematung. Wajahnya yang penuh riasan kini pucat pasi. Begitu suara itu terdengar tepat di belakang telinganya, pertahanan Clara runtuh total.

"AAAAAA!! ARKAN! ADA HANTU!" teriak Clara histeris. Ia mencoba menghambur ke arah Arkan, namun Bimo dengan sigap menahan bahunya agar tidak menabrak sang Kapten.

"Pulang! Gue mau pulang ke tenda! Kak Gibran! Gue nggak mau di sini, ini hutan angker!" jerit Clara sambil menutup telinganya rapat-rapat. Mika yang berada di dekatnya juga mulai tampak gelisah dan ikut memegangi jaket Bimo.

Arkan berhenti melangkah. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan tempat suara itu berasal. Ia tahu itu bukan hantu, melainkan umpan teknologi yang dilaporkan Raisa. Namun, dengan Clara yang histeris seperti ini, misi mereka akan hancur karena kebisingan yang ia buat.

"Bimo," panggil Arkan dengan nada komando yang tidak bisa dibantah.

Bimo segera menoleh, matanya bertemu dengan mata Arkan yang memberi kode khusus: 'Amankan warga sipil, gue akan urus sumber suaranya.'

"Bawa mereka kembali ke tenda sekarang. Jalur yang kita lalui tadi sudah aman. Pastikan mereka sampai di lingkaran api unggun," perintah Arkan tegas.

"Tapi Kan, lo sendirian?" tanya Mika khawatir, meski ia juga ingin segera lari dari sana.

"Gue akan cek jalur depan sebentar untuk memastikan nggak ada yang tersesat, lalu gue menyusul. Bimo, gerak sekarang!" sahut Arkan.

"Siap! Ayo Clar, Mik, ikut gue. Jangan lepas dari jaket gue kalau nggak mau diculik wewe gombel!" Bimo menarik Clara dan Mika dengan setengah memaksa. Clara yang sudah tidak peduli lagi dengan imejnya hanya bisa mengekor sambil terus terisak ketakutan.

Begitu rombongan Bimo menjauh dan suara teriakan Clara mulai meredup, suasana kembali sunyi. Arkan berdiri tegak di tengah kegelapan, tangannya bergerak menyentuh komunikator di telinganya.

"Raisa, Naura, posisi? Target pengalih perhatian sudah kembali ke kamp. Area bersih dari sipil. Gue akan bergerak ke sumber transmisi audio. Naura, arahkan gue lewat pemindai lo."

Dari jalur lain, terdengar suara Naura yang tertawa kecil di balik earpiece. "Diterima, Kapten. Kasihan banget ya, ditinggal 'calon istri' yang lagi ketakutan. Oke, fokus... geser sepuluh derajat ke arah jam dua lo. Ada lonjakan frekuensi di balik pohon pinus kembar."

Arkan mematikan lampu senternya, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan kegelapan total, lalu bergerak tanpa suara seperti bayangan di antara pepohonan.

......................

Di jalur kelompok dua, suasana yang semula tenang mendadak pecah. Suara tangisan anak kecil yang melengking itu seolah membelah keheningan hutan tepat di dekat posisi mereka. Namun, reaksi yang muncul justru di luar dugaan.

Gibran, yang sejak awal dikenal sebagai ketua OSIS yang tenang dan berwibawa, tiba-tiba membelalakkan mata. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik arah dan langsung lari kencang kembali ke arah jalur utama, meninggalkan anggota kelompoknya dalam kebingungan total.

"Lho? Kak Gibran?!" teriak Nadira kaget. "Kok malah kabur?!"

Naura tahu ini adalah kesempatannya. Ia segera memasang wajah pucat dan sedikit gemetar, berakting seolah ia sama takutnya dengan Gibran.

"Dira... kok Kak Gibran lari? Gue... gue takut, Dira! Suaranya deket banget!" Naura merapat ke arah Nadira, berpura-pura mencari perlindungan sambil diam-diam jarinya menekan tombol boost pada pemindai di saku jaketnya.

Nadira, yang memang dasarnya takut pada hal mistis, mulai terisak. Napasnya memburu dan matanya bergerak gelisah ke arah semak-semak. "Naura, ayo pergi dari sini!"

Rio, sebagai personel pendukung teknis, langsung membaca situasi. Ia melihat kode lirih dari mata Naura, sebuah isyarat bahwa Naura butuh ruang untuk melacak sumber sinyal tanpa gangguan. Rio tahu ia harus membawa Nadira menjauh agar Naura bisa bergerak bebas.

"Dira, tenang. Pegang tangan gue," ujar Rio dengan suara tegas namun menenangkan. Ia langsung menggandeng tangan Nadira yang gemetar hebat.

Rio melirik Naura sekilas, memberi anggukan kecil sebagai tanda bahwa ia akan meng-handle "beban" ini.

"Ra, lo lari duluan ke depan kalau bisa! Gue bakal tuntun Nadira pelan-pelan biar dia nggak jatuh. Dira, ayo ikut gue, kita harus nyusul Kak Gibran sekarang!" Rio menarik Nadira dengan langkah cepat, mendahului Naura dan sengaja memberikan jarak yang cukup luas bagi rekan agennya itu.

Begitu punggung Rio dan Nadira mulai menjauh dan suara isakan Nadira meredup, ekspresi takut di wajah Naura menghilang seketika. Tatapannya berubah tajam dan dingin.

Ia mengeluarkan perangkat pemindainya yang kini menyala dengan grafis gelombang frekuensi yang sangat aktif.

"Komandan, target sipil sudah menjauh. Gue sendirian sekarang," bisik Naura pada komunikatornya.

......................

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!