NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Analisis Kekalahan – Editor's Eye Aktif, Menemukan 47 Kesalahan Lawan

Klinik Akademi Hunter berbau antiseptik dan kesunyian. Ji-hoon duduk di tempat tidur pasien, memandangi plafon putih sementara perawat muda—seorang healer apprentice dengan rambut diikat rapi—menyembuhkan memar di pipinya dengan cahaya hijau lembut.

"Sudah hampir selesai," ucap perawat itu dengan suara pelan. "Cedera ringan. Tulang rusuk memar, bukan retak. Kamu beruntung."

*Beruntung*, pikir Ji-hoon dengan getir. *Kalah telak tapi disebut beruntung karena tidak patah tulang.*

Cahaya hijau itu terasa hangat, seperti sinar matahari musim semi yang menembus kulit. Rasa sakit di tulang rusuknya perlahan mereda, digantikan oleh sensasi gatal saat jaringan tubuh memperbaiki diri. Tapi yang tidak bisa diobati oleh kekuatan penyembuhan apa pun adalah rasa panas di pelipisnya—sakit kepala berdenyut yang muncul setelah pertarungan.

Bukan sakit kepala biasa.

Ini seperti ada layar proyektor di dalam tengkoraknya, memutar ulang pertarungan tadi dalam gerak lambat, frame demi frame.

**Frame 1:** Min-hyuk melesat, kaki kanan di depan. Tapi Ji-hoon melihat sesuatu yang tadi tidak ia perhatikan: *beban tubuh terlalu condong ke depan, 73% di kaki kanan. Jika didorong sedikit ke kiri, dia akan kehilangan keseimbangan.*

**Frame 2:** Min-hyuk mengubah arah, menyapu kakinya. *Pergelangan kaki kiri sedikit kaku, rotasi tidak maksimal. Bisa diantisipasi jika membaca ketegangan di pinggulnya.*

**Frame 3:** Tinju menghantam pipinya. *Min-hyuk memutar bahu berlebihan—11 derajat lebih dari optimal. Membuka celah di bawah ketiak kanan selama 0,3 detik.*

Gambar-gambar itu datang begitu saja, lengkap dengan catatan kecil seperti margin di dokumen edit. Angka, persentase, panah merah yang menunjuk ke titik-titik lemah.

*Ini… apa?* Ji-hoon mengerutkan kening, mencoba mengusir gambar-gambar itu. Tapi semakin ia melawan, semakin jelas gambar-gambar itu muncul.

Perawat selesai. "Sudah. Istirahat hari ini, besok bisa latihan ringan."

Ji-hoon mengangguk, mengucapkan terima kasih dengan suara serak. Setelah perawat pergi, ia berbaring kembali, menutup matanya. Tapi justru dalam gelap, "editor's eye"-nya—begitulah ia menyebutnya—bekerja lebih aktif.

Pertarungan tadi terurai seperti naskah buruk yang perlu direvisi.

**KESALAHAN LAWAN (MIN-HYUK) – ANALISIS PRELIMINER:**

**Pola Napas Tidak Efisien:** Menahan napas saat akan menyerang, membuangnya secara eksplosif saat pukulan mendarat. Mengurangi stamina 8% lebih cepat.

**Fiksasi Visual:** Terlalu lama menatap target (rata-rata 1,2 detik) sebelum bergerak. Membaca gerakan dari bahu, bukan dari pusat gravitasi.

**Overcommitment:** 90% serangan menggunakan 100% kekuatan, bahkan saat tidak diperlukan. Momentum berlebihan, sulit berubah arah.

**Stance Tidak Fleksibel:** Selalu kembali ke posisi kuda-kuda dasar setelah serangan, memakan waktu 0,5 detik tambahan.

**Emosi Terbaca:** Ekspresi wajah berubah 0,2 detik sebelum serangan—alur mata mengerucut, otot rahang menegang.

**Pengabaian Lingkungan:** Tidak memperhatikan debu di lantai, kelembapan udara, atau bayangan sendiri yang memberi tahu posisi cahaya.

**Kesombongan Taktis:** 3 kali membiarkan celah terbuka lebar karena yakin Ji-hoon tidak bisa memanfaatkannya.

Dan terus berlanjut. 10, 15, 25…

Sampai angka 47.

Ji-hoon membuka mata, terengah. Peluhnya dingin. *Apa yang terjadi padaku?* Ini bukan hanya ingatan yang baik. Ini… *analisis struktural*. Seperti dulu saat ia membaca naskah penulis pemula—melihat plot hole, karakter yang tidak konsisten, dialog yang kaku. Sekarang ia menerapkannya pada pertarungan.

Apakah ini efek samping dari kekuatan telekinesisnya? Atau mungkin ini warisan dari kehidupan lamanya sebagai editor yang terbawa ke dunia ini?

Dia mencoba mengingat momen di arena tadi. Saat ia terbaring di lantai, melihat Min-hyuk pergi, rasa frustrasinya memuncak. Dan di puncak frustrasi itu, seperti tombol yang ditekan, "mode editor"-nya aktif.

*Kalau begitu,* pikirnya, duduk di tempat tidur. *Jika ini kekuatanku—atau bagian dari kekuatanku—aku harus belajar mengendalikannya.*

Dia mencoba memusatkan pikiran. Bayangkan sebuah adegan sederhana: gelas air di meja samping tempat tidur. Alih-alih mencoba menggerakkannya dengan telekinesis, ia mencoba *menganalisisnya*.

**Gelas Air – Analisis:**

- Material: Kaca temper, ketebalan 3mm.

- Isi: Air 250ml, suhu 22°C.

- Titik rapuh: Tepian bawah di mana kaca melengkung.

- Getaran frekuensi alami: Sekitar 440 Hz (berdengung).

- Gaya yang dibutuhkan untuk menjungkirkan: 2.1 Newton diterapkan di tepi atas.

Informasi itu membanjiri pikirannya, cepat dan dingin. Ji-hoon menarik napas, memutuskan koneksi. Gelas itu tetap diam, tetapi pengetahuannya tentang gelas itu kini lengkap.

"Jadi bisa untuk objek diam juga," gumamnya.

Pintu klinik terbuka. Guru Park masuk, wajahnya netral membawa clipboard.

"Bagaimana perasaanmu, Ji-hoon?"

"Lebih baik, Guru."

Guru Park mengangguk, menarik bangku dan duduk di samping tempat tidur. "Aku menonton pertarunganmu tadi. Kamu punya naluri yang tidak biasa."

Ji-hoon diam, menunggu.

"Kebanyakan siswa, saat pertama kali kalah seperti itu, akan menyerah atau marah. Kamu…" Guru Park menatapnya tajam. "Kamu *mengamati*. Bahkan saat terjatuh, matamu tetap fokus pada Min-hyuk. Seperti sedang merekam."

Ji-hoon merasa sedikit terintimidasi. "Saya hanya mencoba memahami di mana saya salah."

"Bukan hanya itu," bantah Guru Park. "Kamu mencoba memahami di mana *dia* salah. Itu langka. Dan itu berbahaya."

"Berbahaya?"

"Kemampuan untuk menganalisis lawan dengan cepat adalah aset taktis yang luar biasa," kata Guru Park, suaranya rendah. "Tapi jika lawanmu menyadarinya, kamu akan jadi target utama. Mereka akan berusaha menghancurkancmu sebelum kamu sempat menganalisis."

Ji-hoon mengerti. Dalam perang, pengintai selalu diserang pertama.

"Selain itu," lanjut Guru Park, "analisis tanpa kekuatan untuk mengeksekusi adalah sia-sia. Kamu bisa tahu ada 100 kelemahan, tapi jika kecepatan, kekuatan, atau ketahananmu tidak cukup untuk mengeksploitasi salah satu dari mereka, itu hanya akan jadi pengetahuan yang menyiksa."

Ji-hoon menunduk. Itu benar. Di arena tadi, dia melihat celah—beberapa bahkan cukup besar—tetapi tubuhnya tidak bisa bereaksi cukup cepat untuk memanfaatkannya.

"Jadi apa yang harus saya lakukan, Guru?"

Guru Park berdiri. "Dua hal. Pertama, kembangkan kemampuan analisismu. Jika itu memang bakatmu, asah. Latih dengan sengaja. Tapi kedua, dan yang lebih penting—tutupi kelemahanmu. Kekuatan telekinesismu masih lemah untuk pertarungan langsung. Jadi kamu harus menemukan cara lain untuk bertahan, atau menyerang, sambil memberi dirimu waktu untuk menganalisis."

Ji-hoon memproses kata-kata itu. *Waktu.* Itu kuncinya. Jika ia bisa memperlambat pertarungan—dengan pertahanan, dengan jarak, dengan gangguan—ia punya lebih banyak waktu untuk menganalisis.

"Apakah Anda punya saran pelatihan, Guru?"

Guru Park tersenyum tipis, pertama kalinya hari ini. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dia mengamati pertarunganmu dari balkon observasi."

"Siapa?"

"Guru Choi. Mantan S-rank hunter, sekarang instruktur teori di akademi. Dia… punya minat pada siswa dengan bakat tidak biasa." Guru Park menepuk pundak Ji-hoon. "Istirahat dulu. Besok sore, temui dia di Dojo Timur, setelah jam akademi berakhir."

Setelah Guru Park pergi, Ji-hoon berbaring kembali. Pikirannya berputar. *Guru Choi. Mantan S-rank.* Apakah ini kesempatan? Atau jebakan?

Tapi lebih dari itu, ia terus kembali pada angka 47.

Empat puluh tujuh kesalahan. Dalam pertarungan lima menit melawan siswa tahun pertama yang dianggap berbakat.

Jika Min-hyuk, yang dianggap terbaik di kelasnya, memiliki 47 kelemahan dalam pertarungan dasar… bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan monster di Gate? Bagaimana dengan dirinya sendiri?

Ji-hoon mengangkat tangannya, menatap telapaknya. Dengan konsentrasi, ia mencoba menganalisis *dirinya sendiri*.

**SELF-ANALYSIS – KANG JI-HOON / LEE MIN-JAE:**

- **Kelemahan Fisik:** Stamina rendah, kecepatan reaksi 0,3 detik di bawah rata-rata hunter, massa otot kurang.

- **Kelemahan Teknis:** Tidak punya dasar bela diri yang solid, footwork kacau, tidak ada serangan yang terinternalisasi.

- **Kelemahan Psikis:** Telekinesis level 1, radius 2 meter, beban maksimal 1kg, presisi rendah di bawah tekanan.

- **Kelemahan Mental:** Keraguan identitas (dual soul), terlalu mengandalkan logika, emosi tertekan.

Daftarnya panjang. Sangat panjang. Tapi anehnya, melihatnya tertulis rapi di pikirannya justru membuat Ji-hoon merasa… lega.

Karena editor terbaik tahu: Anda tidak bisa memperbaiki sesuatu sebelum Anda tahu apa yang salah.

Dan sekarang, dia punya daftar.

Baik untuk Min-hyuk, maupun untuk dirinya sendiri.

Dia memejamkan mata, kali ini dengan tekad baru. Besok, ia akan bertemu Guru Choi. Dan setelah itu, ia akan mulai mengerjakan "revisi" terbesar dalam hidupnya: revisi dirinya sendiri.

Angka 47 tidak lagi terasa seperti bukti kekalahan.

Itu adalah *blueprint* untuk kemenangan berikutnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!