Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Adam yang sedang duduk di ruang keluarga sontak berdiri ketika suara kendaraan besar berhenti tepat di depan rumah. Keningnya berkerut, perasaannya mendadak tidak enak. Dari balik jendela, ia melihat satu per satu kurir menurunkan kardus-kardus besar bertuliskan merek-merek ternama. Beberapa orang lain menyusul, mengenakan seragam showroom mobil, lengkap dengan pita besar yang terpasang di kap sebuah mobil sport keluaran terbaru yang mengilap di bawah sinar matahari.
Jantung Adam berdegup lebih cepat. Ia melangkah keluar, berdiri terpaku di teras rumah, menyaksikan pemandangan yang membuat kepalanya terasa berat.
“Dia menghabiskan uang sebanyak ini…” gumam Adam pelan, nyaris tak terdengar.
Tangannya mengepal, bukan karena marah, melainkan karena perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan. Ada keterkejutan, ada kesal, tapi juga ada rasa bersalah yang membuat dadanya sesak.
Adam tahu, ia tidak berada di posisi yang pantas untuk memarahi Kiandra. Bayangan dirinya sendiri yang diam-diam membelikan barang-barang mewah untuk Nayla kembali menyeruak. Jam tangan mahal, tas bermerek, dan berbagai fasilitas yang tanpa sadar telah ia berikan. Semua itu membuat lidahnya kelu. Amarah yang sempat muncul langsung padam sebelum sempat keluar dari mulutnya.
Ia hanya mampu menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala pelan. Kepalanya terasa pening memikirkan bagaimana semua ini akan berakhir. Rumah tangga yang sudah retak kini seperti diberi beban tambahan berupa kemewahan yang justru memperlebar jarak di antara mereka.
Belum sempat Adam menenangkan pikirannya, suara mobil lain kembali terdengar. Kali ini bukan kurir, tetapi mobil orang tuanya berhenti di halaman, disusul adiknya yang turun dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Ina, ibunya, melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Matanya langsung tertuju pada tumpukan belanjaan dan mobil sport yang terparkir di luar.
“Siapa yang membeli semua ini, Adam? Kenapa banyak sekali, ini sama saja pemborosan” suara Ina meninggi, jelas tidak menyembunyikan ketidaksukaannya.
Adam menelan ludah. Ia tahu pertanyaan itu akan datang. Namun alih-alih menjelaskan panjang lebar, ia memilih jalan paling singkat. Bahunya sedikit terangkat, lalu ia menjawab dengan nada datar, seolah tidak ingin memperpanjang masalah.
“Biarin aja, Ma. Itu punya Kiandra,” kata Adam singkat.
Ina menatap putranya tajam, seakan ingin mengatakan banyak hal, namun tertahan.
Suasana ruang keluarga yang semula sunyi, kini berubah tegang. Ina berdiri dengan tangan bersedekap, raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksukaannya. Pandangannya sesekali mengarah ke tumpukan belanjaan yang masih belum dibereskan.
“Kamu jangan terlalu memanjakan istrimu, Adam, nanti dia akan ngelunjak. Dia menghabiskan uangmu untuk hal-hal yang tidak penting.” ucap Ina dengan penuh penekanan.
Adam terdiam. Rahangnya mengeras, tapi ia memilih bungkam. Belum sempat dia membalas ucapan ibunya, suara adiknya lebih dulu terdengar, lebih tajam dan tanpa basa-basi.
“Benar kata Mama, “Kakak itu kerja siang dan malam, capek banting tulang. Tapi dia malah seenaknya menghambur-hamburkan uang kakak." timpal Nisa, adik Adam, sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.
Adam menghela napas pelan. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepalanya secara berulang kali. Ia tahu ibunya dan adiknya merasa berhak menilai, namun tetap saja hatinya terasa tidak nyaman. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba terdengar suara orang melangkah.
Tap.
Tap.
Tap.
Bunyi hak sepatu yang menghantam keramik itu tegas dan berirama, seakan pemiliknya sengaja ingin menunjukkan keberadaannya. Ketiganya refleks menoleh ke arah sumber suara. Kiandra berdiri di sana, dengan wajah tenang namun sorot mata yang dingin. Rambutnya tergerai rapi, posturnya tegak, dan auranya membuat ruangan terasa semakin sempit.
“Siapa yang menghambur-hamburkan uang?” tanya Kiandra datar, namun jelas menusuk. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap mereka satu per satu, dan berhenti pada Nisa.
Nisa mendengus kecil, sama sekali tidak merasa bersalah. “Kakak lah. Memangnya siapa lagi? Tas kakak itu sudah banyak. Untuk apa beli tas mahal lagi? Mobil kakak juga sudah berjejer di garasi, kak" seru Nisa.
Kiandra tidak langsung menjawab. Ia justru terkekeh pelan, senyum miring terbit di sudut bibirnya. Dalam hatinya, ia merasa geli mendengar tudingan itu. Banyak atau tidak, semua barang itu adalah haknya. Ia tidak mencuri, tidak meminta pada orang lain. Semua dia beli dengan menggunakan uang suaminya, yang memang sah menjadi bagian dari hidupnya sebagai istri.
Kiandra melangkah mendekat, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan santai ke atas sofa. Dengan gerakan yang sangat elegan, Kiandra menaikkan satu kakinya ke atas kaki yang lain, sikap yang seolah menantang siapa pun yang berani menghakiminya.
“Daripada uangnya habis buat gundik, lebih baik aku yang menghabiskannya untuk membeli semua barang itu.” sindir Kiandra menatap sinis ke arah mereka.
Ruangan mendadak sunyi. Ina terdiam dengan wajah menegang, Nisa membelalakkan matanya, sementara Adam menundukkan kepalanya tahu sang istri sedang menyindirnya.
“Maksud kamu apa, Kiandra? Gundik siapa? Memangnya siapa yang berselingkuh?” cecarnya tanpa jeda, jelas tersulut emosi oleh ucapan menantunya. Ina menatap tajam Kiandra.
Alih-alih menjawab, Kiandra justru tertawa lepas. Tawanya bergema di ruang tamu, terdengar kontras dengan wajah Ina yang semakin menegang. Bagi Kiandra, pertanyaan itu terdengar sangat lucu, terlalu polos, atau mungkin terlalu pura-pura tidak tahu.
Beberapa detik kemudian, ia menghentikan tawanya, senyum di bibirnya memudar, berganti dengan tatapan dingin yang tertuju langsung pada sang mertua.
“Coba Mama tanyakan pada putri Mama itu,” ucap Kiandra pelan namun jelas, setiap katanya seakan disengaja untuk menusuk. Dagunya sedikit terangkat saat ia melirik ke arah Nisa.
“Dia tahu persis apa yang kakaknya lakukan. Karena dia juga ikut menikmati hasilnya. Dia mendapat jatah uang dari wanita gundik itu.”
Ucapan Kiandra membuat suasana membeku seketika. Adam refleks mengangkat kepala, menatap Kiandra dengan ekspresi terkejut bercampur panik. Sementara Ina perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Nisa, wajahnya berubah dari marah menjadi bingung dan tidak percaya.
“Maksudnya apa, Nisa?” tanya Ina, suaranya kini lebih rendah, namun sarat tuntutan penjelasan.
Nisa menelan ludah. Wajahnya pucat, matanya bergerak gelisah mencari jalan keluar. Jari-jarinya saling meremas, keringat dingin mulai terasa di telapak tangannya. Ia sama sekali tidak menyangka Kiandra akan mengetahui semua ini, tentang uang yang selama ini ia terima setiap bulan, tentang keterlibatannya yang selama ini ia anggap aman dan tersembunyi.
Bibir Nisa terbuka, lalu menutup kembali. Tak satu pun kata mampu keluar. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, lebih berat dari sebelumnya.
Sementara Kiandra menyandarkan tubuhnya dengan santai, menatap Nisa tanpa berkedip, seolah berkata bahwa kebohongan itu sudah terlalu lama disimpan, dan kini saatnya terungkap.
"JAWAB NISA! SIAPA YANG SELINGKUH" sentak Ina marah, sejak tadi dia bertanya pada putrinya tapi tidak menjawabnya.
"Kak Adam ma" jawab Nisa dengan bibir bergetar.