Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
SELAMAT MEMBACA !!!
Pagi yang sangat sejuk, setelah semalam diguyur hujan sampai subuh. Tapi itu nggak membuat rasa malas Freya membuat sarapan buat keluarganya.
Freya membuat nasi goreng seafood dengan telur mata sapi dan kerupuk udang.
"Selamat pagi, Mom!" sapa Luna yang baru masuk ke dapur, dia ingin belajar masak dari mommynya. Dia selalu ingin bisa memasak, katanya dia ingin disayang seperti mommynya yang menyayangi daddynya.
"Pagi, Sayang. Tumben hari libur nggak malas-malasan di kasur?" tanya Freya kepada putri sulungnya.
"Hehehe iya sih, Mom. Tapi aku kan sudah berjanji, kalau libur kerja mau belajar masak, Mom. Biasa alesannya cuma satu biar disayang suami dan mertua hahahaha!" jawab Luna dengan tertawa.
Luna sampai sekarang belum tau jati dirinya yang sebenarnya. Bahwa ia hanya anak angkat keluarga Adhitama, semua keluarga nggak ada yang membicarakan dan dari segi kasih sayang, Luna mendapatkannya dari semua keluarga besar Adhitama dan keluarga dari Mommynya. Makanya dia nggak curiga kalau dirinya bukan anak kandung dari mommy dan daddynya.
"Mom! Main ke rumah Nenek yuk Mom. Kita sudah lama nggak ke sana!" seru Luna kepada mommynya.
"Sudah lama nggak ke sana kemana, Sayang?" tanya Vindra yang juga baru masuk ke dapur.
Luna dan Sarah menoleh ke belakang dengan tersenyum. "Pagi, Dad!" sapa Luna dan Sarah.
"Pagi kesayangan, Daddy," balas Vindra dengan hangat.
"Pertanyaan Daddy, kok belum dijawab, Sayang?" tanya Vindra lagi.
"Ini lho, Dad. Putrimu ingin pergi ke kampung Neneknya. Katanya sudah lama, dia nggak main ke sana," jawab Freya dengan lembut.
Vindra menganggukan kepalanya mengerti.
"Coba nanti, kamu tanya kedua adikmu. Mau ikut ke sana nggak? Mungkin Arya yang nggak bisa ikut, dia ada perjalanan bisnis ke Luar Negeri," jawab Vindra.
Freya segera membuatkan minuman untuk suaminya, Luna membuat telur mata sapinya. Mbak Nina dan Mbak Retno tugasnya bersih-bersih dan cuci baju. Sedangkan urusan masak sudah diambil alih Freya sudah sejak anak-anaknya masuk sekolah.
Si kembar turun dari lantai tiga dimana kamar mereka berada. Langsung duduk di kursi ruang makan. "Dek! Aku mau rencana mengunjungi Kakek. Kalian mau ikut nggak?" tanya Luna kepada kedua adiknya.
"Aku nggak bisa ikut, Kak. Lusa aku mau ke Korea ketemu klien disana," jawab Arya, seperti yang diucapkan ayahnya tadi.
"Jangan lupa oleh-olehnya ya Bang!" seru Yana yang nggak pernah lupa dengan oleh-oleh. Padahal dia sendiri sering perjalan ke Luar Negeri sendiri.
"Kamu! Bagaimana, Dek? Mau ikut nggak ke rumahnya Kakek. Kalau kamu nggak ikut, aku kesana sendiri saja. Aku mau ajak Mbak Dini refreshing mumpung libur sampai hari minggu hehehehe?" tanyanya kepada adik bungsunya.
"Aku pasti ikutlah, Kak. Ngapain di Butik terus galau banget ini hati," jawab Yana dengan tersenyum. Dia juga ikut refreshing kedua Kakaknya.
"Ya sudah kalian berangkat berdua, Daddy dan Mommy di rumah saja. Kalian hati-hati kalau ke sana. Mau dengan Pak Mamat atau jalan sendiri?" tanya ayahnya.
Yana dan Luna saling pandang dan tersenyum. "Kami jalan sendiri saja, Dad. Siapa tau Sindy juga mau ikut ke sana. Dia sering berpesan kalau ke kampung mau ikut, maklum anak kota nggak pernah ke kampung heheheh," jawab Luna dengan terkekeh, karena mengingat sahabatnya itu, justru ingin liburan ke kampung daripada liburan ke Kota.
Sarapan sudah selesai Daddy dan Arya pamit untuk berangkat ke Perusahaan. Karena ada rapat dengan petinggi Perusahaan untuk membahas acara ulang tahun perusahaan.
Yana juga ikutan kakaknya, nggak masuk kerja. Mereka bertiga duduk di sofa sambil mengobrol bersama mommynya.
"Kalian berdua harus bisa jaga diri, jaga marwah kalian sebagai seorang perempuan. Jangan gampang tergiur dengan dunia cinta dengan lawan jenis. Mommy nggak mau kalian terjerumus ke lembah dosa, Sayang," pesan Freya selalu mengingatkan kedua buah hatinya.
"Baik, Mom. Untuk masalah kemarin, aku minta maaf ya Mom. Aku telah berdosa melanggar pesan, Mommy."
"Ya, Mommy maafkan tapi jangan diulangi lagi. Dulu Mommy juga nggak pernah pacaran sama Daddy, kalian. Daddy justru berbicara dengan Opa Radit, bahwa Beliau menginginkan Mommy sebagai pendampingnya. Karena mengingat Daddy dari keluarga yang baik dan sebelumnya juga sudah kenal Aunty Rara, akhirnya Mommy menerima pinangan dari Daddy dan kami menikah tanpa pacaran dulu." Freya menceritakan pengalamannya dulu.
"Siap, Mom! Kami akan mengingatnya. Dan aku berjanji Mom, nggak akan terjerumus lagi."
Yana dan Luna bersiap untuk pergi ke rumah Kakeknya yang berada di Bandung. Luna membawa tas punggung untuk menaruh bajunya. Dia juga sudah menghubungi Sinta yang kebetulan libur juga.
Tok tok tok
"Dek! Kakak masuk ya," izin Luna, untuk masuk ke dalam kamar adiknya.
"Masuk saja, Kak! Nggak di kunci kok," jawab Yana dari dalam kamarnya sambil tangannya memasukkan baju ke dalam tas travel.
"Dek, sudah siap?" tanya Luna yang sudah masuk ke dalam kamar adik, yang bernuansa pink. Ya sampai sekarang warna kesukaannya Yana tetap warna pink.
"Ayo, berangkat! Mbak Sindy sudah menunggu. Kita beli buah saja ya buat oleh-oleh Kakek. Lagian kalau makanan Mbak Dini pusatnya cemilan hehehehe!" ajak Luna kepada adiknya.
Mereka turun dari lantai tiga dan langsung pamit kepada Mommynya.
**********
Di Perusahaan Arya sudah memimpin rapat bersama petinggi Perusahaan.
"Silahkan kalau ada yang mau kasih ide untuk acara ulang tahun Perusahaan tahun ini," Arya membuka rapatnya.
Mereka saling diam. "Maaf, Tuan! Saya hanya ingin sedikit kasih saran, seandainya untuk tahun ini acara diadakan di luar maksudnya ke pantai atau dimana, Nanti di sana, kita adakan lomba. Supaya doorprizenya ada kenangan dan boleh membawa keluarganya yang sudah punya kelaurga dan yang belum punya keluarga boleh mengajak orang tua atau adiknya, terima kasih,"
"Baik, kami tampung idenya. Ada yang mau kasih ide lagi?" tanya Arya lagi.
"Kalau di pantai, berarti kita harus sewa tempat itu dan untuk tempat tinggal juga. Karena kalau bergabung dengan pengunjung lain, pasti merasa nggak nyaman. Sedangkan untuk reservasi harus segera dilakukan, Tuan. Dan untuk ide saya, lebih baik liburan di Vila paginya kita adakan lomba dan malam puncaknya kita bagikan hadiah dan kita menyewa band untuk memeriahkan malam puncak dan siapapun boleh menyumbang lagu untuk memeriahkannya," jawab orang itu.
"Oke, kami tampung, berarti ide pertama liburan ke pantai dan kedua ke Vila. Ayo apa ada lagi yang akan di sampaikan?" tanya Arya lagi sambil mengedarkan pandangan, Deg jantungnya berdebar dan terkejut ada wajah baru yang belum pernah dilihatkan dan dia seseorang yang dikenalnya.
"Yang duduk dipojok, memakai baju biru! Kalau boleh tau siapa namanya dan dari Divisi mana?" tanya Arya. Semua orang langsung menoleh ke pojokan dengan baju biru.