“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Hawa dingin subuh menusuk pori-pori, namun Harsa sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Sejak kalimat cerai itu terlontar dari bibir Rania semalam, ia tidak bisa memejamkan mata bahkan untuk satu detik pun.
Harsa terduduk di lantai ruang tamu, meluruskan kakinya yang terasa kebas, sementara kepalanya bertumpu lesu di atas meja kaca. Tatapannya kosong, menatap bayangan lilin hias yang sudah padam.
Pikirannya kalut, terus-menerus mengulang kalimat ketus Rania dan kenyataan pahit bahwa posisinya saat ini adalah hasil sokongan keluarga sang istri.
Keheningan subuh itu pecah saat terdengar langkah kaki.
Ratna berjalan dengan daster panjangnya sembari mengikat rambut. Begitu melewati ruang tengah dan melihat area paviliun atas masih gelap, Ratna langsung mendengus kencang.
“Astaga, sudah subuh tapi menantuku itu belum bangun juga? Pemalas sekali!” omel Ratna, suaranya cemprengnya langsung membuat kepala Harsa semakin berdenyut nyeri.
“Harusnya istri itu bangun sebelum suami, menyiapkan kopi, ke dapur. Berbeda sekali dengan Wulan. Wulan itu jam segini pasti sudah rapi, sudah menyapu halaman, tipikal wanita yang rajin. Lah, ini? Rania malah masih meringkuk di dalam selimut!”
Ratna terus mengomel sembari berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Namun, langkahnya mendadak terhenti saat berbalik dan menyadari sosok yang duduk di lantai ruang tamu bukanlah bayangan, melainkan putranya sendiri.
“Ya Tuhan, Harsa?!” Ratna terpekik kaget, hampir menjatuhkan gelas di tangannya. Ia buru-buru berlari mendekat, berlutut di samping putranya dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Kamu kenapa duduk di lantai seperti ini, Nak? Wajahmu pucat sekali, matamu merah. Kamu nggak tidur semalaman?!”
Harsa perlahan menegakkan kepalanya. Tatapannya yang layu dan dalam menatap sang ibu.
Ada keletihan psikologis yang teramat besar terpancar dari wajah manajer sukses itu.
“Ibu...” panggil Harsa dengan suara serak dan berat.
“Iya, Nak? Kamu sakit? Sebentar, Ibu ambilkan minyak angin atau Ibu buatkan teh hangat, ya?”
Ratna panik, tangannya meraba kening Harsa.
Harsa menepis tangan ibunya dengan lembut, lalu menarik napas panjang yang terasa mencekat di dadanya.
“Ibu, aku mau bertanya satu hal. Dan tolong... kali ini jujur pada Harsa.”
Ratna mengerutkan kening.
“Tanya apa, Nak? Tentu saja Ibu selalu jujur padamu.”
“Apa yang sebenarnya Ibu katakan pada Rania kemarin siang?” tanya Harsa, matanya mengunci pandangan Ratna.
“Kata-kata apa saja yang keluar dari mulut Ibu sampai... sampai Rania meminta cerai dariku semalam?”
Deg!
Ratna menganga lebar. Matanya membelalak, terkejut bukan main mendengar kata 'cerai' keluar dari mulut putranya.
Seketika, keterkejutan itu dengan cepat berubah menjadi kilatan sinis. Ratna menegakkan punggungnya, mendengus meremehkan.
“Apa?! Cerai?! Dia minta cerai?” Ratna tertawa hambar, melipat kedua tangannya di dada.
“Astaga, Harsa! Menantuku itu benar-benar keterlaluan dan
lebay sekali! Hanya karena Ibu nasihati sedikit, dia langsung mogok kerja, memaki Ibu, dan sekarang mengancam cerai? Dia pikir pernikahan ini mainan? Dasar wanita manja, sok suci!”
“Bu! Jawab saja pertanyaanku!” bentak Harsa membuat Ratna tersentak kaget.
Harsa mengepalkan tangannya di atas meja.
“Rania tidak pernah seperti ini selama tiga tahun! Dia selalu diam dan mengalah. Tidak mungkin dia nekat meminta cerai kalau Ibu tidak mengucapkan sesuatu yang keterlaluan padanya! Apa benar Ibu mengutuk rahimnya?! Apa benar Ibu bilang rahimnya kering dan mandul?!”
Mendengar bentakan pertamanya dari sang putra kandung, wajah Ratna seketika berubah. Ia merasa posisinya terancam.
Otak manipulatifnya langsung berputar cepat. Detik berikutnya, mata Ratna mulai berkaca-kaca, dan bibirnya bergetar hebat.
“Harsa... kamu... kamu membentak Ibu?” tangis Ratna pecah seketika, air matanya meluncur deras dengan begitu dramatis. Ia memegangi dadanya seolah-olah tengah kesakitan.
“Demi wanita itu, kamu berani meninggikan suaramu pada Ibu yang sudah melahirkanmu? Ibu yang menyusuimu, yang membesarkanmu dengan darah dan air mata?!”
“Bu, bukan begitu maksud Harsa, tapi—”
“Ibu itu orang tua, Harsa! Ibu cuma bilang, kalau memang belum bisa kasih cucu, setidaknya jangan sinis kalau kamu bantu Gavin dan Wulan!$ potong Ratna di sela tangisnya yang kian histeris.
“Ibu cuma mau yang terbaik untuk rumah tanggamu. Ibu ingin kamu punya keturunan! Kenapa Ibu yang disalahkan? Rania-nya saja yang berhati busuk, dia memutarbalikkan fakta agar kamu membenci Ibu kandungmu sendiri! Dia sengaja membuat drama cerai ini supaya kamu tunduk di bawah kakinya dan menjauh dari Ibu!”
Ratna terus menangis sesenggukan, memukul-mukul dadanya sendiri dengan dramatis.
“Kalau kamu merasa Ibu ini pembawa sial di rumah ini, biar Ibu pulang kampung saja jalan kaki sekarang! Biar Ibu mati di jalan, asalkan kamu bisa bahagia dengan istrimu yang angkuh itu!”
Melihat ibunya menangis histeris hingga tersungkur di lantai, pertahanan Harsa kembali goyah. Amarahnya yang sempat memuncak perlahan-lahan luluh dan surut.
Rasa bakti yang buta dan rasa bersalah sebagai seorang anak kembali menjeratnya. Harsa menghela napas pasrah, lalu bergeser memeluk bahu ibunya yang terguncang hebat.
“Sudah, Bu... sudah. Jangan bicara begitu. Maafkan Harsa, Harsa tidak bermaksud membentak Ibu,” ucap Harsa lirih, mengusap lengan ibunya dengan perasaan yang kian berkecamuk.
Di balik pundak Harsa, tangis Ratna perlahan mereda. Sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis tersembunyi di balik wajahnya yang tertunduk.
Ratna tahu, seberani apa pun Rania melawan, Harsa akan selalu kembali bertekuk lutut di bawah air matanya.
Sementara Harsa hanya bisa memejamkan mata erat-erat, meratapi nasibnya yang kini terjebak di antara pusaran air mata sang ibu dan dinginnya keputusan cerai dari sang istri.
“Sekarang Harsa harus bagaimana, Bu? Harsa tidak mungkin menceraikan Rania. Harsa mencintai Rania!” ucap Harsa putus asa, kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
“Halah! Mikir apa soal cinta? Zaman sekarang cinta tidak bisa mengenyangkan perut, Harsa!” semprot Ratna, seketika menghentikan tangis dramatisnya dan menatap putranya dengan pandangan meremehkan.
“Kalau dia mau bercerai, ya cerai saja! Jangan menurunkan harga dirimu di depan wanita angkuh seperti dia!”
“Tapi, Bu, rumah tangga kami—”
“Dengar Ibu, Harsa! Kamu itu sekarang sudah sukses. Kamu sudah diangkat jadi manajer, punya jabatan, punya penghasilan tetap yang besar. Laki-laki mapan seperti kamu itu mending cari istri yang lebih becus, yang subur, dan yang patuh pada mertua! Bukan seperti Rania yang mandul dan hobi memfitnah orang tua!”potong Ratna sengaja memanas-manasi.
Bukannya memberikan nasihat yang benar sebagai orang tua untuk mendamaikan, Ratna malah terus mengompori dan membuat suasana subuh itu semakin panas.
Tepat di balik dinding lorong tangga, sosok Rania berdiri mematung. Ia mengenakan pakaian rapi, siap untuk pergi ke rumah sakit memenuhi janji dengan Jonathan.
Namun, langkah kakinya terhenti begitu mendengar perdebatan di ruang tamu. Rania tidak menangis lagi. Ia justru mengulas sebuah senyuman kecut yang teramat dingin di bibirnya.
“Jadi begini sikap ibu selama ini di belakangku? Menjadi penghasut yang lihai untuk menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri?” batin Rania.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu