Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Makin Panas
Hari‑hari berlalu dengan rasa waspada yang tak pernah reda. Di kediaman Alexander, tak ada lagi jalan sendirian tanpa kawalan. Ke sekolah, berbelanja, sekadar berjalan sore di taman, selalu ada dua petugas keamanan tak jauh di belakang. Leonardo bahkan menyusun jadwal ronda ketat malam hari dan memeriksa setiap sudut pagar serta gerbang berkali‑kali sehari. Axel sendiri jarang sekali berangkat ke kantor lama‑lama; ia lebih sering pulang siang atau membawa berkas kerjaan ke rumah agar bisa tetap mengawasi keadaan.
Pagi itu, di ruang kerja tertutup rapat, mereka kembali berkumpul. Axel, Daddy Xavier, Tuan Romano, Leonardo, dan Ayranza yang diminta ikut mendengarkan. Mommy Xena tetap tinggal di ruang tamu luar untuk menjaga kesan tenang bagi pelayan dan tamu tak terduga. Di atas meja terbentang peta lama kawasan pinggir kota Milan yang kini telah berubah jadi pusat bisnis padat. Lingkaran tinta merah menandai tanah warisan yang disengketakan puluhan tahun silam.
“Berdasarkan berkas yang baru kutemukan di gudang arsip kota,” ucap Romano pelan sambil menunjuk satu titik di peta, “sebelum hilang, Paman Andrei sempat membeli sebuah rumah kayu kecil agak jauh di pedalaman bukit sana. Dia sering berkunjung sendirian, tak pernah membawa keluarga atau orang kepercayaan. Ada kemungkinan dia menyimpan sesuatu di sana sebelum sempat pindah atau memusnahkannya.”
Daddy Xavier mengerutkan dahi. “Sudah berpuluh tahun berlalu. Rumah itu pasti sudah roboh, dihuni orang lain, atau hilang sama sekali.”
“Belum tentu,” potong Axel cepat, matanya menatap lekat titik yang ditunjuk Romano. “Kalau yang menyembunyikan jejak ini memang orang yang sama yang mengirim surat ancaman dan mengirim orang menghadang Ayranza, pasti ada alasan kenapa tempat itu tak disentuh sampai sekarang.”
Ia menoleh ke arah Leonardo. “Siapkan kendaraan dan perlengkapan. Kita berangkat sore ini juga. Kau tetap di sini jaga keadaan,” tambahnya pada Daddy Xavier, lalu beralih ke Ayranza, “Kau ikut aku. Matamu tajam, dan mungkin saja ada hal kecil yang terlewat kami.”
Ayranza mengangguk mantap. Jantungnya berdebar bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa ingin tahu dan tekad kuat ingin mengakhiri segala bahaya yang mengancam adik‑adiknya.
Perjalanan ke bukit itu memakan waktu hampir dua jam, makin lama makin jauh dari hiruk‑pikuk kota. Jalanan makin sempit, berkelok‑kelok, berbatuan kasar, dan ditutupi rimbunan pohon tinggi yang membuat suasana makin suram. Sesampainya di lokasi yang ditandai Romano, mereka harus berjalan kaki menyusuri semak belukar yang lebat. Angin berdesir pelan, membawa bau tanah lembap dan daun kering.
Benar dugaan mereka: sebuah bangunan kayu tua berdiri miring di balik pepohonan besar. Sebagian atapnya sudah runtuh, dindingnya lapuk dimakan waktu, namun struktur dasarnya masih tegak. Tak ada jejak kaki baru di tanah depan, seolah tak ada siapa pun yang ke sini bertahun‑tahun lamanya.
Mereka masuk perlahan. Udara di dalam pengap dan berdebu. Sinar matahari menembus celah‑celah papan dinding, menerangi debu yang menari‑nari di udara. Di sudut ruangan yang dulunya kamar tidur, Leonardo menemukan perapian tua yang tertutup tumpukan batu dan abu tebal. Di sebelahnya tergeletak peti besi kecil yang terkunci berkarat, tak terlihat dari luar.
Axel segera berjongkok, mengamati peti itu sambil meraba kuncinya yang sudah tak berfungsi. Dengan bantuan linggis kecil yang dibawa Leonardo, peti itu terbuka perlahan. Isinya, tumpukan surat‑surat pribadi, buku catatan harian bersampul kulit, dan selembar akta tanah yang ternyata salinan asli, lengkap dengan tanda tangan saksi‑saksi masa itu.
Ayranza mengambil salah satu buku catatan itu, membuka halaman‑halaman yang mulai rapuh. Tulisan tangan Paman Andrei terbaca jelas: ia mencurigai adanya rencana licik untuk menguasai seluruh warisan keluarga, bahkan menyinggung nama orang kepercayaan sendiri yang diam‑diam bekerja sama dengan pihak luar demi keuntungan besar. Di halaman‑halaman akhir tertulis kalimat yang membuat napas mereka tercekat:
“Kalau sampai aku hilang, carilah wanita yang bernama Livia. Dia tahu segalanya. Dia saksi mata malam itu.”
“Livia…” gumam Axel pelan. “Siapa dia?”
Romano yang ikut membaca mengerutkan dahi, lalu matanya terbelalak seolah baru teringat sesuatu. “Livia… dulu ada pembantu rumah tangga lama di keluarga ini. Dia berhenti tak lama setelah kejadian hilangnya Andrei. Kabarnya dia pindah ke desa tepi danau di utara sana, tapi tak ada yang pernah mencarinya.”
Sebelum sempat mereka bicara lebih jauh, Leonardo tiba‑tiba memberi isyarat diam. Ia mendengar suara ranting patah tak jauh dari bangunan itu. Suara langkah kaki cepat menjauh, disusul bunyi motor yang menderu kencang lalu hilang di kejauhan kabut.
“Ada orang yang memata‑matai kita,” kata Leonardo tegas sambil segera mengamankan seluruh isi peti ke dalam tas kedap. “Mereka tahu kita mulai mendekati kebenaran.”
Mereka segera bergegas kembali ke kendaraan, waspada sepanjang jalan pulang. Di dalam mobil, suasana hening dan tegang. Ayranza menyimpan buku catatan itu di pangkuannya, menyadari satu hal, pengejar mereka tak hanya orang asing biasa, melainkan seseorang yang tahu persis setiap gerak‑gerik penyelidikan ini. Bahkan mungkin ada mata‑mata yang bersembunyi tepat di dekat kediaman Alexander sendiri.
Sesampainya di rumah, Axel langsung memeriksa ulang seluruh daftar karyawan tetap dan sementara. Nama‑nama lama dicoret, catatan masa kerja diteliti ulang, hingga akhirnya satu nama mencolok muncul. Rosa, asisten rumah tangga yang baru masuk beberapa bulan sebelum kedatangan Ayranza dan adik‑adiknya. Catatan asalnya agak samar, dan dia sering sekali bertanya hal‑hal yang tak perlu soal urusan pribadi keluarga.
Malam itu juga, Axel memanggil Rosa sendirian ke ruang kerja. Ayranza menunggu di balik pintu penghubung, didampingi Leonardo. Awalnya Rosa menjawab tenang, namun begitu Axel menyebut nama Livia dan desa tepi danau, wajah wanita itu berubah pucat seketika. Ia mulai terbata‑bata, lalu akhirnya tak kuasa menahan tekanan dan mengakui semuanya. Ia disewa diam‑diam oleh Elena dan ayahnya untuk melapor setiap perkembangan, menyebar isu di sekolah Angga dan Arshen, serta yang terakhir mengirim orang menghadang Ayranza di gang sepi tempo hari.
“Mereka bilang tak ada bahaya besar, cuma ingin menakut‑nakuti saja,” sesal Rosa sambil menangis ketakutan. “Surat‑surat dan foto itu juga perintah mereka.”
Axel mengangguk dingin, lalu memberi isyarat Leonardo untuk mengurusnya dengan cara yang aman dan tak membahayakan orang lain. Masalah Elena dan ayahnya kini makin nyata, namun mereka sadar ada kekuatan lebih besar yang bergerak di balik itu. Kekuatan yang terhubung langsung dengan masa lalu kelam keluarga Alexander.
Keesokan paginya, setelah semalam berdiskusi panjang lebar, mereka sepakat melanjutkan langkah selanjutnya: menemui Livia di desa tepi danau. Kali ini persiapan jauh lebih matang. Axel tak membawa banyak orang, hanya Leonardo dan Ayranza. Sebelum berangkat, Axel sempat berpesan tegas pada Daddy Xavier,“Kami mungkin tak pulang malam ini. Jaga adik‑adik Ayranza baik‑baik. Tak ada yang boleh keluar pagar sampai kami kembali.”
Di perjalanan menuju utara, Ayranza memandang ke luar jendela mobil yang melaju membelah kabut pagi. Ia merasakan beban di pundaknya makin berat sekaligus makin ringan. Berat karena bahaya nyata mengintai di setiap tikungan, ringan karena kini ia tak lagi sendirian. Axel ada di sisinya, bukan lagi sekadar majikan atau suami kontrak, melainkan teman berjuang yang siap melindungi sampai titik darah penghabisan.
Sesampainya di desa tepi danau sore menjelang senja, suasana damai dan tenang berbanding terbalik dengan hati mereka yang waspada. Air danau tenang berkilauan disentuh cahaya matahari turun, rumah‑rumah beratap jerami berjejer rapi di pinggir jalan tanah. Tak sulit mencari Livia, penduduk desa mengenal wanita tua yang tinggal sendirian di ujung desa dekat dermaga kecil.
Saat mereka mengetuk pintu kayu rumah itu, tak ada jawaban lama sekali. Baru setelah Axel menyebut nama Andrei pelan dari balik daun pintu, terdengar bunyi gerendel terbuka perlahan. Seorang wanita tua berambut perak, wajah berkerut namun mata masih tajam, menatap mereka satu per satu lekat‑lekat.
“Siapa kalian?” suaranya parau namun tegas. “Apa yang kalian inginkan dari orang tua seperti saya?”
Axel menjawab tenang namun jujur, menceritakan sedikit asal‑usulnya, membawa buku catatan dan akta tanah dari peti tua. Livia diam sejenak, menatap barang‑barang itu lama sekali, lalu perlahan membuka pintu lebar‑lebar memberi jalan masuk.
Di dalam rumah sederhana itu, di depan perapian yang baru saja dinyalakan, akhirnya rahasia‑rahasia besar mulai terbuka perlahan satu per satu. Livia bercerita tentang malam‑malam panjang penuh ketakutan puluhan tahun silam, tentang pertengkaran hebat, tentang janji yang dikhianati, dan tentang sosok yang selama ini disembunyikan. Bukan sekadar mitra bisnis, melainkan saudara kandung ayah Axel yang dianggap sudah tiada, namun ternyata masih hidup dan diam‑diam menyusun rencana pembalasan panjang selama bertahun‑tahun.
Mendengar penuturan itu, napas Axel tertahan. Segala potongan teka‑teka mulai menyambung menjadi satu gambaran utuh dan mengerikan. Bahaya yang mereka hadapi jauh lebih besar dan dekat dari yang pernah dibayangkan sebelumnya.
Di luar rumah, kabut tebal perlahan turun menutupi permukaan danau. Malam itu, di tempat yang jauh dari hiruk‑pikuk kota, nasib mereka mulai ditentukan. Dan Ayranza sadar sepenuhnya, babak sesungguhnya baru saja dimulai.