NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Mana Yang Kamu Pilih?

Ben melirik ke arah kursi penumpang. Kepala Lala terkulai miring, napasnya teratur dalam kelelahan yang absolut. Di tangan gadis itu, gulungan sketsanya masih digenggam erat, seolah-olah itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa di tubuhnya.

​Ben menghela napas panjang, sebuah suara rendah yang tertahan di balik kerah jasnya yang sempurna. Ia baru saja melewati 24 jam dengan penuh darah, ancaman, dan strategi militer, namun sekarang ia terpaksa menjadi supir bagi seorang desainer yang bahkan tidak bisa berjalan lurus ke halte bus.

​Sial, batin Ben. Aku seharusnya membiarkannya saja di halte.

​Ia membelokkan mobilnya, namun bukan ke arah gedung perkantoran Frederick Group yang sibuk. Ia memutar stir menuju basement khusus apartemen pribadinya yang berada di kawasan Sudirman.

Kantor saat ini terlalu ramai, terlalu banyak mata yang memperhatikan, dan ia tidak ingin ada gosip murahan tentang "seorang gadis yang pingsan di dalam mobil Tuan Arganza".

​Begitu sampai di parkiran pribadi, Ben mematikan mesin. Keheningan menyelimuti interior mobil, hanya terdengar suara detak mesin yang mendingin. Ben menatap wajah Lala yang pucat. Tidak ada lagi sifat ceroboh yang mengesalkan, hanya seorang gadis yang tampak sangat rapuh.

​Ia keluar dari mobil, memutar ke sisi penumpang, dan dengan satu gerakan cekatan namun hati-hati, ia mengangkat tubuh Lala—yang terasa sangat ringan—keluar dari mobil. Lala menggeliat sedikit dalam tidurnya, kepalanya bersandar di dada bidang Ben, namun ia tidak terbangun.

​Ben membawa Lala masuk ke unit apartemennya yang luas, meletakkannya di sofa leather di ruang tamu, lalu menyampirkan selimut kasmir di atas tubuh gadis itu.

​Ia berdiri di sana sejenak, menatap desain yang tadi direbutnya dari tangan Lala. Dengan ragu, ia membuka gulungan kertas itu di atas meja marmer.

​Ben tertegun.

​Garis-garisnya tidak lagi kaku. Ada keberanian di sana—permainan cahaya yang tidak lazim, pemilihan material yang kontras namun elegan, dan tata letak yang memaksimalkan setiap inci ruang lounge Tuan Frederick dengan cara yang belum pernah terpikirkan oleh konsultan profesional mana pun. Itu adalah desain yang berantakan, penuh dengan coretan emosi, namun... sangat brilian.

​"Dia benar-benar melakukannya," bisik Ben pada dirinya sendiri, matanya menelusuri detail desain tersebut dengan tatapan yang mulai berubah dari meremehkan menjadi kekaguman yang tersembunyi.

​Ponsel Ben bergetar di sakunya. Pesan dari Baron Frederick: Apakah situasi sudah benar-benar terkendali?

​Ben membalas pesan itu dengan singkat, lalu menatap Lala yang masih tertidur. Ia tahu, dalam waktu dua jam lagi, ia harus membangunkan gadis ini dan memberinya kabar. Kabar bahwa desainnya luar biasa, atau kabar bahwa dunia Lala akan segera berubah.

​Ben duduk di kursi kerja yang berhadapan dengan sofa, menatap layar monitornya yang penuh dengan data keamanan dan laporan interogasi Mano Fransiska, namun tangannya justru tidak bisa berhenti menyentuh pinggiran kertas sketsa Lala.

​Penaklukan sang asisten, pikirnya sinis, menertawakan dirinya sendiri. Ia merasa seolah-olah ia bukan hanya sedang mengawasi seorang desainer, tapi sedang menjaga sebuah bom waktu yang akan mengubah hidupnya yang sangat teratur ini menjadi sesuatu yang tidak ia mengerti.

​Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan kelelahan akibat pertempuran semalam menyerangnya, sementara di depannya, "bencana" bernama Lala sedang tidur dengan nyenyak di ruang tamu apartemen seorang Ben Arganza.

Satu jam kemudian.

Lala melonjak dari sofa, selimut kasmir mahal itu meluncur jatuh ke lantai. Jantungnya berdegup kencang, memukul rusuknya seperti genderang perang. Ini bukan kamar kost sempitnya yang berbau apak. Ini adalah sebuah mahakarya arsitektur—ruangan luas dengan dinding kaca yang memperlihatkan skyline Jakarta dari ketinggian puluhan lantai, perabotan minimalis yang tampak seperti koleksi museum, dan suasana sunyi yang mencekam.

Tunggu. Apartemen? Hotel bintang lima? Atau... ruang penyiksaan?

Lala segera mundur dua langkah, memeluk tubuhnya sendiri dengan waspada. Ia menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada CCTV atau senjata yang mengarah padanya. Matanya tertuju pada sosok pria yang duduk tegak di balik meja kerja kaca—Ben Arganza.

Pria itu tampak tidak tersentuh, masih dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, terlihat sangat rapi sementara Lala merasa dirinya seperti gembel yang tersesat di istana raja.

"Anda menculikku, Tuan?" tanya Lala, suaranya sedikit bergetar namun masih mencoba terdengar menantang. "Apakah ini cara Anda merayakan keberhasilan mencuri desain saya?"

Ben meletakkan tabletnya dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja. Ia tidak langsung menjawab. Ia berdiri, melangkah mendekati Lala dengan aura predator yang membuat ruangan terasa menyusut. Setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu hakim.

Saat jarak mereka tersisa satu meter, Ben berhenti. Ia menatap Lala dengan tatapan yang bisa membekukan air, tatapan yang ia gunakan beberapa jam lalu di ruang interogasi untuk mematahkan mental musuh-musuh keluarga Frederick.

"Penculikan?" Ben mengulang kata itu dengan nada rendah yang berbahaya. Sudut bibirnya terangkat sinis, namun matanya tidak menunjukkan geli sedikit pun. "Jika saya ingin menculik seseorang, Nona Lala, saya tidak akan memilih seseorang yang bahkan tidak bisa menjaga kesadarannya sendiri di halte bus."

Ben melangkah lebih dekat lagi, memojokkan Lala hingga punggung gadis itu menempel di dinding kaca yang dingin. Ben meletakkan satu tangannya di samping kepala Lala, membatasi ruang geraknya.

"Kamu pingsan di mobil saya. Saya membawa mu ke sini karena saya tidak ingin ada mayat di basement kantor saya, dan karena saya belum selesai mengevaluasi apakah desain kamu layak atau hanya sekadar sampah yang menghabiskan waktu saya."

Tatapan Ben merayap turun, mengamati wajah Lala yang masih terlihat pucat, sebelum kembali mengunci tatapan gadis itu.

"Jadi, simpan imajinasi liarmu tentang penculikan itu. Di sini, kamu hanya punya dua pilihan: tetap diam dan selesaikan detail sketsa yang kurang itu dalam satu jam, atau saya akan pastikan kamu keluar dari gedung ini dengan tangan kosong dan karier yang hancur sebelum matahari terbenam."

Ben memiringkan sedikit kepalanya, suaranya kini berbisik di telinga Lala, dingin dan mutlak. "Mana yang kamu pilih, desainer ceroboh?"

***

Like dan komen dong 😁

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!