Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Perjalanan Menuju Desa Matahari
Pagi itu, langit masih berwarna biru pucat dengan sisa bintang yang perlahan memudar, saat Rey dan Sylfia sudah tiba di titik kumpul dekat gerbang selatan kota. Udara terasa dingin dan segar, diselimuti kabut tipis yang membuat pemandangan di kejauhan terlihat samar namun menenangkan. Di sana sudah berkumpul rombongan yang akan berangkat: lima buah gerobak berat yang ditarik oleh kuda-kuda yang kekar, serta sekelompok pedagang dan pembawa barang yang sedang memeriksa kembali ikatan dan muatan mereka.
Begitu melihat kedatangan Rey dan Sylfia, seorang pria paruh baya dengan pakaian tebal dan topi lebar yang melindungi dari sinar matahari berjalan mendekat. Wajahnya terlihat ramah namun penuh pengalaman, jelas terlihat sebagai pemimpin rombongan itu.
“Selamat pagi. Kalian berdua pasti petualang yang ditugaskan mengawal perjalanan ini, bukan?” sapanya sambil menatap mereka satu per satu dengan pandangan mengamati namun tidak mencurigakan.
“Benar. Saya Rey, ini rekan saya Sylfia. Kami bertugas menjaga keamanan rombongan ini sampai tiba dengan selamat di Desa Matahari dan kembali lagi,” jawab Rey dengan nada tenang dan meyakinkan.
Pria itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman. “Nama saya Kael, kepala rombongan kali ini. Terima kasih sudah bersedia menerima tugas ini. Biasanya jalur ini cukup aman, tapi beberapa minggu terakhir kami mendengar kabar ada gangguan di bagian tengah perjalanan, jadi kami memutuskan menyewa pengawal tambahan untuk berjaga-jaga.”
“Tenang saja, Pak Kael. Kami akan menjaga sebaik mungkin,” balas Rey dengan senyum meyakinkan.
Tak lama kemudian, saat matahari mulai terbit sempurna dan cahayanya cukup terang untuk menerangi jalan, Kael memberi isyarat ke seluruh rombongan untuk mulai bergerak. Derap langkah kuda dan bunyi roda gerobak yang berputar mulai terdengar, memecah keheningan pagi itu.
Rombongan berjalan dengan kecepatan sedang agar tidak terlalu melelahkan hewan penarik dan tetap menjaga kestabilan barang yang dibawa. Rey memilih berjalan di bagian depan sebagai pengintai utama, sedangkan Sylfia mengambil posisi di bagian tengah, memantau sisi kiri dan kanan jalan berkat indranya yang jauh lebih tajam dibandingkan manusia biasa.
Di sepanjang perjalanan, Rey terus mengamati sekeliling dengan pandangan terlatih. Ia tidak hanya melihat permukaan saja, tapi juga merasakan aliran energi di sekitarnya, mendeteksi keberadaan makhluk hidup atau perubahan lingkungan yang tidak wajar. Sementara itu, Sylfia sesekali mengingatkan hal-hal kecil namun penting: adanya tanaman beracun di pinggir jalan, arah angin yang berubah, hingga jejak tapak hewan yang baru saja lewat.
“Dari sini sampai matahari tergelincir ke barat, kita akan melewati padang rumput yang luas dan terbuka. Di tempat ini bahayanya jarang datang dari depan, tapi lebih sering mengintai dari balik semak atau bukit kecil yang tersembunyi,” ujar Sylfia pelan hanya agar Rey mendengar.
Rey mengangguk mengerti. “Benar. Tempat terbuka memudahkan kita melihat musuh dari jauh, tapi juga memudahkan mereka mengawasi gerak-gerik kita. Kita harus tetap waspada sampai melewati kawasan hutan pendek yang ada di pertengahan perjalanan.”
Sesuai perkiraan, perjalanan berjalan lancar selama beberapa jam pertama. Suasana terasa tenang, hanya terdengar suara percakapan ringan antar pedagang, kicau burung, dan bunyi aliran sungai kecil yang mereka lewati sesekali. Namun saat hari mulai menjelang tengah hari dan mereka memasuki kawasan yang lebih rindang dengan pepohonan yang mulai rapat, suasana perlahan berubah menjadi lebih sunyi dan hening.
Angin yang tadi berhembus lembut kini terasa sedikit lebih dingin, dan suara alam seolah berhenti sejenak. Rey langsung mengangkat tangan memberi isyarat agar seluruh rombongan melambatkan langkah dan tetap tenang.
“Ada sesuatu yang tidak beres,” bisik Rey sambil memandang ke depan dan ke sisi jalan yang mulai dipenuhi semak belukar lebat. “Indera apa pun yang kau miliki, siapkanlah. Kita mungkin tidak sendirian di sini.”
Sylfia langsung merasakan hal yang sama. Telinganya bergerak mengikuti suara yang sangat samar, dan matanya menyipit memandang celah-celah di antara pepohonan. “Aku mendengar gerakan kaki… cukup banyak, dan berusaha tetap diam. Mereka mengelilingi kita perlahan dari tiga sisi.”
Kael dan orang-orang di belakangnya langsung tegang. Beberapa dari mereka mengambil tongkat atau pisau kecil sebagai perlindungan sederhana, meskipun jelas terlihat mereka tidak terlatih untuk bertarung sungguhan.
“Siapa itu? Apakah penyamun lagi?” tanya Kael dengan suara rendah namun terasa tegang.
“Belum pasti, tapi mereka menyembunyikan niatnya,” jawab Rey tenang. “Tetap di tengah jalan dan jangan bergerak ke pinggir. Biarkan kami yang menghadapi jika mereka berani keluar.”
Tak lama kemudian, dari balik semak dan di atas bukit kecil di sisi jalan, muncul sekitar selusin sosok makhluk bertubuh kekar namun pendek, dengan kulit berwarna abu-abu kehijauan, gigi taring yang menonjol keluar, dan mengenakan pakaian dari kulit kasar serta membawa kapak dan tongkat yang terbuat dari kayu keras. Mereka adalah kawanan goblin—makhluk yang sering berkeliaran di wilayah perbatasan hutan dan menyerang kelompok yang lewat untuk mencuri makanan dan barang berharga.
“Wah… ternyata bukan manusia, tapi kawanan goblin,” gumam Rey dalam hati. “Lebih mudah ditangani, tapi hati-hati, mereka sering menyerang secara serentak dan suka menjebak.”
Pemimpin kawanan itu, yang terlihat sedikit lebih besar dan memiliki hiasan tulang di kepalanya, melangkah maju sambil berteriak dengan suara parau dan kasar. “Hentikan! Serahkan semua barang dan makanan, lalu pergilah! Kalau melawan, kalian akan menjadi makanan kami hari ini!”
Para pedagang di belakang langsung terkejut dan mundur perlahan, wajah mereka pucat ketakutan. Namun Rey tetap berdiri tegak di depan, tanpa rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, ia justru merasa lega karena yang datang bukan kelompok yang lebih berbahaya.
“Kami hanya lewat dengan damai. Jangan halangi jalan, dan kami tidak akan menyakiti kalian,” ujar Rey dengan suara tegas namun tetap memberi kesempatan untuk mundur.
Namun bagi makhluk seperti goblin, kelembutan dianggap sebagai kelemahan. Mendengar jawaban itu, mereka malah berteriak keras dan mulai bergerak mendekat, mengelilingi rombongan dari segala sisi.
“Serang! Ambil semuanya!” teriak pemimpin mereka, dan segera beberapa ekor melompat keluar dari persembunyian sambil mengayunkan senjatanya.
Rey langsung memberi isyarat ke Sylfia. “Kau jaga bagian belakang dan sisi kanan, aku tangani depan dan kiri. Gunakan tenaga secukupnya saja, cukup buat mereka mundur atau lumpuhkan, tidak perlu membunuh jika masih bisa dihindari.”
“Siap!” jawab Sylfia singkat sambil mengangkat busurnya, menarik tali dengan cepat dan siap melepaskan panah.
Begitu goblin pertama melesat mendekat, Rey melangkah maju selangkah. Ia tidak mengeluarkan kekuatan penuh yang bisa menghancurkan seluruh kawasan itu dalam sekejap—ia hanya menggunakan sedikit kekuatan elemen angin untuk mempercepat gerakannya dan menambah tenaga pukulannya. Dengan ayunan gagang pedang yang terkontrol, ia memukul tubuh makhluk itu tepat di bahu, cukup keras untuk membuatnya terlempar mundur dan jatuh tak sadarkan diri tanpa melukai nyawanya.
Di sisi lain, Sylfia sudah melepaskan panah-panah berujung zat penenangnya. Setiap panah yang melesat selalu mengenai titik kaki atau tangan, membuat goblin yang terkena langsung terasa lemas dan jatuh tersungkur, tidak bisa melanjutkan serangan. Sambil itu, ia juga menggunakan sihir angin tingkat rendah untuk menerbangkan debu dan daun ke mata makhluk-makhluk itu, mengganggu penglihatan mereka dan membuat gerakan mereka menjadi kacau.
Pertarungan berlangsung sangat singkat, hanya sekitar lima menit saja. Dari selusin goblin yang menyerang, sebagian besar sudah tergeletak lemas di tanah, dan sisanya yang melihat kekuatan dua petualang itu jauh melampaui perkiraan mereka mulai mundur ketakutan, berteriak histeris sambil lari kembali ke dalam hutan.
Suasana kembali hening, hanya tersisa napas terengah-engah dari para pedagang yang masih terkejut. Kael mendekat sambil mengusap keringat dingin di dahinya, matanya terbelalak kagum melihat kecepatan dan cara mereka bertarung.
“Luar biasa… benar-benar luar biasa! Kami pernah bertemu goblin sebelumnya, tapi tidak pernah bisa mengusir mereka secepat ini. Kalian berdua hebat sekali!” seru Kael dengan nada penuh rasa syukur.
Rey hanya tersenyum tipis dan menggeleng. “Mereka hanya makhluk yang mencari makan dengan cara yang salah. Selama tidak berniat membunuh, lebih baik dilumpuhkan saja daripada dibinasakan. Sekarang kita lanjutkan perjalanan sebelum mereka berani kembali membawa teman yang lebih banyak.”
Setelah memastikan tidak ada bahaya tersisa dan membersihkan sedikit rintangan di jalan, rombongan kembali melanjutkan langkahnya. Sisa perjalanan sampai tiba di Desa Matahari berjalan lancar tanpa gangguan lagi. Saat matahari mulai condong ke barat dan mereka melihat atap-atap rumah serta sawah yang luas di kejauhan, rasa lega terasa meluap di dada semua orang.
Begitu memasuki desa dan tiba di tempat tujuan, kepala desa serta penduduk setempat menyambut mereka dengan hangat. Kael memberikan pujian setinggi-tingginya atas kinerja Rey dan Sylfia, bahkan menambahkan sedikit lebih banyak upah sebagai tanda terima kasih pribadi karena telah menyelamatkan barang dan nyawa mereka dari bahaya.
Malam itu, mereka beristirahat di rumah penginapan sederhana yang disediakan desa. Sambil menikmati makan malam yang hangat, Sylfia menoleh ke arah Rey dengan senyum puas.
“Lihat, tugas pertama kita bersama berjalan sempurna. Kita bekerja sama dengan baik, dan tidak ada yang curiga sama sekali dengan kemampuan yang kita miliki,” katanya dengan nada senang.
Rey mengangguk setuju, matanya menatap ke luar jendela memandang langit malam yang penuh bintang. “Benar. Ini membuktikan bahwa kita bisa mengatur kekuatan kita dengan bijak dan tetap menjaga profil rendah seperti yang kita rencanakan. Semakin kita terlihat seperti petualang biasa yang bertambah kuat secara wajar, semakin aman kita mengembangkan kemampuan asli kita nanti.”
Ia menoleh ke arah rekannya itu dengan pandangan yang lebih bersemangat. “Besok kita akan kembali ke kota dengan rombongan ini. Setelah itu, saatnya kita mencari misi yang lebih menantang—sesuatu yang bisa membuat kita naik ke peringkat lebih tinggi lagi, sekaligus memberi kita kesempatan untuk melihat lebih banyak sisi dari dunia ini.”
Di bawah cahaya rembulan yang tenang, keduanya merencanakan langkah selanjutnya dengan penuh keyakinan. Mereka tahu, perjalanan ini baru melewati satu rintangan kecil, dan masih banyak tantangan yang lebih besar menanti di depan—namun bersama-sama, mereka siap menghadapi apa pun yang akan datang.