NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Bandara Internasional Soekarno-Hatta sore itu tampak padat seperti biasa. Riuh suara pengumuman penerbangan bercampur dengan derap langkah kaki ratusan orang yang baru saja mendarat. Di antara kerumunan itu, seorang laki-laki berjalan dengan langkah santai namun pasti.

Ia mengenakan jaket penyamaran hitam sederhana dan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya. Garis wajahnya yang blasteran Arab Saudi, hidung mancung dengan rahang kokoh yang bersih, beberapa kali mencuri perhatian orang-orang yang berpapasan dengannya. Namun, tatapan matanya yang dingin membuat siapapun enggan untuk menatap terlalu lama karena takut.

Faas Abrari. Nama yang singkat, sesingkat jejak yang ia tinggalkan di Amerika. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah radar sebagai agen rahasia Sektor 7, hari ini ia resmi menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya, Jakarta untuk selamanya,bukan untuk singgah ataupun misi kenegaraan,ia benar-benar menjadi warga sipil biasa.

Ia meraba saku jaketnya, mengeluarkan sebuah ponsel yang terenkripsi khusus. Di layarnya, sebuah pesan singkat dari nomor yang sudah sangat ia kenal muncul di grup Wa-nya.

Maudi\= "Gimana Jakarta? Panas? Selamat datang di kehidupan normal, Faas. Kalau butuh tempat singgah sebelum urusanmu selesai, pintu rumahku selalu terbuka."

Amer\= Aku akan kembali saat kau Akan menikah 😂.

Faas hanya menyunggingkan senyum tipis, hampir tak terlihat. Tiga tahun lalu, Maudi, rekan satu timnya di Sektor 7, memilih jalur ini lebih dulu. Menyerahkan lencana, pulang ke Jakarta, dan menikah. Faas dan Amer pun ikut kembali ke jakarta hanya sebentar untuk menemani Maudi menata kehidupan nya kembali, setelah memastikan Maudi yang mereka anggap sebagai adik, mereka memutuskan kembali ke Amerika karena masih harus menyelesaikan sebuah misi.

Kini, giliran Faas yang mencari ketenangannya sendiri. Atau lebih tepatnya, membangun wilayah barunya.

Faas memasukkan kembali ponselnya. Ia tidak langsung memesan taksi menuju rumah utama keluarga besar Husen Abrari , tempat di mana ia dan saudara kembarnya, Yolanda, pernah didepak secara halus sepuluh tahun lalu setelah lulus SMA. Baginya, tempat itu bukan lagi rumah.

Bagi Husen dan dunia luar, Faas adalah anak sulung yang gagal, si pendiam yang dianggap tidak punya masa depan di dunia bisnis properti, tidak seperti Gavin yang selalu diagung-agungkan semenjak kecil , Gavin mudah di didik untuk mengurus perusahaan. Mereka mengira Faas menggelandang atau sekadar menjadi buruh biasa di luar negeri atau hanya hidup berfoya-foya menghasilkan uang yang ayahnya kirim setiap bulannya.

Mereka tidak pernah tahu, di balik sifat pendiam yang mereka anggap sebagai kelemahan, Faas adalah sosok yang mematikan. Dan yang lebih penting, mereka tidak tahu bahwa sebuah perusahaan teknologi raksasa yang berbasis di Silicon Valley dan kini mulai merambah ke Jakarta, Apex Core, adalah miliknya yang ia bangun dengan keringat sendiri selama tujuh tahun terakhir. Identitasnya sebagai pemilik utama tertutup rapat di balik berlapis-lapis protokol keamanan Sektor 7. Hanya Maudi dan Amer yang tahu siapa Faas sebenarnya.

"Taksi, Pak?" tawar seorang pengemudi di area penjemputan.

Faas mengangguk pelan. "Ke daerah Sudirman," jawabnya dengan suara berat dan tenang.... Faas memilih untuk melihat perusahaannya sendiri dengan penyamaran yang pasti... Ia memakai kacamata serta rambut yang terlihat sedikit beruban, tak lupa kumisnya yang tebal, sangat kontras dengan wajah tampannya, kini Faas menjelma menjadi pria berumur 40 an.

Di dalam taksi yang mulai membelah kemacetan Jakarta, Faas menyandarkan kepalanya ke kursi. Pikirannya melayang pada Yolanda. Adik kembarnya itu untungnya memiliki ambisi yang kuat. Yolanda berhasil membuktikan dirinya, lulus sebagai dokter kandungan terbaik di Amerika, dan setahun lalu menikah dengan Kevin. Setidaknya, Yolanda tidak perlu menghadapi dinginnya tatapan meremehkan dari sang ayah sedari dulu.

Ponsel biasa milik Faas, bukan ponsel agennya tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi berita bisnis lokal muncul di layar.

Gavin Ariszan Husen Abrari (26), Direktur Utama Baru Abrari Property Group, Targetkan Lonjakan Aset 200% di Kuartal Ini.

Faas menatap foto Gavin yang tersenyum arogan di artikel tersebut. Di bawahnya, ada juga foto adik perempuannya dari ibu yang berbeda, Jenita, yang tampak berpose mewah di sebuah kafe mahal.

Dunia mengira keluarga Abrari sedang berada di puncak kejayaan dengan anak-anaknya yang berkuasa. Mereka lupa, atau sengaja melupakan, bahwa ada seorang anak sulung yang sedang memperhatikan mereka dari balik bayang-bayang yang selama ini di sembunyikan. Husen mengatakan pada pihak umum kalau Faas mengurus perusahaan anak cabang yang berada di Amerika untuk menutupi rasa malunya bahwa kenyataannya Faas tidak bisa berbuat apa-apa.

Faas mematikan layar ponselnya. Matanya kembali menatap keluar jendela, menembus rintik hujan yang mulai membasahi Jakarta.

"Permainan baru saja dimulai, tapi mari kita mainkan dengan tempo yang lambat", batin Faas tenang.

Setelah Faas singgah sebentar di perusahaan nya, kini ia memutuskan untuk kembali ke rumah masa kecilnya, rumah di mana ia tidak di perdulikan sedari kecil, hanya ibunya serta Yolanda yang selalu memperhatikan dirinya meski Faas lebih banyak diamnya.

Mobil yang membawa Faas berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi menjulang di kawasan perumahan elite Jakarta. Rumah besar bergaya klasik modern itu masih sama seperti beberapa tahun lalu, megah di luar, namun terasa mencekik di dalam.

Faas turun sambil membawa satu koper kecil. Langkah kakinya terdengar konstan saat melewati halaman luas menuju pintu utama. Begitu melangkah masuk, keheningan rumah itu pecah oleh suara roda yang berputar di atas lantai marmer.

"Faas...?"

Suara itu lirih, bergetar menahan kerinduan. Faas langsung menoleh. Di ujung koridor, seorang wanita paruh baya dengan jilbab instan duduk di atas kursi roda. Diana. Ibunya. Wanita yang puluhan tahun harus kehilangan fungsi kakinya demi melahirkan Faas dan Yolanda ke dunia.

Faas yang biasanya dingin dan tak tersentuh, seketika melunakkan pandangannya. Ia melangkah cepat, lalu berlutut di hadapan kursi roda ibunya. Ia menggenggam kedua tangan Diana yang terasa kurus dan hangat.

"Assalamualaikum....Faas pulang, Ibu," ucap Faas lembut, sangat berbeda dengan suaranya yang biasa.

Air mata Diana luruh. Ia membelai wajah blasteran anak sulungnya dengan tangan gemetar. "Waalaikumsalam....Kamu kurus sekali, Nak... sepuluh tahun kamu di sana, Ibu selalu berdoa kamu baik-baik saja. Meski kamu sering pulang,tapi ibu selalu merindukan mu nak, Maafkan Ibu yang tidak bisa melindungimu dari keputusan ayahmu, ku mohon, jangan pergi lagi nak, saudara mu pulang hanya sebentar lalu memutuskan untuk menikah dan sekarang sudah hidup bahagia bersama suaminya, ."

"Faas baik-baik saja, Bu. Sangat baik," bisik Faas, menenangkan. Lalu mengangguk " mulai sekarang, Faas akan tetap di sini, Faas tidak akan pergi jauh lagi" .

Di rumah ini, hanya Diana yang tulus menyayanginya. Yolanda, adik kembarnya, kini sudah tinggal terpisah bersama Kevin setelah pernikahan mereka setahun lalu, mencoba membangun hidupnya sendiri yang ambisius sebagai dokter.

"Oh, si anak hilang ternyata tahu jalan pulang lagi, apa sudah bosan menjadi gelandangan di sana."

Sebuah suara bernada sarkastik memotong momen hangat itu. Jihan, istri kedua Husen, berjalan anggun menuruni tangga melingkar. Di belakangnya, menyusul Jenita yang sibuk memainkan ponsel mahal di tangannya.

"Aku kira kamu sudah betah jadi buruh cuci piring di Amerika, Faas," sindir Jihan dengan senyum meremehkan, lalu menghampiri Diana dengan gestur seolah peduli. "Mbak Diana, jangan terlalu lelah. Nanti tensinya naik lagi cuma karena menyambut anak yang... ya, kamu tahu sendiri."

Faas tidak membalas. Ia berdiri tegak, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, seolah sindiran Jihan hanyalah angin lalu. Karakter diamnya inilah yang sejak dulu membuat keluarganya menganggapnya lemah dan tidak punya taring.

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!