Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Para Iblis
Suasana kelas yang tadinya hening mendadak berubah menjadi tegang saat suara langkah kaki yang serempak terdengar dari arah pintu. Geng Demons—kelompok paling ditakuti di sekolah ini—berjalan masuk dengan aura yang mendominasi.
Di barisan depan ada Arland, sang ketua yang selalu terlihat emosional jika menyangkut Zella. Di sampingnya, berdiri Ezkiel De Luca, sang wakil yang sebenarnya jauh lebih berbahaya karena sifat dinginnya yang tak tersentuh. Di belakang mereka, mengikuti Evan dan Ezra, dua anggota yang bisa dibilang masih memiliki sisi "normal" dibandingkan kedua pemimpin mereka yang seperti balok es.
Mata keempat pria itu secara otomatis menyapu seisi kelas, hingga pandangan mereka tertumpu pada satu titik. Di pojok kelas, seorang gadis duduk dengan tenang, jemari lentiknya membalik halaman buku dengan perlahan. Rambutnya yang halus jatuh menutupi sebagian wajahnya yang tampak bersih dan bersinar.
Anna merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dengan intens. Ia memberanikan diri untuk mendongak, dan deg!
Manik matanya bertemu langsung dengan mata elang milik Ezkiel. Dingin, tajam, dan penuh selidik. Jantung Anna rasanya ingin melompat keluar. Malaikat maut! jeritnya dalam hati. Dengan gerakan secepat kilat, ia langsung menundukkan kepala, pura-pura kembali fokus pada bukunya demi menghindari tatapan pria yang mengurungnya di gudang kemarin.
"Eh? Apakah kamu murid baru?" suara ceria Ezra memecah ketegangan. Ia melangkah mendekati meja Anna dengan senyum jahil.
Anna menggeleng pelan tanpa berani menatap ke arah depan kelas.
"Bukan murid baru?" Ezra mencondongkan tubuhnya, mencoba mengintip wajah Anna yang tertutup rambut. "Masa sih? Perasaan kemarin nggak ada bidadari nyasar di kelas ini."
Ezra mulai menjahili Anna dengan menarik pelan ujung buku yang sedang dibacanya. "Woi, liat sini dong. Sombong banget sih jadi orang."
Anna yang merasa terganggu akhirnya mendongak dengan wajah yang memerah karena kesal. "Jangan ganggu, aku lagi baca!" ucapnya dengan bibir yang mengerucut dan mata yang sedikit berkaca-kaca karena takut sekaligus jengkel.
Namun, bukannya takut, Ezra justru terpaku. Bukannya terlihat galak, wajah Anna yang sedang marah itu justru terlihat seribu kali lebih imut dan menggemaskan.
"Wah, parah... lo beneran si 'hantu dempul' itu?" celetuk Ezra tak percaya.
Sementara itu, Arland hanya mendengus sinis dan memalingkan muka. Baginya, mau Anna berubah jadi bidadari sekalipun, gadis itu tetaplah pengganggu yang sudah menyakiti Zella—gadis pujaannya.
Anna—atau seharusnya kini disebut Raisa yang terjebak di tubuh Anna—merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia segera memalingkan wajah, menatap ujung sepatunya dengan jemari yang saling bertautan erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, melainkan karena rasa takut yang murni.
Evan, teman di sebelah Kiel, menyeringai nakal sambil menyenggol bahu Kiel. "Tumben banget, Na? Kok nggak nyapa 'Pangeran' lo hari ini?" ledeknya dengan nada meremehkan.
Anna menarik napas dalam. Ia mendongak, mencoba memasang wajah berani meskipun matanya yang bulat terlihat berkaca-kaca, membuatnya tampak sangat menggemaskan di mata siapa pun yang melihat.
"Engga," ucap Anna dengan suara bergetar namun tegas. "Aku udah engga suka sama Kiel lagi."
Hening.
Bahkan Evan pun terdiam mendengar pernyataan itu. Tatapan Kiel semakin menggelap, kilat kemarahan muncul di matanya yang tajam. Tanpa sepatah kata pun, Kiel melangkah maju dan mencengkeram pergelangan tangan Anna dengan kuat.
"L-lepas... sakit," rintih Anna pelan.
Kiel tidak peduli. Ia menarik tubuh mungil Anna keluar dari kelas, mengabaikan tatapan kaget dari murid-murid lainnya.
Kiel menghentikan langkahnya dan menyentak tangan Anna hingga gadis itu terbentur dinding. Anna gemetar hebat, ia menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya yang pucat.
"Aku... aku nggak ngapa-ngapain Zela hari ini," ucap Anna polos, suaranya nyaris berbisik. "Aku mohon, jangan hukum aku..."
Srak!
Kiel mencengkeram dagu Anna, memaksa gadis itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang sedingin es.
"Mau taktik apalagi sekarang, hah?" desis Kiel rendah, penuh penekanan. "Berakting jadi gadis lugu setelah semua yang lo lakuin ke Zela?"
Anna menggeleng lemah. Dagunya terasa sangat sakit dalam cengkeraman tangan kokoh itu. Air mata mulai menetes di pipinya yang merona.
"Sakit... lepas..." rintihnya lagi. "Aku mohon... lepasin aku..."
Pandangan Anna mulai berbayang. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat.
"K-kiel... pusing..."
Sebelum Kiel sempat membalas, tubuh Anna melemas. Pegangan tangannya pada seragam Kiel terlepas begitu saja. Anna jatuh tak sadarkan diri, terkulai lemas dalam pelukan paksa sang pria yang kini tampak sedikit terkejut melihat perubahan mendadak gadis itu.
Bau obat-obatan yang menyengat menusuk indra penciuman Anna. Ia perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat, mendapati dirinya berbaring di atas ranjang dengan sprei putih kaku.
"Aku... kenapa di sini?" rintihnya lirih.
Anna segera meraba seluruh tubuhnya. Tangannya meraba lengan, wajah, hingga helai rambutnya. Ada setitik harapan muncul di hatinya. Apakah aku sudah di surga? Atau... apa aku sudah kembali ke rumahku yang asli?
Namun, saat matanya menangkap seragam sekolah yang ia kenakan—seragam yang sama dengan karakter dalam buku yang ia baca hingga tengah malam—bahunya merosot lesu.
"Ah, nggak seru... Ternyata aku masih terjebak di dunia novel ini," gumamnya kecewa.
Perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Karena rasa lapar yang tak tertahankan, ia memutuskan untuk beranjak dari UKS dan berjalan menuju kantin. Setelah memesan makanan, Anna baru saja hendak mendudukkan dirinya di salah satu kursi kayu yang kosong.
"ANNA!"
Sebuah suara berat dan menggelegar memanggil namanya, membuat Anna tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan nampannya. Ia menoleh dan mendapati Arland berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam karena amarah.
Apalagi sekarang? pikir Anna lelah.
Tanpa aba-aba, Arland melangkah maju dan mendorong bahu Anna dengan kasar hingga gadis itu terhuyung ke belakang.
"Lo apain Zela, hah?!" bentak Arland tanpa memedulikan tatapan orang-orang di kantin.
Anna menatap Arland dengan mata bulatnya yang jujur. "Aku... aku nggak ngapa-ngapain," jawabnya polos.
"Kalau nggak ngapa-ngapain, kenapa dia nangis sesenggukan dan bilang kalau lo mem-bully dia di gudang belakang?!" Arland semakin mendekat, suaranya naik satu oktav.
Anna tertegun. Mengapa ia yang dituduh? Padahal jelas-jelas tadi ia pingsan setelah berurusan dengan Kiel.
"Aku tadi di UKS," ucap Anna membela diri dengan jujur. "Aku baru saja bangun dan langsung ke sini karena lapar. Bagaimana mungkin aku ada di gudang belakang?"