NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bermotor di Malam Sepi

“Iya, soalnya lagi ada orang di sini. kamu gak lihat apa?” jawab Vito sambil mengangkat satu alisnya.

Baru saat itu Zaki menyadari keberadaan perempuan yang duduk di hadapan Vito.

Vito menahan senyum. Ia mengetahui betul ekspresi yang terlihat di wajah Zaki saat melihat Yessica. Zaki menyukai apa yang dilihatnya, namun suasana di ruangan itu akan segera berubah dalam waktu singkat.

“Zaki, kenalin ini Yessica, karyawan baru kita. Dia akan bekerja bersamamu sebagai koordinator acara. Yessica, ini saudara saya sekaligus wakil direktur perusahaan, Zaki.”

Zaki menatap tajam tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Suasana di ruangan itu seketika berubah menjadi tegang, namun Yessica sama sekali tidak merasa terganggu.

“Senang berkenalan denganmu, Zaki. Gak sabar kerja bareng,” kata Yessica dengan nada tenang.

“Berhenti ngomong Seakan kita sejajar.”

“Maksudnya?”

“Kamu kerja buat saya.”

Yessica tersenyum kecil seakan sedang menggoda. “Yah, itu belum tentu kan?”

Zaki menggelengkan kepalanya pelan, lalu menatap Vito. “Semoga beruntung malam ini, kamu pasti butuh banget.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, ia keluar dari ruangan dengan langkah yang terlihat kesal.

Yessica kembali menoleh ke arah Vito, lalu meletakkan kedua tangannya di atas pangkuan dengan senyum yang terlihat sedikit iseng.

“Setelah lihat sikap saudaramu, tawaran kerja ini masih berlaku gak sih?”

Vito tertawa kecil. “Tenang aja, tetap berlaku. Lagipula tadi kamu bilang suka tantangan kan?”

Wajah Yessica terlihat penuh dengan percaya diri.

Vito merasa telah mengambil keputusan yang tepat. Jika sikap tidak sopan Zaki tidak membuatnya pergi, berarti perempuan itu adalah orang yang tepat untuk posisi tersebut. Diam-diam, ia berharap Yessica dapat membuat Zaki kewalahan dalam menjalani hari-hari ke depannya.

Vito mengantar Yessica menuju bagian HRD, kemudian kembali menyelesaikan pekerjaannya. Saat ia mematikan perangkat komputernya, langit di luar jendela sudah terlihat gelap. Matanya terasa berat setelah menatap layar sepanjang hari.

Ia melihat jam dan menyadari bahwa waktu sudah larut. Ia mengambil kunci kendaraan dan helm, mengenakan jaket kulitnya, lalu berangkat. Ia sudah terbiasa menyimpan pakaian ganti di loker yang ada di Gym, sehingga tidak perlu pulang ke rumah terlebih dahulu.

Suara kendaraannya terdengar halus saat dinyalakan, kemudian ia melaju menuju tempat berkumpulnya saudaranya. Sesampainya di Gym, saudara-saudaranya serta temannya, Bass, sudah berada di sana. Mereka sedang membalut tangan dan mengenakan sarung tinju.

Vito segera berganti pakaian. Perasaan bersemangat dan siap bertanding mulai muncul di dalam hatinya. Segera setelah kembali ke area latihan, Zaki melambaikan tangannya dan naik ke atas ring. Vito tidak menghiraukannya dan mendekati orang-orang lainnya.

“Hei, siap gak? Dia lagi emosi banget hari ini. kamu apain dia?” tanya Rowan dengan nada hati-hati.

“Dia bikin dirinya sendiri marah. Pertanyaannya, dia siap gak lawan aku? Minggu ini berat banget, dan aku siap menang beberapa ronde,” jawab Vito sambil tersenyum miring.

Bass membantu membalut tangan dan pergelangan tangan Vito. Setelah semuanya siap, Vito naik ke atas ring untuk menghadap Zaki.

Energi terasa meluap di sekujur tubuhnya. Ia memutar lehernya ke kanan dan ke kiri untuk melemaskan otot-ototnya. Keduanya bertemu di tengah ring, menyentuhkan sarung tinju mereka sebagai tanda siap bertanding, lalu mundur beberapa langkah.

Pertarungan segera dimulai.

Vito sangat menyukai momen bertanding di sini. Jika kehidupannya tidak berjalan seperti yang dialaminya saat ini, mungkin inilah yang akan ditekuninya.

“Kamu mau jelasin gak kenapa kamu rekrut orang itu? Apa-apaan sih?” teriak Zaki di sela-sela pukulan yang dilancarkannya.

"Tenang, goblok." Vito menghindar sambil tetap bergerak lincah. "Aku udah berkali kali nyari orang , tapi kamu alasan nggak cocok terus. Sekarang cukup itu aja, lagian aku udah dapat orangnya. Kamu lupa ya siapa yang punya perusahaan ini? Udah nikmatin aja kerja bareng dia."

"Brengsek, oke bakal aku nikmatin." Zaki langsung menyerang secepat dan sekeras mungkin.

Vito sudah menduga hal itu akan terjadi. Dia merunduk, lalu menghantam rusuk Zaki dengan pukulan menyamping yang kuat. Zaki mengerang pelan dan nyaris kehilangan keseimbangan, namun segera memulihkan posisinya.

Vito belum sempat berdiri tegak, Zaki sudah melancarkan serangan kembali. Kali ini dia nyaris gagal menghindar, sehingga sarung tinju Zaki mengenai sisi kepalanya.

Vito malah tertawa. "Cuma segitu aja?"

Dia sengaja memancing emosi Zaki. Ia tidak ingin menghajar habis-habisan sebelum saudaranya itu mengeluarkan seluruh tenaga. Ia ingin merasakan seberapa kuat pukulan Zaki dan seberapa keras ia harus membalas. Selain itu, Zaki juga membutuhkan pelampiasan.

"Persetan," geram Zaki sambil terus bergerak.

Dia maju lagi. Pukulan kanannya melesat, namun Vito berhasil menghindar. Tangan kiri Zaki segera menyusul.

Brakkkkk.

Pukulan dari bawah tepat mengenai dagu Vito.

Vito menyeringai, mulutnya terasa basah.

"Nah, gitu dong, bro." Dia meludah sedikit darah ke samping. "Gampang kan?"

Vito menggoyangkan bahu, menggerakkan rahang, lalu memperbaiki pelindung mulutnya. Setelah itu, giliran dia yang menyerang.

Dua pukulan mengenai wajah Zaki, satu lagi mengenai rusuk, sebelum Zaki menangkap kepala Vito di antara sarung tinjunya dan mendekatkan tubuh mereka.

Dua kali lutut Zaki menghantam perut dan rusuk Vito sebelum ia berhasil mendorong tubuh saudaranya itu menjauh. Tanpa menunggu lama, Vito membalas dengan pukulan keras tepat di bawah mata Zaki hingga tubuh adiknya itu tersentak.

Setelah itu, semua teknik dan gaya bertarung yang rapi hilang begitu saja. Mereka saling menghajar sekuat tenaga secara terus-menerus.

Kemarahan yang tertahan selama seminggu tercurah penuh lewat tinju hingga akhirnya Rowan dan Jaylon turun tangan memisahkan keduanya. Napas keduanya sama-sama terengah-engah.

"Ya ampun, berhenti, tolol!" teriak Jaylon.

Jaylon dan Rowan saling berpandangan.

"Binatang," gumam Jaylon. "Kakak adikku emang sama-sama binatang, sialan."

"Siapa sangka mereka berdua lahir dari ibu yang sama," tambah Rowan sambil menggelengkan kepala.

Vito menatap Zaki. Hidung kakaknya berdarah dan terdapat luka kecil di bawah matanya. Berdasarkan rasa sakit di tubuhnya sendiri, ia yakin wajahnya juga tidak jauh berbeda.

Dia berjalan mendekat, mencengkeram tengkuk Zaki dengan kasar, lalu mendekatkan dahi mereka hingga bersentuhan.

"Kita baik-baik aja?"

"Selalu, goblok."

"Bagus."

Vito menepuk belakang kepala Zaki menggunakan sarung tinjunya, lalu berjalan menuju ruang ganti untuk menenangkan napas dan membersihkan diri.

Dia mandi dengan cepat, kemudian mengganti pakaian bersih sebelum kembali menemui yang lain.

"Mau ke Ezkala Bars buat minum-minum sesudah ini?" tanya Bass saat melihatnya datang.

Vito menggeleng. "Nggak, aku capek. Kan ada makan bareng keluarga hari Minggu. Kalian semua tau Mama aku seneng banget kalau lihat kalian ada di situ. Oke, aku pulang duluan ya."

"Dasar tua bangka." Jaylon tertawa mengejek. "Kamu udah nggak kuat nongkrong lagi ya?"

Vito mendengus. "Oh, aku masih kuat. Cuma aku nggak mau buang waktu bareng orang bodoh kayak kalian!"

Dia meneriakkan kalimat itu sambil berjalan pergi, kemudian keluar dari gedung olahraga itu. Vito berjalan menuju motor kesayangannya, yaitu Kawasaki W175. Ia naik ke atas motor, bersiap pulang dan melupakan hari yang melelahkan ini.

Ia sangat menyukai sensasi saat mengendarai motor. Terdapat hubungan yang aneh namun nyata antara dirinya dan mesin tersebut. Hanya ada ia dan jalanan di depan mata. Mengendarai motor membutuhkan fokus penuh. Seluruh indra bekerja secara maksimal. Pikiran menjadi kosong, hanya terpusat pada momen itu saja, dan ia merasa benar-benar hidup.

Saat angin menerpa tubuh, suara mesin berdengung halus, dan ia melaju membelah jalan, pikirannya benar-benar kosong tanpa isi apa pun selain sensasi tersebut.

Satu-satunya momen lain di mana pikirannya sama kosongnya adalah saat bersama Nowi. Jika Nowi ada di dekatnya, ia merasa tertarik dan terus mendekat ke arah perempuan itu.

Terlena.

Terpesona.

Sepenuhnya terfokus pada segala hal tentang Nowi. Bahkan sejak masih kecil, ia sudah mengetahui bahwa perasaannya bukan sekadar rasa suka biasa.

Rasa marah masih terasa di sekujur tubuh saat ia melewati alun alun kota dan menuju jalan yang lebih luas, tempat ia dapat memacu motornya sekuat tenaga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!