Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.
Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.
Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.
Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.
Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#9
Langkah kaki Emmeline Valerio terasa begitu berat ketika dia berbalik untuk melangkah kembali ke dalam lobi mansion.
Gaun sutra marunnya yang mewah melambai pelan disapu angin malam Los Angeles yang semakin dingin.
Tamparan yang dia berikan pada Edward beberapa menit lalu masih meninggalkan rasa panas yang menjalar di telapak tangan kanannya.
Kalimat suaminya tentang "barang cacat" masih terngiang-ngiang di kepalanya, memicu amarah dan luka yang bergolak hebat di dalam dada aristokratnya. Dia hanya ingin masuk, mengunci diri di kamar, dan membiarkan keheningan malam menghapus semua sisa kekacauan hari ini.
Namun, begitu Emmeline baru saja memegang gagang pintu jati besar lobi mansionnya, sebuah bayangan yang bersandar di pilar marmer gelap pelataran rumah mendadak bergerak. Langkah kaki yang konstan, berat, dan tanpa suara khas seorang predator taktis mendekat ke arahnya.
Emmeline tersentak. Insting dan kewaspadaannya membuat tubuhnya berputar cepat dengan posisi bertahan.
Sepasang mata bulatnya melebar sempurna di bawah temaram lampu lobi saat sosok pria setinggi 190 sentimeter melangkah keluar dari kegelapan malam, sepenuhnya memotong jalan masuk Emmeline.
Pria itu mengenakan kemeja taktis hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampilkan urat-urat menonjol di lengan kekarnya.
Rahangnya yang kokoh dan sepasang mata elangnya yang pekat menatap lurus ke dalam manik mata Emmeline dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung. Pria yang tadi pagi dengan begitu berani menjajah ruang interogasi medisnya, pria yang telah mengambil seluruh kendali atas tubuh dan jiwanya.
"K..." ucap Emmeline, suaranya tercekat di tenggorokan, bergetar antara rasa terkejut yang luar biasa dan debaran aneh yang mendadak menyerang dadanya.
Kingdom Kyle Stone tidak menunjukkan senyuman miringnya yang biasa. Wajah maskulinnya tampak tenang namun sarat akan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.
Dia menatap wajah Emmeline yang pucat, lalu melirik sekilas ke arah jalanan aspal tempat mobil Edward baru saja melesat pergi dengan kecepatan gila. Kyle telah berada di sana sejak awal; indra taktisnya telah merekam seluruh pertengkaran, kalimat penghinaan Edward, hingga tamparan keras yang Emmeline layangkan.
Kyle maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma maskulin khas tubuhnya yang bercampur dengan wangi angin malam menyapu indra penciuman Emmeline, menggantikan sisa-sisa aroma alkohol dari Edward yang menjijikkan.
"Kau tidak mengizinkan aku masuk, Sayang?" tanya Kyle, suaranya yang bariton, rendah, dan dalam menggema lembut, mengirimkan getaran halus yang aneh ke sepanjang tulang belakang Emmeline.
Deg.
Jantung Emmeline berdentum begitu keras. Pertahanan keangkuhan yang sejak sore tadi dia bangun dengan susah payah di depan Edward dan ibu mertuanya mendadak retak hanya dengan satu pertanyaan dari pria ini.
Logikanya berteriak bahwa ini adalah kegilaan tingkat tinggi. Bagaimana bisa seorang Kingdom Kyle Stone mendatangi mansion keluarga Snowden di jam seperti ini? Jika ada pelayan atau penjaga malam yang melihat, reputasi dan rahasia yang dia simpan rapat-rapat akan meledak menjadi skandal terbesar tahun ini.
Emmeline berusaha keras meredam sesuatu yang ingin meledak di dalam dadanya—perpaduan antara rasa panik, amarah pada Edward yang belum usai, dan rasa lega yang aneh karena kehadiran Kyle yang masif di sisinya. Dia menelan ludahnya, melirik ke sekeliling halaman yang sepi, lalu dengan gerakan cepat membuka pintu jati besar itu.
"Masuklah sebelum ada yang melihatmu, Kyle," bisik Emmeline ketat, nadanya diusahakan tetap sedingin es untuk menyembunyikan badai di dalam dirinya.
Kyle melangkah masuk ke dalam lobi mewah dengan santai, seolah-olah dia sedang melangkah ke dalam griya tawang pribadinya sendiri.
Namun, bukannya menunggu di ruang tamu atau memberikan penjelasan atas kedatangannya yang tiba-tiba, pria raksasa itu justru mengendus udara lobi, menangkap aroma hidangan prancis yang masih menguar dari arah ruang makan utama.
Tanpa meminta izin, Kyle berjalan lurus melewati koridor luas menuju ruang makan. Emmeline yang tertegun melihat arogansi pria itu hanya bisa mengekor di belakang dengan perasaan campur aduk.
Begitu sampai di ruang makan yang megah, Kyle menarik salah satu kursi jati berlapis kain linen putih, mendudukkan tubuh masifnya di sana, lalu menatap meja makan panjang yang masih dipenuhi dengan piring-piring saji berbahan porselen mahal yang isinya belum disentuh sama sekali oleh Edward maupun Victoria selama formalitas tadi.
Kyle mendongak, menatap Emmeline yang berdiri kaku di ambang pintu ruang makan.
"Tolong ambilkan aku nasi dan beberapa lauk di dapur, Emme. Aku lapar," ucap Kyle halus, nadanya terdengar begitu alami, seakan-akan dia adalah seorang suami yang baru saja pulang dari dinas pekerjaan yang berat dan istrinya yang setia siap melayaninya di meja makan setelah seharian penuh berpisah.
Dan gilanya, Emmeline tidak menolak. Keangkuhan Dr. Valerio yang biasanya meledak-ledak menghadapi perintah pria lain, entah mengapa mendadak lumpuh di hadapan Kyle.
Ada kenyamanan yang aneh yang ditawarkan oleh sikap protektif pria itu, sesuatu yang membuat Emmeline justru melangkah menuju dapur bersih secara sukarela, mengabaikan semua aturan status sosial yang mengikatnya.
Di dapur, semua hidangan mewah yang dimasak oleh koki pribadi malam ini memang masih utuh terata rapi di dalam penghangat makanan, karena jamuan makan malam tadi hanyalah ajang adu gengsi sosial, bukan tempat untuk memuaskan rasa lapar.
Emmeline mengambil sebuah piring porselen putih, menyendokkan nasi hangat yang pulen, lalu menata beberapa potong filet mignon dan tumis sayuran organik dengan gerakan yang sangat telaten.
Emmeline kembali ke ruang makan, berjalan mendekati Kyle, dan meletakkan piring penuh makanan itu tepat di depan sang mantan agen rahasia. Dia juga menuangkan segelas air putih segar ke dalam cangkir kristal di samping piring Kyle.
Kyle menatap piring di depannya, lalu mendongak menatap Emmeline dengan binar kehangatan yang begitu pekat di sepasang mata elangnya.
Senyuman tipis yang sangat tulus terukir di wajah tampannya, merasa begitu dimuliakan oleh pelayanan kecil dari wanita yang dicintainya selama enam tahun ini. Kyle mulai makan dengan tenang, gerakannya efisien namun tetap memancarkan keanggunan seorang pria yang berkelas.
Emmeline duduk di kursi tepat di samping Kyle, melipat kedua tangannya di atas meja sambil memperhatikan bagaimana pria itu mengunyah makanannya.
Di bawah keheningan ruang makan yang megah ini, untuk pertama kalinya sejak pertemuan kembali mereka, rasa penasaran yang teramat besar di dalam diri Emmeline tidak bisa lagi dia bendung.
"Di mana rumahmu yang sebenarnya, K...?" tanya Emmeline perlahan, memecah keheningan. Ini adalah pertanyaan pribadi pertama yang dia ajukan setelah mengenal inisial nama pria itu.
Kyle menelan makanannya, lalu melirik Emmeline dengan santai. "Aku berasal dari Chicago. Keluarga besarku ada di sana."
"Chicago?" Emmeline mengernyitkan dahi cantiknya, ekspresi kebingungan tampak jelas di wajahnya yang putih.
"Lalu... kenapa bisa kau ada di Los Angeles enam tahun lalu? Dan kenapa kau terdaftar di rumah sakitku dengan riwayat medis yang begitu penuh dengan bekas luka mengerikan?" Emmeline menarik napas pendek, menatap lurus ke dalam manik mata Kyle. "Jadi, selama ini kau keluar negeri untuk kuliah? Atau mengurus bisnis keluargamu?"
Kyle meletakkan garpu dan pisaunya di atas piring yang kini sudah bersih tak tersisa. Dia menyeka bibirnya dengan serbet sutra dengan gerakan perlahan, sengaja mengulur waktu untuk menikmati wajah penasaran gadisnya.
"Makanlah dulu atau minum sesuatu, Sayang. Nanti baru kita mengobrol panjang," ucap Kyle dengan nada suara yang sangat halus dan lembut, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil yang sedang merajuk menuntut jawaban.
Seakan-akan dirinya adalah tuan rumah yang sah di dalam mansion Snowden ini, Kyle bangkit berdiri dari kursi makan.
Dia mengulurkan tangan besarnya, meraih jemari kecil Emmeline yang terasa dingin, lalu menarik wanita itu dengan lembut untuk mengikutinya berjalan menuju ruang keluarga utama yang terletak di bagian tengah mansion.
Kyle mendudukkan tubuh masifnya di atas sofa panjang berbahan beludru empuk berwarna abu-abu gelap yang menghadap langsung ke arah perapian marmer. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, dia menarik Emmeline untuk duduk tepat di sampingnya, begitu dekat hingga paha mereka saling bersentuhan.
Kyle bersandar pada sandaran sofa, sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah kobaran api kecil di perapian sebelum beralih menatap wajah Emmeline secara intens.
Malam ini, di bawah atap rumah musuhnya, Kyle memutuskan untuk membuka sedikit tabir kegelapan yang selama ini menyelimuti identitasnya demi meyakinkan wanita yang dicintainya bahwa dia bukan lagi bocah tanpa masa depan.
"Aku akan jujur padamu, Emme," mulai Kyle, suaranya terdengar sangat rendah dan berat, bergetar oleh kenangan masa lalu.
"Keluargaku di Chicago memang bergerak di bidang bisnis legal yang cukup besar. Namun, enam tahun yang lalu, aku datang ke Los Angeles bukan untuk kuliah atau berlibur. Aku datang ke kota ini untuk sebuah urusan, sebuah operasi khusus yang tidak akan pernah bisa kuceritakan detailnya kepadamu demi keselamatanmu sendiri. Tapi saat malam pertama kita terjadi di paviliun universitas itu... usiaku sudah 24 tahun."
Deg.
Emmeline membelalakkan matanya seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot keluar mendengarnya. Informasi itu menghantam otaknya seperti aliran listrik bertegangan tinggi, meruntuhkan seluruh narasi "bocah SMA" yang selama enam tahun ini dia percayai dan bahkan sempat dia ceritakan pada Edward di malam pertama mereka.
"What?!" seru Emmeline, suaranya meninggi karena rasa syok yang luar biasa. Dia memutar tubuhnya menghadap Kyle sepenuhnya. "Jadi... saat itu kau bukan anak SMA? Dan sekarang... sekarang usiamu sudah 29 tahun?!"
Kyle mengangguk pelan, seulas senyum miring yang sangat seksi terukir di wajah maskulinnya melihat ekspresi terkejut Emmeline yang begitu menggemaskan.
"Ya. Aku tidak pernah menjadi bocah SMA, Emme. Saat bersamamu malam itu, aku adalah seorang pria dewasa yang sudah terlatih untuk membunuh dan bertahan hidup. Dan bajingan kecil bernama Edward itu tidak tahu apa-apa tentang siapa pria yang sebenarnya telah menyentuhmu."
Emmeline membeku, mencerna kenyataan bahwa pria di depannya ini selalu selangkah lebih maju darinya dalam segala hal.
Rasa bersalah yang sempat menghantuinya karena mengira telah merusak masa depan seorang 'remaja' kini musnah, digantikan oleh rasa kagum yang pekat bercampur misteri yang semakin menebal di sekitar sosok Kingdom Kyle Stone.
Malam pun bergulir semakin larut di dalam ruang keluarga mansion Snowden. Di atas sofa beludru yang empuk itu, atmosfer ketegangan perlahan-lahan mencair, digantikan oleh keintiman yang mendalam saat mereka menghabiskan waktu bersama untuk bercerita.
Kyle, dengan gaya bicaranya yang tenang namun penuh dengan karisma, mulai membagikan beberapa pengalaman hidupnya selama enam tahun menghilang dari radar.
Dia menceritakan bagaimana dia harus berpindah-pindah ke beberapa negara yang berbeda—mulai dari dinginnya pinggiran kota Moskow yang bersalju di Rusia, panasnya gurun gersang di Timur Tengah, hingga lembabnya hutan hujan tropis di Asia Tenggara.
Meskipun Kyle dengan sengaja menyamarkan bagian-bagian rahasia militer dan detail operasi agensinya, Emmeline yang seorang dokter cerdas bisa membaca garis-garis bahaya dari setiap cerita yang Kyle sampaikan.
Dia mendengarkan dengan saksama bagaimana Kyle harus bertahan hidup dengan pasokan makanan yang minim di dalam bunker tersembunyi, atau bagaimana cara pria itu merawat luka tembaknya sendiri di tengah hutan tanpa bantuan peralatan medis yang memadai—yang menjawab pertanyaan Emmeline tentang asal-usul ratusan bekas luka mengerikan di dada bidang Kyle yang dia periksa tadi pagi.
Emmeline mendapati dirinya tenggelam ke dalam setiap untaian kalimat yang keluar dari bibir Kyle. Rasa kantuk dan lelahnya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa pekat saat berada di dalam dekapan tak kasat mata dari cerita pria raksasa ini.
Di rumah yang seharusnya menjadi neraka pengkhianatan Edward, kehadiran Kyle malam ini justru mengubah ruangan dingin itu menjadi sebuah tempat perlindungan yang paling hangat bagi jiwa Dr. Emmeline Valerio.