Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Kebenaran di Ruang Pusat
Archive Zero
Bab 15 — Kebenaran di Ruang Pusat
Udara di dalam menara pusat itu jauh lebih sejuk dan lebih kental daripada udara di luar. Dinding-dindingnya terbuat dari material putih berkilau yang memantulkan cahaya tanpa ada sumber lampu yang terlihat, menerangi lorong panjang yang berkelok naik perlahan. Di sepanjang sisi lorong, terdapat lukisan-lukisan dinding raksasa yang menceritakan sejarah dunia, dimulai dari ledakan penciptaan alam semesta, masa kejayaan manusia menguasai energi, kehancuran akibat perang besar, hingga pembangunan Elarion dan perjalanan Ren serta kawan-kawannya yang digambar dengan garis emas yang menyala.
Setiap langkah yang mereka ambil bergema lembut, seolah lantai itu bernapas bersama mereka. Kai berjalan di tengah, matanya tak lepas dari setiap detail lukisan dan pola di dinding, mulutnya sedikit terbuka karena kagum sekaligus ngeri melihat betapa lengkapnya catatan sejarah yang dimiliki tempat ini. Semua rahasia, semua keputusan, semua penderitaan... semuanya tercatat rapi di sini, seolah hidup manusia hanyalah naskah drama yang sudah ditulis dan disaksikan oleh para Pengamat ini.
Anya berjalan di sisi kanan, tangannya sesekali menyentuh dinding halus itu. Ia bisa merasakan aliran energi yang sangat tua dan kuat mengalir di dalam struktur bangunan ini, energi yang menjaga tempat ini tetap utuh dan tersembunyi selama ribuan tahun tanpa terganggu waktu atau bencana.
Ren berjalan paling depan, langkahnya mantap namun hatinya berdebar kencang. Semakin jauh mereka naik, semakin kuat rasa panggilan itu, rasa bahwa jawaban atas segala pertanyaan hidupnya ada di ujung lorong ini.
Akhirnya, lorong itu berakhir di depan sebuah pintu melengkung besar yang terbuat dari kaca bening tebal. Di baliknya, terlihat ruangan luas berbentuk lingkaran yang lantainya terbuat dari batu hitam berkilau seperti cermin. Di tengah ruangan itu, terdapat meja bundar besar yang dikelilingi tujuh kursi tinggi.
Dan di sana, duduklah mereka.
Tujuh sosok berjubah putih bersih, wajah mereka terlihat jelas, tenang, dan penuh wibawa. Di ujung meja, duduk sosok yang paling mereka kenal — Elara. Wanita itu kini tampak muda, cantik, dan bersinar, jauh berbeda dari rupa tua dan rapuh yang ia perlihatkan di Elarion dulu. Di sebelahnya, duduk enam orang lainnya, pria dan wanita, dengan usia yang beragam namun semuanya memiliki mata yang sama: mata yang tampak telah melihat ribuan tahun berlalu.
Pintu kaca itu terbuka perlahan tanpa suara, mempersilakan mereka bertiga masuk. Saat langkah kaki mereka menyentuh lantai hitam itu, bayangan mereka terpantul jelas di sana, bersatu dengan pantulan langit-langit yang berisi peta bintang dan aliran energi dunia.
"Selamat datang, anak-anak," suara Elara terdengar lembut namun bergema memenuhi seluruh ruangan, tidak ada lagi nada pura-pura lemah atau penuh rahasia. Ia menatap Ren lekat-lekat, senyumnya hangat namun serius. "Akhirnya kalian sampai juga di sini. Di titik di mana segala benang kusut sejarah akan diurai habis."
Ren tidak membuang waktu. Ia berjalan mendekati meja itu, menatap lurus ke mata Elara, dan suaranya terdengar tegas di antara keheningan.
"Kau bilang kau pemimpin Pengamat. Kau bilang tujuan kalian menjaga keseimbangan. Tapi apa arti sebenarnya dari semua ini? Kenapa Aran harus membangun penjara? Kenapa kami harus berjuang mati-matian? Dan yang paling penting... apa sebenarnya kekuatan energi ini? Dari mana asalnya, dan kenapa manusia terikat padanya?"
Pertanyaan itu meluncur cepat, menumpahkan segala rasa penasaran dan sedikit kemarahan yang tersimpan sejak mereka mengetahui bahwa segalanya sudah direncanakan.
Elara mengangguk pelan, lalu menatap rekan-rekannya yang lain sejenak, sebelum kembali menatap Ren. Ia mengangkat tangannya, dan di tengah meja itu, cahaya muncul membentuk bayangan bola bercahaya — sama seperti Inti Archive, namun jauh lebih murni dan lebih besar.
"Duduklah dulu. Cerita ini panjang, dan berat. Tapi kalian berhak tahu segalanya, karena kitalah yang memilih kalian untuk menjadi poros perubahan ini."
Ren, Kai, dan Anya pun duduk di kursi-kursi yang muncul tiba-tiba di hadapan mereka.
Elara mulai bercerita, suaranya tenang namun memuat beban ribuan tahun.
"Energi yang kalian kenal, energi yang menjadi sumber kehidupan dan kekuatan ini... bukanlah penemuan manusia. Ia ada sejak alam semesta terbentuk. Ia adalah napas alam, kekuatan yang menghubungkan segala sesuatu, yang membuat bintang bersinar, bumi berputar, dan kehidupan tumbuh. Dulu, ribuan tahun sebelum Aran lahir, manusia hidup selaras dengan energi ini. Mereka menggunakannya untuk hidup, berbuat baik, dan berkembang. Tidak ada batasan, tidak ada kunci."
Wajah Elara berubah muram.
"Tapi seiring waktu, manusia tumbuh. Ambisi tumbuh. Keinginan untuk menguasai, untuk memiliki, untuk menjadi lebih kuat dari yang lain... tumbuh menjadi penyakit. Manusia mulai memisahkan diri dari alam. Mereka mulai memaksa energi itu tunduk pada keinginan pribadi, mengubahnya menjadi senjata, menjadi alat kekuasaan. Itulah awal mula kehancuran. Perang besar pertama terjadi, perang yang menggunakan kekuatan murni hingga bumi retak, langit berubah, dan hampir seluruh kehidupan musnah dari muka bumi."
Ia menunjuk ke arah lukisan di dinding ruangan itu, lukisan bumi yang terbakar dan hancur lebur.
"Kami, para pendiri Pengamat, adalah sekelompok kecil yang selamat. Kami sadar, energi itu sendiri tidak baik atau buruk. Energi itu netral. Seperti api, bisa memasak makanan atau membakar rumah. Masalahnya ada pada manusia. Kami sadar, selama manusia belum siap, selama hati manusia masih dipenuhi nafsu, maka energi itu akan selalu menjadi penyebab kehancuran."
Kai menyela pelan, matanya berkilat menyambungkan benang merah di kepalanya.
"Lalu kalian bekerja sama dengan Aran..."
"Benar," sambung salah satu Pengamat lain, seorang pria tua berwajah bijak duduk di sebelah Elara. "Kami bertemu Aran saat ia sedang mencari cara menghentikan perang kedua yang akan meletus. Kami mengajarkan dia sejarah sejati. Bersama-sama, kami merancang rencana besar. Aran akan membangun Elarion, membangun sistem Archive, menyegel sebagian besar energi dunia, dan membatasi ingatan serta kemampuan manusia. Tujuannya bukan untuk selamanya, tapi untuk waktu yang cukup lama... agar manusia bisa belajar, agar jiwa manusia bisa pulih, agar mereka bisa mengerti arti tanggung jawab sebelum kembali memegang kekuatan itu."
Elara kembali mengambil alih pembicaraan, menatap Ren dalam-dalam.
"Aran menyetujuinya karena dia percaya pada masa depan. Dia percaya suatu saat nanti akan lahir generasi yang berbeda, generasi yang tidak hanya kuat, tapi juga bijaksana. Maka dia menciptakan warisan itu. Dia membagi kunci. Dia menjadikan keturunannya sebagai wadah, berharap suatu hari akan ada seseorang yang mampu menanggung kekuatan itu sekaligus memegang kebijaksanaan itu."
Ia menunjuk tepat ke dada Ren.
"Kau adalah orang itu, Ren. Kami menguji mu sejak kecil, kami mengawasi langkahmu, kami sengaja membuatmu mengalami kesulitan, bahaya, dan penderitaan... bukan karena kami jahat, tapi karena kekuatan sebesar itu tidak bisa dipercayakan pada jiwa yang lemah, manja, atau penakut. Kami butuh seseorang yang telah merasakan pahitnya penindasan, yang mengerti arti kebebasan, yang berani memilih meski dihadapkan pada risiko kehancuran."
Ren terdiam. Rasa marah yang tadinya ada perlahan menguap, digantikan oleh rasa berat yang menumpuk di dadanya. Semua penderitaannya, semua bahaya yang dihadapi Anya dan Kai... ternyata bagian dari ujian besar ini.
"Lalu Dewan Tertinggi?" tanya Anya, suaranya dingin namun ingin tahu. "Mereka juga bagian dari rencana?"
Elara menggeleng pelan, wajahnya berkerut kecewa.
"Awalnya ya. Mereka dipilih sebagai penjaga, dipilih untuk menjalankan sistem demi kebaikan bersama. Tapi seperti semua makhluk yang memegang kekuasaan lama... mereka tergoda. Mereka mulai menikmati posisi mereka, mulai takut kehilangan, mulai percaya bahwa penindasan itu benar-benar cara terbaik. Mereka melupakan tujuan awal. Mereka berbalik melawan rencana kami. Itulah sebabnya kami harus bertindak lewat jalur lain, lewat Kawasan Bayang, lewat kalian bertiga."
Semua potongan teka-teki akhirnya pas. Segala sesuatu masuk akal sekarang.
Ren menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap rekan-rekannya, melihat bahwa mereka juga sudah mengerti segalanya.
"Jadi sekarang..." kata Ren pelan, menatap kembali ke arah tujuh Pengamat itu. "Sekarang setelah kami lulus ujian, setelah kami membebaskan energi, setelah kami membuka jalan... apa yang harus dilakukan selanjutnya? Kenapa kami dibawa ke sini?"
Elara dan rekan-rekannya saling pandang, lalu serentak berdiri. Aura mereka berubah, menjadi jauh lebih kuat dan serius, memenuhi seluruh ruangan hingga lantai hitam itu bergetar.
"Karena ujian terakhir belum selesai," jawab Elara tegas.
Di tengah meja itu, bayangan energi berubah menjadi peta dunia yang luas. Di peta itu, terlihat ribuan titik cahaya berkedip — tanda kekuatan yang mulai bangkit kembali di seluruh penjuru bumi, sekarang setelah segel Aran hilang.
"Energi sudah bebas. Manusia mulai bangkit kembali memiliki kekuatan. Di berbagai penjuru dunia, di kota-kota lain yang selamat dan tersembunyi seperti Elarion, banyak orang yang mulai merasakan kekuatan itu. Sebagian menggunakannya untuk kebaikan, tapi sebagian lain... mereka yang berhati ambisius, jahat, atau tak berperasaan... mereka juga mulai bangkit."
Elara menunjuk ke arah utara peta, di mana ada titik cahaya merah yang sangat besar dan berdenyut ganas.
"Di sana, ada sebuah kerajaan tua yang tidak pernah disegel. Mereka mengembangkan kekuatan energi untuk berperang, untuk menaklukkan. Mereka tahu segel Elarion sudah hilang. Dan sekarang... mereka sedang bergerak. Mereka mengirim pasukan untuk menguasai sumber-sumber energi utama di dunia ini. Termasuk di sini, lembah ini... dan termasuk kota Elarion yang baru saja bebas."
Kai tersentak mundur selangkah, matanya terbelalak kaget.
"Kau bilang... perang akan datang lagi? Sekarang juga? Padahal kita baru saja selesai merayakan kebebasan?"
"Sejarah selalu berulang, Kai," jawab Pengamat tua itu berat. "Keseimbangan itu sulit dijaga. Sekarang manusia bebas, sekarang manusia berkuasa kembali... ujian sesungguhnya dimulai. Apakah manusia kali ini cukup bijak menggunakan kekuatannya? Atau mereka akan kembali menghancurkan dunia dalam perang baru yang lebih mengerikan dari sebelumnya?"
Elara berjalan mengelilingi meja, berhenti tepat di depan Ren. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan penuh harap dan kepercayaan mutlak.
"Kami membawa kalian ke sini bukan hanya untuk memberi tahu kebenaran. Kami membawa kalian karena kami tidak lagi bisa campur tangan. Aturan kami adalah mengamati, bukan ikut campur tangan langsung dalam urusan manusia. Tapi kalian... kalian adalah manusia. Kalian adalah simbol perubahan. Kalian memiliki kekuatan, pengalaman, dan hati yang telah teruji."
Ia mengulurkan tangannya, dan di telapak tangannya kini tergeletak tiga buah benda kecil berbentuk permata bening yang bersinar dengan warna masing-masing: ungu, biru es, dan hijau cerah.
"Ini adalah inti dari pengetahuan kami. Segala teknik, segala pemahaman tentang energi, segala cara menggunakannya dengan bijak. Kami serahkan ini pada kalian. Karena kami percaya... di tangan kalian, kekuatan ini tidak akan menjadi bencana, tapi menjadi pelindung."
Ren menatap permata ungu itu, lalu menatap Anya dan Kai. Ia ingat perjalanan mereka, ingat bagaimana mereka bertiga saling melengkapi satu sama lain. Ingat janji mereka untuk menjelajahi dunia dan melindungi apa yang berharga.
Ren mengulurkan tangannya, menerima permata itu. Saat menyentuh kulitnya, permata itu meleleh dan masuk ke dalam tubuhnya, menyatu sepenuhnya dengan kekuatan alami yang ada di sana, membuat pemahaman yang luar biasa memenuhi kepalanya dalam sekejap. Ia mengerti segalanya sekarang. Cara energi bekerja, cara mengendalikannya, cara melindungi, dan cara menyerang.
Anya dan Kai juga melakukan hal yang sama, menerima bagian kekuatan dan pengetahuan mereka masing-masing.
Ren mengangkat kepalanya, matanya kini bersinar dengan kebijaksanaan yang baru, namun tetap dengan semangat mudanya yang tak tergoyahkan. Ia menatap Elara dan para Pengamat.
"Kami mengerti sekarang. Beban apa yang ada di pundak kami. Dan kami terima."
Ren menoleh ke arah kedua sahabatnya, tersenyum lebar namun dengan tekad yang sekeras batu.
"Mereka ingin berperang? Mereka ingin menguasai? Tidak akan kami biarkan. Elarion adalah rumah kami. Dunia ini adalah milik semua orang. Kami tidak akan membiarkan siapa pun lagi yang mengikat, menindas, atau menghancurkan kebebasan yang baru saja kami perjuangkan."
Anya mengepal tangannya, udara dingin dan tajam berputar lembut di sekelilingnya.
"Kami akan menjadi perisai bagi mereka yang lemah. Dan pedang bagi mereka yang berniat jahat."
Kai merapikan pakaiannya, matanya berkilat penuh strategi dan semangat.
"Dan aku akan memastikan kita selalu selangkah lebih maju. Teknologi, pengetahuan, strategi... semuanya akan kami gunakan untuk melindungi dunia baru ini."
Elara tersenyum, senyum lega dan bahagia, senyum yang mengatakan bahwa rencana ribuan tahun ini akhirnya berbuah manis.
"Pergilah, anak-anakku. Kumpulkan kawan-kawan, persiapkan diri. Musuh sedang bergerak ke selatan, menuju Elarion. Kalian harus tiba di sana sebelum mereka. Kalian harus memimpin pertahanan. Kalian harus menunjukkan kepada dunia... arti sebenarnya dari kekuatan."
Ren mengangguk mantap. Ia berbalik, memimpin kedua sahabatnya berjalan menuju pintu keluar ruangan itu. Di luar sana, kuda-kuda cepat dan perlengkapan perang sudah disiapkan oleh para Pengamat, siap membawa mereka kembali ke selatan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada kendaraan lama mereka.
Saat hendak melangkah keluar, Ren berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
"Elara... apakah kita akan bertemu lagi?"
Elara tersenyum misterius namun hangat.
"Selama ada keseimbangan, selama ada harapan... kami akan selalu ada di antara bayangan. Tapi sekarang... panggung sejarah adalah milik kalian. Tulislah kisah baru yang indah, anak-anakku. Kisah di mana kekuatan dan kebebasan bisa hidup berdampingan."
Mereka bertiga melangkah keluar dari menara pusat itu, turun kembali ke jalan setapak di kota para Pengamat. Di langit di atas sana, matahari bersinar terang, dan angin bertiup kencang membawa kabar bahwa pertempuran besar terakhir sedang menanti mereka di jalan pulang.
Perjalanan mencari kebenaran sudah selesai. Kini dimulailah perjalanan mempertahankannya.
Perang untuk masa depan umat manusia... baru saja dinyalakan apinya.
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"