NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Sekolah

Pukul 06.30 pagi. Alessandra sudah berdiri di depan cermin kamar Allegra yeah kamar yang sempit dan pengap itu dengan seragam baru yang dikirimkan Kinan semalam.

Setidaknya satu hal yang benar di rumah ini, pikirnya sambil menyesuaikan rok hitam di atas lututnya.

Seragam Alessandra High School. Sekolah miliknya. Sekolah yang dia dirikan tiga tahun lalu sebagai bagian dari program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu. Ironis memang dari pemilik sekolah sekarang menyamar sebagai murid pindahan di sekolahnya sendiri.

Rok hitam itu jatuh tepat 5 cm di atas lutut dan lebih pendek dari aturan resmi yang seharusnya selutut. Tapi Alessandra tidak peduli. Kakinya jenjang, berotot tapi tetap ramping, hasil dari latihan beladiri setiap pagi. Kemeja putih lengan panjang pas di badan, menampakkan bentuk tubuhnya yang tegas di bagian bahu dan lengan. Otot-otot kecil di lengannya terlihat samar saat dia bergerak warisan dari sesi sparring rutin dengan Kinan.

Dan sixpack-nya... tersembunyi rapi di balik kemeja, tapi dia tahu itu ada. Perut rata dengan garis tegas yang jarang dimiliki gadis seusianya, apalagi gadis SMA.

Dia mengenakan almamater hitam dengan logo burung gagak bersayap terbuka, simbol sekolah yang dia pilih sendiri. Burung gagak, karena dia percaya bahwa kecerdasan lebih berbahaya dari kekuatan fisik. Pita hitam di lehernya melengkapi penampilan.

Selesai berpakaian, dia berdiri di depan cermin retak di sudut kamar. Kacamata rimless dengan rantai emas sudah menempel di hidung. Rambut hitam pendek sebahu diikat kecil di belakang, pita merah tersemat rapi dan jarum beracun di baliknya siap digunakan kapan saja.

Valeria Allegra versi baru, ucapnya dalam hati. Bukan gadis cupu yang di-bully. Tapi bukan juga Valeria Alessandra yang kejam. Sesuatu di antaranya.

Dia keluar kamar.

Aroma sarapan menyengat dari lantai dasar. Alessandra melangkah turun, setiap anak tangga kayu jati berderit kecil di bawah kakinya. Loreng-loreng cahaya matahari menyelinap dari jendela kaca patri di ujung lorong.

Dia memasuki ruang makan.

Dan dia melihat pemandangan yang membuatnya muak.

Hendra Sunjaya ayah kandung Allegra duduk di ujung meja dengan koran di tangan. Pria berusia 48 tahun itu memiliki wajah yang dulu mungkin tampan, tapi sekarang kendur karena kehidupan mewah tanpa olahraga. Matanya yang coklat gelap tidak peduli pada siapa pun di sekitarnya.

Di sampingnya, Saskia duduk manis dengan seragam sekolah sama seperti Alessandra, tapi roknya lebih panjang, sopan, membosankan. Wajah gadis itu dibuatnya lugu, matanya berbinar-binar palsu.

Dika, Raka, dan Riko sudah duduk di kursi masing-masing. Mereka tertawa tentang sesuatu mungkin tentang motor, mungkin tentang perempuan. Tiga pria tampan dengan senyum yang tidak pernah mereka berikan pada Allegra asli.

Dan Hendra... tertawa.

Keluarga bahagia, pikir Alessandra dengan dingin. Keluarga yang bahagia setelah anak kandungnya yang perempuan hilang seminggu.

Dia berjalan melewati mereka.

Tidak menyapa. Tidak menoleh. Hanya langkah tegas menuju pintu.

Tap. Tap. Tap.

Sepatu pantofel hitamnya berbunyi di lantai marmer.

"VALERIA!"

Suara Hendra menggelegar.

Alessandra berhenti. Tidak berbalik. Hanya diam dalam hitungan tiga detik.

"Kamu tidak lihat kami, hah?" Hendra meletakkan korannya dengan kasar. "Seminggu kabur, terus pulang-pulang tidak pamit, tidak salam, langsung naik ke kamar. Kamu pikir kamu siapa, Vale? Anak orang?"

Dika menoleh. "Papa, Vale baru pulang. Mungkin masih capek."

"Biarin aja bang, biar papa yang ngajarin tu bocah," Raka menimpali dengan nada sinis.

Riko terkekeh. "iya, biar Vale belajar sopan santun."

Saskia ikut menunduk, suaranya dibuat lembut: "Kakak mungkin masih trauma, Papa. Jangan marah-marah dulu..."

Trauma? Alessandra hampir tertawa.

Kalian.

Kalian penyebab traumanya.

Dia perlahan berbalik. Wajahnya datar tidak marah, tidak sedih, tidak takut. Matanya yang coklat terang menatap Hendra dengan dingin.

Bukan tatapan seorang gadis 17 tahun yang penakut.

Tapi tatapan seorang pembisnis yang sudah menghancurkan puluhan perusahaan.

Tatapan seorang ketua mafia yang sudah membakar hidup-hidup siapa pun yang berani meremehkannya.

Hendra terdiam sesaat. Matanya berkedip, mencoba memahami apa yang dia lihat. Allegra tidak pernah menatap seperti itu. Vale selalu menunduk, menggigit bibir, atau menangis.

"Kamu—"

"Saya," potong Alessandra dengan suara dingin, "tidak punya waktu untuk sarapan karena akan terlambat ke sekolah. Saya sudah pulang. Saya sudah di kamar. Itu cukup."

"Sudah cukup?" Hendra berdiri, wajahnya memerah. "Kamu pikir apa ini, Vale? Ini rumahku! Kamu harus hormat padaku!"

Alessandra merapikan kacamatanya.

Jari telunjuknya menyentuh ujung rimless glasses, mendorongnya sedikit ke atas. Gerakan itu pelan, anggun, dan terasa sangat... meremehkan.

Dia sudah malas.

Malas mendengar ocehan pria botak ini. Malas melihat Saskia yang pura-pura imut. Malas melihat tiga kakak laki-laki yang tidak pernah melindungi adiknya.

"Pertama," ucapnya, suaranya tetap datar seperti es, "saya bukan anak kecil yang bisa diatur. Kedua, jika Papa ingin saya hormat, tunjukkan alasan untuk dihormati. Selama ini, apa yang sudah Papa lakukan untuk saya?"

Keheningan.

Dika membelalak. Raka dan Riko terdiam. Saskia menutup mulut dengan tangan, pura-pura terkejut.

Hendra gemetar. "Kurang ajar... kamu kurang ajar, Vale!"

"Dan ketiga," Alessandra melanjutkan tanpa mempedulikan amukan Hendra, "saya tidak akan memanggil Papa lagi jika suara Papa terus meninggi. Suara keras tidak membuat argumen itu lebih kuat. Itu hanya menunjukkan ketidakmampuan mengendalikan emosi."

Dia merapikan kacamatanya sekali lagi.

Lalu berbalik.

"Selamat pagi. Saya akan pergi ke sekolah."

Dia melangkah keluar, meninggalkan ruang makan yang membeku. Di balik punggungnya, dia bisa mendengar Hendra membanting koran ke meja. Dia bisa mendengar Saskia berbisik-bisik pura-pura menenangkan. Dia bisa mendengar Dika bergumam tidak percaya dengan keberanian adiknya.

Tapi dia tidak peduli.

Keluarga kelas dua dengan mentalitas kelas tiga, pikirnya sambil membuka pintu depan.

Mobil hitam Kinan sudah menunggu di depan pagar.

"Nona," sapa Kinan sambil membukakan pintu.

"Cepat. Saya tidak ingin terlambat di hari pertama."

"Baik, Nona."

Mobil melaju. Alessandra menatap rumah Sunjaya yang semakin mengecil di kaca spion. Rumah sempit, keluarga sempit, pikiran sempit.

"Saya akan menghancurkan kalian," bisiknya dalam hati. "Perlahan. Satu per satu. Dan kalian bahkan tidak akan tahu dari mana bencana itu datang."

Jarinya menyentuh pita merah di rambutnya.

Jarum beracun di balik kain sutra itu terasa hangat dan tanda racunnya masih aktif, masih mematikan, masih menunggu.

Tapi belum hari ini.

Hari ini, dia akan pergi ke sekolah.

Sekolah miliknya.

Alessandra High School.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!