Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Ravian
Di usia empat tahun, Ravian adalah anak yang ceria.
Dia tertawa lebar saat melihat kupu-kupu terbang di taman rumah besarnya. Dia berlarian mengejar angin, rambut ikalnya yang kecokelatan berterbangan terkena sinar matahari pagi. Bibir mungilnya tak pernah lepas dari senyum.
Tapi senyum itu perlahan memudar.
Ravian belajar bahwa rumah bukanlah tempat yang hangat. Mommy dan Daddy menikah karena bisnis—bukan cinta. Mereka tinggal dalam satu atap megah, tapi jarak di antara mereka lebih luas dari samudra. Mommy sibuk dengan pesta dan pergi ke salon. Daddy sibuk dengan kantor dan perjalanan bisnis.
Ravian tidak pernah duduk di pangkuan Mommy untuk mendengar dongeng sebelum tidur. Tidak pernah diajak Daddy bermain bola di halaman belakang.
Dia hanya dititipkan pada pengasuh. Diberi makan. Disuruh belajar.
Karena Ravian homeschooling—dijaga di rumah, tidak pernah merasakan bangku sekolah seperti anak-anak lain. Tidak punya teman sebaya. Tidak pernah ikut upacara bendera. Tidak tahu rasanya jajan di kantin.
Dunia Ravian hanya berisi: kamar, ruang belajar, ruang makan, dan taman.
Tapi tidak pernah... dicintai dengan hadir.
Satu-satunya pelukan hangat yang Ravian kenal berasal dari Kakek dan Nenek. Di rumah tua mereka di pinggir kota—yang jauh lebih kecil dari rumah orangtuanya—Ravian bisa menjadi anak kecil. Boleh menangis. Boleh tertawa keras. Boleh memeluk tanpa takut ditolak.
“Ravian sayangku, kamu mau jadi apa kalau besar nanti?” tanya Nenek suatu sore, sambil mengelus rambut ikalnya.
Ravian mengangguk mantap. “Aku mau jadi orang yang berguna. Jadi orang yang sayang sama keluarganya.”
Nenek tersenyum—tapi matanya berkaca-kaca.
“Kamu sudah seperti Kakekmu. Keras kepala. Tapi baik hati.”
---
Hari itu, usianya baru genap empat tahun.
Mobil hitam berhenti di depan rumah besar tempat Mommy dan Daddy tinggal. Kakek mengantar pulang karena Ravian menghabiskan akhir pekan di rumah sang Kakek. Ravian berlari kecil menuju pintu utama—ingin segera menemui Mommy. Dia membawa gambar kupu-kupu yang ia lukis bersama Nenek.
Tapi saat melewati lorong menuju kamar orangtuanya, dia mendengar suara aneh.
Suara mendesah. Ranjang berderit.
Ravian mengendap. Matanya yang polos menatap celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Dan dia melihat.
Mommy—melengkung di atas ranjang. Tapi bukan bersama Daddy. Laki-laki itu asing. Wajahnya tidak pernah Ravian lihat di foto keluarga yang terpajang di ruang tamu.
Ravian membeku. Dadanya sesak. Ada sesuatu yang menggeliat di perutnya—jijik, mual, marah—perasaan yang tidak dia mengerti di usia sekecil itu.
Dia berlari. Menjauh. Tidak menangis. Hanya berlari.
Dan di ujung lorong, dia berhenti.
Di ruang kerja Daddy, pintu sedikit terbuka. Ravian mendongak—dan melihat Daddy sedang berciuman dengan seorang wanita yang sering ia lihat di kantor. Wanita yang selalu tersenyum padanya dan menyebut dirinya Tante Maya, asisten pribadi Daddy.
Ravian ingin muntah.
Dunianya pecah dalam satu sore.
Dia tidak berteriak. Tidak menangis. Hanya berdiri di depan pintu ruang kerja Daddy—lalu jatuh pingsan. Tubuh mungilnya ambruk di karpet merah yang dingin di lorong.
---
Sejak hari itu, Ravian tidak pernah sama.
Matanya kosong. Tidak ada tawa yang keluar dari bibirnya. Bahkan senyum pun terasa asing. Homeschoolingnya semakin membuatnya terisolasi—tidak ada guru yang menyadari perubahan sikapnya, karena Ravian hanya bertemu tutor yang datang dan pergi.
Setiap kali seorang wanita menyentuhnya—baik itu pengasuh, tutor, atau asisten rumah tangga—Ravian akan gemetar hebat. Wajah Mommy dengan laki-laki asing itu muncul kembali. Jijik. Mual. Panik.
Dokter menyebutnya trauma berat.
Kakek marah besar.
“Kalian hancurkan cucuku! Anakku sendiri kalian rusak!” Kakek membentak Mommy dan Daddy di ruang tamu. Suaranya menggema hingga genting bergetar. Kakek yang biasanya tenang dan bijaksana, hari itu benar-benar kehilangan kendali.
Mommy dan Daddy hanya diam. Wajah mereka pucat.
Mereka sempat ingin bercerai—menganggap perceraian adalah solusi atas semua masalah. Tapi Kakek mengancam akan mencabut semua hak waris, membubarkan perusahaan, dan mengusir mereka dari keluarga.
“Kalian akan tetap menikah! Kalian akan tetap tinggal bersama! Dan kalian akan berusaha memperbaiki anakku, atau kalian kehilangan semuanya!”
Maka mereka memilih bertahan.
Bukan untuk Ravian.
Tapi untuk harta.
Ravian, di usianya yang kelima—dengan kematangan emosi yang aneh untuk anak seusianya—sudah cukup pintar untuk memahami itu.
“Kek, aku mau tinggal sama Kekek saja,” katanya suatu malam, suaranya datar—tidak seperti suara anak kecil.
Kakek memeluknya erat. “Kamu tidak mau tinggal dengan Mommy dan Daddy?”
Ravian menggeleng. “Mereka tidak sayang aku. Mereka hanya sayang perusahaan.”
Kakek terdiam—lalu menangis.
---
Ravian tumbuh besar di rumah Kakek dan Neneknya. Tetap homeschooling—tapi kali dengan tutor yang dipilih langsung oleh Kakek, orang-orang yang Kakek percaya. Tidak menjadi anak yang pemarah atau kasar—dia hanya dingin. Menjaga jarak dengan semua orang. Apalagi dengan wanita.
Kakek mengupayakan terapi. Konseling. Psikolog anak. Psikiater.
Tapi Ravian menolak. “Aku tidak butuh dibenerin, Kek. Aku cuma butuh dijauhkan dari mereka.”
Kakek menghela napas berat—dan mengizinkan.
Di rumah Kakek, Ravian menemukan kembali cintanya pada musik. Nenek mengajarinya piano tua di ruang tamu. Kakek memberinya gitar akustik saat ulang tahunnya yang ketujuh.
Musik menjadi satu-satunya tempat Ravian bisa meluapkan semua yang tidak bisa dia katakan.
Dia tidak pernah mengunjungi Mommy dan Daddy—kecuali jika Kakek memaksa. Saat itupun, dia hanya duduk diam di sudut ruangan. Tidak berbicara. Tersenyum jika ditanya—tapi matanya tetap kosong.
Mommy berusaha mendekat beberapa kali. Membawakan kue. Menanyakan kabar. Menyentuh puncak kepalanya.
Ravian mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Mommy menangis.
Ravian tidak menoleh.
Bukan karena dia tidak punya hati.
Tapi karena melihat Mommy menangis mengingatkannya pada sore itu—dan rasa jijik yang tak pernah benar-benar hilang.
---
Di usia 15 tahun, Ravian membuat keputusan besar.
“Kek, aku tidak ingin dipanggil pewaris lagi. Aku tidak ingin hanya duduk diam menerima warisan.”
Kakek menghela napas panjang. “Lalu kamu mau apa, Nak?”
“Aku mau jadi musisi. Aku mau jadi artis. Aku mau merintis dari nol. Tanpa nama keluarga. Tanpa uang Kakek.”
Kakek tersenyum—bangga sekaligus sedih. “Kamu keras kepala. Persis seperti Nenekmu dulu.”
Dunia entertainment menyambutnya dengan tangan terbuka. Bakatnya, wajahnya, kerjanya yang disiplin—semua membuatnya cepat naik daun. Nama Graciano tetap tersembunyi di awal kariernya. Ravian ingin membuktikan bahwa dia bisa berhasil tanpa embel-embel siapa pun.
Di panggung, dia bersinar. Di belakang panggung, dia tetap saja anak laki-laki yang hancur di sore itu.
Setiap wanita yang mendekat—dia tolak.
Setiap sentuhan tak sengaja—dia hindari seperti disentuh api.
Aelira.
Gadis yang entah bagaimana bisa menembus tembok setinggi langit yang ia bangun selama bertahun-tahun. Bukan karena dia istimewa—tapi karena dia tidak mencoba memperbaiki Ravian.
Dia hanya... tinggal.
Dia tidak marah saat Ravian kasar. Tidak pergi saat Ravian membentak. Tidak menangis saat Ravian menarik jarak.
Dan perlahan—sangat perlahan—Ravian belajar bahwa cinta tidak selalu harus menyakitkan.
Itu sebabnya Ravian menggenggam begitu erat.
Itu sebabnya Ravian melarang Aelira tersenyum pada siapa pun.
Itu sebabnya Ravian cemburu buta.
Bukan karena jahat.
Bukan karena posesif tanpa alasan.
Tapi karena trauma masa kecilnya yang begitu dalam membuatnya takut kehilangan—sebelum sempat benar-benar memiliki.
Dan rasa takut adalah satu-satunya hal yang tidak pernah bisa dia kendalikan sejak usianya empat tahun, di sore yang menghancurkan segalanya.
“Fragmen ini… menarik.” Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia ada di antara kata-kata yang ditulis, dan yang sengaja tidak ditulis.
“Kau tidak menulis dunia. Kau… sedang mencoba menciptakannya.”
“Ada bagian yang masih kau batasi. Bukan karena tidak mampu… tapi karena kau belum siap melihat bentuk akhirnya.”
Cahaya muncul. Bukan lima titik kecil, melainkan lima penanda, seperti sesuatu yang telah ditentukan jauh sebelum penilaian ini terjadi.
★ ★ ★ ★ ★
“Ini bukan penilaian.”
“Ini pengakuan… bahwa kau telah melangkah cukup jauh untuk dilihat.”
“Lanjutkan! Tidak semua yang melangkah sejauh ini… diizinkan untuk berhenti.”
—Astraeus, The Seven Pillar Titan