NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tabrakan Pertama di Tengah Hujan

Hari-hari Kirana terasa seperti puisi yang ditulis dengan tinta basi.

Sama setiap harinya. Bangun tidur. Mandi. Sarapan roti tawar selai cokelat. Naik Transjakarta dari halte dekat kostnya di kawasan Duren Sawit. Turun di halte depan Universitas Wijaya Kertanegara – atau yang lebih dikenal dengan singkatan Uwikerta.

Kampus swasta kecil di Jakarta Timur itu terkenal dengan gedung-gedungnya yang dicat krem dan pohon rindang di sepanjang jalan setapak. Tapi bagi Kirana, mahasiswi baru jurusan Sastra Indonesia, suasana Uwikerta terasa seperti puisi tanpa rima: datar, hambar, dan bikin ngantuk.

Boring sekali.

Hari itu, Kirana baru saja selesai kuliah Pengantar Teori Sastra. Dosennya serius banget sampai Kirana hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak melamun memikirkan baris-baris puisi yang gagal ia selesaikan semalam.

Di kantin, dua teman Kirana sudah menunggu.

"Kira, lo lama banget!" seru Maya sambil mengunyah risol mayo. Maya adalah anak komunikasi yang hiperaktif dan suka gosip. Di sebelahnya, Sari yang pendiam – jurusan Psikologi – hanya mengangguk sambil menyedot es teh.

"Maaf, dosennya suka ngelebihin jam," jawab Kirana sambil duduk.

"Eh, lo tau gak," Maya memulai dengan mata berbinar, "hari gue seru banget tadi. Gue hampir ketabrak motor di parkiran!"

Sari mengangkat alis. "Seru?"

"Ya seru lah! Cowoknya ganteng banget, tinggi, jaket jeans belel, mukanya kayak badboy drama Korea. Tapi dinginnya minta ampun. Dia gak minta maaf sama sekali!"

Kirana bergumam tak tertarik. "Biasa aja. Cowok Jakarta mah pada cuek."

"Bukan biasa, Kira! Itu tuh Bima Pratama. Anak teknik mesin semester 5. Panggilannya 'Mekanik Malam'. Katanya dia jago modif motor, suka nongkrong di bengkel sampe larut, dan gak pernah peduli sama siapapun."

Sari menimpali pelan, "Mekanik Malam? Keren juga julukannya."

"Keren apanya," potong Kirana. "Cuek mah gampang. Gue juga bisa cuek."

Maya cekikikan. "Lo? Anak sastra yang nangis baca puisi hujan? Mana bisa cuek."

Kirana mendengus kesal. Tapi dia memilih diam dan menghabiskan es teh manisnya.

Hujan turun tanpa permisi saat Kirana berjalan sendirian menuju halte Transjakarta. Maya dan Sari sudah pulang lebih awal karena ada acara keluarga.

Tas selempang Kirana yang berisi buku Hujan Bulan Juni basah kuyup. Rambutnya yang diikat sebentar mulai menjuntai. Payung lipatnya lupa dia bawa.

Sialan. Kenapa hujan selalu datang di saat paling buruk?

Dia berlari-lari kecil melewati area parkiran motor yang licin. Di tengah langkahnya yang terburu-buru, Kirana tidak melihat apa yang ada di depannya. Tubuhnya membentur sesuatu yang keras, panas, dan beraroma bercampur minyak tanah, bensin, dan sedikit asap rokok.

Buk!

Kirana jatuh terduduk di aspal basah. Buku-bukunya berserakan. Pantatnya sakit, telapak tangannya tergores aspal.

"Anjir, sakit banget sih!" pekiknya sambil mendongak.

Di depannya berdiri sesosok tubuh tinggi besar. Cowok itu tingginya mungkin 180-an, dengan jaket jeans lusuh penuh noda hitam bekas oli. Rambut hitamnya agak panjang, sedikit menutupi dahi.

Matanya tajam, dingin, seperti pisau yang baru digosok. Di tangannya tergenggam helm hitam kusam. Dari balik tubuhnya, terlihat motor matic hitam modifikasi dengan knalpot brong yang masih mengepulkan asap tipis.

Cowok itu hanya menatap Kirana sekilas. Lalu... pergi.

Tanpa menunduk. Tanpa mengulurkan tangan. Tanpa satu kata "maaf".

Dia berjalan ke parkiran, menyalakan motor, dan melesat pergi dengan suara knalpot memekakkan telinga.

"MAKSUD LO APA, COK?!" teriak Kirana, tapi cowok itu sudah lenyap.

Dasar brengsek.

Dua hari kemudian, Kirana masuk ke Fotokopi Cepat Jaya di samping koperasi mahasiswa. Dia mau mengopi bahan ujian Apresiasi Puisi yang tebalnya seratus empat puluh halaman.

Begitu pintu fotokopian terbuka, Kirana langsung membeku.

Bima ada di sana.

Cowok itu sedang berdiri menyandar di dinding dekat mesin fotokopi. Masih dengan jaket jeans lusuh yang sama, masih dengan noda oli di tangannya, dan masih dengan wajah dingin tidak ekspresif. Dia menunggu hasil fotokopian sambil memainkan ponsel.

Mata mereka bertemu.

Kirana berharap cowok itu setidaknya mengangguk atau menunjukkan ekspresi "oh, lu yang kemarin". Tapi tidak. Bima hanya menatapnya sekilas, lalu kembali ke ponselnya dengan wajah datar seperti beton.

Cuek amat sih.

Kirana mengambil nomor antrean. Dan tepat saat dia mencari tempat duduk, hanya ada satu kursi plastik merah yang tersisa: di samping Bima.

Dengan perasaan kesal campur sebal, Kirana duduk. Jarak mereka hanya selebar satu telapak tangan. Bau oli dan rokok samar-samar tercium.

Suasana hening. Hanya suara mesin fotokopi yang berdengung.

Kirana membuka buku puisinya – Hujan Bulan Juni – dan membaca dalam hati untuk menghilangkan rasa canggung.

Tiba-tiba, suara berat dan rendah terdengar.

"Sapardi."

Kirana tersentak. Dia menoleh. Bima sedang melirik ke sampul buku itu sekilas.

"Lo tahu?" tanya Kirana, sedikit terkejut.

"Adik gue suka puisi," jawab Bima datar. Matanya kembali ke ponsel.

"Oh."

Hening lagi.

Fotokopian Bima selesai lebih dulu. Dia mengambil setumpuk kertas tebal penuh skema mesin dan rumus termodinamika, lalu berjalan ke kasir.

Begitu sampai di pintu, dia berhenti sejenak. Tidak menoleh, hanya berkata singkat:

"Hati-hati pulang. Jalanan licin."

Lalu dia pergi, meninggalkan Kirana yang mulutnya setengah terbuka.

Apa-apaan ini?

Keesokan harinya, Kirana cerita ke Maya dan Sari di kantin.

"Gue ketemu lagi tuh cowok mesin. Bima namanya."

Maya langsung semangat. "WAH! Terus? Terus?"

"Ya gitu. Cuek. Gak minta maaf. Tiba-tiba bilang 'hati-hati pulang'."

Sari tersenyum kecil. "Berarti dia perhatian, cuma gak bisa nunjukin."

"Perhatian apaan, sih," Kirana membantah, tapi pipinya terasa hangat.

Maya menepuk meja. "Lo harus deketin dia, Kira!"

"Gila lo. Gue benci cowok cuek kayak gitu."

"Tapi lo senyum-senyum sendiri, anjir."

Kirana buru-buru menutup mulutnya. Sial. Ketahuan.

Sejak hari itu, kebetulan mulai terasa seperti kutukan.

Di kantin: Bima sedang makan bakso sendirian di pojok, Kirana duduk tak jauh darinya bersama Maya dan Sari. Di perpustakaan: Bima tertidur di atas buku Termodinamika, Kirana mengambil buku puisi di rak sebelah.

Di parkiran: Kirana hampir keserempet motornya lagi – Bima hanya mengangkat tangan sedikit, semacam "maaf tanpa kata", lalu melesat.

Dan setiap kali, Bima tidak pernah minta maaf. Paling banter tatapan sekilas atau anggukan kecil.

Tapi ada satu hal yang aneh: setiap kali mereka berpapasan, Bima selalu melirik buku yang Kirana bawa. Seperti ada rasa ingin tahu yang dia pendam.

Sampai suatu sore, Maya menarik tangan Kirana.

"Kira, yuk ke bengkel teknik! Gue mau liat-liat."

"Ngapain? Bau oli."

"Biar bisa liat si Bima lagi, dong!"

Kirana ingin menolak, tapi kakinya sudah melangkah mengikuti Maya. Sari ikut di belakang sambil tersenyum tahu.

Di teras bengkel, Bima sedang nongkrong dengan dua temannya. Suara knalpot brong dan tawa mereka terdengar dari kejauhan. Bima sedang memegang kunci pas dan membongkar sesuatu dari motornya. Tangannya lincah, penuh yakin.

Salah satu teman Bima menyadari keberadaan mereka.

"Wah, Bim, ada cewek ngintip lo nih!"

Bima mendongak. Mata mereka bertemu lagi. Kirana sedikit gugup, tapi dia berusaha tegar.

"Gue cuma lewat," ucap Kirana cepat, meskipun jelas dia tidak sedang lewat.

Bima tidak menjawab. Dia hanya menatap beberapa saat, lalu kembali ke motornya. Tapi sebelum menunduk, sudut bibirnya terangkat tipis – hampir tidak terlihat.

Senyum?

Maya menggamit lengan Kirana. "Lihat tuh! Dia senyum! LO BIKIN DIA SENYUM!"

"Diem, Ya!" Kirana menarik Maya pergi, dadanya berdebar tidak karuan.

Sari berbisik pelan, "Aku lihat kok. Dia memang tertarik sama kamu."

Kirana tidak menjawab. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdegub aneh.

Kenapa sih gue harus panas begini?

Dan di belakangnya, Bima masih memegang kunci pas, matanya sesekali melirik ke arah Kirana yang menjauh, diikuti oleh dua teman ceweknya.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!