Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4 Ternyata satu kantor
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi ini, Dimas menyingkap lengan kemeja panjangnya dan melihat jam yang melingkar di tangan kanannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
Dimas yang berada di dalam mobilnya kemudian mengemudikan mobil itu ke arah jalan bergerak menuju ke kantor tempat dia mulai bekerja hari ini.
Sementara itu Regan sudah memarkir mobilnya di halaman depan apartemen Ratih, pagi ini sengaja Regan menjemput Ratih mengantarnya ke kantor.
Dengan mengenakan setelan blazer dan rok span selutut berwarna pastel Ratih terlihat keluar dari dalam kamarnya menuju ke ruang tamu tempat Regan duduk menunggunya dari tadi.
"Sudah siap?" tanya Regan yang melihat Ratih sudah berdiri di hadapannya itu.
"Ya," jawab Ratih dan kemudian mereka berdua pun melangkah keluar ke halaman depan menuju ke arah mobil Regan yang di parkir di sana.
Regan membukakan pintu depan mobil untuk Ratih dan tak lama kemudian Ratih pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah kursi kemudi.
Tak lama kemudian Regan mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan apartemen Ratih.
Ratih berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya, dia melihat teman-teman satu ruangannya sudah pada duduk di kursi kerja masing-masing dan sepertinya kali ini yang agak terlambat masuk ruangan adalah dirinya sendiri.
Ratih mengerutkan keningnya melihat situasi ini, lalu dengan perlahan dia duduk di kursi kerjanya.
Ratih menoleh pada Cindy yang duduk bersebelahan dengan dirinya ," Cin. Ini ada apa kok semuanya sudah pada duduk rapi di kursi kerja masing-masing? Dan...kenapa hanya aku yang terlambat," tanya Ratih pada Cindy.
"Eh kamu gak tahu ya Rat, tadi pagi itu Bu Bella memberitahu kita kalau hari ini perusahaan akan kedatangan pimpinan baru yang akan menggantikan pak Satya.
"Oh ya," ucap Ratih menatap Cindy.
"Iya Rat, makanya kita semua tadi langsung siap-siap duduk di kursi kita masing-masing menyambut kedatangan pimpinan baru kita.
Ratih mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Cindy.
"Eh Rat, kira-kira pimpinan kita yang baru ini seperti apa ya?" tanya Cindy sedikit berbisik pada Ratih.
Ratih mengangkat kedua bahunya sambil menatap Cindy tapi tiba-tiba Cindy menggeser kursinya lebih mendekat ke kursi Ratih.
"Eh, tapi dengar-dengar katanya dia orangnya masih muda sekitar tiga puluh tahunan dan keren loh orangnya," ucap Cindy menegaskan pada Ratih.
Ratih tersenyum mendengar perkataan Cindy teman dekatnya itu lalu dia pun mulai membereskan meja kerjanya seperti biasa aktivitas yang di lakukannya sebelum mulai pekerjaan.
Terlihat salah satu teman wanita yang juga satu ruangan dengan Ratih dan Cindy berlari-lari kecil sambil berteriak pada yang lainnya, " Pak Dimas sudah datang bersama Bu Bella mereka akan melewati ruangan kita sebentar lagi," ucap wanita itu sambil berdiri di belakang meja kerjanya.
Semua karyawan yang ada di ruangan tersebut pun buru-buru berdiri di belakang meja kerja mereka bersiap menunggu kedatangan pimpinan yang baru di perusahaan mereka.
"Dimas? Nama pimpinan baru itu Dimas," ucap Ratih pelan sambil juga berdiri dari tempat duduknya seperti yang lainnya.
"Kenapa Rat? Kamu kenal sama pak Dimas?" tanya Cindy yang mendengar Ratih menyebut nama Dimas.
"Oh enggak Cin, mungkin saja namanya aja yang sama," ucap Ratih tersenyum pada Cindy mencoba menghilangkan keraguannya itu.
"Namanya sama dengan mantan kamu itu kan?" seloroh Cindy pada Ratih sambil tersenyum menggoda Ratih.
Ratih menipiskan bibirnya mendengar perkataan Cindy.
"Eh mereka datang," ucap Cindy ketika mendengar derap langkah kaki beberapa orang yang berjalan menuju ke ruangan mereka.
Bu Bella berjalan di depan sendiri berdampingan dengan Dimas dan di belakang mereka terdapat beberapa orang laki-laki dan wanita yang berjalan mengikuti Bu Bella dan Dimas.
Rombongan itu berhenti tepat di tengah-tengah ruangan kerja Ratih dan Cindy yang cukup luas juga.
Betapa terkejutnya Ratih ketika melihat ke arah laki-laki yang berdiri tegap di samping Bu Bella itu.
"Dimas," pekik ratih dalam hati sambil menatap Dimas.
Dimas pun terlihat terkejut ketika matanya beradu pandang dengan Ratih, dia tidak menyangka kalau Ratih juga berkerja di kantor yang akan di pimpinnya itu.
Buru-buru Ratih membuang tatapannya setelah untuk beberapa saat dia dan Dimas saling menatap.
"Perkenalkan ini pak Dimas yang akan menjadi pimpinan kita yang baru per hari ini," ucap Bu Bella kepala HRD itu dengan lantang pada semua karyawan dan karyawati yang ada di ruangan itu.
Dimas tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya pada semua karyawan yang ada di sana termasuk Ratih.
Ratih berusaha untuk bersikap profesional, dia juga terlihat tersenyum ramah pada Dimas seperti karyawan lainnya untuk menyambut kedatangan pimpinan baru mereka.
"Rat.....ganteng banget sih pak Dimas itu..sudah ganteng, jadi manager lagi di perusahaan ini pasti bakalan jadi rebutan cewek-cewek di kantor ini termasuk aku....," ucap Ratih sambil terus menatap ke arah Dimas dengan kagum.
"Ah kamu ada-ada aja Cin," kata Ratih pada Cindy.
"Duh kamu ini, emang menurut kamu pak Dimas itu ganteng apa gak?" Cindy mengerutkan alisnya menatap Ratih yang sepertinya tidak ada rasa kagum-kagumnya pada Dimas.
Ratih menipiskan bibirnya pada Cindy mendengar pertanyaan yang di lontarkan Cindy barusan padanya.
"Andai kamu tahu Cindy, dulu aku sangat mengaguminya dan mencintainya," ucap Ratih dalam hatinya pilu.
"Baiklah untuk acara perkenalan ini cukup sekian dan silahkan kalian kembali bekerja lagi," ucap Bu Bella pada semua karyawan di ruangan Ratih itu.
Semua karyawan menundukkan kepalanya dengan ramah ketika melihat Bu Bella dan pak Dimas hendak pergi meninggalkan ruang kantor itu.
Dan tak berapa lama rombongan orang-orang yang mengiringi Dimas dan Bu Bella itupun pergi meninggalkan mereka.
"Mari pak Dimas saya antarkan ke ruang kantor anda," ajak Bu Bella pada Dimas.
"Mari Bu," ucap Dimas yang kemudian merekapun berjalan lagi menyusuri koridor demi koridor dan akhirnya Bu Bella menghentikan langkahnya ketika tiba di salah satu ruang kantor yang akan menjadi ruangan Dimas mulai hari ini.
"Silahkan pak Dimas, ini ruangan pak Dimas," Bu Bella mempersilahkan Dimas masuk ke dalam ruangan tersebut.
Untuk sesaat Dimas berdiri dan mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan tersebut.
"Emmm.....kalau pak Dimas perlu apa-apa, jangan sungkan pada saya, saya akan siap membantu," ucap Bu Bella dengan senang hati pada Dimas.
"Baik, terimakasih Bu Bela," ucap Dimas pada Bu Bella itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu Pak Dimas," lanjut Bu Bella sebelum keluar dari ruangan Dimas.
"Terimakasih Bu Bella," kata Dimas pada Bu Bella sebelum Bu Bella benar-benar keluar dari ruangannya.