NovelToon NovelToon
COLD HANDS, WARM EYES

COLD HANDS, WARM EYES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Yang Bersembunyi

Pagi itu, Aelira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya.

Vespa pink-nya melaju pelan memasuki gerbang SMA Nusa Cendekia. Langit masih berwarna jingga, embun masih menempel di dedaunan. Ia memarkir motornya di tempat biasa, lalu melepas helm—rambut hitamnya tergerai lembut terkena angin pagi.

Matanya sedikit sembab. Kurang tidur.

Karena semalam, setelah pertemuannya dengan orang tua di vila tersembunyi, ia harus kembali ke rumah dan tersuguk pada tatapan dingin Ravian yang sudah lebih dulu pulang. Untung pertanyaannya berhasil dijawab dengan alasan "ketemu Azel". Tapi Aelira tahu—Ravian bukan cowok bodoh. Dia hanya memilih percaya.

Untuk saat ini.

"Kak Aelira! Pagi!" sapa seorang siswi kelas sepuluh.

"Pagi," jawab Aelira singkat dengan senyum tipis.

Dia berjalan menuju ruang OSIS. Langkahnya tenang, penuh percaya diri. Tas selempang coklat melintang di tubuhnya, rok plisket biru tua berkibar pelan. Di matanya—ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Lebih tajam. Lebih dingin.

Tapi senyumnya tetap ramah pada setiap orang yang menyapanya.

Semua berjalan sesuai rencana.

 

Pukul 07.30 — Koridor Sekolah

Seusai rapat OSIS singkat, Aelira berjalan menyusuri koridor lantai dua. Sendirian. Kebanyakan siswa masih berkumpul di kantin atau di lapangan upacara.

Ponselnya bergetar.

Ravian: Udah di sekolah?

Aelira: Iya. Kamu?

Ravian: Di parkiran. Turun dong.

Aelira mengerjap. Dia pulang? Bukannya semalam dia syuting sampai pagi?

Tanpa menunggu lama, ia berbalik dan berjalan menuju tangga.

Tepat saat kakinya menginjak anak tangga pertama—sebuah tangan menarik pergelangan tangannya, memutarnya, dan mendorong punggungnya ke dinding lorong sepi di balik tangga darurat.

"Rav—"

Bibir Ravian mendarat di bibirnya. Cepat. Tanpa peringatan. Tapi lembut.

Aelira membeku. Matanya membulat.

Ravian melepaskan ciumannya—hanya beberapa sentimeter—lalu tersenyum miring. Wajahnya pucat karena kurang tidur, mata sedikit sembab, rambut acak-acakan. Jaket hitam masih melekat. Tapi matanya... matanya hangat.

"Pagi," katanya serak.

Aelira masih terdiam. "Ka—kamu ngapain? Bukannya tadi malam—"

"Syuting batal. Adegan terakhir aktrisnya sakit." Ravian mengangkat bahu. "Gue langsung pulang. Udah mandi, ganti baju, langsung ke sini."

"Jam segini?"

"Gue nggak tahan. Udah seminggu hampir nggak ketemu lo."

Aelira menelan salivanya. Dadanya berdesir aneh.

Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh—

"Van, ini di sekolah—"

"Gue tahu." Ravian mendekat lagi, menempelkan keningnya ke kening Aelira. "Tapi gue butuh ini. Cuma sebentar."

Aelira menggigit bibir. "Kamu belum sarapan, kan?"

"Belum."

"Ayo ke kantin." Aelira mendorong dadanya pelan. "Aku traktir."

Ravian tertawa kecil—tapi tidak melepas pegangan di pinggang Aelira. "Janji?"

"Janji."

"Setelah itu lo temenin gue ke taman belakang?"

"Buat apa?"

Ravian menyeringai nakal. "Ngecas energi."

Aelira memutar bola matanya. Tapi sudut bibirnya naik.

 

Kantin Sekolah — Istirahat Pertama

Mereka duduk berdua di pojok kantin yang sepi. Ravian memesan nasi goreng dan es jeruk. Aelira hanya minum air putih—tidak terlalu lapar.

"Lo makan dikit," kata Ravian sambil menyodorkan sendok ke mulut Aelira.

"Enggak, ah. Aku nggak la—"

"Buka mulut."

Aelira mendelik. Tapi akhirnya menurut. Sendok itu masuk—dan dia mengunyah dengan malu.

"Enak, kan?" Ravian tersenyum bangga.

"Iya, sih."

"Bilang makasih."

"Makasih, Van."

Ravian mengangguk puas. Lalu kembali makan dengan lahapnya. Beberapa siswa melirik ke arah mereka—berbisik-bisik kecil. Aelira tahu mereka membicarakan kedekatannya dengan Ravian.

Tapi dia tidak peduli.

Atau setidaknya, dia bisa tidak peduli.

Pura-pura tidak peduli. Seperti biasa.

"Li," panggil Ravian tiba-tiba.

"Hm?"

"Semalam lo beneran ketemu Azel? Atau ada yang lain?"

Aelira berhenti mengaduk air mineralnya. Matanya menatap Ravian—menyelidik. Tapi wajah Ravian tidak terlihat curiga. Hanya... rasa ingin tahu biasa.

"Beneran. Azel minta tolong soal tugas akhirnya," jawab Aelira datar.

Ravian mengangguk. "Oke."

Hanya itu. Tidak ada interogasi panjang. Tidak ada kecurigaan.

Aelira lega—tapi juga aneh. Kenapa dia semudah ini percaya?

Mungkin karena Ravian memang sedang terlalu lelah untuk berpikir. Atau mungkin karena dia benar-benar percaya.

Dan itu—justru lebih menyakitkan dari kecurigaan apa pun.

 

Taman Belakang — Setelah Jam Pelajaran Berakhir

Sore itu, Ravian dan Aelira duduk di bangku taman yang sama—tempat biasa mereka menghabiskan waktu saat jam istirahat dulu, sebelum jadwal Ravian menjadi super sibuk.

Ravian menyandarkan kepalanya di pundak Aelira. Matanya terpejam. Tangannya meraih tangan Aelira—jari-jari mereka bertaut.

"Gue mau tidur di sini," bisiknya.

"Silakan."

"Ketahuan guru, gimana?"

"Nggak bakal. Tempat ini tersembunyi."

"Hm." Ravian menghela napas pelan. "Lo tahu enggak, Li? Seminggu ini gue nggak bisa tidur nyenyak."

"Kenapa?"

"Karena lo nggak di samping gue."

Aelira diam. Dadanya terasa sesak.

Dia tidak boleh lemah. Dia tidak boleh jatuh cinta. Itu misi.

Tapi mengapa setiap kali Ravian berkata seperti ini—ada sesuatu di dadanya yang terasa seperti tertusuk?

"Li."

"Hm?"

"Lo ingat pertama kali kita ketemu?"

"Lorong SMP. Lo marah-marah karena aku sembarangan pegang tangan lo."

Ravian tertawa kecil. "Iya. Dan lo nggak takut. Lo cuma... diam."

"Karena aku bingung. Kamu tiba-tiba marah."

"Gue bukan marah. Gue panik." Ravian membuka matanya. "Karena untuk pertama kalinya, sentuhan seseorang nggak bikin gue mau muntah. Dan itu—sangat menakutkan."

Aelira menatapnya.

"Gue pikir, 'Wah, cewek ini pasti spesial. Gue harus pegang terus.'" Ravian tersenyum miring. "Dan sampai sekarang, gue masih mikir gitu."

Aelira tidak bisa menjawab.

Ravian bangkit sedikit—cukup untuk menatap Aelira dari dekat. Tangannya menyentuh pipi Aelira, membelainya dengan ibu jari.

"Lo cantik," bisiknya.

"Vano—"

"Ssst." Ravian mendekatkan wajahnya. "Biarkan gue bilang. Karena gue nggak tahu kapan gue bisa bilang lagi."

Dia tidak tahu. Aelira menggigit bibir.

Ravian tidak tahu bahwa di balik senyum Aelira, ada misi yang harus diselesaikan.

Ravian tidak tahu bahwa keluarganya adalah target.

Ravian tidak tahu bahwa gadis yang ia cintai—mungkin harus mengkhianatinya.

Tapi tidak sekarang.

Sekarang, Aelira hanya bisa membiarkan Ravian mengecup keningnya—lembut, penuh kasih, tanpa curiga sedikit pun.

"Gue sayang lo, Li," bisik Ravian di rambutnya.

Aelira memejamkan mata.

"Iya," jawabnya pelan. "Aku juga."

Separuh hatinya jujur.

Separuh lainnya berbohong.

 

Malam harinya, di kamar Aelira...

Duduk di depan meja belajarnya, Aelira membuka laci rahasia di bawah meja. Sebuah ponsel tua—bukan yang biasa ia pakai—bergetar.

Satu pesan masuk.

Daddy: Perkembangan?

Aelira mengetik balasan cepat.

Aelira: Semua berjalan sesuai rencana. Dia percaya sepenuhnya.

Daddy: Bagus. Jangan lengah. Satu kesalahan dan kita semua mati.

Aelira: Ya, Dad.

Dia mematikan ponsel itu.

Lalu menatap pantulannya di cermin.

Siapa Aelira sebenarnya?

Gadis baik yang tersenyum ramah pada semua orang?

Atau putri Valenzia yang dingin, arogan, dan menyembunyikan belati di balik senyum?

Jawabannya: keduanya.

Dan itu—yang paling berbahaya.

Karena Aelira sendiri mulai tidak tahu mana yang asli dan mana yang palsu.

Senyumnya di bibir—tapi matanya tajam.

Hanya dia yang tahu artinya

1
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Alia Chans: Thanks kk for support nya 👈😉
total 1 replies
SANG
Sampai tamat💪👍
Alia Chans: Bismillah
total 1 replies
SANG
Semangat terus pantang mundur💪👍
SANG
Lanjutkan terus💪👍
mary dice
serem banget😱jantung ikut berdegup lebih kencang😮lanjut thor😍
Alia Chans: Thanks, dilanjut kok kk👈😉
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
mampir nih
Alia Chans: Thanks👈😉
total 1 replies
Alia Chans
makasih kak🤭
Salma.Z
semangatttt...
SANG
Like iklan plus komen👍💪
SANG
Asik banget👍💪
SANG
Ceritanya keren👍💪
SANG
Mampir thor👍💪
Dindinn
keren kak lanjut
Alia Chans: thanks, bakal dilanjut kok🤭☝
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
Ntaaa___
Jangan lupa mampir juga ya kak😇
Alia Chans: oke kk
total 1 replies
Ntaaa___
Menarik sekali😇😍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
waduhhhh parahhhh nih kasian Aelira padahal dia pakai jaket kaka kelasnya buat nutupin bajunya yang basah jadinya salah paham ini
Alia Chans: wk" namanya juga cowok mana mau dengerin penjelasan cewek kk🙄
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
Vergan ini terlalu posesif ihhhh ngerinya😱🤔
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻˢтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
mampir kesini Thor
anggita
novel baru👌moga lancar.
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat nulisnya kak /Smile//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!