Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Sean Balrick
"Huwa...jangan makan aku..!!"
"Heii! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!"
Drama hantu yang belum berakhir. Pelayan itu lari semakin kencang saat Alissa juga mengejarnya. Mereka seperti bermain kucing dan tikus.
"Hei, tunggu!" nafas Alissa terengah-engah.
Perempuan itu berhenti berlari. Kondisinya yang belum stabil menyebabkan tubuhnya langsung lelah walau hanya berlari sebentar. sedangkan sang pelayan sudah tidak terlihat punggungnya.
Alissa menumpukan kedua telapak tangannya pada masing-masing lutut. Mengontrol pernafasan sebelum nanti kembali berlari.
"Aihh...pelayan itu. Larinya cepat sekali seperti tikus." decaknya kesal karena merasa ditinggalkan.
Dia ingin kembali ke kamar itu. Tapi rasa takut lebih mendominasi. Bagaimana jika di sana benar-benar ada penunggunya. Rumah sebesar ini, tidak mungkin tidak ada mahkluk halusnya.
"Sedang apa kau di sini?",
Deg.
Alissa menegang saat sebuah suara tanpa pemilik tiba-tiba muncul. Perempuan itu mengelus lehernya merasa merinding.
"Suara siapa itu..." gumamnya lirih dengan nada ketakutan. Seluruh tubuhnya meremang tanpa diminta.
"Apa...apa itu suara...han--hantu?" gagap Alissa.
Tubuh perempuan itu seketika bergemetar takut membayangkan yang tidak-tidak. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantra pengusir hantu. Meskipun begitu, ia tidak berani menoleh ke belakang. Asal dari suara yang tidak memiliki tuan itu.
"Jangan takut. Alissa, jangan takut." gumam Alissa meneguhkan hatinya.
"Kau hanya perlu menarik nafas." sesuai yang diucapkannya, perempuan itu menarik nafas sedalam-dalamnya.
"Huhh...hembuskan."
"Kaki kanan maju..." Alissa melangkahkan kaki kanannya.
"Setelah itu...LARII!!"
Alissa mencoba berlari sekencang-kencangnya. Sekuat tenaga yang ia bisa. Namun sepertinya ada yang salah. Karena sejak tadi, tubuhnya seperti tidak berpindah.
Hah, dirinya berasa lari di atas treadmill.
"Apa yang kau lakukan Alissa?"
"Huwa!! Hantu...!!"
Alissa memberontak begitu menyadari jika lengannya dicekal seseorang. Tidak mempedulikan jika perban yang melilit pergelangan tangannya mulai longgar dan lukanya kembali mengeluarkan cairan berwarna merah.
"Lepaskan aku! Dasar hantu jelek!" jerit Alissa histeris dengan mata yang tertutup.
Perempuan itu tidak berani membuka matanya. Bagaimana jika hantu itu memang benar-benar jelek. Wajah penuh luka. Gigi tajam. Mata putih dan rambut panjang.
"Alissa."
"Tidak. Namaku bukan Alissa! Kau salah orang!"
"Alissa."
"Jangan makan aku! Makan saja pelayan itu!"
"Alissa!!"
Alissa tersentak. Tubuhnya seperti telah ditarik. Lalu kedua pundaknya dicengkram sangat kuat. Alissa menggigil. Kekuatan hantu itu tidak main-main, pikirnya.
"Ha--hantu yang baik. Too--tolong jangan makan aku. Aku kurus. Dagingku pasti sedikit." cicit Alissa masih setia memejamkan matanya. "Kau...kau tidak akan kenyang."
"Hantu?" ah, mungkin Alissa salah memanggil.
"Ah...mak--maksudku, ib--iblis? Iblis yang baik--eh, tapi ibliskan jahat." gumam perempuan itu kebingungan.
Sedangkan sosok di depannya menaikkan satu alisnya heran. Ada apa dengan perempuan ini, pikirnya. Matanya memejam seolah-olah takut untuk melihat wajahnya.
Dan apa tadi, hantu? Iblis?
"Buka matamu Alissa." Alissa dapat merasakan hembuskan nafas berbau mint menerpa wajahnya. Menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya.
"Hantu, kau rajin sikat gigi ya? Bau mulutmu enak." celetuk perempuan itu random diakhiri dengan tawanya yang kikuk.
"Memang di dunia hantu ada pasta gigi?"
"Alissa..."
"Iya?"
"Buka matamu."
Alissa memasang wajah cemberut. "Tapi..aku takut."
"Takut?"
"Ya! Pasti kau sangat menyeramkan. Gigimu pasti panjang-panjang. Maksudku, taring. Kau bertaring."
Raut muka sosok yang mencekal lengannya itu berubah tak enak.
"Aku tidak punya taring!" enak saja. Perempuan itu pikir dirinya singa begitu?.
"Ah, jika tidak bertaring. Pasti wajahmu jelek! Penuh da-rah dan na-nah. Ih, menggelikan." Alissa bergidik jijik. Hanya membayangkannya saja sudah membuat dirinya mual.
"Apa yang kau bicarakan. Cepat buka matamu!"
"Tidak mau!"
"Buka atau--
"Atau apa hah?!" sela Alissa dengan nada menantang.
"Atau aku akan menci-ummu." ancam sosok itu yang membuat Alissa menyunggingkan senyum sinis.
"Ih, enak saja." ujarnya gegas menutup mulutnya.
"Ciumanku hanya untuk kekasihku!"
"Siapa kekasihmu?" tanya sosok pensaran.
Bahkan Alissa---perempuan itu tidak menyadari jika dia tengah berbicara terlampau santai dengan sosok yang ia duga sebagai hantu itu. Bukankah seharusnya dia lari?
"Kekasihku adalah..." senyum malu-malu terbit dari bibir Alissa.
"Dia adalah...Shawn Mendes." ujar Alissa dengan rona merah di pipinya. Mengingat salah satu penyanyi favoritnya di dunia sebelumnya.
"Shawn Mendes?" raut wajah sosok itu berubah gelap. Nadanya menjadi lebih dingin.
"Siapa Shawn Mendes?"
"Kekasihku lah!" seru Alissa nyolot tanpa menyadari perubahan ekspresi dan suara dari sosok di depannya itu.
"Siapa?" sosok itu kembali bertanya dengan nada lebih menekan.
"Kekasih---
Mata Alissa terbuka sempurna. Pun dengan kedua bola mata yang membulat terkejut. Saat tiba-tiba sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Perempuan itu terlalu syok. Kejadiannya begitu cepat sehingga dia tidak bisa mencerna apa yang telah terjadi.
Saat bibirnya mulai dilu-mat, saat itulah dia sadar. Sekuat tenaga Alissa mencoba memberontak. Memukul sosok yang dengan lancangnya menodai kesucian bibirnya.
Bibirnya dinodai oleh hantu?!
"Emhh..!"
Pergerakan Alissa diblokir. Sosok itu menarik pinggang Alissa hingga tubuh depan keduanya menempel. Satu tangan yang lainnya menahan tengkuk Alissa agar perempuan itu tidak lagi memberontak.
Alissa hampir kehabisan nafas. Tetapi sosok itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan aksi pele-cehannya itu.
Semakin menjadi, ia gigit bibir Alissa hingga perempuan itu meringis kesakitan. Saat itulah ia melesakkan li-dahnya ke dalam mu-lut Alissa.
Tidak. Sosok ini bukanlah hantu. Dia manusia. Alissa telah salah paham. Bodohnya dia baru menyadarinya sekarang. Mana mungkin hantu bisa berbicara. Terlebih--menci-um manusia?!
Hantu tidak bisa melakukan hal seperti itu bodoh!
"Emhhh!" Alissa mencoba memukul bahu sosok itu membabi buta. Tak mendapat respon, perempuan itu mencubit pundak sang pelaku sekeras kekesalannya saat ini.
Berhasil. Sosok itu meringis sakit dan melepaskan tautan bibir mereka. Matanya menajam penuh ancaman.
"Kau---
Plak.
Sosok itu seketika terkejut. Tidak pernah dalam hidupnya seseorang berani menamparnya. Tapi Alissa--
"Berani sekali kau menamparku." desisnya tajam. Harga dirinya terasa sudah dijatuhkan.
"Dan berani sekali kau menci-umku! Ini pele-cehan!" seru Alissa. Mengusap bibirnya dengan kasar.
"Pele-cehan?" kekeh laki-laki yang telah lancang mencium bibir Alissa itu.
"Ya! Percuma tampan kalau kelakuanmu seperti penjahat kela--min!" seru Alissa
"Penjahat kela--min ini suamimu bodoh! Salahkah seorang suami menci-um istrinya? Dan bukankah ini yang kau inginkan, huh?" dengus laki-laki itu menatap Alissa angkuh.
"A--apa?!" murka dalam diri Alissa seketika sirna. Raut garangnya berubah pias.
Oh Tuhan. Laki-laki di depannya ini adalah malaikat mautnya!
"Ka--kau...Sean? Sean Balrick?!"
"Menurutmu? Aku hantu, seperti itu?!"
Alissa menelan salivanya takut. Perlahan ia berbalik memunggungi Sean. Sebaiknya dia segera pergi dari tempat ini. Kemana saja. Asalkan tidak bersama malaikat mautnya.
Saat baru maju satu langkah, Sean menarik kerah baju belakang miliknya. Membuat Alissa berteriak ketakutan.
"Huwa! Jangan bunuh aku!"
"Ck, berhenti bersandiwara!" jengah laki-laki itu menarik Alissa agar kembali ke kamar perempuan itu.
"Kau mau bawa aku kemana?! Jangan bunuh aku!!" panik Alissa kembali memberontak.
"Diamlah. Atau lukamu akan semakin memburuk!"
Alissa diam. Ia tatap pergelangan tangan yang ia sa-yat. Ternyata perbannya telah terlepas. Pun dengan darah yang kembali menetes.
Tiba-tiba tangannya terasa perih. Padahal tadi dia tidak merasakan apa-apa.
"Kau..mau apakan aku?" cicit Alissa pasrah mengikuti langkah Sean.
"Memakanmu!"