Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERTEMUAN DENGAN JI-WOO
Setelah peristiwa di acara Ouroboros, Min-jae merasa perlu lebih berhati-hati dalam setiap langkahnya. Namun, kehidupan akademi harus tetap berjalan. Dia masih punya tanggung jawab sebagai siswa, anggota tim, dan seorang teman.
Suatu sore, Ji-woo mendatanginya di ruang latihan. Wajahnya terlihat serius, berbeda dari biasanya.
"Min-jae, bisa kita bicara sebentar?"
Mereka pergi ke taman akademi yang sepi. Ji-woo duduk di bangku, menatap tangannya yang sedang memegang botol air.
"Aku ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Tentang… masa depanku."
Min-jae duduk di sebelahnya. "Apa yang terjadi?"
"Seperti yang kamu tahu, keluargaku tidak mampu. Aku di sini karena beasiswa. Tapi beasiswa itu hanya sampai lulus akademi. Setelah itu… aku harus bisa mandiri, sekaligus membantu ibu dan adikku."
Min-jae mengangguk. Dia tahu betul tekanan yang dihadapi Ji-woo.
"Beberapa hari yang lalu," lanjut Ji-woo, "aku dapat tawaran dari seseorang. Dia bilang dia dari guild kecil tapi punya koneksi baik. Dia menawarkanku kontrak kerja jangka panjang setelah lulus, dengan bayaran bagus di muka. Tapi syaratnya… aku harus memberikan informasi tentang akademi, dan tentang… kamu."
Min-jae menegakkan badan. "Tentang aku?"
"Iya. Dia bilang, mereka tertarik merekrut psikis berbakat seperti kamu. Dan karena kita berteman, aku bisa jadi perantaranya." Ji-woo menarik napas dalam. "Aku hampir tergoda, Min-jae. Uang itu bisa menyelesaikan banyak masalah keluargaku. Tapi… hatiku tidak tenang. Aku merasa ini tidak benar."
Min-jae merasa campuran marah dan lega. Marah karena seseorang mencoba memanfaatkan Ji-woo, lega karena Ji-woo memilih untuk jujur.
"Kamu tidak mengambil tawaran itu?"
"Tidak. Aku bilang butuh waktu berpikir. Tapi aku tidak akan menerimanya. Aku tidak mau mengkhianati teman." Ji-woo menatapnya. "Tapi ini artinya, ada yang mencoba mendekatiku untuk sampai padamu. Siapa mereka? Ouroboros?"
"Sangat mungkin. Atau guild lain yang punya kepentingan." Min-jae meletakkan tangan di bahu Ji-woo. "Terima kasih sudah memberitahuku. Dan terima kasih sudah memilih berteman."
"Teman sejati tidak dijual, kan?" Ji-woo tersenyum kecil. "Tapi sekarang, aku khawatir. Mereka mungkin akan mencoba cara lain."
Min-jae berpikir sejenak. "Aku akan laporkan ini pada pihak yang bisa dipercaya. Dan untuk masalah keuangan keluargamu… ada cara lain. Chrono Vanguard punya program beasiswa dan dukungan untuk keluarga anggota. Aku bisa usulkan namamu."
Ji-woo terkejut. "Benarkah? Tapi aku belum bergabung dengan guild mana pun."
"Tapi kamu temanku. Dan guild menghargai loyalitas. Biar aku yang urus."
Rasa haru terlihat di wajah Ji-woo. "Min-jae… terima kasih. Aku tidak tahu harus berkata apa."
"Tidak perlu. Kita saling membantu." Min-jae tersenyum. "Sekarang, kita harus lebih waspada. Jika ada yang mendekatimu lagi, beri tahu aku atau guru yang dipercaya."
Mereka berpisah dengan perasaan lebih dekat. Insiden itu mengingatkan Min-jae bahwa musuh tidak hanya menargetkannya langsung, tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Dia harus melindungi teman-temannya.
Keesokan harinya, Min-jae bertemu dengan Mi-rae dan menyampaikan tentang percobaan perekrutan pada Ji-woo.
"Kami akan selidiki guild kecil itu. Kemungkinan besar itu adalah front untuk Ouroboros," kata Mi-rae. "Dan usulanmu tentang beasiswa untuk Ji-woo baik. Aku akan ajukan ke departemen kesejahteraan guild."
"Terima kasih, Mi-rae."
"Tapi ingat, ini juga berarti kamu harus lebih berhati-hati. Mereka semakin putus asa."
Min-jae mengerti. Tapi dia tidak bisa mundur. Dia hanya harus lebih pintar.
Di kelas remedial berikutnya, Master Yoon membahas topik khusus: "Psikis dan Etika".
"Kemampuan psikis memberi kalian akses ke area paling pribadi seseorang: pikirannya," kata Master Yoon dengan suara berat. "Karena itu, tanggung jawab moral kalian lebih besar. Membaca emosi tanpa izin, mempengaruhi pikiran, bahkan sekadar sensing yang terlalu dalam—semua itu adalah pelanggaran jika dilakukan tanpa alasan yang benar."
Min-jae berpikir tentang kemampuannya. Selama ini, dia menggunakan sensing terutama untuk mendeteksi ancaman atau navigasi. Tapi kadang, tanpa sadar, dia juga bisa merasakan emosi orang di sekitarnya—seperti saat merasakan kecemasan Ji-woo atau ketegangan Hana. Itu harus dikendalikan.
"Untuk melatih disiplin," lanjut Master Yoon, "kalian akan melakukan latihan 'pembatasan'. Selama seminggu, coba batasi penggunaan kemampuan psikis kalian hanya untuk situasi yang benar-benar perlu. Di luar itu, gunakan indra normal kalian."
Latihan itu menantang. Min-jae terbiasa menggunakan sensing untuk merasakan lingkungan, bahkan untuk hal kecil seperti mencari pena yang jatuh. Sekarang, dia harus membiasakan diri menggunakan mata dan telinganya seperti orang biasa.
Hari pertama sulit. Dia merasa seperti berjalan dengan mata tertutup. Tapi perlahan, dia menyadari bahwa indra normalnya masih berfungsi dengan baik. Bahkan, dia jadi lebih memperhatikan detail kecil yang selama ini terlewat karena mengandalkan sensing.
Di hari ketiga, saat berjalan di koridor akademi, dia secara tidak sengaja mendengar percakapan dua siswa di sudut.
"…dengar-dengar uji coba di Crimson Abyss akan pakai sukarelawan dari akademi kita," bisik salah satu siswa.
"Serius? Siapa yang mau jadi kelinci percobaan untuk Ouroboros?"
"Katanya dapat bayaran besar. Tapi risikonya tinggi. Ada yang bilang, subjek uji coba sebelumnya… tidak kembali normal."
Min-jae berhenti sejenak, berusaha tidak terlihat sedang mendengarkan. Tapi dia tidak menggunakan sensing. Dia hanya mengandalkan pendengarannya.
"Siapa yang mau ambil risiko seperti itu?" tanya siswa pertama.
"Orang yang putus asa, atau yang terpesona oleh iming-iming kekuatan lebih."
Percakapan itu membuat Min-jae gelisah. Informasi tentang uji coba semakin banyak beredar. Artinya, Ouroboros mungkin sengaja menyebarkan kabar untuk menarik kandidat sukarelawan, atau untuk menguji reaksi publik.
Dia melaporkan percakapan itu pada Mi-rae, yang kemudian menyampaikan bahwa Chrono Vanguard sedang mempersiapkan operasi pengawasan di sekitar Crimson Abyss.
"Kami tidak bisa menggagalkan uji coba secara langsung tanpa bukti kuat," jelas Mi-rae. "Tapi kami akan mengumpulkan data dan, jika mungkin, menyelamatkan sukarelawan itu jika dia dalam bahaya."
Min-jae harap mereka bisa bertindak cepat. Nyawa orang yang tidak tahu bahaya sedang dipertaruhkan.
Sementara itu, persiapan untuk Kompetisi Nasional semakin intens. Tim Min-jae berlatih hampir setiap hari. Mereka sudah mengembangkan beberapa strategi unik berdasarkan kombinasi kemampuan mereka.
Suatu hari, saat latihan simulasi, mereka mendapat skenario khusus: harus menyelamatkan "sandal" dari dalam Gerbang C-rank yang penuh dengan perangkap psikis—ilusi, suara penggangu, dan gangguan persepsi.
Ini adalah ujian sempurna bagi Min-jae untuk melatih disiplin sensing-nya. Dia harus menggunakan sensing dengan sangat hati-hati, membedakan antara ilusi dan realita, sambil memandu timnya.
"Ada empat titik perangkap ilusi di depan," lapornya pada Hana dan Min-ki. "Tapi satu di antaranya adalah ilusi ganda—di dalam ilusi ada perangkap nyata. Aku akan coba netralkan yang nyata, kalian hindari area sekitarnya."
Mereka bekerja dengan baik. Min-jae menggunakan Psionic Thread-nya untuk 'menyentuh' perangkap psikis dari jarak jauh, mengacaukan polanya tanpa memicunya. Hana memberikan aura perlindungan psikis ringan pada tim, sementara Min-ki bersiap menyerang jika ada ancaman fisik muncul.
Mereka berhasil melewati area perangkap tanpa tersentuh. Sandal berhasil diselamatkan, dan waktu mereka termasuk tercepat di antara tim lain yang mencoba skenario sama.
"Ini berkat kontrol sensing-mu yang tepat," puji Hana setelah simulasi.
"Dan kerja tim kita yang solid," tambah Min-ki.
Min-jae tersenyum. Rasanya baik memiliki tim yang saling percaya.
Di luar latihan, Min-jae juga meluangkan waktu untuk membantu Ji-woo meningkatkan kemampuan teorinya. Sebagai balasan, Ji-woo melatihnya dasar-dasar pertahanan fisik. Pertukaran ini menguntungkan kedua belah pihak.
Seo-yeon, yang sekarang semakin mahir dalam penyembuhan, juga sering bergabung. Dia belajar dari Hana tentang teori energi penyembuhan, sambil berbagi pengalaman praktisnya.
Hubungan pertemanan mereka semakin erat. Min-jae merasa ini adalah salah satu hal terbaik yang dia dapatkan di dunia baru ini—teman sejati yang tidak peduli dengan latar belakang atau kemampuannya, tetapi menghargai siapa dirinya.
Suatu malam, saat mereka berkumpul di ruang bersama asrama, makan makanan ringan yang dibawa Seo-yeon dari rumah, percakapan mengalir ke topik masa depan.
"Setelah lulus, kalian ingin bergabung dengan guild mana?" tanya Ji-woo.
"Aku mungkin ikut Chrono Vanguard," kata Min-jae. "Mereka sudah menawarkan, dan sejauh ini mereka yang paling aku percayai."
"Aku ingin ke guild yang fokus pada misi penyelamatan dan medis," ujar Seo-yeon. "Seperti Guardian Healers atau Lifeline Corps."
"Aku tertarik dengan guild yang punya divisi penelitian kuat," tambah Hana. "Mungkin Ouro—eh, bukan. Maksudku, guild yang punya laboratorium sendiri untuk eksplorasi dimensi."
Mereka semua tertawa kecil. Hana hampir menyebut Ouroboros, tapi cepat memperbaiki.
"Aku… pingin jadi kuat dulu," kata Ji-woo. "Lalu pilih guild yang bisa bantu keluargaku. Tapi yang penting, guild yang jujur dan tidak memanfaatkan anggotanya."
"Kita semua akan menemukan jalan kita masing-masing," kata Min-jae. "Tapi apapun yang terjadi, kita akan tetap berteman, kan?"
"Tentu!" seru Ji-woo.
"Pastinya," sahut Seo-yeon.
"Sepakat," Hana mengangguk.
Malam itu berakhir dengan perasaan hangat. Min-jae merasa bersyukur. Di tengah semua konspirasi dan bahaya, dia memiliki tempat berlindung yang aman: persahabatan.
Keesokan harinya, kabar mengejutkan datang. Seorang siswa dari akademi Hunter lain—seorang psikis muda berusia 17 tahun—dilaporkan hilang setelah mengikuti "program magang eksklusif" yang diadakan oleh sebuah lembaga penelitian swasta. Deskripsi lembaga itu cocok dengan front Ouroboros.
Chrono Vanguard langsung bergerak. Berdasarkan informasi yang sudah mereka kumpulkan, siswa itu kemungkinan besar adalah sukarelawan untuk uji coba di Crimson Abyss.
"Kami akan berusaha menyelamatkannya," janji Mi-rae. "Tapi kami butuh waktu untuk merencanakan dengan matang. Uji coba direncanakan dalam dua minggu lagi."
Dua minggu. Waktu yang singkat.
Min-jae ingin membantu, tapi dia tahu kemampuan terbaiknya saat ini adalah di bidang informasi, bukan operasi lapangan. Dia fokus pada peningkatan kemampuannya dan mendukung investigasi dengan data yang dia miliki.
Di kelas remedial, Master Yoon memperhatikan kegelisahannya.
"Ada sesuatu yang mengganggumu, Min-jae?"
Min-jae bercerita tentang siswa yang hilang dan uji coba Ouroboros—tentu saja tanpa menyebutkan keterlibatan Chrono Vanguard.
Master Yoon mendengarkan dengan serius. "Dunia ini penuh dengan pilihan sulit. Kadang, kita ingin membantu semua orang, tapi kita harus memilih pertempuran yang bisa kita menangkan. Dan kadang, kemenangan terbesar adalah memastikan kita sendiri tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama."
Nasihat itu mengena. Min-jae tidak bisa menyelamatkan semua orang sendirian. Tapi dia bisa memastikan dirinya tidak menjadi korban berikutnya, dan dengan menjadi kuat, dia bisa membantu lebih banyak orang di masa depan.
Dia memutuskan untuk mempercayai Chrono Vanguard dalam operasi ini. Sementara itu, dia akan terus mempersiapkan diri untuk kompetisi nasional dan meningkatkan kemampuannya.
Malam sebelum kompetisi, Min-jae mendapat pesan dari Min-hyuk.
**"Uji coba dimajukan. Minggu depan. Hati-hati."**
Pesan singkat itu membuatnya waspada. Ouroboros bergerak lebih cepat dari perkiraan. Apakah mereka tahu ada yang mengawasi?
Dia segera meneruskan pesan itu ke Mi-rae. Responsnya cepat: "Kami sudah dapat info serupa. Persiapan dipercepat. Tetap tenang dan fokus pada kompetisi besok."
Besok adalah hari pertama Kompetisi Nasional Antar-Akademi. Min-jae harus fokus. Tapi di belakang pikirannya, ada kekhawatiran untuk nasib siswa yang hilang itu.
Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Seperti kata Mentor Kwon: "Di medan pertempuran, satu-satunya hal yang bisa kamu kendalikan adalah dirimu sendiri dan timmu. Fokus pada itu."
Dia akan fokus pada kompetisi. Dan setelah ini, dia akan melakukan apa pun yang dia bisa untuk membantu menghentikan uji coba berbahaya itu.
Dengan tekad itu, dia mempersiapkan diri untuk tidur. Besok, pertarungan di arena simulasi menunggu. Dan setelah itu, pertarungan yang lebih besar masih akan datang.