Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tasya Dan Egonya
"Tasya, lo apaan sih, Na!" Tasya menepis tangan Nina yang merangkul bahunya, nada suaranya penuh amarah yang terselip dalam desah napas berat. Namun, Nina tetap tersenyum santai, menanggapi seolah-olah protes itu hanya angin lalu.
"Buruan, Dimas," Nina menarik pergelangan tangan pria itu dengan lembut namun tegas.
"Udah, ikut aja. Serius, kapan lagi dapet gebetan kaya raya kayak gini," seorang teman Dimas mendorong bahunya sambil terkekeh, menyeringai lebar.
Dimas mendesah panjang, pandangannya beralih dari Nina ke Tasya yang sedang mengernyit tajam. Dengan langkah enggan, dia mengikuti mereka menuju mobil Tasya. Begitu pintu mobil terbuka, aroma bunga lavender yang lembut menyeruak, menyelimuti ruang interior yang rapi. Jok kulitnya memantulkan kilau mewah di bawah sinar matahari.
Dimas menjatuhkan tubuhnya di kursi belakang, menyandarkan kepala ke jendela tanpa berkata apa-apa. Di depan, Nina menyetir dengan tenang sementara Tasya duduk di kursi penumpang, kedua tangannya melipat di depan dada, sorot matanya lurus menatap ke depan tanpa ekspresi.
"Kalian tuh persis kayak Tom and Jerry," Nina membuka pembicaraan sambil melirik mereka melalui kaca spion. "Kalau begini terus, penelitian kalian kapan beres?" dia bertanya dengan nada setengah bercanda, meskipun kerutan kecil di dahinya menunjukkan rasa khawatir.
"Gue cuma pengen penelitian ini nggak gagal, Na," suara Dimas terdengar datar, namun jelas ada ketegangan di balik intonasinya. "Apa gue salah kalau ngasih pendapat?"
Tasya berbalik, wajahnya berubah gelap. "Masalahnya lo nggak ngomong dulu ke gue!" suaranya terdengar tajam, hampir seperti cambukan. "Hari pertama lo malah kabur tanpa diskusi sama sekali."
Dimas mendongak, tatapannya tak kalah tajam. "Lo itu Miss Perfect, kan? Gue pikir lo udah tahu semuanya tanpa perlu gue kasih tahu."
Tasya mendesis, matanya membulat tajam. "Oh, jadi menurut lo gue nggak kompeten? Gue ini nggak cukup baik buat kerja bareng lo?" nada suaranya kini naik, seperti air mendidih yang meluap.
Dimas mendengus, tangannya terangkat dengan gerakan frustrasi. "Nina, lo liat sendiri temen lo! Gue ngomong apa pun, selalu dianggap salah." Dia memalingkan wajah, menatap keluar jendela dengan rahang yang mengeras.
Nina menepukkan tangannya ke setir, suara kulit yang bertemu dengan plastik memenuhi keheningan. "Astaga, kalian tuh ribet banget! Tinggal ngomong saling bantu aja, kenapa sih harus kayak gini?!" suaranya melengking, menunjukkan bahwa kesabarannya sudah habis.
Suasana sunyi menggantung di antara mereka saat Nina memarkirkan mobil di basement apartemen. Hanya suara pintu mobil yang tertutup dan langkah kaki yang menggema di lorong menuju lift.
Begitu tiba di kamar, Tasya langsung melemparkan tas dan tumpukan makalahnya ke meja, membuat suara berdebum yang memecah keheningan. Dimas berjalan santai ke balkon, menarik rokok dari saku celananya, lalu menyulutnya dengan gerakan santai, seolah beban dunia tidak pernah menyentuhnya.
"Sya, lo beresin sekarang, ya?" suara Nina terdengar dari sisinya, matanya melirik tajam ke arah Dimas. "jangan sampe lo kena terror nyokap lo karena nggak bisa ajuin judul taun ini," lanjutnya sambil menunjuk ke balkon, tempat Dimas berdiri.
Tasya mendesah, ekspresinya penuh kekesalan yang belum terlampiaskan. Namun, Nina mendorong bahunya ringan, memaksanya untuk menghadapi pria itu. Dengan langkah berat, Tasya menyeret kakinya ke balkon, merapatkan cardigan untuk menghalau terik matahari yang terasa membakar kulitnya.
Dimas menyandarkan tubuhnya ke pagar balkon, pandangannya menerawang ke gedung-gedung tinggi dari kejauhan. Asap rokok yang melingkar di udara semakin menegaskan sikap acuhnya.
"Jadi, gimana kelanjutannya?" Tasya membuka percakapan dengan nada ketus, langkahnya ragu saat mendekat.
Dimas mengalihkan pandangan, menatapnya sekilas. "Lo denger apa kata Pak Sasongko, kan?" suaranya rendah tapi tegas. "Gue olah data, lo analisis. Simple." Setelah itu, dia kembali menatap kota yang diterangi matahari siang.
Tasya terdiam, rahangnya mengeras. Kata-kata Dimas terasa seperti tembok yang sulit ditembus. Dia melirik Nina yang masih sibuk di dapur, berharap sahabatnya itu cepat selesai dan membebaskannya dari momen canggung ini.
"Tapi lo janji," akhirnya Tasya bicara lagi, suaranya terdengar lebih lembut namun tetap tegas. "Jangan rusak semua rencana gue tanpa ngomong dulu."
"Guys! Minum dulu, deh. Biar otak lo nggak overheat kayak mesin F1!" teriak Nina dari dalam, membawa nampan berisi minuman dingin ke meja.
Dimas mematikan rokok dengan gerakan santai, membuang puntungnya ke asbak. Dia berjalan ke dalam dan langsung mengambil segelas minuman, meneguknya dalam-dalam.
Matanya tertarik ke arah rak buku di sudut ruangan. Buku-buku yang berjajar rapi di sana membuat alisnya terangkat. "Hmm," gumamnya sambil mendekat. Salah satu buku yang familiar menarik perhatiannya.
"The Art of Sun Tzu," Dimas mengangkat buku itu dengan satu tangan, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis. "Pantesan lo pinter banget balikin fakta," ucapnya dengan nada menggoda sambil menoleh ke arah Tasya.
"Lo tuh ya!" pekik Tasya, melotot sambil mengepalkan tangan.
Dimas terkekeh. "Canda, Sya," katanya, membuka buku di bagian tengah. "Tapi lo pasti tau, kan, kalau setiap orang punya caranya sendiri? Kalau lo udah baca ini, lo tau gimana caranya counter orang kayak gue."
Tasya terdiam, tatapannya tak lepas dari buku yang kini berada di tangan Dimas. The Art of Sun Tzu. Itu adalah salah satu buku favoritnya, buku yang sering ia baca berulang kali untuk memahami strategi perang dan politik. Saat Dimas mulai melontarkan analisisnya, Tasya tak mampu menyembunyikan rasa terkesan. Pembahasan mereka perlahan mengalir, lebih damai daripada yang pernah Tasya bayangkan.
Dari sofa, Nina menyilangkan kaki sambil menatap mereka. Matanya menyipit sedikit, menilai sosok Dimas yang selama ini dikenal sebagai biang keributan di kampus. Pria yang sering membuat dosen kesal ternyata punya sisi intelektual yang tak terduga.
"Lega banget gue lihat kalian akhirnya akur," ucap Nina, tubuhnya merebah ke lantai dengan kedua tangan terentang seperti menyerah pada gravitasi.
Tasya dan Dimas saling melirik sejenak. Senyum tipis terlukis di wajah mereka, sebuah senyuman yang hanya bisa muncul setelah menemukan kesamaan di tengah perbedaan. Topik perkembangan politik yang mereka bahas barusan seperti membangun jembatan tak kasatmata di antara mereka.
Dimas melirik jam dinding. "Gue cabut dulu, Sya. Udah sore banget," katanya sambil berdiri.
"Eh, gue ikut!" seru Nina, melompat dari posisi rebahnya, lalu dengan cepat meraih tasnya.
"Yee, katanya mau nemenin gue di sini. Kok malah ikutan balik?" gerutu Tasya, ekspresinya kesal tapi suaranya terdengar setengah bercanda.
Nina menyeringai, bola matanya melirik Dimas. "Lo udah tenang sekarang, kan? Nah, giliran gue having fun bareng dia." Nada suaranya penuh godaan, membuat Dimas hanya terkekeh kecil.
Tasya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Ia tak melawan keputusan Nina, hanya mengikuti mereka sampai ke depan lift.
"Bye, Sya!" Nina melambaikan tangan sambil melingkarkan tangannya ke lengan Dimas.
Tasya hanya menjulurkan lidah, balasan sederhana yang menandakan keakraban di antara mereka. Begitu pintu lift tertutup, ia kembali ke kamar, mengangkat gelas-gelas kosong dari meja.
Dering ponsel tiba-tiba memecah keheningan. Nama yang muncul di layar membuat Tasya mendesah panjang: Mami.
"Halo, Mih," sapa Tasya sambil menyelipkan ponsel di antara kepala dan bahunya. Kedua tangannya sibuk membawa nampan berisi gelas.
"Halo, Sya. Gimana penelitian kamu? Udah beres?" Suara tegas Ivone, ibunda Tasya, langsung menyentak pendengaran.
"Kayaknya baru mulai lusa, Mih. Soalnya tadi aku masih diskusi beberapa hal sama Pak Sasongko," jawab Tasya santai.
"Lusa?!" Pekikan Ivone membuat Tasya hampir menjatuhkan gelas di tangannya.
"Tasya! Kamu harus mulai sekarang. Olah data itu nggak gampang, apalagi kamu kan lemah di hitungan! Mami nggak mau kamu telat lulus, ya!" Suaranya menusuk telinga seperti alarm peringatan yang tak bisa dimatikan.
Tasya mengeratkan cengkeramannya pada nampan. Ia tahu kalimat berikutnya akan keluar-kalimat yang selalu mengingatkan dirinya pada beban tak terlihat.
"Ingat, Sya... keluarga Adibrata harus jadi contoh buat mereka!"
Gelas di tangannya bergetar ringan. Tasya hanya mengangguk pelan, meskipun tak ada yang bisa melihatnya. Pandangannya kabur, bukan karena air mata, tapi karena rasa lelah yang tiba-tiba menyeruak.