Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delusi Sang Tuan Muda dan Rahasia Dokumen
Rizki berdiri dengan angkuh di tengah ruang tamu, suaranya menggelegar saat ia menyerang Aulia dengan tuduhan perselingkuhan yang tak berdasar. Ia menggunakan status hukumnya sebagai suami bagaikan senjata untuk memojokkan Aulia ke dinding.
"Berhenti bermain api dengan Mavin, Aulia! Ingat posisimu. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk menceraikanmu," tegas Rizki dengan nada sombong.
Di balik kemarahannya, Rizki sebenarnya sedang menghibur diri sendiri. Ia memiliki delusi bahwa sikap dingin dan penolakan Aulia akhir-akhir ini hanyalah sebuah taktik "tarik-ulur" yang cerdik untuk mencuri perhatiannya. Ia merasa sangat percaya diri, sama sekali tidak menyadari bahwa wanita di depannya ini sudah benar-benar mematikan rasa hingga ke akarnya.
Namun, saat perdebatan memanas, Aulia melontarkan kalimat yang membuat jantung Rizki seolah berhenti berdetak sejenak.
"Kamu bilang tidak punya niat bercerai? Lalu apa yang kamu lakukan dengan berkas yang aku berikan setengah bulan lalu di meja kerjamu?" tanya Aulia dengan suara tenang, namun tajam.
Rizki tertegun. Ia mencoba mengingat-ingat tumpukan dokumen yang selalu lewat di mejanya. Selama ini, Rizki memiliki kebiasaan buruk: ia sering menandatangani berkas tanpa membacanya secara mendalam jika dokumen itu datang dari orang-orang yang ia anggap "tidak berbahaya". Ia teringat saat itu Aulia menyodorkan map putih, dan karena ia sedang terburu-buru mengurus proyek Meli, ia mengira itu hanyalah dokumen administrasi kerja sama bisnis dengan Keluarga Permana.
Aulia terdiam, menatap suaminya dengan perasaan campur aduk antara kasihan dan takjub akan kecerobohan pria ini. Rizki, sang pemimpin Laksmana yang disegani, ternyata telah menandatangani surat kebebasan istrinya sendiri tanpa ia sadari.
Aulia kini berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Pikirannya berputar cepat menghitung risiko.
Jika ia memberitahu Rizki sekarang bahwa berkas itu adalah surat cerai, Rizki pasti akan mengamuk. Dengan kekuasaan dan jaringan pengacaranya, pria itu bisa saja melakukan sabotase hukum atau membatalkan proses tersebut sebelum surat resmi keluar. Rizki akan merasa terhina karena telah ditipu oleh istri yang selama ini ia remehkan sebagai wanita "tanpa otak".
Namun, jika Aulia tetap diam dan membiarkan Rizki hidup dalam delusinya, ia hanya perlu bertahan selama tujuh hari lagi. Setelah tujuh hari, surat cerai resmi akan diterbitkan oleh pengadilan, dan saat itu terjadi, posisi hukum Aulia akan absolut. Rizki tidak akan bisa melakukan apa pun untuk menariknya kembali.
"Kenapa diam? Dokumen kerja sama itu sudah aku proses," ujar Rizki, merasa kembali memegang kendali.
Aulia menarik napas panjang, lalu memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang diartikan Rizki sebagai bentuk kepatuhan, padahal itu adalah senyum kemenangan seorang tawanan yang sudah memegang kunci gerbang penjaranya sendiri.
"Ya, kamu benar. Semuanya sedang diproses," jawab Aulia datar.
Aulia tahu ia harus sangat berhati-hati. Seminggu ke depan adalah waktu paling berbahaya dalam hidupnya. Ia harus fokus pada peluncuran produk baru di UME yang akan menentukan kariernya, sekaligus menjaga rahasia besar ini agar tidak meledak di hadapan Rizki.
Rizki duduk kembali di sofa dengan perasaan menang, sama sekali tidak tahu bahwa dunianya akan runtuh dalam hitungan hari. Apakah Aulia akan mampu menjaga rahasia ini hingga hari ketujuh, ataukah kecurigaan Rizki akan muncul lebih awal saat melihat aktivitas Aulia di pengadilan?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.