Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahanan
Di tempat yang sangat jauh dari kedamaian vila Schwarzwald, suasana di pusat komando pribadi Richard Hoffmann terasa mencekam. Ruangan luas yang biasanya sunyi dan berwibawa itu kini dipenuhi oleh aura kemarahan yang meluap-luap.
Richard berdiri di depan barisan layar monitor besar yang menampilkan peta satelit Jerman, namun sebagian besar area di radar itu hanya menunjukkan distorsi statis berwarna abu-abu.
"Sudah berapa jam?" suara Richard terdengar rendah, namun bergetar oleh amarah yang tertahan.
"Enam jam, Tuan," jawab salah satu spesialis IT-nya dengan keringat dingin yang mengalir di pelipis. "Kami sudah melacak setiap jalur pelarian yang mungkin, memeriksa setiap CCTV jalan tol, bahkan memantau transaksi kartu kredit.
Semuanya mati. Maximilian telah memutus semua akses digitalnya."
"Sialan!" Richard menghempaskan gelas kristal ke lantai. "Anak itu... aku sendiri yang mengajarinya cara menghilang, dan sekarang
dia menggunakan ilmu itu untuk melawanku!"
Richard mondar-mandir seperti singa yang terperangkap dalam sangkar. Ia frustrasi karena ia tahu keahlian putranya. Max bukan sekadar CEO; ia adalah arsitek dari sistem keamanan perusahaan mereka. Jika Max ingin bersembunyi, dia bisa menghilang layaknya hantu.
"Lalu bagaimana dengan para pemburu yang aku kirim?" Richard menoleh ke arah kepala tim lapangannya.
"Mereka kehilangan jejak di pinggiran hutan Schwarzwald, Tuan. Area itu sangat luas dan sinyal komunikasi di sana sangat buruk. Ditambah lagi, sepertinya ada signal jammer berkekuatan tinggi yang aktif di sekitar sana. Setiap kali kami mencoba mendekati titik yang dicurigai, peralatan navigasi kami langsung lumpuh," lapor pria itu dengan wajah pucat.
Richard mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih. Ia tahu persis apa artinya itu. Putranya telah membangun benteng.
"Dia melindungi Adler," desis Richard, matanya berkilat penuh kegilaan. "Dia rela mempertaruhkan nyawanya dan posisinya hanya demi asisten itu dan ayahnya yang sudah sekarat. Bodoh! Maximilian benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya."
Ketidakpastian ini membuat Richard merasa lepas kendali. Selama sepuluh tahun, ia selalu memegang kendali atas segalanya—atas nasib Hans Adler, atas rahasia masa lalunya, dan atas hidup putranya. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, ia merasa buta.
"Kerahkan semua unit! Aku tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan. Cari setiap properti atas nama perusahaan cangkang mana pun yang pernah Max buat secara rahasia!" Richard berteriak, suaranya menggema penuh frustrasi. "Dan jika kau menemukannya, jangan beri peringatan. Bakar tempat itu sampai rata dengan tanah. Jika Max memilih untuk menjadi bagian dari masa lalu yang harus dikubur, maka biarlah dia terkubur bersama mereka!"
Richard kembali menatap layar monitor yang masih statis. Di balik amarahnya, ada rasa takut yang mulai merayap; takut bahwa jika ia tidak segera menemukan mereka, Max akan mengungkap semua kejahatannya dan meruntuhkan imperium Hoffmann yang telah ia bangun dengan darah dan kebohongan.
...****************...
Di dalam kamar sang ayah yang sunyi, suasana mendadak melunak setelah kepergian Maximilian. Hans Adler menarik napas dengan berat, masker oksigen yang tadinya menutupi mulutnya kini ia geser sedikit dengan tangan yang gemetar.
"Sophie..." panggilnya parau.
Sophie langsung mendekat, membetulkan letak selimut ayahnya dengan gerakan cemas. "Ayah, jangan banyak bicara dulu. Ayah harus istirahat."
Hans menggeleng pelan, matanya yang cekung namun penuh kebijaksanaan menatap lekat ke dalam netra putrinya. "Aku mendengar semuanya, Nak. Sejak pria itu masuk ke sini... aku sudah sadar."
Sophie terpaku, lidahnya mendadak kelu. "Ayah mendengar perdebatan kami?"
"Dan aku mendengar caramu mengusirnya," Hans tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rasa sesak. "Sophie, Ayah sudah hidup cukup lama untuk mengenali kebohongan dan ketulusan. Kau tahu, tidak ada orang yang mau bertaruh nyawa menembus api hanya untuk seseorang yang tidak berarti baginya. Dia menggendongku, Nak... di saat bahunya sendiri sedang bersimbah darah."
Sophie menunduk, jemarinya meremas kain seprai tempat tidur ayahnya. Perasaan bersalah yang tadi ia coba tekan kini mulai merembes naik ke permukaan.
"Dia seorang Hoffmann, Ayah," bisik Sophie, seolah kata itu adalah satu-satunya benteng yang tersisa untuk hatinya.
"Dia memang seorang Hoffmann, tapi dia bukan Richard," balas Hans dengan suara yang lebih tegas meski masih lemah. "Lihatlah sekelilingmu. Dia membawamu ke sini, memberikan perawatan terbaik untukku, dan sekarang dia sedang berjaga di luar sana untuk memastikan Richard tidak menyentuh kita. Dia mengkhianati ayahnya sendiri demi kau, Sophie. Apa kau pikir itu hal yang mudah bagi pria seperti dia?"
Sophie terdiam, kata-kata ayahnya menghujam tepat di ulu hatinya. Ia teringat kembali wajah pucat Max saat meminta maaf tadi—wajah seorang pria yang telah melepaskan seluruh harga dirinya demi satu kata pengampunan.
"Jangan biarkan dendammu padaku membuatmu buta pada kebaikan orang lain," lanjut Hans lembut, tangannya yang kurus menggenggam tangan Sophie. "Pria itu melakukannya dengan tulus. Jika dia ingin menghancurkan kita, dia cukup membiarkan kita mati di apartemen itu.
Tapi dia memilih untuk terbakar bersamamu."
Sophie memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan nasehat ayahnya meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun selama ini.
Semua nasehat Hans terasa benar. Ia sadar, ketakutannya untuk membuka hati sebenarnya bukan karena ia membenci Max, melainkan karena ia takut mengakui bahwa Max telah menjadi begitu berarti baginya.
Rasa bersalah itu kini terasa begitu nyata, menyesakkan dada seperti asap yang hampir membunuhnya tempo hari. Ia baru saja memperlakukan pelindungnya seperti seorang kriminal, tepat di saat pria itu sedang memberikan segalanya untuk mereka.
"Aku... aku hanya takut, Ayah," bisik Sophie pelan, air matanya menetes di tangan Hans.
"Pergilah kepadanya," ucap Hans dengan suara menenangkan. "Katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan. Sebelum badai di luar sana benar-benar datang."
Sophie mengangguk pelan. Ia berdiri, menghapus air matanya, dan menatap pintu yang tadi tertutup oleh Max. Ia tahu ia harus memperbaiki apa yang baru saja ia hancurkan.
...****************...
Sophie melangkah keluar dari kamar medis dengan perasaan yang tidak menentu. Lorong-lorong vila itu terasa begitu luas dan sepi, seolah-olah setiap sudutnya menyimpan beban rahasia yang berat. Ia menelusuri ruang tengah dan lobi utama, namun sosok Maximilian tidak terlihat di mana pun.
Langkah kaki Sophie terhenti saat ia berpapasan dengan Lucas yang baru saja muncul dari arah koridor belakang dengan walkie-talkie di tangannya.
"Lucas," panggil Sophie dengan suara tenang, namun ada nada urgensi di dalamnya. "Di mana Maximilian? Aku tidak melihatnya di kediaman utama."
Lucas sempat terdiam sejenak, menatap Sophie dengan raut wajah ragu sebelum akhirnya menjawab, "Tuan Muda sedang berada di ruang latihan bawah tanah, Nona. Beliau sedang melakukan latihan senjata."
Alis Sophie bertaut seketika. Ada desiran kekesalan yang muncul di dadanya. "Latihan senjata? Dalam kondisi bahu yang baru saja dijahit dan tubuh yang masih lemas seperti itu?"
"Saya sudah mencoba melarangnya, Nona Adler. Tapi Anda tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Tuan saat beliau merasa perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk," jawab Lucas dengan nada pasrah.
Sophie menghela napas panjang, berusaha menjaga emosinya agar tetap stabil. Ia tidak ingin tampak panik, namun ia tahu Max sedang bersikap ceroboh terhadap nyawanya sendiri.
"Antar aku ke sana sekarang, Lucas," perintah Sophie. Suaranya rendah dan terkendali, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
Lucas mengangguk hormat. "Silakan lewat sini, Nona."
Mereka menuruni tangga beton yang menuju ke bagian terdalam vila. Suasana di bawah tanah itu terasa lebih dingin dan kedap suara. Saat mereka mendekati sebuah pintu baja tebal, suara dentuman tembakan mulai terdengar samar—ritmis dan tajam.
DOR! DOR! DOR!
Setiap bunyi tembakan itu membuat jantung Sophie berdenyut aneh. Lucas membukakan pintu, memperlihatkan sebuah ruang latihan tembak yang luas dengan pencahayaan neon yang dingin. Di ujung sana, Maximilian berdiri sendirian. Ia hanya mengenakan kaus dalam hitam yang memperlihatkan balutan perban di bahu kanannya yang kini mulai nampak sedikit bercak kemerahan—darahnya merembes kembali.
Max kembali menarik pelatuk dengan fokus yang mengerikan, seolah-olah sasaran tembak di depannya adalah perwujudan dari semua monster yang menghantuinya.
Sophie berdiri diam di ambang pintu, memperhatikan punggung pria itu yang tampak begitu tegang dan rapuh di saat yang bersamaan. Ia tetap mempertahankan ekspresi tenangnya, meski dalam hati ia merasa marah melihat bagaimana Max memperlakukan tubuhnya sendiri seolah itu tidak berharga.
"Apakah kau mencoba untuk mati lebih cepat sebelum Richard benar-benar sampai di sini, Maximilian?" suara Sophie memecah keheningan ruang latihan itu, tenang namun menusuk.
Maximilian tersentak, tangannya yang memegang senjata sedikit turun. Ia menoleh perlahan, menemukan Sophie yang berdiri di sana dengan tatapan yang sulit dibaca.
Sophie melangkah maju, sepatunya mengeluarkan bunyi klik yang teratur di lantai beton yang dingin. Ia tidak tampak gentar sedikit pun dengan senjata yang masih berada di tangan Max. Ekspresinya tetap tenang, namun sorot matanya membawa ketegasan yang tak terbantahkan.
"Letakkan senjatanya, Max," ujar Sophie lembut, namun nadanya memiliki otoritas seorang ibu yang sedang mendapati anaknya melakukan kenakalan.
Max mendengus, ia memutar tubuhnya kembali ke arah sasaran tembak dan mengunci sasarannya. "Aku harus bersiap. Lucas bilang Richard mulai bergerak. Aku tidak punya waktu untuk berbaring seperti pasien sekarat."
"Kau memang tidak punya waktu jika kau pingsan di sini karena pendarahan hebat," balas Sophie. Ia kini sudah berdiri tepat di samping Max, cukup dekat hingga ia bisa melihat butiran keringat di pelipis pria itu. Sophie menjangkau tangan Max yang memegang pistol, jari-jarinya yang hangat menyentuh punggung tangan Max yang dingin. "Kembali ke kamar sekarang. Biarkan medis memeriksamu lagi."
Max menarik tangannya menjauh, namun bukan karena marah. Ia justru memalingkan wajah, bahunya sedikit tegang. "Kenapa kau peduli? Bukankah tadi kau bilang aku ini putra dari pria yang kau benci? Bukankah kau menyuruhku menjaga jarak?"
Sophie terdiam sejenak. Ia melihat perubahan sikap Max; pria yang biasanya mendominasi ini sekarang tampak seperti anak kecil yang sedang merajuk karena mainannya diambil. Keras kepala, namun ada gurat luka yang kekanak-kanakan di sana.
"Ayahku yang menyuruhku ke sini," dusta Sophie kecil, mencoba menyembunyikan rasa bersalahnya. "Dia tidak suka melihat penyelamatnya mati konyol karena kebodohannya sendiri."
"Oh, jadi hanya karena perintah Ayahmu?" Max menyipitkan mata, suaranya terdengar lebih ketus, benar-benar seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Ia meletakkan senjata itu di atas meja dengan kasar. "Kalau begitu, katakan pada Ayahmu aku tidak butuh kasihan dari seorang Adler."
Sophie hampir saja ingin tertawa melihat tingkah laku CEO yang biasanya disegani ini. Ia melangkah lebih dekat, masuk ke dalam ruang pribadi Max, lalu tangannya terangkat untuk membenarkan perban di bahu Max yang mulai bergeser.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Maximilian," bisik Sophie. Ia mendongak, menatap mata Max dengan kelembutan yang jujur. Tangan satunya menyentuh pipi Max yang kasar dengan sisa luka jelaga. "Kau sudah menyelamatkan kami. Sekarang, biarkan aku memastikan kau tetap hidup untuk melihat keadilan itu tegak. Mengerti?"
Sentuhan Sophie yang tiba-tiba membuat pertahanan Max runtuh seketika. Ia terdiam, mematung di bawah jemari Sophie yang lembut. Rasa kesal yang tadi meluap kini menguap, digantikan oleh debar jantung yang tidak karuan.
"Kau menyebalkan, Sophie," gumam Max, suaranya kini melunak, meski wajahnya masih ditekuk.
"Aku tahu. Dan kau jauh lebih menyebalkan," balas Sophie sambil tersenyum tipis—senyum tulus pertama yang ia berikan pada Max. "Sekarang, jalan. Atau aku harus menyeretmu?"
Max menghela napas panjang, menatap senyum tipis Sophie yang entah mengapa jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun di ruangan ini. Ia hampir saja melangkah menuju lift, namun langkahnya terhenti. Matanya beralih ke meja latihan, menatap senjata laras pendek yang tadi ia letakkan.
"Aku akan kembali ke kamar," ujar Max, suaranya kini kembali berat namun tanpa nada ketus. "Tapi dengan satu syarat."
Sophie mengangkat sebelah alisnya, tetap dengan sikap tenangnya yang anggun. "Syarat? Dalam kondisi seperti ini kau masih ingin bernegosiasi?"
"Dunia luar sana sedang tidak baik-baik saja, Sophie. Jika sesuatu terjadi padaku, atau jika Lucas sedang tidak di sisimu... kau harus bisa melindungi dirimu sendiri," Max berbalik, menatap Sophie dengan intensitas yang berbeda. "Kau bilang ingin melihat keadilan tegak? Keadilan butuh pelindung. Biarkan aku mengajarimu dasar-dasarnya sekarang. Hanya sepuluh menit."
Sophie sempat ingin menolak, namun melihat sorot mata Max yang penuh kekhawatiran yang tulus, ia akhirnya mengangguk pelan. "Hanya sepuluh menit, Maximilian. Setelah itu, tidak ada tawar-menawar untuk istirahat."
Max tersenyum puas, sebuah kilatan kecil muncul di matanya. Ia mengambil kembali senjata itu, memastikan pengamannya terpasang, lalu berdiri di belakang Sophie.
"Berdiri tegak. Buka kakimu selebar bahu," perintah Max. Suaranya kini berada tepat di telinga Sophie, rendah dan bergetar.
Sophie mengikuti instruksi itu. Tiba-tiba, ia merasakan tubuh besar Max merapat di punggungnya. Max melingkarkan kedua lengannya dari belakang, membungkus tubuh Sophie yang lebih kecil dalam dekapan protektifnya. Tangan kanan Max menggenggam tangan Sophie yang memegang senjata, sementara tangan kirinya menopang pergelangan tangan wanita itu.
"Jangan tegang," bisik Max. Napasnya yang hangat menyentuh leher Sophie, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Rasakan beratnya. Ini bukan sekadar alat pembunuh, ini adalah perpanjangan tanganmu untuk bertahan hidup."
Sophie mencoba fokus, namun keintiman ini sungguh menguji ketenangannya. Ia bisa merasakan detak jantung Max yang kuat di punggungnya, dan aroma cedarwood yang maskulin mulai memabukkan indranya. Tangan Max yang kasar namun hangat menuntun jari Sophie ke arah pelatuk.
"Fokus pada sasaran di depanmu, Sophie. Jangan lihat senjatanya, lihat targetnya. Bayangkan semua ketakutanmu ada di sana," gumam Max. Ia sedikit menunduk, menyandarkan dagunya di bahu Sophie, membuat posisi mereka benar-benar tak berjarak.
"Aku fokus," sahut Sophie dengan suara yang sedikit bergetar, meski ia berusaha keras menjaga nada bicaranya tetap datar.
"Bagus. Sekarang, tarik napas perlahan... buang... dan tekan pelatuknya saat kau merasa duniamu benar-benar tenang."
DOR!
Peluru melesat, menghantam bagian luar lingkaran target. Sophie tersentak oleh hentakan senjata itu, namun tubuh Max yang kokoh di belakangnya menahan guncangan tersebut, mencegahnya goyah.
"Tidak buruk untuk pemula," puji Max pelan. Ia tidak melepaskan genggamannya, justru semakin mengeratkan pelukannya sejenak, menikmati momen di mana Sophie tidak lagi mendorongnya menjauh. "Kau punya bakat untuk menjadi berbahaya, Sophie Adler."
Sophie menoleh sedikit, membuat ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Dalam jarak sedekat itu, segala dendam dan keraguan seolah memudar, menyisakan ketegangan romantis yang menyesakkan napas.
"Aku belajar dari pria yang paling berbahaya, bukan?" balas Sophie lirih.
Max menatap bibir Sophie selama beberapa detik, keinginan untuk menciumnya hampir tak tertahankan. Namun, ia mengingat kejadian di kantor waktu itu dan ia tak ingin Sophie menamparnya lagi. Dengan berat hati, ia melepaskan kuncian senjatanya dan menarik diri perlahan, meski tangannya masih enggan melepaskan jemari Sophie.
"Ayo," ajak Max, suaranya serak. "Sebelum kau berubah pikiran dan benar-benar menyeretku ke kamar."
Max melepaskan genggamannya perlahan, mencoba menjaga kewarasannya agar tidak melewati batas. Namun, saat Max hendak melangkah pergi, ia merasakan jemari lembut Sophie menahan pergelangan tangannya.
Max berhenti dan berbalik, menemukan Sophie menatapnya dengan mata yang tidak lagi dingin. Tatapannya kini dalam, jernih, dan penuh dengan emosi yang selama ini ia kunci rapat.
"Max?”bisik Sophie.
Ia tidak melepaskan tangan Max. Sebaliknya, Sophie melangkah mendekat hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap lekat-lekat wajah pria yang tampak begitu hancur namun tetap berusaha berdiri tegak sebagai pelindungnya.
"Aku belum sempat mengatakannya dengan benar," Sophie memulai, suaranya tenang namun bergetar oleh ketulusan yang mengharukan. "Selama ini aku hanya melihatmu sebagai musuh. Aku membangun dinding yang sangat tinggi karena aku takut—takut bahwa jika aku melihatmu sebagai manusia, aku akan mengkhianati penderitaan ayahku. Tapi kau... kau terus-menerus meruntuhkan dinding itu."
Sophie menarik napas panjang, jemarinya kini berpindah menggenggam kedua tangan Max.
"Terima kasih, Maximilian. Terima kasih karena telah memberiku kehangatan saat mobilmu mogok di kegelapan. Terima kasih karena telah menarikku keluar dari lift yang nyaris menjadi peti matiku. Dan yang paling utama... terima kasih karena kau telah menerjang api demi ayahku. Kau mempertaruhkan nyawamu, kau membiarkan bahumu hancur, dan kau bahkan rela dicap pengkhianat oleh ayahmu sendiri hanya untuk memastikan kami tetap bernapas."
Air mata mulai menggenang di sudut mata Sophie, namun ia tidak membiarkannya jatuh. "Kau tidak berhutang apa pun pada keluarga Adler, Max. Tapi kau memberikan segalanya. Aku melihat pengorbananmu, dan aku tidak bisa lagi berpura-pura buta. Kau bukan sekadar seorang Hoffmann bagiku sekarang. Kau adalah pria yang telah memberiku kesempatan untuk memiliki masa depan lagi. Dan untuk itu... aku benar-benar berterima kasih."
Hati Max serasa diremas mendengar pengakuan itu. Keheningan di ruang bawah tanah itu mendadak terasa begitu sakral. Max menatap Sophie dengan intensitas yang meluap, tangannya perlahan terangkat, namun ia berhenti tepat di depan pipi Sophie, ragu untuk menyentuh.
"Kau tahu..." suara Max parau, nyaris berbisik. "Aku tidak akan bisa menahan tamparan kedua jika aku melakukan apa yang sangat ingin kulakukan sekarang."
Sophie tersenyum kecil di balik genangan air matanya. Sebuah senyum yang memberikan izin tanpa perlu kata-kata. Ia meraih tangan Max yang menggantung di udara dan menempelkannya ke pipinya sendiri, membiarkan kulit mereka bersentuhan.
"Aku tidak akan menamparmu, Max. Tidak kali ini," bisik Sophie lirih.
Mendengar itu, pertahanan terakhir Max runtuh. Ia menangkup wajah Sophie dengan kedua tangan besarnya, ibu jarinya mengusap lembut air mata yang akhirnya jatuh di pipi wanita itu. Max mendekatkan wajahnya perlahan, memberikan Sophie waktu untuk menarik diri jika ia berubah pikiran. Namun, Sophie justru memejamkan mata dan sedikit berjinjit, memperkecil jarak yang tersisa.
Lalu, bibir mereka bertemu.
Ciuman itu dimulai dengan sangat lembut, seolah-olah mereka berdua takut akan menghancurkan satu sama lain. Ada rasa haru, rasa syukur, dan kerinduan yang dalam yang tersalurkan melalui sentuhan itu. Aroma vanila dari Sophie dan aroma kayu maskulin dari Max menyatu dalam keintiman yang menyesakkan napas.
Perlahan, ciuman itu menjadi lebih dalam dan penuh emosi—sebuah pelepasan dari semua ketegangan, dendam, dan ketakutan yang menghantui mereka selama berbulan-bulan. Max mengeratkan pelukannya di pinggang Sophie, menariknya seolah ingin menyatukan jiwa mereka, sementara tangan Sophie melingkar di leher Max, jemarinya tenggelam di rambut pria itu.
Di ruang bawah tanah yang dingin dan penuh dengan senjata, mereka justru menemukan kehangatan yang paling murni. Di tempat yang disiapkan untuk perang, mereka justru mendeklarasikan perdamaian di antara hati mereka.
Di bawah cahaya neon yang dingin, waktu seolah berhenti berputar. Ciuman yang awalnya ragu itu kini berubah menjadi gelombang kebutuhan yang mendesak, menghancurkan sisa-sisa logika yang mereka miliki. Max, yang selama ini selalu mengendalikan segala aspek hidupnya, kini benar-benar kehilangan kendali di bawah sentuhan Sophie.
Sambil tetap menautkan bibir mereka dalam ciuman yang semakin dalam dan menuntut, Max menggiring tubuh Sophie mundur secara perlahan. Langkah mereka goyah, terseret oleh gairah yang meluap, hingga kaki Sophie menyentuh pinggiran sofa kulit hitam yang terletak di sudut ruang latihan tersebut.
Max tidak melepaskan tautannya bahkan saat mereka terjatuh bersama ke atas sofa empuk itu. Berat tubuh Max yang kokoh kini menindih Sophie, mengurungnya di antara bantalan sofa dan dekapan hangatnya. Sophie tidak menghindar; sebaliknya, ia menarik kerah kaus Max, membawa pria itu semakin merapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka.
Di sinilah, di ruangan yang sunyi dan tersembunyi, Max benar-benar kehilangan kewarasannya. Aroma vanila dari kulit Sophie menyerbu indranya, lebih memabukkan daripada alkohol mana pun. Tangan Max yang besar dan kasar merayap dari pinggang Sophie, naik perlahan hingga jemarinya tenggelam di rambut panjang Sophie, mencengkeramnya dengan kelembutan yang posesif.
"Sophie..." gumam Max di sela ciumannya, suaranya terdengar seperti geraman rendah yang penuh rasa lapar sekaligus pemujaan.
Ia beralih dari bibir Sophie, menanamkan ciuman-ciuman panas di sepanjang garis rahang dan turun ke leher wanita itu. Max bisa merasakan denyut nadi Sophie yang berpacu kencang di bawah kulitnya—sebuah bukti bahwa wanita ini merasakan debaran yang sama hebatnya. Seluruh kemarahan, kecemburuan terhadap Lucas, dan rasa sakit akibat pengkhianatan ayahnya menguap, digantikan oleh obsesi murni untuk memiliki Sophie seutuhnya.
Napas Max memburu, terasa panas di ceruk leher Sophie saat bibirnya terus menjajaki kulit lembut wanita itu. Dunianya kini hanya sebatas aroma vanila dan kehangatan tubuh Sophie di bawahnya. Namun, tepat ketika jemari Max mulai merayap naik ke dalam pakaian Sophie dan gairah itu hampir membakar habis nalar mereka, Sophie meletakkan telapak tangannya di dada Max, menahan pria itu dengan tekanan lembut namun pasti.
"Max... tunggu," bisik Sophie, suaranya serak dan sedikit terengah.
Max terhenti, wajahnya terkubur di leher Sophie selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mendongak perlahan. Matanya yang gelap tampak berkabut oleh hasrat yang luar biasa, menatap Sophie dengan tatapan memohon yang jarang sekali ia tunjukkan.
"Belum waktunya, Max," ucap Sophie lembut, jemarinya mengusap rahang tegas Max untuk menenangkan gejolak di sana. "Bukan di sini, bukan dalam keadaan seperti ini. Aku ingin... saat kita melakukannya, dunia tidak sedang mencoba membunuh kita."
Max menghela napas panjang yang terasa berat, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya yang sempat tercerai-berai.
Meskipun ada gurat kekecewaan yang tak bisa ia sembunyikan, ia tidak memaksa. Max menundukkan kepalanya, menyandarkan dahi di bahu Sophie sejenak sebelum mengangguk pelan.
"Kau benar," gumam Max serak. "Aku tidak ingin menghancurkan momen ini hanya karena aku kehilangan akal sehat. Aku ingin kau menginginkannya sebesar aku menginginkanmu, Sophie. Aku akan menunggu."
Max perlahan mulai bangkit untuk memberikan ruang, namun ia masih enggan beranjak sepenuhnya dari sisi Sophie. Melihat raut wajah Max yang tampak sedikit lesu dan kecewa—seperti seorang pria yang baru saja dipaksa bangun dari mimpi indahnya—Sophie merasa hatinya melunak.
Tanpa melepaskan pelukannya, Sophie menarik wajah Max mendekat. Masih dalam posisi terbaring di sofa, Sophie mendaratkan ciuman yang lembut dan lama di pipi Max, membiarkan bibirnya bersentuhan dengan kulit pria itu dalam sebuah gestur penuh kasih sayang.
Sentuhan sederhana itu seketika menghapus awan mendung di wajah Max. Sebuah senyuman bahagia yang tulus merekah di bibirnya—senyuman yang jarang sekali terlihat, yang membuat wajah kaku sang CEO Hoffmann itu tampak jauh lebih muda dan hidup.
"Kau tahu, Sophie?" bisik Max, ia merunduk dan mengecup kening Sophie dengan sangat dalam. "Aku sudah menghabiskan seluruh hidupku untuk mengejar kekuasaan dan nama keluarga. Tapi baru sekarang, di ruangan dingin ini, dengan hanya memilikimu di pelukanku... aku merasa seperti pria paling kaya di dunia.”
Ia menatap mata Sophie dengan binar yang tak lagi menyembunyikan apa pun. "Mulai detik ini, duniaku bukan lagi tentang Hoffmann Motors. Duniaku adalah kau."
Sophie tersenyum, hatinya terasa penuh. Ia membantu Max untuk bangun dan merapikan pakaian mereka, menyadari bahwa meski badai Richard sedang menuju ke arah mereka, setidaknya malam ini mereka tidak lagi bertarung sendirian.