Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AIR MATA YANG MENETES DI MALAM HARI
Malam setelah pengakuan di depan keluarga besar, Arini dan Rizky memutuskan untuk pulang ke rumah lama mereka – tempat yang dulu menjadi bukit harapan keluarga mereka, namun kemudian ditinggalkan karena masalah yang terjadi.
Rumah itu terletak di daerah yang tenang, dengan taman kecil di belakang yang pernah menjadi tempat bermain Tara saat dia masih balita.
Ketika mereka sampai, pintu rumah masih terkunci rapat dan sebagian besar lampu di dalamnya padam.
Rizky membuka pintu dengan kunci yang sudah lama tidak digunakan, dan mereka masuk ke dalam ruangan yang terasa dingin dan penuh dengan debu.
Udara terasa sangat sunyi, seolah rumah itu juga meratapi kehilangan kehangatan keluarga yang dulu menghuninya.
"Rumah ini sudah sangat berbeda ya," ujar Arini dengan suara yang pelan, sambil melihat ke sekeliling ruang tamu yang pernah penuh dengan tawa dan candaan.
Foto-foto keluarga masih terpampang di dinding, namun sudah tertutup lapisan debu tipis.
Rizky mengangguk perlahan. "Saya sudah tidak pernah datang ke sini semenjak kamu dan Tara pergi tinggal dengan ibu kamu. Saya merasa terlalu bersalah untuk memasuki rumah yang dulu kita jadikan surga bersama."
Mereka mulai membersihkan rumah secara perlahan, membuka semua jendela agar udara segar bisa masuk.
Tara yang sudah terbangun dari tidurnya di mobil segera menemukan mainan-mainan lama yang tersimpan di lemari bawah tangga – boneka beruang besar yang pernah dia suka, mobil-mobilan kayu, dan buku cerita bergambar yang sudah mulai lapuk.
"Mama! Papa! Lihat dong, mainan lama saya masih ada!" teriak Tara dengan senang, segera mulai bermain dengan mereka di lantai ruang tamu.
Saat anak itu asik bermain, Arini dan Rizky duduk bersama di sofa yang dulu sering mereka gunakan untuk menonton film bersama.
Arini mengambil kain lap dan mulai membersihkan debu dari permukaan meja kopi kecil di depan sofa, di mana sebuah bingkai foto keluarga masih ditempatkan dengan rapi.
"Itu foto saat kita liburan ke pantai tahun lalu kan?" tanya Arini sambil melihat foto itu dengan hati yang penuh dengan kenangan.
Di foto itu, mereka berdua sedang memegang tangan Tara yang sedang tertawa riang sambil mengejar ombak kecil di pantai.
"Ya," jawab Rizky dengan suara yang sedikit bergetar. "Saya masih ingat betul hari itu. Kamu bilang itu adalah hari yang paling bahagia dalam hidupmu."
Arini menutup matanya sejenak, mencoba menahan air mata yang ingin menetes. "Saya memang merasa sangat bahagia saat itu. Saya berpikir bahwa kebahagiaan itu akan bertahan selamanya, bahwa kita akan selalu bersama seperti itu."
Rizky mengambil tangannya dengan lembut. "Saya sangat menyesal telah merusak semua itu, sayang. Saya tidak bisa membayangkan betapa sakitnya hati kamu saat mengetahui tentang apa yang saya lakukan dengan Lina. Saya tidak punya kata-kata untuk meminta maaf yang cukup besar untuk kesalahan saya."
Air mata akhirnya menetes di pipi Arini, mengalir lepas tanpa bisa ditahan lagi.
"Saya merasa seperti dunia saya runtuh saat itu, Rizky. Saya merasa seperti orang yang saya cintai dan percayai sepenuhnya telah mencuri bagian terpenting dari hidup saya. Ada malam-malam dimana saya tidak bisa tidur karena menangis, bertanya-tanya apa yang salah dengan saya, mengapa kamu harus melakukan hal seperti itu padaku."
Rizky juga merasa matanya berkaca-kaca. Dia menarik istri nya lebih dekat dan memeluknya dengan erat, membiarkan air matanya juga menetes bebas.
"Saya tidak punya alasan yang bisa membenarkan tindakan saya. Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya telah melakukan kesalahan yang sangat besar, dan saya akan melakukan apa saja untuk memperbaiki semua itu."
Mereka berpelukan begitu lama di sofa itu, menangis bersama dalam kesunyian rumah yang dulu penuh dengan kebahagiaan.
Tara yang sedang bermain melihat mereka dan segera mendekat, kemudian masuk ke dalam pelukan mereka berdua.
"Kenapa Mama dan Papa menangis ya?" tanya anak kecil itu dengan suara yang khawatir, kemudian mencium pipi Arini dan Rizky masing-masing. "Jangan menangis lagi ya. Saya cinta Mama dan Papa."
Arini mengelus rambut Tara dengan lembut, mencoba menenangkan diri. "Kita tidak menangis karena sedih nak, kita hanya menangis karena merasa sangat cinta satu sama lain."
Setelah itu, mereka memutuskan untuk memasak makan malam bersama di dapur rumah lama.
Arini menemukan beberapa bahan makanan yang masih bisa digunakan di lemari pendingin dan lemari makanan, sementara Rizky membersihkan kompor dan peralatan masak yang sudah lama tidak digunakan.
Tara membantu mereka dengan cara yang dia bisa – mencuci sayuran kecil yang akan digunakan untuk membuat sup, dan menyusun piring serta sendok di atas meja makan.
Selama memasak, mereka mulai berbicara tentang masa lalu dengan lebih terbuka dari sebelumnya.
Rizky menceritakan bagaimana dia merasa sangat tertekan dengan tekanan kerja dan harapan keluarga untuk membuat perusahaan berkembang lebih besar, bagaimana dia merasa tidak cukup baik untuk memenuhi semua ekspektasi itu, dan bagaimana dia salah mengambil jalan untuk mencari pelarian dari semua tekanan itu.
"Saya merasa seperti saya tidak punya tempat untuk berbagi semua perasaan itu," ujar Rizky sambil mengaduk sup yang sedang mendidih di atas kompor.
"Saya berpikir bahwa jika saya menyampaikannya padamu, kamu akan merasa terbebani atau melihat saya sebagai orang yang lemah."
Arini menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Kamu salah besar, Rizky. Saya adalah istri kamu – tempat untuk berbagi segala sesuatu, baik suka maupun duka. Saya akan selalu ada untukmu, tidak peduli apa yang terjadi."
Mereka makan malam bersama di meja makan yang sudah mereka gunakan selama bertahun-tahun.
Makanan yang mereka masak tidak terlalu mewah – hanya sup sayuran hangat dan roti bakar – namun rasanya sangat nikmat di lidah mereka karena disiapkan bersama dengan cinta.
Setelah makan malam, mereka membersihkan dapur bersama dan kemudian pergi ke taman belakang rumah.
Bulan sudah muncul dengan terang di langit malam, dan udara malam terasa segar dan sejuk.
Mereka duduk bersama di bangku kayu yang pernah mereka gunakan untuk menikmati pemandangan matahari terbenam.
"Kamu masih ingat saat kita pertama kali membeli rumah ini?" tanya Arini dengan suara yang lembut. "Kita bekerja sama membersihkan taman ini dari rerumputan yang tinggi, dan kamu berkata bahwa suatu hari nanti kita akan memiliki anak yang akan bermain di sini."
"Ya, saya masih ingat," jawab Rizky dengan senyum hangat. "Dan sekarang kita memang memiliki anak yang cantik dan cerdas yang suka bermain di taman ini."
Tara sedang berlari-lari kecil di sekitar taman, mengejar kupu-kupu yang masih terbang meskipun sudah malam hari.
Suara tawanya yang ceria memenuhi udara malam yang tenang, membuat hati Arini dan Rizky menjadi lebih ringan.
"Saya ingin kita bisa hidup kembali di sini, sayang," ujar Rizky dengan serius. "Saya ingin rumah ini kembali menjadi tempat yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta seperti dulu. Saya ingin membuat semua impian kita menjadi kenyataan."
Arini melihatnya dengan mata yang penuh dengan harapan. "Saya juga ingin itu, Rizky. Tapi kita harus melakukannya dengan hati-hati, perlahan tapi pasti. Kita tidak bisa hanya kembali seperti tidak ada apa-apa yang terjadi. Kita perlu membangun kembali rumah ini bersama dengan cinta dan kepercayaan yang baru."
Rizky mengangguk dengan penuh pengertian. "Saya mengerti, sayang. Saya tidak akan memaksamu untuk melakukan sesuatu yang kamu belum siap. Kita akan melakukannya dengan kecepatan yang kamu nyaman."
Mereka berdiri dan mulai berjalan perlahan di sekitar taman, menyaksikan Tara yang masih asik bermain.
Arini merasa bahwa malam itu adalah momen penting bagi keluarga mereka – saat mereka akhirnya bisa menghadapi masa lalu dengan terbuka, menangis bersama atas kesalahan yang terjadi, dan mulai melihat ke arah masa depan dengan harapan yang baru.
Air mata yang mereka tolak telah membersihkan hati mereka dari rasa sakit dan dendam yang telah menyakitinya selama ini.
Mereka tahu bahwa masih banyak jalan yang harus ditempuh dan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membangun kembali keluarga yang mereka cintai, namun dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka yakin bahwa mereka bisa melewati segala rintangan yang akan datang.
Ketika mereka masuk kembali ke dalam rumah dan menyalakan semua lampu, ruangan yang dulu terasa dingin dan sunyi kini mulai terasa hangat dan penuh dengan kehidupan kembali.