NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Malam yang mengguncang

Ambulan berhenti di halaman kecil sebuah klinik 24 jam. Petugas jaga segera membantu memindahkan Julian ke ruang IGD, sementara Raina berdiri terpaku di depan pintu, napasnya masih belum teratur setelah perjalanan yang terasa begitu panjang.

“Minum dulu.”

Suara Fahri memecah kegugupan Raina. Dia menyodorkan air mineral dingin yang baru saja dibelinya.

Raina menerimanya pelan. “Makasih, Mas.” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.

“Duduk dulu. Kamu dari tadi gemetaran.”

Raina menurut, tapi menunduk. Dia bukan tipe yang nyaman diperhatikan. “Aku… cuma kaget. Kirain tadi itu sampah.tapi ternyata....”

Fahri tersenyum kecil. “Kamu itu emang agak nekat ya, Na. Bisa saja kamu abaikan apa yang kamu lihat tadi .”

Raina menggeleng. “ Aku nggak tau, aku juga bingung , rasa penasaran ku jauh lebih besar”Jawab Raina setelah ia minum dan hampir menghabiskan minumannya.

Percakapan mereka terhenti ketika seorang dokter keluar dari ruang IGD. “Siapa yang menemani pasien?”

Raina berdiri spontan. “S-saya, Dok.”

Dokter membaca sesuatu di papan kecilnya. “Kondisinya cukup kritis. Banyak memar dalam, kemungkinan gegar otak, dan tekanan darahnya rendah. Kami lakukan tindakan awal, tapi fasilitas kami terbatas.”

Raina menelan ludah. “Berarti… dia bisa selamat?”

“Kami belum bisa memastikan. Sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit besar.”

Fahri bertanya, “Harus sekarang, Dok?”

“Semakin cepat semakin baik. Tapi… kami sarankan satu hal lagi.” Dokter menatap mereka dengan serius. “Kasus ini tidak wajar. Pasien seperti mengalami benturan keras dan… cara dia ditemukan juga mencurigakan. Kalian sebaiknya lapor polisi.”

Raina menggenggam botol air di tangannya. Tangannya terasa dingin. “B-baik, Dok.”

---

Raina pergi ke kantor polisi terdekat di temani Fahri. Begitu sampai Raina langsung melaporkan apa yang terjadi,Raina menjelaskan semuanya dengan kalimat singkat dan patah-patah,dia memang tidak terbiasa bicara panjang lebar.

Petugas mencatat cepat. “Kami kirim tim ke lokasi. Kamu sudah sangat membantu,” katanya.

"Dan ya saya akan ikut ke klinik, rujuk saja ke RS Bhayangkara "Ucap sang polisi yang bernama Diki.

Raina mengangguk kecil sebelum kembali ke klinik, merasa seluruh tubuhnya melemah setelah ketegangan tadi.

Di IGD, dokter sudah menyiapkan surat rujukan. “Ambulan kami bisa antar, Fahri kamu supirnya,tapi kalian harus cepat.”

Raina melihat laki laki yang belum di ketahui namanya itu terbaring tak bergerak di ranjang dorong. Wajahnya pucat, tubuhnya penuh luka. Meski mereka tak saling kenal, Raina tiba-tiba merasakan dorongan kuat—seperti tanggung jawab yang muncul entah dari mana.

“Mas… dia kira-kira bisa sadar, kan?” bisiknya tanpa menatap Fahri.

Fahri menarik napas, tidak ingin memberi harapan palsu. “Kita cuma bisa bantu semampunya dulu, Na.”

Raina menatap lagi ke arah ranjang. Lampu IGD yang dingin membuat bayangan di wajah Julian tampak lebih tajam, nyaris tidak hidup. Saat para perawat mulai mendorong ranjangnya ke ambulan untuk rujukan, tubuh Julian sempat tersentak kecil—refleks atau sesuatu yang lain, tak ada yang tahu.

Raina membeku.

Fahri juga melihatnya. “Na… kamu lihat?”

Raina mengangguk pelan, jantungnya berdetak cepat tanpa alasan yang jelas.

Dokter menoleh singkat. “Itu bisa jadi respons saraf… atau bisa juga tanda lain. Kita lihat nanti di rumah sakit besar.”

Namun kata-kata itu tak benar-benar menjawab apa pun.

Ambulan kembali menjerit.

Raina naik ke dalamnya, duduk diam dengan kedua tangan mengepal, tidak tahu kenapa ia merasa… sesuatu besar baru saja dimulai.

Dan laki laki yang terbaring di depannya itu masih blum sadarkan diri , seolah menyimpan rahasia yang belum siap terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!