NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Dilema Hati

#

Dua hari.

Dua hari Bapak di ruang rawat inap. Dua hari aku nggak pulang. Cuma duduk di kursi sebelah kasur Bapak—kursi plastik yang bikin bokong pegel, punggung remuk. Tapi aku nggak peduli.

Yang penting aku ada di samping Bapak.

Bapak tidur terus. Sesekali bangun, minum obat, terus tidur lagi. Napasnya pelan. Wajahnya pucat. Bibir kering pecah-pecah. Rambutnya—yang tadinya cuma putih dikit—sekarang kayak tambah putih semua.

Kayak... kayak dia tua sepuluh tahun dalam dua hari.

"Bapak... maafin Zahra... ini semua salah Zahra..."

Aku bisik sendiri. Sambil pegang tangan Bapak yang dingin. Kulitnya keriput. Tulangnya kerasa jelas. Badannya makin kurus—tinggal kulit bungkus tulang.

"Ya Allah... tolong sembuhin Bapak... tolong... Zahra rela apapun asal Bapak sembuh..."

TOK TOK TOK.

Ketukan pintu kamar.

"Zahra? Ini Bu Ria. Boleh masuk?"

"Boleh, Bu..."

Bu Ria masuk sambil bawa kantong plastik. Isinya nasi bungkus, air mineral, sama pisang.

"Ini buat kamu. Makan ya. Dari kemarin kamu nggak makan."

"Bu... Zahra nggak laper..."

"Bohong. Kamu kurus banget. Muka pucat. Mata cekung." Bu Ria taro kantong plastik di meja kecil samping kasur. "Makan. Kalau kamu sakit, siapa yang urus Bapak kamu?"

Aku diem. Bu Ria bener.

"...makasih, Bu."

"Sama-sama. Oh iya, Mas Arkan tadi nelpon aku lagi. Dia nanya kamu gimana. Dia... dia pengen kesini tapi kamu nggak ngizinin."

Jantung ku nyesek denger nama dia.

"...Bu, tolong... tolong bilang ke Mas Arkan... jangan... jangan dateng dulu. Zahra... Zahra belum siap ketemu dia."

"Kenapa? Dia kan khawatir sama kamu."

"Karena... karena Bapak sakit gara-gara dia, Bu. Gara-gara... gara-gara Zahra ngeyel sama Bapak soal dia. Kalau Zahra ketemu dia sekarang... nanti Bapak makin sakit."

Bu Ria diem. Terus duduk di kursi sebelah aku.

"Zahra, Ibu mau ngomong jujur. Boleh?"

"...boleh, Bu."

"Bapak kamu sakit bukan gara-gara Mas Arkan. Bapak kamu sakit gara-gara jantungnya memang udah lemah. Gara-gara dia terlalu mikir berat. Gara-gara... gara-gara dia terlalu sayang sama kamu sampe dia stress sendiri."

"Tapi... tapi kalau Zahra nggak deket sama Mas Arkan, Bapak nggak bakal stress—"

"Zahra." Bu Ria pegang bahu ku. "Bapak kamu stress karena dia takut kehilangan kamu. Takut kamu... kamu ninggalin agama kamu. Bukan karena Mas Arkan jahat. Tapi karena... karena dia cuma punya kamu. Dan dia nggak mau kehilangan satu-satunya yang dia punya."

Air mata keluar. Lagi.

"Bu... Zahra nggak mau ninggalin Bapak... Zahra juga nggak mau ninggalin agama Zahra... tapi... tapi Zahra juga... Zahra juga cinta sama Mas Arkan..."

"Ibu tau. Tapi Zahra... kamu harus pilih. Mana yang lebih penting buat kamu."

"Zahra nggak bisa pilih, Bu... keduanya penting..."

"Kalau kamu nggak pilih, nanti kamu kehilangan keduanya." Bu Ria berdiri. "Pikirin baik-baik, Zah. Ibu pergi dulu. Jaga Bapak kamu ya."

Bu Ria keluar. Ninggalin aku sendirian lagi sama Bapak yang tidur.

Aku natap wajah Bapak yang damai. Wajah yang... yang dulu sering senyum. Dulu suka becanda. Dulu kuat.

Sekarang? Sekarang Bapak rapuh. Lemah. Kayak... kayak bisa ilang kapan aja.

"Bapak... tolong jangan ninggalin Zahra... tolong..."

---

Sore itu, Bapak bangun. Matanya kebuka pelan. Natap langit-langit dulu. Terus nengok ke aku.

"...Zahra..."

"Bapak! Alhamdulillah... Bapak udah bangun..." Aku langsung ambil air putih. "Bapak minum dulu..."

Bapak minum. Pelan. Tangannya gemetar—aku bantu pegang gelas.

"...kamu... kamu dari kemarin disini?"

"Iya, Pak. Zahra nggak pulang. Zahra... Zahra takut Bapak kenapa-kenapa..."

Bapak senyum lemah. "Anak Bapak... anak yang baik..."

"Bapak jangan ngomong kayak gitu... Zahra... Zahra anak durhaka... Zahra bikin Bapak sakit..."

"Bukan salah kamu..." Bapak pegang tangan ku. Lemah. "Salah Bapak... Bapak yang terlalu keras... terlalu... terlalu egois..."

"Bapak nggak egois! Bapak cuma... cuma sayang sama Zahra..."

"Iya. Bapak sayang sama kamu. Makanya... makanya Bapak takut kehilangan kamu."

Aku nangis. "Bapak nggak bakal kehilangan Zahra... Zahra janji... Zahra nggak bakal kemana-mana..."

Bapak diem lama. Natap aku dalam.

"Zahra... Bapak mau minta sesuatu sama kamu."

"Apa, Pak? Apapun. Zahra bakal lakuin."

"...Bapak mau kamu janji. Janji sama Bapak... sama Allah... kalau kamu... kalau kamu nggak bakal ninggalin Islam. Apapun yang terjadi."

Jantung ku berhenti sedetik.

"Bapak..."

"Bapak nggak minta kamu putus sama dia. Bapak tau... Bapak tau kamu cinta sama dia. Dan Bapak... Bapak nggak bisa maksa hati kamu." Bapak ambil napas pelan. Susah. "Tapi Bapak minta... minta kamu janji... kalau agama kamu... agama kamu nggak boleh diganggu gugat. Kamu tetep sholat. Kamu tetep puasa. Kamu tetep jadi muslimah yang baik. Apapun... apapun yang terjadi dengan dia."

"Bapak... Zahra... Zahra janji... Zahra nggak bakal ninggalin Islam... nggak bakal..."

"Kalau dia nggak masuk Islam... kamu... kamu harus rela ngelepas dia. Kamu nggak boleh... nggak boleh ikut ke gereja. Nggak boleh... nggak boleh sembahyang sama dia. Nggak boleh... nggak boleh nikah kecuali dia masuk Islam dengan tulus. Kamu... kamu janji?"

Tenggorokan ku kayak dicekek. Napas sesak.

"...Bapak, kalau... kalau dia nggak jadi masuk Islam... terus... terus gimana?"

"Kamu lepas dia." Bapak natap aku sedih. "Zahra, dengerin Bapak. Allah berfirman dalam Quran... dalam surat Al-Baqarah ayat 221... 'Dan janganlah kamu menikahi orang-orang musyrik, sebelum mereka beriman.' Itu... itu firman Allah, Zahra. Bukan kata-kata Bapak. Bapak cuma... cuma ngingetin kamu."

Aku nunduk. Air mata jatuh ke tangan ku yang megang tangan Bapak.

"Tapi Bapak... Mas Arkan... dia lagi belajar... dia... dia serius..."

"Kalau dia serius, dia bakal masuk Islam. Dengan hati yang ikhlas. Bukan karena cinta. Tapi karena... karena dia percaya Allah itu Tuhan yang Maha Esa. Kalau dia masuk Islam karena cinta... nanti dia bakal murtad. Dan kamu... kamu bakal jadi istri yang sengsara."

"Bapak..."

"Zahra, Bapak cuma mau kamu bahagia. Bahagia yang... yang berkah. Yang... yang direstui Allah. Bukan bahagia yang... yang bikin kamu kehilangan akhirat kamu." Bapak batuk pelan. "Zahra... dunia ini cuma sementara. Tapi akhirat... akhirat itu kekal. Jangan... jangan korbanin akhirat kamu... demi cinta dunia..."

Aku nangis makin keras. "Tapi Zahra cinta dia, Pak... Zahra... Zahra nggak tau gimana caranya lepas..."

"Berdoa. Minta Allah kuatkan hati kamu. Minta Allah... minta Allah bukakan hati dia untuk Islam. Atau... atau minta Allah jauhkan kamu dari dia kalau dia memang bukan jodoh kamu. Allah itu Maha Mendengar, Zahra. Dia... Dia tau apa yang terbaik buat kamu."

Aku peluk Bapak. Erat. Nangis di dada Bapak yang kurus.

"Zahra takut, Pak... Zahra takut kehilangan Mas Arkan... tapi Zahra juga takut... takut kehilangan Bapak... kehilangan Allah..."

Bapak usap kepala ku. Pelan. Sayang.

"Kamu nggak bakal kehilangan Allah kalau kamu tetep teguh sama iman kamu. Dan kalau Mas Arkan... kalau dia beneran jodoh kamu... Allah bakal kasih jalan. Percaya sama Allah, Zahra. Dia... Dia nggak bakal ngecewain kamu."

"...Zahra percaya, Pak. Zahra percaya."

"Sekarang... janji sama Bapak. Janji kalau kamu nggak bakal ninggalin Islam. Apapun yang terjadi."

Aku angkat kepala. Natap mata Bapak yang berkaca-kaca.

"...Zahra janji, Pak. Zahra... Zahra nggak bakal ninggalin Islam. Zahra bakal tetep jadi muslimah yang baik. Zahra... Zahra janji sama Allah... sama Bapak..."

Bapak senyum. Senyum lega.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah..."

Dan Bapak tidur lagi. Tenang. Damai.

Sementara aku... aku duduk di kursi itu sambil nangis diam-diam.

Karena aku baru nyadar...

Janji ku ke Bapak... janji ku ke Allah...

Itu artinya... aku harus rela.

Rela kehilangan Arkan... kalau dia nggak jadi masuk Islam.

"Ya Allah... kenapa... kenapa janji ini berat banget?"

---

Malem itu, aku sholat maghrib di musholla rumah sakit. Sendirian. Di ruangan kecil yang sepi.

Sujud lama. Lama banget.

"Ya Allah... hamba bingung... hamba cinta dia... tapi hamba juga cinta pada-Mu... hamba... hamba nggak mau kehilangan Engkau... tapi hamba juga nggak mau kehilangan dia..."

Air mata basahin sajadah.

"Ya Allah... kalau dia jodoh hamba... tolong bukakan hatinya untuk Islam... tolong tunjukkan kebenaran padanya... biar dia masuk Islam karena yakin... bukan karena cinta... tapi kalau dia bukan jodoh hamba... tolong... tolong kuatkan hati hamba buat ngelepas dia... tolong... tolong jangan biarkan hamba tersesat..."

Aku sujud sampe punggung pegal. Sampe lutut kebas. Sampe napas sesak.

Tapi aku nggak mau bangun.

Karena di sujud ini... aku ngerasa deket sama Allah.

Karena di sujud ini... aku ngerasa... ngerasa ada yang dengerin tangisan ku.

"Ya Allah... hamba serahkan semuanya pada-Mu... hamba nggak kuat sendiri... tolong... tolong tunjukkan jalan yang benar..."

---

Besok paginya, HP ku bunyi. Puluhan pesan dari Arkan yang nggak sempet aku baca kemarin.

**Arkan:**

*"Zahra, aku khawatir banget. Kamu baik-baik aja?"*

*"Tolong kabarin aku. Aku... aku nggak bisa tidur mikirin kamu."*

*"Zahra, aku tau kamu lagi susah. Tapi... tapi aku disini. Aku siap bantuin apapun."*

*"Aku cinta kamu. Apapun yang terjadi. Aku nggak bakal ninggalin kamu."*

Aku baca semua pesan itu sambil nangis.

Terus aku ketik bales:

*"Mas, maaf baru bales. Bapak udah lebih baik. Tapi... tapi Zahra... Zahra butuh waktu sendiri dulu. Zahra harus mikirin banyak hal. Tolong... tolong jangan dateng dulu. Nanti... nanti Zahra yang hubungin Mas. Maaf."*

Kirim.

Beberapa detik kemudian, Arkan bales:

*"Aku ngerti. Aku tunggu kamu. Berapa lama pun. Aku... aku nggak bakal kemana-mana."*

Aku tutup HP. Simpen di saku.

Natap Bapak yang tidur damai.

"Bapak... Zahra udah janji sama Bapak... Zahra bakal pegang janji itu... tapi... tapi tolong... tolong doain Mas Arkan bisa masuk Islam dengan hati yang ikhlas... tolong, Pak... Zahra... Zahra nggak mau kehilangan dia..."

Tapi janji ku ke Bapak... janji ku ke Allah...

Itu udah jelas.

Kalau Arkan nggak masuk Islam...

Aku harus rela.

Rela ngelepas cinta ku.

Demi agama ku.

Demi... demi akhirat ku.

Meskipun itu artinya...

Hati ku bakal hancur berkeping-keping.

---

**BERSAMBUNG KE BAB 15...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!