NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 : Kontrak yang Dibakar

Dinginnya marmer di dinding Chamberí perlahan menghilang, digantikan oleh panas yang membakar kulit Alicia. Ciuman Rafael bukan hanya janji; itu adalah sebuah ultimatum—sebuah tuntutan yang tidak bisa dinegosiasikan. Gairah yang dilepaskan Rafael sangat kejam, mentah, dan tidak pernah dialami Alicia selama sepuluh tahun pernikahannya yang hambar.

Di dalam kamar tidur utama yang gelap, yang hanya diterangi oleh pantulan lampu kota Madrid, Rafael melepaskan kemejanya. Ia melakukannya dengan gerakan tergesa-gesa yang mengungkapkan lapisan demi lapisan kekuatan fisik yang tersembunyi. Otot-otot yang terbentuk sempurna, garis rahang yang tegas, dan mata madu gelap yang kini berfokus sepenuhnya pada Alicia, seperti predator yang akhirnya mengunci mangsanya.

Alicia terengah. Ia merasakan kekuatannya goyah, tetapi ia menolak untuk menjadi pasif. Dia adalah Alicia Valero, wanita yang tidak menyerahkan kendali, bahkan dalam momen kehancuran yang paling intim.

“Aku bukan Isabel, Rafael,” bisik Alicia, suaranya sedikit serak, tetapi matanya menantang. “Aku tidak akan menjadi selingan murahanmu.”

Rafael tersenyum, matanya menyala. Senyum itu tidak mencapai bibirnya; itu adalah seringai berbahaya yang hanya dimiliki oleh pria yang tahu nilai dirinya.

“Aku tahu, mi reina. Isabel adalah kehancuran yang lemah. Kau adalah kehancuran yang setara,” jawab Rafael, suaranya dalam dan menggetarkan. Ia mendekat, memeluk tubuh Alicia dengan intensitas yang tak terduga.

Ia tidak melucuti pakaiannya dengan tergesa-gesa; sebaliknya, ia melakukannya dengan kesengajaan yang menenangkan, seolah setiap helai sutra yang dilepaskan adalah sebuah janji. Camisole sutra itu meluncur ke lantai, memperlihatkan tubuh Alicia yang ramping dan kencang—bukti disiplin dan kemewahan.

“Kau telah menghabiskan bertahun-tahun membangun kerajaan dan martabatmu, Alicia. Dan sekarang, kau di sini, telanjang di depan musuh terbesarmu. Apa yang kau harapkan dari negosiasi ini?” tanya Rafael, jemarinya menjelajahi lekuk tubuh Alicia dengan sentuhan yang membuat kulitnya merinding.

“Aku mengharapkan kebenaran,” desis Alicia, tangannya bergerak naik untuk mencengkeram rambut tebal Rafael. “Kebenaran yang tidak pernah diberikan Santiago kepadaku. Aku ingin kau membuatku melupakan bau gardenia murahan itu.”

Rafael membalas tatapan matanya, hasratnya begitu eksplisit hingga hampir menyakitkan. “Aroma itu akan kubakar. Aku akan membakar semuanya, Alicia. Dan kita akan membangun sesuatu yang baru dari abunya. Sesuatu yang lebih kuat, dan jauh lebih mematikan.”

Ia mengangkat Alicia ke dalam pelukannya. Tubuh Alicia yang dingin dari marmer bertemu dengan kehangatan Rafael yang membara.

Ranjang lebar itu diselimuti sutra gelap, kontras dengan kulit Alicia yang seputih gading. Rafael menempatkan Alicia di tengah ranjang, menjadikannya fokus tunggalnya.

Rafael membungkuk di atasnya, menciumnya lagi. Ciuman itu sekarang adalah eksplorasi. Ia menjelajahi setiap inci kulit Alicia, dari leher hingga tulang selangka. Setiap sentuhan, setiap jilatan, adalah negosiasi yang mendalam, sebuah pertanyaan dan jawaban yang hanya bisa dipahami oleh tubuh mereka.

Alicia tidak pasif. Dia membalikkan keadaan, mendorong Rafael ke punggungnya. Ia merangkak ke atasnya, membiarkan tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuh Rafael. Ia adalah wanita yang terbiasa memimpin.

“Kau bukan satu-satunya yang memegang kendali di sini, Tuan Montenegro,” bisik Alicia, suaranya penuh kemenangan yang berbahaya. Ia merasakan otot-otot perut Rafael yang tegang di bawahnya, respons pria itu terhadap dominasi yang tak terduga.

“Aku suka ketika kau berjuang, mi reina. Itu membuat kemenangan terasa lebih manis,” guman Rafael, senyum kecil bermain di bibirnya.

Tangan Alicia menjelajahi tubuh Rafael, merasakan setiap lekukan kekuatan dan gairah. Dia adalah pebisnis ulung; dia tahu cara menemukan titik lemah musuhnya. Dalam kasus Rafael, titik lemahnya adalah gairah yang tak terkendali yang ia sembunyikan di balik topeng profesionalnya.

Alicia menundukkan kepalanya, menjilat otot dada Rafael, meninggalkan jejak kelembapan yang dingin yang langsung disambut oleh panas tubuh Rafael. Ia bergerak semakin turun, sengaja memperlambat tempo, mengubah hasrat Rafael menjadi penyiksaan yang manis.

Rafael mencengkeram sprei sutra di bawahnya, matanya tertutup rapat, napasnya memburu. Ia membiarkan Alicia memimpin, sebuah pengakuan diam-diam bahwa dia menikmati penguasaan yang diberikan Alicia, meskipun ia dikenal sebagai pria yang selalu mendominasi.

“Kau harus tahu, Alicia, bahwa setelah semua ini, kau akan menjadi milikku. Bisnismu, dan tubuhmu,” Rafael berhasil berbisik, suaranya parau karena hasrat yang terpendam.

Alicia mendongak, matanya menatap Rafael. “Tidak ada yang memiliki Alicia Valero, Rafael. Aku memilih siapa yang bisa memilikiku, dan untuk berapa lama.”

Ia kembali melanjutkan eksplorasinya, semakin menjerumuskan Rafael ke dalam jurang hasrat yang dalam.

Ketika ketegangan itu tak tertahankan lagi, Rafael membalikkan Alicia kembali ke bawahnya dengan gerakan cepat namun lembut, merebut kembali kendali yang telah ia relakan. Ia adalah serigala, dan dia tidak akan membiarkan mangsanya lolos.

"Waktunya negosiasi terakhir, Alicia," bisik Rafael, suaranya penuh kekuasaan.

Alicia merasakan kekosongan yang ditinggalkan Santiago di hatinya dan ranjangnya kini diisi oleh sesuatu yang lebih besar, lebih ganas, dan jauh lebih nyata. Ia merasakan dirinya telah mencapai titik kritis, titik di mana dia siap menyerahkan dirinya sepenuhnya pada bahaya ini.

“Berikan aku segalanya, Rafael,” Alicia menuntut, matanya memancarkan gairah dan air mata yang tidak ia izinkan jatuh. “Buat aku lupa bahwa aku pernah menjadi wanita Santiago Valero!”

Rafael tidak perlu disuruh dua kali. Ia bergerak masuk, menusuk inti dirinya dengan kepastian yang brutal dan keintiman yang tajam. Itu bukanlah cinta; itu adalah klaim kekuasaan, sebuah kontrak yang dimeteraikan oleh gairah dan pengkhianatan.

Alicia mencengkeram punggung Rafael, mengukir rasa sakitnya dan hasratnya ke dalam kulit pria itu. Mereka bergerak dalam ritme yang cepat dan ganas, sebuah tarian kuno antara dua kekuatan yang setara yang akhirnya bertemu setelah bertahun-tahun saling mengincar dari jauh.

Di luar, lampu-lampu Madrid bersinar dingin. Di dalam, suhu tubuh mereka membakar udara, mengubah kamar tidur mewah itu menjadi medan perang gairah.

Setiap dorongan Rafael terasa seperti penghinaan baru bagi Santiago, dan pada saat yang sama, pengampunan bagi Alicia. Ia tidak hanya melakukan balas dendam; ia sedang menemukan kembali dirinya sendiri. Ia bukan lagi istri yang dikhianati; ia adalah pemimpin yang menuntut, pembalas yang kejam, dan wanita yang diinginkan oleh musuhnya.

Napas Alicia berubah menjadi rintihan yang tidak manusiawi, dicampur dengan guman serak Rafael dalam bahasa Spanyol, kata-kata posesif dan gelap yang hanya ditujukan untuk telinganya.

“Mía... Kau milikku, Alicia,” Rafael berbisik di telinganya, menjelajahi lehernya. “Kau telah memilih, dan kau telah menandatangani.”

“Ya… Mía… aku milikku,” Alicia berhasil membantah, bahkan dalam puncaknya. Ia menolak menyerahkan kendali penuh, bahkan ketika tubuhnya mengkhianatinya, melonjak dalam klimaks yang kuat, keras, dan tanpa malu-malu.

Rafael mengejarnya, erangannya lebih dalam dan lebih memuaskan. Ia tenggelam di dalam Alicia, melepaskan semua ketegangan, semua frustrasi, semua ambisi yang terpendam.

Setelah badai berlalu, mereka berbaring dalam keheningan yang berat, tubuh mereka basah oleh keringat, detak jantung mereka masih berpacu dengan liar. Rafael tidak segera bergerak menjauh. Dia memeluk Alicia dengan erat, posisi yang lebih posesif daripada lembut, seolah-olah dia takut Alicia akan menghilang jika dia melepaskannya.

Alicia membuka matanya, menatap langit-langit yang gelap. Rasanya seperti baru saja keluar dari kecelakaan mobil, lelah, sakit, tetapi anehnya, hidup.

Ia merasa gembira. Bukan karena keintiman, tetapi karena kemenangan. Ia telah menari di atas abu kesetiaannya dan ia tidak jatuh. Ia tidak menangis untuk Santiago; ia hanya menginginkan lebih dari gairah berbahaya Rafael.

Rafael mencium bahunya, aroma sandalwood dan keringat kini menggantikan bau gardenia yang ia benci. Gardenia itu sudah terbakar habis.

“Kau telah menandatangani kontrak itu, Alicia,” guman Rafael, suaranya kembali menjadi sedikit normal, tetapi masih dipenuhi kepuasan.

“Tidak ada kontrak yang mengikatku padamu, Rafael. Ini adalah negosiasi tanpa akhir,” jawab Alicia, memutar tubuhnya untuk menghadap Rafael. Ia menyentuh wajahnya, merasakan kekasarannya. “Kau memberiku kehancuran yang kubutuhkan, dan aku memberimu Solera dan perhatian media yang kau inginkan. Kita setara. Jangan pernah lupakan itu.”

Rafael membalikkan keadaannya lagi, menempatkannya di bawahnya, menatapnya dengan intensitas yang mengganggu.

“Aku tidak akan melupakan. Aku tidak pernah melupakan apa pun, terutama wanita sepertimu. Tapi mari kita perjelas satu hal lagi, Alicia. Di mata Madrid, kau adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan ada pria lain yang mendekatimu. Dan setiap kali kau merasa bahwa gairahmu meredup, kau tahu siapa yang harus kau hubungi.”

Alicia tertawa kecil, suara tawa yang mengandung bahaya. “Ancaman? Itu ancaman yang sangat menarik, Rafael.”

“Itu bukan ancaman. Itu adalah garis kontrak baru,” bisik Rafael, menciumnya lagi, ciuman yang lambat dan dalam, menjanjikan putaran lain dari permainan mereka.

Hampir subuh ketika Alicia meninggalkan penthouse Rafael. Rafael bersikeras mengantarnya kembali ke Ritz, tempat ia menyewa suite terpisah.

Saat fajar pertama menyentuh langit Madrid, Alicia melangkah keluar dari mobil Rafael.

Rafael memegang tangannya. “Malam ini, kita makan malam di Restaurante Coque. Acara gala peresmian proyek Ibiza. Di depan dewan direksi. Di depan Santiago.”

“Aku akan ada di sana,” jawab Alicia. “Dan aku akan memastikan semua orang melihat betapa nyamannya aku berada di ranjang musuh.”

Ia berbalik, memasuki hotel mewah itu, tidak menoleh ke belakang. Di tubuhnya, ia merasakan nyeri yang menyenangkan, pengingat akan kontrak yang baru ia tanda tangani. Di hatinya, ia merasakan kelegaan yang dingin.

1
YukiLuffy
💪
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus ya thor💪
Nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!