Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Arkana tertegun, matanya membulat tak percaya. Jantungnya berdegup kencang, seperti genderang yang dipukul bertalu-talu. Jari-jarinya gemetar, mencengkeram erat sisi laptop. Ia menatap layar, membaca ulang kalimat itu sekali lagi, sambil mengucek matanya, memastikan penglihatannya, berharap itu hanya mimpi buruk atau lelucon yang sangat tidak lucu.
"Arkana, ini aku Anastasya, kakak ipar kamu! Aku tahu kamu pasti tak percaya, tapi kenyataannya aku adalah Anastasya!"
Ia menatap makhluk berbulu yang duduk tenang di pangkuannya, seolah menunggu reaksinya. Kucing itu membalas tatapannya dengan mata hijau zamrudnya yang misterius, seolah membenarkan apa yang baru saja ia baca.
"Tidak mungkin ...," bisik Arkana lirih, menggelengkan kepalanya tak percaya. "Anastasya sudah meninggal. Aku melihat sendiri makam kalian. Kami menguburkannya."
Namun, kalimat lain kembali muncul di layar laptopnya, diketik dengan lincah oleh Anastasya yang berbeda dalam tubuh si meong.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Arkana. Jasadku memang ada di makam itu. Tapi jiwaku ... jiwaku kembali. Aku bereinkarnasi ke dalam tubuh kucing ini."
Arkana masih tidak percaya, tapi ia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa kucing di hadapannya baru saja mengetik pesan yang sangat jelas di layar. Ia tahu bahwa mahluk berbulu putih adalah kucing yang istimewa, tapi ini di luar nalar.
"Bagaimana ... bagaimana bisa kamu mengetik?" tanya Arkana, suaranya masih bergetar.
Si kucing kembali memainkan kakinya lagi, kali ini lebih cepat dan lebih panjang.
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Ar. Yang aku tahu, jiwaku masih terikat dengan dunia ini. Aku tidak bisa tenang sampai aku tahu Alexei, putra kami aman. Aku bisa melihat, mendengar, dan merasakan, tapi aku tidak bisa berbicara dengan manusia. Aku hanya bisa berkomunikasi dengan cara ini."
Arkana terdiam, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia dapatkan. Ia tahu bahwa ini terdengar gila, tapi ia tidak bisa mengabaikan pesan dari nyata di hadapannya ini. Ia selalu mempercayai instingnya, dan instingnya mengatakan bahwa ini adalah kebenaran.
"Di mana Alexei?" tanya Arkana, akhirnya berhasil mengendalikan suaranya.
"Aku tidak tahu persis di mana dia. Tapi aku tahu dia aman. Aku tahu dia bersama seorang gadis yang baik. Alexander memberiku sebuah dompet sebelum aku dan Alexie meninggalkan mansion malam itu. Dia bilang di dalamnya ada alamat tempat kami bisa bersembunyi, tapi aku tidak sempat membukanya," jawab Anastasya melalui si kucing.
Jantung Arkana berdegup semakin kencang. Ia merasa harapan membara dalam dadanya, setelah sekian lama dilanda kegelapan dan keputusasaan.
"Gadis itu ... apa kamu tahu siapa namanya?" tanya Arkana, tidak sabar.
"Tidak. Tapi aku tahu dia memiliki hati yang tulus. Aku tahu dia akan melindungi Alexei dengan nyawanya sendiri," ketik Anastasya yakin.
Arkana terdiam sejenak, mencerna informasi itu. Ia harus mencari tahu siapa gadis itu dan di mana dia berada.
"Kenapa kakak baru mengatakannya sekarang?" tanya Arkana heran.
"Karena aku gak tahu bagaimana memberi tahu kamu Ar! Aku berusaha keras memberi tahu tapi kamu mana mengerti bahasa kucing. Sampai akhirnya semalam aku kepikiran mengunakan benda ini. Aku ingin membantumu, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya," jawab Anastasya.
Arkana mengerti. Anastasya ingin membantu, tapi ia terbatas dalam tubuh kucing.
"Aku akan menemukan Alexei. Aku berjanji. Dan aku akan menemukan gadis itu," kata Arkana dengan suara yang penuh tekad.
Anastasya mengetik lagi, kali ini dengan nada lega.
"Terima kasih, Arkana. Aku lega kamu akan mempercayai aku. Tolong temui mereka bawa mereka ke sini, di luar sana sangat berbahaya! Aku akan memberikanmu petunjuk, jika aku bisa."
Arkana menutup laptopnya, lalu menggendong si kucing erat-erat. Ia merasakan kehangatan tubuh kucing itu, seolah Anastasya sedang memeluknya.
"Aku akan menjemputmu, Alexie," bisik Arkana. "Aku akan membawa Alexei kembali ke keluarga kita."
_______&&_______
Di sisi Cintya dan baby Alexie. Cintya sedang menemani Al minum susu. Ia menatap wajah Al yang polos dan damai, merasakan kehangatan tubuh mungil itu dalam dekapannya. Ia merasa bahagia dan bersyukur bisa merawat Al, meskipun ia tahu bahwa itu tak akan mudah.
"Kamu tenang aja ya, Al. Bunda akan selalu menjagamu. Ntar kalo ada yang macem-macem, Bunda jadiin mereka ayam gepre!" bisik Cintya lembut, mengusap rambut halus Al.
Sambil menggendong Al, Cintya melihat kalender dinding yang tergantung di dekat jendela. Besok hari Minggu. Rasanya semenjak bertemu Al, ia dan Al tidak penah keluar rumah untuk bersenang-senang.
"Besok kita ke taman yuk, Al? Bunda pengen ngajak kamu jalan-jalan. Kita main ayunan, liat burung, sama makan es krim. Siapa tahu ketemu jodoh, kan lumayan, Al, Bunda dapet sugar daddy, kita bisa makan enak tiap hari!" celoteh Cintya, membayangkan betapa senangnya Al saat bermain di taman. Ia juga membayangkan dirinya bertemu dengan pria tampan dan kaya raya yang akan menyayangi dirinya dan Al.
Al merespon dengan celotehan khas bayi, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan gembira. Cintya tertawa, merasa terhibur dengan tingkah Al yang sangat menggemaskan menurutnya.
"Fix ya, besok kita ke taman! Tapi inget ya, Al, kita harus tetep hati-hati. Dan siap siaga untuk kemungkinan terburuk, mungkin kita akan main kejar-kejaran kayak di film India," celoteh Cintya, sambil mencium pipi Al dengan gemes.
Setelah Al selesai minum susu dan akhirnya tertidur pulas, Cintya meletakkannya dengan hati-hati di atas kasur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Al, memandangi wajah Al yang damai, merasakan kehangatan tubuh mungil itu. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan Al.
Pus, si kucing putih yang selalu menemani mereka, tiba-tiba meloncat dari sofa dan berjalan menuju pintu. Ia mengeong pelan, seolah meminta Cintya untuk membukanya pintu.
"Mau keluar, Pus? Mau cari pacar juga, ya? Jangan-jangan kamu mau ketemuan sama gebetan kamu di pojokan gang!" tanya Cintya, meraih gagang pintu. Ia membuka pintu sedikit, membiarkan Pus keluar dari kontrakan.
Setelah Pus keluar, Cintya menutup pintu kembali dan menguncinya. Ia menghela napas panjang, merasa lelah dan khawatir. Ia berharap, besok hari yang menyenangkan untuknya dan Al, tanpa ada gangguan dari orang-orang jahat yang akan mengejar mereka.
Bersambung...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus