NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kebohongan

Hujan sore itu turun semakin deras, seolah langit pun turut menangisi nasib Rio dan kawan-kawannya. Kerumunan siswa sudah bubar, gedung sekolah mulai sepi, dan lampu-lampu ruangan mulai dimatikan satu per satu. Rio, Bara, Dika, Dinda, dan Gilang berdiri diam di bawah atap teras belakang sekolah—tempat yang jarang dilalui orang, tempat yang kini menjadi satu-satunya tempat aman bagi mereka yang dianggap "penjahat" itu.

Suasana hening. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara gemuruh petir dan jatuhnya butiran air yang menghantam tanah basah.

Dinda menyeka air mata yang masih tersisa di pipinya, napasnya masih tersendat-sendat. Ia menatap Rio yang berdiri membelakangi mereka, menatap kosong ke arah halaman yang diguyur hujan. Punggung pemuda itu terlihat tegap, namun ada beban berat yang tergantung di sana—beban menjadi orang yang tidak dipercaya, orang yang difitnah, orang yang dikhianati oleh keadaan.

"Terus... sekarang gimana?" suara Gilang memecah keheningan, pelan namun berat. Ia menurunkan kacamatanya, mengusap keringat dingin di dahi. "Kita dilarang masuk kegiatan, tim kita dibubarkan, kita dicap penjahat, ditaruh di bawah pengawasan ketat. Kalau kita berbuat salah sedikit aja... kita langsung dikeluarin. Arga bener-bener pintar. Dia ambil semua senjata kita, semua perlindungan kita, semua kepercayaan orang. Kita beneran jadi sendirian sekarang."

Bara menghentakkan kakinya ke lantai keras-keras, menumpahkan rasa frustrasi yang meluap.

"Sialan! Gue gak terima! Kita bener, tapi kita yang kena sanksi?! Dia yang jahat, dia yang licik, dia yang nyiksa anak orang buat jebakan... tapi dia yang menang?! Gak adil banget sialan! Kalau gue ketemu dia sekarang juga, gue gak peduli aturan lagi, bakal gue remukkan muka dia sampe dia ngaku!"

"JANGAN!"

Rio berbalik badan secara tiba-tiba, suaranya keras dan tegas, memotong amarah Bara. Wajah Rio basah—entah karena air hujan yang terbang terbawa angin, atau karena air mata yang ia tahan mati-matian. Matanya menatap tajam ke arah sahabat-sahabatnya, penuh tekad yang membara.

"Kalau lo lakuin itu, lo beneran jadi penjahat, Bar. Lo beneran buktiin omongan mereka bener. Arga pengen kita marah. Arga pengen kita main kasar. Arga pengen kita bikin kesalahan lagi. Jangan kasih dia kepuasan itu. Kita udah jatuh ke lubang yang dia gali. Sekarang tugas kita bukan marah-marah... tapi cari jalan keluarnya."

Rio melangkah mendekat, suaranya melembut namun penuh kekuatan. Ia menatap mereka satu per satu, menatap mata mereka yang penuh keputusasaan.

"Dengerin gue baik-baik. Memang sekarang posisi kita paling bawah. Kita gak punya kuasa, kita gak punya teman, kita gak punya dukungan sekolah. Tapi ada satu hal yang Arga lupa... satu hal yang gak bakal pernah bisa dia ambil dari kita: Kita tau kita bener. Dan dia tau dia bohong."

Rio mengangkat satu jari.

"Kebohongan itu, seberapa rapi pun disusun, seberapa nyata pun kelihatannya... pasti ada retakan. Pasti ada lubang. Pasti ada jejak. Arga bikin skenario ini terlalu sempurna. Itu kesalahan dia. Dia terlalu percaya diri, dia terlalu yakin gak ada yang berani nyelidiki. Dia lupa... dia bukan lawan orang biasa. Dia lawan kita."

Gilang mengangguk perlahan, mulai mengerti arah pikiran Rio. Ia tersenyum tipis, senyum licik yang kembali muncul di wajahnya.

"Gue tau apa yang harus dilakuin, Rio. Dan gue tau siapa kuncinya semua ini: Rian."

"Betul," jawab Rio cepat. "Semua bermula dan berakhir di Rian. Kalau kita bisa bikin Rian ngaku, kalau kita bisa buktiin dia bohong, kalau kita bisa cari tau apa yang Arga janjiin atau ancam ke dia... semuanya balik lagi ke tangan kita. Nama kita bersih, Arga kalah telak, dan dia bakal rasain apa artinya jatuh dari ketinggian."

"Tapi susah, Rio..." sela Dinda ragu, suaranya pelan. "Rian itu anaknya penakut banget, pendiam, gak punya teman. Siapa aja yang ngomong sama dia, dia pasti lari atau nangis. Apalagi sekarang... dia pasti dijagain ketat sama Arga atau anak buahnya. Dan dia pasti dikasih instruksi mati-matian buat diem. Belum lagi kalau kita ketahuan deketin dia... kita bakal dikira mau nyerang dia lagi. Kita makin kelihatan jahat."

Rio tersenyum tipis, senyum yang penuh perhitungan.

"Kita gak bakal deketin dia secara terang-terangan. Kita gak bakal ketemu dia muka ke muka. Kita gak bakal ngomong sama dia sebagai 'orang yang dia takutin'. Kita bakal amati. Kita bakal cari celah. Kita bakal cari momen pas dia sendirian, pas dia lengah, pas dia ngerasa aman. Dan kita bakal buka mulut dia... bukan pake ancaman, tapi pake kebenaran dan rasa bersalah."

Rio menoleh ke arah Gilang.

"Gilang, lo punya jaringan di mana aja, kan? Cari tau semua tentang Rian. Alamat rumah dia, rute pulang-pergi, kebiasaan dia, siapa keluarga dia, apa kelemahan dia, apa masalah dia. Gali dalem banget. Gue mau tau segalanya tentang dia, dari bangun tidur sampe tidur lagi. Gue yakin... Arga gak lakuin ini cuma karena Rian penakut. Pasti ada sesuatu yang bikin Rian gampang diatur. Pasti ada masalah pribadi yang bisa Arga pake buat ngancem atau nyogok dia."

Gilang mengangguk mantap. "Siap. Malam ini juga gue kerjain. Gue bakal cari data lebih dalem lagi, sampai ke tetangga dan teman masa kecil dia. Gue bakal cari kotoran, rahasia, atau hutang budi apa aja yang ada di diri Rian."

Rio beralih ke Bara dan Dika.

"Bar, Dik. Tugas kalian paling berbahaya dan paling berat. Mulai besok, kalian harus berubah sikap. Kalian harus kelihatan kayak udah nyerah. Kelihatan kayak udah hancur, kayak udah gak berdaya. Jangan ngelawan siapa pun. Kalau ada yang ejek, biarin. Kalau ada yang nyerang, hindarin. Kalau ada anak buah Arga yang kelihatan, pura-pura takut dan lari. Kita harus bikin Arga ngerasa menang mutlak, ngerasa aman, ngerasa kita udah abis. Pas dia lengah... baru kita nyerang balik."

Dika mendengus kasar, wajahnya masam. "Ah, sialan... harus pura-pura jadi penakut lagi? Padahal gue pengen banget ngasih pelajaran ke muka-muka sombong itu."

"Demik apa pun caranya, Dik. Ini strategi," tegur Rio tegas. "Kalau Arga tau kita masih bergerak, dia bakal nambah jaga-jaga. Kita harus jadi bayangan. Gak kelihatan, gak kedengeran, tapi ada di mana-mana."

Terakhir, Rio menatap Dinda.

"Dinda, kamu satu-satunya dari kita yang masih bisa bergerak agak bebas. Karena kamu cewek, karena kamu ketua OSIS, dan karena kamu gak dituduh langsung. Kamu tetap lakuin tugas kamu. Kamu tetap ada di depan. Kamu dengerin semua omongan, semua gosip, semua berita. Kamu jadi mata dan telinga kita di dalam gedung. Tapi hati-hati banget. Jangan sampe ada yang curiga kamu masih hubungin kita."

Dinda mengangguk mantap, matanya kembali berbinar semangat meski masih ada sisa kesedihan.

"Pasti, Rio. Gue bakal catat semuanya. Gue bakal dengerin semuanya. Gue bakal cari tau gerak-gerik Arga pas dia mulai masuk dan kuasai sekolah ini. Gue bakal jadi penyelamat rahasia kalian."

Rio menarik napas panjang, menatap teman-temannya itu dengan rasa syukur yang mendalam. Di saat semua orang menjauh, membenci, dan meninggalkannya... lima orang ini tetap berdiri di sisinya. Inilah kekuatan sesungguhnya yang tidak dimiliki Arga: persahabatan yang tulus dan setia dalam keadaan apa pun.

"Makasih..." ucap Rio pelan, suaranya bergetar karena haru. "Makasih udah percaya sama gue. Makasih udah mau jalan di jalan yang paling susah sama gue. Gue janji... ini bakal jadi masa-masa tergelap kita, tapi bakal jadi awal dari kemenangan terbesar kita. Kita bakal bangkit lagi. Dan pas kita bangkit... kita bakal bangkit jauh lebih kuat, jauh lebih cerdas, dan jauh lebih ngeri daripada sebelumnya."

Pertemuan pun dibubarkan. Masing-masing berpisah menghilang di balik hujan lebat, bergerak diam-diam layaknya agen rahasia yang sedang menjalankan misi nyawa dan mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!