Di Desa Karangdowo, malam Jumat Kliwon bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah gerbang yang terbuka lebar antara dunia manusia dan alam gaib. Raga, seorang pemuda yang tumbuh dengan logika kota, kembali ke desa dan mencoba mengabaikan mitos leluhur yang selama ini dianggapnya hanya dongeng belaka. Namun, segalanya berubah saat ia merasakan sendiri betapa tipisnya dinding pemisah kedua dunia tersebut.
Malam itu, suara-suara memanggil dengan wajah dan suara orang yang dicintai, jejak kaki misterius, dan irama gamelan yang datang dari ketiadaan mulai mengganggu ketenangannya. Bersama kakeknya, Mbah Joyo, Raga harus menguak misteri kutukan lama dan perjanjian darah yang dibuat oleh nenek moyang mereka. Akankah logika mampu menyelamatkannya, atau ia harus tunduk pada kekuatan mistis yang jauh lebih tua dari peradaban manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: DINDING YANG MELENGKUNG
Suara itu bukan suara manusia. Suaranya berat, bergema, dan terdengar seperti batu-batu besar yang saling bergesekan. Getarannya terasa sampai ke tulang-tulang, membuat gigi Raga bergemeretak dan jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.
"SUDAH WAKTUNYA KALIAN MASUK... KE DUNIA KAMI!!!"
Raga terpaku di tempatnya. Botol berisi air doa di tangannya hampir terlepas. Matanya tak lepas dari celah dinding kayu yang mulai renggang itu. Mata merah menyala itu masih mengintip, menatapnya dengan tatapan lapar dan penuh kebencian yang tak bisa di jelaskan.
"Raga! Jangan diam saja!" teriak Mbah Joyo sambil memukul-mukul tongkatnya ke lantai. "Percikkan air itu! Sekarang juga!"
Terjaga dari lamunan, Raga segera membuka tutup botol dan memercikkan air itu ke segala arah, terutama ke arah dinding yang melengkung dan pintu-pintu.
"Balik! Balik! Pergi kalian!" teriak Raga sambil memercikkan air itu dengan gemetar.
Saat butiran air itu menyentuh dinding kayu, terdengar suara mendesis keras! Tesssssstt!!! Seperti air yang dituangkan ke atas besi panas membara. Asap putih mengepul dari area tersebut, dan bau hangus yang menyengat bercampur bau belerang langsung menusuk lubang hidung.
Dinding yang tadi melengkung ke dalam seketika bergetar hebat, lalu kembali ke posisi semula dengan bunyi KReeK!!! yang keras. Mata merah itu hilang dari celah dinding, digantikan oleh teriakan marah yang sangat melengking dan menyakitkan telinga.
"Aarrrrggghhhhh!!!"
"Bagus, Rag! Teruskan!" seru Mbah Joyo. Lelaki tua itu kini berdiri tegak, kedua tangannya diangkat ke atas, dan mulutnya melantunkan mantra-mantra dengan kecepatan tinggi. Wajahnya memerah menahan tenaga, keringat mengalir deras membasahi kening keriputnya.
Serangan dari luar semakin gencar. Pintu depan diguncang hebat seolah ditabrak oleh banteng besar. Pintu belakang juga ikut bergetar. Bahkan atap rumah mereka terdengar bunyi gedebuk! gedebuk! seolah ada benda berat yang melompat-lompat di atasnya.
Rumah kayu tua itu berderit nyaris ambruk. Piring-piring di dapur berjatuhan dan pecah. Gelas-gelas di meja bergoyang dan saling berbenturan. Seluruh isi rumah seakan ikut ikut mengguncang dalam gempa bumi kecil.
"Mereka marah, Kek! Mereka sangat marah!" teriak Raga di tengah kegaduhan.
"Itu wajar! Kita menolak panggilan mereka! Kita melanggar 'kesepakatan' yang mereka mau!" balas Mbah Joyo. "Tapi kita tidak boleh menyerah! Selama pintu dan jendela tidak terbuka, mereka tidak bisa masuk seenak nya! Mereka butuh izin!"
"Izin apa, Kek?!"
"Izin dari pemilik rumah! Atau ketidaksengajaan kita yang membukakan jalan!"
Tiba-tiba, guncangan itu berhenti seketika.
Semuanya menjadi diam. Hening. Hening yang mencekam lebih menakutkan daripada teriakan tadi. Hanya terdengar nafas mereka yang memburu dan detak jam dinding yang tik... tok... tik... Tok....
Raga dan Mbah Joyo saling berpandangan. Keduanya kelelahan dan ketakutan.
"Mereka pergi?" tanya Raga berbisik.
Mbah Joyo menggeleng perlahan, matanya mengawasi setiap sudut ruangan. "Tidak. Mereka tidak pernah pergi semudah itu. Mereka sedang mencari cara lain. Cara yang lebih licik."
Benar saja. Tidak sampai satu menit kemudian, sesuatu yang aneh terjadi pada lampu-lampu di dalam rumah.
Lampu neon yang menggantung di langit-langit tiba-tiba berkedip-kedip. Nyala... mati... nyala... mati... Cahaya nya berubah menjadi warna merah darah yang suram.
Dan di tengah kedipan lampu itu, mereka mulai melihatnya.
Bayangan-bayangan hitam mulai muncul di sudut-sudut ruangan. Awalnya hanya kabut tipis, lalu lama-kelamaan memadat membentuk bentuk sesuatu bentuk yang tidak jelas. Ada yang berbentuk tinggi besar, ada yang membungkuk, ada yang tampak melayang beberapa sentimeter di atas lantai.
Mereka ada di dalam rumah!
"Ya Allah... bagaimana bisa mereka masuk?" Raga mundur ketakutan, punggungnya menempel pada dinding dapur.
"Bukan masuk lewat pintu, Rag..." Mbah Joyo tampak pucat pasi. "Mereka menembus materi. Mereka menggunakan kekuatan malam yang sudah terlalu pekat untuk memadatkan diri di sini. Mereka menjadi nyata!"
Salah satu bayangan itu bergerak maju. Bentuknya menyerupai wanita dengan rambut panjang menutupi wajah. Ia melayang mendekati Raga. Dari balik rambutnya, terlihat sepasang mata putih menyala tanpa bola mata.
"Kami... kedinginan..." suara itu terdengar lemah namun terdengar langsung di dalam kepala Raga. "Beri kami... tempat yang hangat..."
"Jangan dengarkan suaranya, Raga! Jangan tatap matanya!" teriak Mbah Joyo. Lelaki tua itu segera mengambil sejumput garam kasar yang sudah disiapkan di saku bajunya, lalu melemparkannya ke arah bayangan tersebut.
Serrrrr! Duarrrrr
Saat garam itu menyentuh sosok bayangan, ledakan kecil terjadi. Sosok itu menghilang menjadi asap hitam, namun seketika muncul lagi di tempat lain, seolah tak bisa dihancurkan sepenuhnya.
"Garam saja tidak cukup kuat! Energinya terlalu besar malam ini!" Mbah Joyo mulai panik. "Raga! Cepat ambil keris pusaka di dalam kamar Kakek! Di bawah bantal! Cepat!"
Raga tanpa pikir panjang langsung berlari menuju kamar Mbah Joyo. Namun saat ia baru saja sampai di ambang pintu kamar, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya berhenti mengalir.
Di dalam kamar itu, di atas tempat tidur Mbah Joyo, ada seseorang sedang duduk.
Sosok itu memakai kain kebaya berwarna putih bersih, pucat. Rambutnya panjang hitam mengkilap. Punggungnya membelakangi pintu.
"I... bu...?" Raga terbata.
Sosok itu tidak menoleh. Ia hanya duduk diam, kepalanya sedikit menunduk.
"Ibu... benar Ibu kan?" Air mata Raga mulai menetes. Rasa takut tadi perlahan tergantikan oleh rasa rindu yang membuncah. "Ibu datang untuk bantu kita kan?"
Sosok itu perlahan mengangguk kecil.
"Ya... Nak... Ibu bantu..." suaranya lembut sekali, sangat mirip dengan suara ibunya yang dulu. "Coba kemari... bantu Ibu berdiri..."
Kaki Raga seakan dikendalikan oleh kekuatan tak kasat mata. Ia melangkah masuk ke dalam kamar selangkah demi selangkah. Matanya hanya fokus pada sosok wanita itu. Semua peringatan Mbah Joyo, semua ketakutan tadi, seakan lenyap begitu saja.
"Ayo Nak... dekat sedikit lagi..."
Raga sudah berada hanya beberapa meter di belakang sosok itu. Tangannya terulur ingin menyentuh bahu ibunya.
"Ibu..."
Tiba-tiba!
Sosok itu berputar cepat!
Bukan wajah ibunya yang ia lihat!
Wajah itu rusak parah! Separuh wajahnya hancur memperlihatkan tulang dan gigi-gigi yang tajam, matanya melotot keluar, dan mulutnya terbelah lebar sampai ke telinga mengeluarkan suara tawa yang gila!
"WAHAHAHAHAHAAA! KAU TERTIPU LAGI!!! SEKARANG JADILAH MILIK KAMI!!!"
Makhluk itu menerkam Raga dengan tangan panjang yang memiliki kuku-kuku hitam tajam!
"IBUUUUU!!!" Raga menjerit kencang, matanya terpejam rapat, mengangkat kedua tangan untuk melindungi wajah.
TING!!!
Tiba-tiba ada cahaya kuning yang menyilaukan memancar dari leher Raga. Kalung emas kecil berisi jimat yang selalu ia pakai sejak kecil, pemberian Mbah Joyo yang sering ia anggap hanya aksesoris, tiba-tiba terasa panas membara dan mengeluarkan cahaya terang.
Makhluk itu terpental jauh ke belakang seolah terkena arus listrik tegangan tinggi. Ia menjerit kesakitan dan tubuhnya mulai menghilang menjadi kabut hitam yang terbakar.
"ARRRGGHH!!! PANAS!!! PANAS!!!"
Mbah Joyo yang baru saja sampai di pintu kamar melihat kejadian itu.
"Syukurlah... jimat itu bekerja!" seru Mbah Joyo lega. "Cepat Raga! Ambil kerisnya!"
Raga yang masih gemetar dan terengah-engah segera meraba di bawah bantal tua itu. Tangannya menyentuh benda keras dan dingin. Sebuah keris dengan hulu ukiran naga yang sudah berusia ratusan tahun.
Saat Raga mencabutnya, bilah keris itu berkilauan dan terasa sangat berat namun memberikan rasa hangat yang menenangkan di dada.
"Dengan ini... kita lawan mereka!" kata Raga dengan suara bergetar namun kali ini ada sedikit keberanian di sana.
Mereka berdua kembali ke ruang tengah. Situasi di sana semakin kacau. Seluruh dinding kini dipenuhi oleh wajah-wajah yang menakutkan yang muncul dari dalam kayu, berteriak dan menyeringai.
"Kalian tidak akan bisa mengusir kami!" suara itu bergema dari segala arah. "Rumah ini... tanah ini... adalah milik kami! Kalian hanyalah penyewa yang sudah waktunya mengosongkan tempat!"
"Kami adalah keturunan Eyang Noto! Kami adalah penjaga sah yang ditunjuk dalam perjanjian!" Mbah Joyo berteriak keras, suaranya menggelegar menandingi suara-suara itu. "Selama darah kami masih mengalir, kami tidak akan pernah menyerahkan tempat ini pada kalian!"
"Perjanjian itu sudah tua! Sudah lapuk dimakan waktu! Kini kekuatan kami lebih besar! Lihat!"
Tiba-tiba lantai rumah mereka retak! Dari celah lantai kayu yang pecah, keluar air hitam yang berbau busuk. Air itu naik dengan cepat membanjiri lantai rumah!
Bukan air biasa! Air itu dingin sekali, dan di dalamnya terlihat bayangan wajah-wajah banyak orang yang tenggelam, berusaha naik ke permukaan sambil meronta-ronta!
"Raga! Naik ke meja! Jangan sampai air itu menyentuh kakimu!" perintah Mbah Joyo.
Raga segera melompat naik ke atas meja makan yang cukup besar. Air hitam itu terus naik, sudah sampai setinggi betis Mbah Joyo. Lelaki tua itu meringis kesakitan, kakinya terlihat membiru dan kaku karena dinginnya air itu.
"Kakek! Naik ke sini!" Raga mengulurkan tangan.
Namun Mbah Joyo menggeleng. Ia berdiri tegak di tengah air yang mulai sampai ke pinggangnya. Ia memejamkan mata, kedua tangannya memegang tongkat yang ditancapkan ke lantai.
"Ini... adalah ujian terakhir malam ini..." bisik Mbah Joyo. "Jika kita bertahan sampai ayam berkokok... kita menang. Jika tidak... kita akan terseret ke dalam sana... ke dunia mereka selamanya..."
Air hitam itu kini sudah mencapai dada Mbah Joyo. Wajah lelaki tua itu mulai pucat dan kebiruan. Raga menangis melihat kakeknya menderita.
"KEKAKKK!!!"
Tiba-tiba, dari dalam air yang keruh itu, muncul tangan-tangan hitam yang sangat banyak. Ratusan tangan menjulur keluar, merambat naik ke kaki meja, merambat ke badan Mbah Joyo, dan berusaha menarik mereka ke bawah!
"AYO MASUK! BERENANG BERSAMA KAMI! SELAMANYA!!!"
Raga mengangkat keris pusaka tinggi-tinggi. Cahaya dari keris dan cahaya dari kalungnya menyatu, menerangi ruangan yang gelap gulita itu.
"AKU TIDAK TAKUT PADA KALIAN!!!" teriak Raga sekuat tenaga. "INI RUMAH KAMI! DAN KAMI AKAN TETAP DI SINI!!!"
Ia menghunuskan keris itu ke bawah, menusukkan ujung keris itu tepat ke tengah meja.
TRANG!!!
Suara benturan besi terdengar sangat keras, disertai gelombang cahaya kuning yang menyebar ke seluruh penjuru rumah.
Semua tangan-tangan itu menjerit dan menarik diri. Air hitam itu mendidih seketika dan menyusut dengan cepat, menghilang kembali ke dalam celah lantai seolah tidak pernah ada.
Wajah-wajah di dinding menghilang. Lampu-lampu kembali menyala normal.
Dan tepat pada saat itu...
KUKURUYUKKK...
KUKURUYUKKK...
Suara ayam jantan berkokok bergema dari luar rumah. Menandakan fajar telah tiba.
Segala kegaduhan berhenti total. Hanya tersisa bau belerang dan hangus yang masih menyengat, serta kerusakan di mana-mana.
Mbah Joyo ambruk ke lantai yang sudah kering.
"Kakek!!!" Raga segera melompat turun dan memeluk tubuh tua itu yang dingin dan lemas.
Mbah Joyo membuka matanya perlahan, tersenyum tipis pada cucunya.
"Kita... kita berhasil, Rag..." bisiknya lemah. "Malam ini... kita selamat."
"Tapi lihat rumah kita, Kek... hancur begini," kata Raga sedih.
"Rumah bisa diperbaiki. Tapi nyawa... tidak bisa kembali," Mbah Joyo memegang lengan Raga. "Mereka mengerahkan seluruh kekuatan malam ini karena mereka tahu... kau mulai sadar akan kekuatanmu, Raga. Dan mereka takut akan hal itu."
"Kekuatan apa yang aku punya, Kek? Aku cuma pemuda biasa yang ketakutan semalaman ini."
"Kau punya darah penjaga, Nak. Dan malam ini... kau sudah membuktikannya. Tapi ingat..." Mbah Joyo menatap Raga serius. "Mereka tidak akan menyerah. Kekalahan malam ini hanya membuat mereka semakin sakit hati. Jumat Kliwon berikutnya... hanya tinggal hitungan hari. Dan saat itu tiba... mereka akan datang dengan pemimpin mereka."
Raga menegang. "Pemimpin mereka?"
"Ya... Ratu dari segala penunggu. Yang selama ini hanya diam di balik gorden. Jika dia yang turun tangan... maka pertarungan kita yang sebenarnya... baru akan dimulai."