NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25 Pagi yang tidak biasa

Manik mata gelap Reigan membaca pesan itu tanpa riak, namun rahangnya mengunci rapat. Logistik musuh sudah beres di bawah kakinya. Tugas taktisnya menunggu beberapa jam lagi saat fajar tiba untuk memeras informasi dari anjing faksi Phantom itu.

Namun, kegilaan kecil di dalam kepalanya saat ini justru tidak bersumber dari interogasi yang tertunda di lantai bawah tanah, melainkan dari keheningan mutlak yang menguar dari balik pintu kamar di depannya.

Reigan memasukkan kembali ponselnya. Ia meletakkan satu telapak tangannya yang lebar di atas permukaan kayu pintu kamar Hana—bukan untuk mengetuk, melainkan hanya merasakan sensasi pembatas dingin yang memisahkan dirinya dengan wanita misterius yang beberapa jam lalu ia cengkeram pinggangnya di tengah aula pesta.

Semoga tidur mu nyenyak, Hana.

***

Pagi hari.

Hana menggerakkan badannya kaku. Peringatan hari ulang tahun kakek Arthur memang sangat istimewa hingga membuatnya menghadapi penyusup. Dua kali.

Setelah mandi, ia segera keluar kamar untuk membuatkan makanan.

Klek!

Saat tangannya menutup pintu kamar, sebuah sapaan mengejutkannya.

"Selamat pagi, Hana."

Kepala Hana sontak menoleh cepat ke arah sumber suara.

Reigan?

Aroma gurih dari roti yang terpanggang mendadak menyeruak masuk ke indra penciumannya. Sepasang mata bulat Hana mengamati siluet tubuh tegap Reigan yang berdiri di balik konter dapur mewah. Pria berbahaya itu tampak sedang sibuk berkreasi di sana.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Hana.

"Membuat sarapan pagi," jawab Reigan tanpa beralih dari piringnya. Ia sedang menghias makanan di atas piring.

"Matahari baru terbit. Apa kamu tidak salah waktu?" tanya Hana ragu. Ini bukan kebiasaan pria ini.

"Tidak. Duduklah kalau kau ingin sarapan." Dengan sopan yang terjaga, Reigan meminta Hana duduk.

Hana patuh. "Baiklah." Dia tidak ambil pusing dengan keanehan pagi ini. Tangannya menarik kursi dan duduk.

"Tidurmu nyenyak?" tanya Reigan sambil menyiapkan roti untuk Hana.

"Ya."

Sial. Reigan mengumpat dalam hati, rahangnya mengeras sesaat. Dia tidur nyenyak. Padahal aku sibuk memikirkan dia sedang melakukan apa-apa. Sia-sia.

Reigan meletakkan piring berisi roti panggang, selada, telur, dan potongan alpukat. Dibuat presisi dan indah. Dia masih menahan jengkel di dalam dada karena egonya kembali terpukul secara sepihak.

Hana mendongak. Menatap piring itu lalu melihat ke arah Reigan. "Cukup indah untuk seorang Reigan, tapi ..."

Belum tuntas Hana bicara, Reigan datang meletakkan daging sapi iris. "Untuk tambahan protein," ujar Reigan.

Hana menatap potongan daging itu datar, lalu mengangguk samar. "Terima kasih."

Reigan meletakkan piring berisi makanan yang serupa di atas meja. Lalu menarik kursi untuk duduk sarapan bersama.

"Makan yang banyak. Kau harus bersiap," kata Reigan.

Kepala Hana mendongak. "Kita mau ke suatu tempat?"

"Ya. Aku mau melihat tawanan kita." Senyum Reigan melebar.

...----------------...

Lift khusus di Apartemen Reigan berdengung halus. Bergerak turun menuju area dimana penyusup rumah Kakek Arthur tadi malam ditawan.

Hana berdiri menatap lurus ke pintu lift, sementara Reigan menghadap ke arah Hana. Ini membuat pria itu dengan mudah mengamatinya.

Hana berdiri dengan sedikit bersandar pada dinding lift. Pandangannya lurus menatap pantulan mereka berdua di dinding lift logam yang mengilat. Wajahnya tetap menjadi topeng es yang kaku.

Di dalam ruang kubus yang sempit itu jarak di antara mereka tidak begitu jauh. Hingga Aroma maskulin yang dominan—campuran antara parfum kayu mahal, sisa sabun mandi maskulin, dan aroma tembakau tipis—menguar kuat, mengunci seluruh indra penciuman Hana tanpa ampun.

"Aku bisa berlubang jika kamu terus melihatku seperti itu," tegur Hana tanpa menoleh. Tentu dia bisa melihat Reigan mengamatinya dari pantulan dinding lift.

Reigan mendengus. "Kalau begitu setiap orang yang aku lihat langsung mati di tempat, Hana."

Hana tidak menjawab. Memilih membiarkan Reigan mengawasinya.

Perlahan, Reigan mendekat. Tanpa peringatan, tangan besar Reigan bergerak dari samping, meraih pergelangan tangan kanan Hana.

Kepala Hana menoleh cepat.

Ibu jari Reigan mengusap gumpalan memar keunguan di punggung tangan Hana. Jejak dari sisa pertarungan di kediaman Kakek Arthur beberapa jam lalu.

"Kamu mengoleskan salep itu dengan baik rupanya." Reigan tersenyjm tipis.

Hana tidak segera menarik tangannya. Ia hanya melirik melalui sudut matanya yang bulat dan tajam. "Kita sedang menuju ruang interogasi, Reigan. Fokus pada taktikmu."

Sebuah dengusan rendah terdengar di dekat telinga Hana. Reigan mencondongkan tubuhnya, membuat embusan napas hangatnya menerpa langsung kulit leher jenjang Hana yang sensitif.

"Aku selalu fokus, Hana," bisik Reigan dengan suara berat dan serak yang bergetar rendah di pangkal tenggorokannya. "Dan saat ini, fokusku adalah memastikan kau tidak menyembunyikan sebilah pisau lagi di balik pakaianmu atau menyembunyikan rahasia lain dariku."

Hana tetap menatap tajam Reigan.

Cengkeraman tangan Reigan di pergelangan tangan Hana mengetat. Bukan di tempat yang sakit tapi tangan yang sama. Sebuah bentuk intimidasi taktis sekaligus klaim kepemilikan yang mutlak.

Pria itu frustrasi.

Dia membenci fakta bahwa dia tidak bisa membaca apa yang ada di dalam kepala wanita stoik ini.

"Kau ingin tanganku lebih parah dari tadi malam?" tegur Hana.

Hana memutar pergelangan tangannya dengan sentakan kecil yang efisien, melepaskan diri dari cengkeraman Reigan, tepat saat lift mengeluarkan bunyi ting pendek.

"Kau bisa memeriksa seluruh tubuhku nanti jika kau punya waktu luang," sahut Hana. "Pintu sudah terbuka."

Hana berjalan lebih dulu. Di ikuti Reigan sambil menatap tubuh belakang Hana.

Memeriksa seluruh tubuhnya? Apa dia sadar apa yang dia katakan barusan?

Rahang tegap Reigan mengetat kaku. Sial, umpatnya dalam hati.

Klek. Sret.

Pintu baja lift bergeser terbuka, menyemburkan aura dingin yang berbau besi, mesiu, dan kelembapan khas ruang bawah tanah.

Di koridor semen, Marco dan Nico sudah berdiri tegap dalam posisi siaga.

"Selamat pagi, Nyonya Reigan," sapa Nico sopan dan hormat seperti biasa.

"Pagi, Nico." Hana mengangguk menerima sapaan Nico.

"Pagi Bos." Marco menyapa Reigan saja. Dia melirik sekilas ke arah wajah atasannya yang entah kenapa terlihat sedikit lebih tegang dari biasanya pagi ini.

"Bagaimana kondisinya?" sergah Reigan langsung pada intinya, topeng datarnya yang tak tersentuh kembali terpasang sempurna di wajah tampannya.

Marco menegakkan tubuh.

"Tawanan tadi malam sudah terikat di kursi beton, Bos. Rahangnya masih dikunci dengan penyangga besi sesuai perintah Nico. Dia sempat mencoba memicu kapsul sianida palsu di gigi geraham tiruannya, tapi kami sudah membersihkannya."

Nico ikut melangkah maju, menyesuaikan letak kacamatanya sembari memegang tablet.

"Maaf Tuan. Detak jantungnya berdetak tinggi. Dia mengalami kecemasan akut, tapi mentalnya dilatih untuk bertahan di bawah tekanan fisik. Seseorang dari jaringan mereka telah mengunci kesetiaannya secara total. Mungkin itu Phantom."

Phantom. Siapakah dia sebenarnya? Batin Reigan.

Hana tidak menunjukkan reaksi ekstrem. Sepasang mata bulatnya memicing lurus ke arah pintu baja tebal di ujung koridor. Namun, jemarinya yang terlipat di depan dada mendadak mengetat sesaat.

Reigan melangkah maju, memotong jalur pandang Hana ke arah pintu sel, kembali menegakkan dominasinya.

"Marco, buka pintunya. Mari kita lihat seberapa keras rahang anjing Phantom ini," ujar Reigan ketat.

"Siap, Bos."

1
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
E F
lanjuttt thor🙏😍dobleeee💪😄
Lady Ve: Siap. terima kasih sudah baca.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!